Menggembosi Resolusi yang Basi

Sudah menjadi tradisi bagi kebanyakan khalayak dalam menghadapi siklus akhir/awal tahun. Bukan. Ini bukan menyoal perdebatan pesta kembang api maupun meniup terompet. Perdebatan yang selalu muncul. Perdebatan tersebut seharusnya dan sepatutnya dapat hilang andai masing-masing dari kita meresapi toleransi. Lhoh malah kesini. Ganti.

Akhir tahun selalu berujung dengan koreksi dan evaluasi (mungkin juga evakuasi) atas cerminan diri selama satu periode kalender Masehi. Lalu munculah retorika yang disebut resolusi. Ah, seberapa banyak dari kita yang peduli resolusi. Paling terjadi lagi-terulang lagi-menyesal lagi-tobat lagi. Wajar. Namanya juga manusia, tempatnya lupa dan salah.

Kemudian, ijinkan diri saya untuk menulis apa resolusi untuk tahun 2020. Nggak perlu njlimet-njlimet, nggak perlu ambisius, hanya perlu yang challenging and achievable.


  1. Lebih hemat dalam menggunakan uang. Jangan royal, tetapi nggak pelit. Hidup itu serba memilih dan pilihan kadang sulit. Coba berpikir kemungkinan-kemungkinan yang muncul.
  2. Menabung untuk anak. Bedakan dengan poin di atas. Dengan 2019 yang bisa dikatakan agak tergerogoti tiap bulannya, diharapkan agar saldo tabungan dapat diperbaiki supaya tidak miris dan mringis.
  3. Hidup lebih sehat. Ya, memasuki usia yang semakin menua, aktivitas fisik boleh dikatakan harus distabilkan jangan sampai mati suri. Olahraga, makan bergizi, minum air segar,  kurangi begadang,,, tetapi kalo ada perlu dan maunya ya begadang boleh.. sesekali,
  4. Menjadi suami dan ayah yang hebat. 2019 menjadi tahun yang bahagia sekaligus membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam menjalani kedua peran tersebut. Sebagai seorang suami, untuk bisa lebih membuat bahagia istri, lebih sabar, lebih bisa ambil keputusan yang terbaik buatnya. Sebagai seorang ayah, perlu banyak belajar dan mendampingi anak. Kurangi keteledoran dalam mengawasi anak. Alhamdulillah, dititipi anak olehNya yang sangat kuat. Thanks to both of you, make me stronger and better everyday.
  5. Kerja dengan baik. tak bisa ditolak dan dipungkiri. 2019 dikatakan menjadi tahun longgar  dalam dunia karir sejak 6 tahun silam. 2020 sudah menghadang dengan kondisi yang sangat sangat sempit berkumpul dalam kehangatan selimut... selimut keluarga... haha


Nggak perlu banyak-banyak, cukup itu dulu sambil di-improve di tengah jalan. Bismillah. Welcome 2020. Semoga ini tidak gembos dan basi

*ditulis sembari menunggu detik pergantian tahun dan menemani anak istri yang sedang terlelap untuk menandai mimpi indah terakhir mereka di 2019.

Ayah

UPDATE 08 JANUARI 2020
Make a mistake is an ordinary things to human race, but confess the mistake and try to make it better is the hardest way. Baru tanggal 8 udah basi apa ya itu resolusi. Bahkan, saya lupa memasukkan bagaimana untuk beribadah lebih baik lagi di 2020. Meskipun, cukup privasi untuk urusan satu ini tetapi ya itu adalah sebuah hal fundamental. Dasar dari segala dasar.
Semoga ada peningkatan dalam segi mendekatkan diri kepada Tuhan. Maha besar dan penolong di dalam kesempitan.

antara kata dan kita

memang tidak ada korelasi yang pas untuk menghubungkan kata dan kita
hanya perbedaan satu huruf yang membuat keduanya memiliki makna yang berbeda
begitupun dengan manusia, tidak ada satu kesamaan pun di antara
karena Tuhan menciptakan dengan beraneka
tak mengapa... bukankah justru itu yang membuat adanya kita

terlewati tahun kedua
dengan suka duka canda tawa tangis bahagia
cinta kita akan selalu membara dan terjaga

terima kasih kekasih jiwa
sudah engaku hadirkan warna berbeda
semoga selalu terlewati tahun-tahun berikutnya
dengan penuh kasih dan asa

