candu yang selalu menjadi candu :p

40 days which consist of: 10 days full of memories, 
15 days of strong motivation, and 15 of reasons. 
and they all make my smile can't stop to rise every morning. 
it beats the sunshine, for you.Hope you see it,.
I promise that day will coming.. keep my words

and now 40 days have passed, but i can still see you in my day
every day, every time

and I like it, this makes me more addicted to you.. :p

dan pada hari ini...
Alloh menunjukkan keadilanNya
Keadilan yang benar - benar adil, bahkan logika manusia tidak bisa membantahNya dengan argumen apapun
Semua kemujuran dan kemalangan sudah menjadi garis yang telah tertera di jalanNya
Syukuri, jalani, tetap membumi. Sungguh tidak ada yang bisa kita banggakan sedikitpun dari apa yang kita punya di sini.
Bismillah

(sering-sering tengok kesini)

Rasanya....

Karena penilaiannya adalah yang terobjektif, adil, tidak berat sebelah, dan tidak memihak....
Hari ini tiga agustus dua ribu enam belas menjadi hari yang penuh cerita. Dari pagi sepedaan buat absen sekalian nyari poke mon #tetep, hingga di kantor yang nggak terhitung berapa kali aku berkata “Siap!!”

Kehidupan baru disini, dengan skala yang lebih besar, pegawai yang lebih banyak, ke-pelik-an yang runyam. Namun, hingga detik ini aku masih tertawa. Haha. Bismillah. Begitu banyak semangat yang diamanahkan kepadaku dan sudah menjadi tugasku untuk melaksanakannya.

“Wisnu, tolong bantu sini”

“Dua tahun sudah cukup menimba ilmu, setidaknya di sana kamu lebih bisa belajar”

Di sini pekerjaan menjadi lebih kasar. Sebelum ini pekerjaan saya didominasi oleh duduk seharian di meja kerja, meminta tolong sana-sini, mengeluarkan duit, dan buat laporan. Sekarang semuanya berputar 180 derajat. Pekerjaan didominasi oleh usung-usung, dimintain tolong sana-sini, membayar orang, dan (tetep) buat laporan.

Awalnya memang berat, tetapi tidak apa-apa. Ini namanya ganti suasana dan ganti level. Manusia kalo lempeng-lempeng aja nanti nggak berkembang. Harus diberi sebuah masalah untuk dapat memecahkan dengan pemikiran terbaik.

Selalu belajar, belajar, dan belajar... Bismillah


j.u.l.y.a.f.t.e.r.n.o.o.n

Hujan yang sedari pagi turun menyapa bumi mungkin menambah kesenduan di sore ini. Daun-daun yang masih basah, tanah yang masih lembab, dan udara yang mulai menusuk tulang. Mereka semua itu yang menyebabkan semakin sendu mentari yang mulai terbenam. Ya, hujan sudah berhenti sejak siang tetapi rasa dingin masih menyelimuti seharian ini.

Rasanya sungguh aneh dan berbeda.

Pada jam ini, biasanya aku sudah bersiap-siap untuk menempuh jarak sekitar 200km dengan waktu tempuh hampir 5jam. Tempatku mencari makan memang jauh dari hiruk pikuk kota, dalam 2 tahun ini.

Pada jam ini, biasanya aku sudah berpamitan dengan rekan-rekanku di sini untuk kembali ke tempat pekerjaan. Tak lupa kami saling membuat janji untuk meramaikan akhir pekan depan saat aku pulang, tetapi tak jarang kami lupa menepatinya.. haha. Hanya geletakan dan ngobrol santai sudah menjadi pelipur ingkar janji.

Pada jam ini, biasanya aku sudah berhimpitan dengan manusia-manusia yang berbeda dari banyak segi. Ada yang mungkin pedagang, pelajar, pegawai negeri, dan masih banyak lainnya. Tingkahnya pun berbeda-beda. Ada yang merokok, menyanyi, mengusap kepala dengan balsam. Dan aku hanya hanya duduk terdiam dan tertidur, larut dalam buaian lagu di handphone.

Sekarang....

Rasanya agak canggung bertemu dengan mentari sore ini. Biarlah sore ini menjadi sore sendu yang pertama untuk kepindahanku. Aku tak akan pernah lupa semua kenangan yang ada di sana. Dua tahun tiga bulan. Bukan waktu yang singkat untuk semuanya. Tawa, tangis, rindu, marah, benci, jenuh, capek, senyum, tanggung jawab. Semuanya akan tetap menjadi tulisan yang abadi. Bukan waktu yang singkat pula untuk menambah 8kilo berat badan. Hahaha.

Semoga mentari besok akan secerah seperti biasanya. Biarlah hujan hari ini menjadi penyejuk bumi yang makin lama diisi dengan api kebencian sebagian penghuninya.