-20/08/2019-
satu, dua, tiga

Selamat ulang tahun anak ayaaah...
nggak kerasa sudah 1 tahun yaa sejak kelahiranmu yang membawa banyak keberkahan buat kita semua...
Kamu lahir, ayah sekolah lagi, mama keterima CPNS,.
Semoga sehat selalu ya nak, jadi anak yang pintar, manut sama orang tua, tambah sholehah
Aamiin


Impian yang Menjadi Kenyataan
Atmosfer yang berbeda sangat saya rasakan malam itu. Suporter yang berduyun-duyun ke stadion memiliki semangat besar yang tak kalah dengan pemain di lapangan. Semangat yang mereka tularkan melalui teriakan dan koreo-koreo kreatif. Bahkan kadang ada sedikit cacian untuk peluang yang hilang. Ya, begitulah suporter dengan segala perilakunya. Semua dilakukan untuk satu tujuan. Mengawal tim kesayangan meraih kemenangan di akhir laga.

Menonton pertandingan sepak bola di televisi sudah biasa bagi saya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Akhir pekan menjadi suatu hal yang saya tunggu-tunggu karena bergulirnya pertandingan sepak bola di Eropa. Saya rela begadang demi menonton tim kesayangan dan pemain idola. Sebagai suporter layar kaca, saat itu saya membayangkan bisa menonton langsung di stadion dan bersorak sorai merayakan gol demi gol. Ternyata impian saya itu terwujud beberapa tahun berselang, tepatnya saat gelaran Piala AFF tahun 2010 yang digelar di Jakarta.

Saya masih ingat betul antusiasme publik terhadap timnas Indonesia sangat tinggi utamanya saat Piala Asia 2007 dan 3 tahun kemudian saat Piala AFF 2010. Bahkan pada tahun 2007 muncul tagline “Ini Kandang Kita” yang menggambarkan semangat berapi-api karena di dua tahun tersebut Indonesia mendapat giliran sebagai host. Tentunya masyarakat Indonesia berharap lebih terhadap permainan timnas dan juga hasil yang maksimal. Hasil yang dianggap maksimal pada Piala Asia 2007 menjaga atmosfer dukungan dari publik tetap tinggi hingga 3 tahun berselang. Pergantian tongkat kepemimpinan dari Ivan Kolev ke Alfred Riedl diharapkan dapat meningkatkan performa dan kekompakan tim.

Pada tahun 2010 kebetulan saya melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tangerang dan berbarengan pula dengan pelaksanaan Piala AFF yang ke-8 di Jakarta. Saya pun sangat antusias dan ingin rasanya menonton pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Namun, jadwal kuliah yang padat membuat saya tidak bisa menonton seluruh pertandingan yang dijalani di grup A. Untungnya timnas kita bisa menyapu bersih semua pertandingan dengan menjungkalkan Malaysia (5-1), menggasak Laos (6-0) dan menundukkan Thailand (2-1) dalam sebuah pertandingan yang sudah tidak menentukan namun sarat gengsi.

Melaju ke babak semifinal sebagai pemuncak klasemen di penyisihan grup, timnas bertemu dengan Filipina yang notabene merupakan runner-up grup B. Laga semifinal digelar dengan sistem home-away bagi kedua kesebelasan. Pada saat itu Federasi Sepakbola Asean (AFF) tidak memberi rekomendasi kepada Filipina untuk menggelar pertandingan karena stadion yang tidak memenuhi persyaratan. Akhirnya, laga leg pertama digelar di SUGBK dengan timnas bertindak sebagai tim tamu.

Tak ingin melewatkan kesempatan lagi, saya bertekad untuk menonton langsung pertandingan timnas sekaligus mewujudkan angan-angan saya. Bersama seorang sahabat yang juga merupakan penggila bola, Izhar Rizki, kami berangkat ke SUGBK pada H-1 pertandingan dengan harapan memperoleh tiket pertandingan. Kami berangkat dari Tangerang dan melewati jalanan ibukota untuk mencapai SUGBK. Sesampainya di sana sana, kami melihat banyak sekali bentuk antusiasme yang bergelora. Pedagang jersey timnas bertebaran di sekitar stadion, belum lagi dengan adanya suporter dari daerah-daerah yang sengaja ke Jakarta demi menonton timnas.