Mungkin ini jalan dari Alloh yang ditunjukkan padaku, setelah apa yang aku capai di tahun ini beberapa tidak dapat berjalan sesuai rencanaku. Apalah dengan rencanaNya yang begitu indah dan begitu nikmat. Nikmat bersabar dalam menghadapi ujian atau nikmat-nikmat yang lain yang mungkin akan Dia sisipkan dalam perjalanan waktu ke depan.

Bismillah... Saatnya aku kembali ke kota dan menjalani kehidupan kembali...
Bekerja lebih giat dari sebelumnya

  
“Kamu nggak ngerasain, jadi nggak usah komentar”
Sebuah slogan yang sederhana, terus terang, dan (sejujurnya) agak nylekit.
Bermula dari ribut-ribut kecil antara kami berdua, biasa saling menceritakan keluh kesah dan saling memberi respons bentuk perhatian. Yah, namanya juga respons. Cerita apa, direspons gimana, harapannya gimana, tanggapannya gimana, ya kembali kepada pribadi masing-masing.

“Kamu nggak ngerasain, jadi nggak usah komentar”
Tetapi ada benernya juga. Seringkali kita memberi komentar yang negatif terhadap sesuatu hal yang bahkan kita sendiri tidak pernah tahu bagaimana sesuatu itu berjalan sebagaimana mestinya. Kita yang begitu gampangnya termakan oleh umpan dari media hanya tinggal komen ini komen itu komen begini komen begitu tanpa berusaha mencari tahu “yang benar dan yang seharusnya”

“Kamu nggak ngerasain, jadi nggak usah komentar”
Kalau boleh mengambil contoh, ambil kisah seorang pegawai pajak. Kerja benar saja masih diolok-olok, dicibir disana sini, dibilang pemakan uang haram oleh masyarakat pengkontribusi pajak, bahkan sebuah sindiran haus bisa muncul dari keluarga sendiri. Saya berkeyakinan bahwa pegawai pajak itu berhak membela diri dengan jutaan argumennya. Namun, adakah di benak pegawai pajak tersebut bahwa kebutuhan semakin mahal, rakyat semakin tercekik dengan peraturan pajak yang membuat warga semakin asing dengan pajak itu sendiri. Jadi boleh saja, pengkontribusi pajak itu berhak berkata

“Kamu nggak ngerasain, jadi nggak usah komentar”
Contoh lain adalah misalnya ketika kisah seorang dokter yang sudah berjuang semaksimal mungkin mengobati pasien, tetapi Tuhan berkata lain. Tidak jarang ada yang memang sudah ikhlas, tetapi ada juga yang menyalahkan dokter, dituduh kurang tanggaplah, bahkan ada yang sampai dituduh malapraktik. Bukankah seperti itu sungguh menyakitkan bagi si dokter, tetapi pernah nggak membayangkan gimana jadi yang ditinggalkan. Sedih? Pasti. Jadi sah-sah saja kalau yang ditinggalkan itu bilang

“Kamu nggak ngerasain, jadi nggak usah komentar”
Begitu banyak di dunia -yang sudah mulai kacau- ini yang mulai kabur antara kebaikan dan kejahatan. Faktanya, bangsa kita sangat amat mudah untuk digiring opininya. Dibolak-balik logikanya, hingga kalah melawan sesuatu yang memang sengaja dihembuskan salah.
Maafkan saya yang mungkin terkadang terlalu overcare, sok-sokan kasih nasihat sampai berbusa hingga esensi “care” nya hilang. Insya Alloh bakalan terus belajar dari kejadian ini.
Sama-sama harus sabar. Melapangkan dada selapang mungkin.

Terakhir, kamu nggak ngerasain jadi petugas satpol pp yang merazia, jadi nggak usah komentar atau kamu nggak ngerasain buka warung siang-siang, jadi nggak usah komentar atau….
bermula dari sebuah ide yang tiba-tiba muncul di layar laptop, dan segera searching dilanjut dengan memutar otak.
lumayan sih, tapi sebenernya bisa maksimal lagi.
hehe
dan sama kamu selalu bikin fresh dan terinspirasi kembali.
Makasih ya Anindita... :)

Terkadang... Ada bagian dari diri kita di waktu yang telah lewat, tidak perlu kita seret ke waktu sekarang. Biarlah dia menjadi bagian dari masanya. Dan biarlah yang kini menjalani napas, bersatu dengan takdir.

Semua usaha sudah dilakukan, semoga memang menjadi rezeki di waktu sekarang.
Dan sama halnya, aku juga tidak bisa jauh-jauh dari cinta yang berada jauh di sana.

tetapi...
Kalaupun takdir berkata lain aku hanya bisa terus berusaha.

biar kamu nggak jauh-jauh