Saya sempat tertegun melihat antrian penjualan tiket yang mengular dan semakin pesimis akan mendapat tiket. Kami pun akhirnya hanya berkeliling di sekitar SUGBK dan mampir ke kantor PSSI yang berada di komplek stadion. Kami melihat ada seorang bapak-bapak, yang kami tahu merupakan salah satu pengurus PSSI yang biasa muncul di TV sedang berjalan ke arah lobi. Kami pun nekat untuk menghampiri bapak itu dan menyampaikan niat bahwa kami merupakan kelompok suporter timnas dari kampus dan tidak kebagian tiket. Ternyata bapak pengurus PSSI itu menanggapi dengan baik dan berjanji besok akan memberi kuota tiket. Kami diminta untuk datang besok di salah satu hotel yang ada di kawasan Senayan.
Keesokan harinya saat hari pertandingan, saya dan teman-teman berangkat ke SUGBK beramai-ramai mengenakan jersey ataupun kaos berwarna merah dan putih. Sebelumnya tiket sudah diambil oleh rekan saya dan kami mendapat 12 tiket gratis! Alhamdulillah. Kami pun ikut ke dalam barisan antrian untuk memasuki stadion. Di dalam sudah ramai dengan suporter yang bersiap-siap meneriakkan yel-yel. Saya yang juga berada dalam tribun merasakan degupan jantung yang sangat keras dan juga takjub melihat puluhan ribu manusia memenuhi stadion. Pertama kalinya bagi saya melihat kumpulan orang dalam jumlah besar dan saya menjadi bagian dari itu.

Begitu lagu Indonesia Raya berkumandang, saya dan suporter lain berdiri dan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan tersebut. Dada semakin sesak. Hati ini makin campur aduk. Ada rasa haru dan bangga, akhirnya saya bisa mewujudkan cita-cita yang sudah lama dambakan. Pertandingan dimulai, kami pun ikut bernyanyi dan meneriakkan yel-yel untuk membakar semangat pemain di lapangan. Di pertengahan babak pertama sebuah serangan dari timnas membuahkan gol yang dicetak Christian Gonzales melalui sundulan yang sempat membentur tiang. Kami semua berdiri dan seketika meneriakkan “Goool!”. Tanpa sadar kami saling berpelukan dan ikut larut dalam kegembiraan. Skor berubah 1-0 untuk Indonesia.

Pertandingan dilanjutkan dan jual beli serangan kembali dilakukan. Sepanjang pertandingan saya merasakan atmosfer yang berbeda dibandingkan dengan menonton dari layar kaca. Perasaan deg-degan yang lebih nyata apabila ada serangan lawan maupun saat timnas kita gagal menyelesaikan peluang untuk menambah gol. Hingga akhir pertandingan skor tidak berubah dan Indonesia memenangkan leg pertama ini.

Setelah mengambil sedikit foto untuk kenangan, kami pun pulang dengan rasa bangga dan bahagia. Di luar stadion, euforia kemenangan masih terasa. Nyanyian suporter yang tak kunjung henti dalam perjalanan pulang masih terdengar, pedagang jersey yang semakin laris dagangannya, penjaja makanan dan minuman yang seperti tidak kehabisan pembeli. Antusias saat itu sungguh terasa hingga gelaran usai. Namun sayangnya, lagi-lagi timnas kita hanya menjadi runner-up di bawah Malaysia.

Begitulah sepakbola. Dia bisa mempersatukan semua kalangan, menggerakkan roda perekonomian, menggerakkan massa, dan mengajarkan kita akan nilai-nilai fairplay. Persaingan hanyalah 90 menit di lapangan, setelah itu kita kembali bersaudara satu nusa satu bangsa. Tanpa suporter, sepak bola akan terasa hampa. Hidup sepakbola Indonesia.

(Tulisan ini mendapat tempat disini karena belum memenuhi persyaratan lolos kurasi dalam sebuah ajang penulisan)


Malaikat Kecil Kami :)


Detik yang berdetak seiring dengan berjalannya waktu. Menggantikan nafas lama.
Tidak terasa bakal kehidupan itu terus tumbuh. Semakin hari dia semakin berkembang, seiring dengan nutrisi yang disalurkan.
5weeks, masih cuilik



berapa weeks ya, lupaaa

halooo, adik udah gedee :)

Adik, sebentar lagi ketemu ayah sama mama yah. Nggak kerasa dulu adik masih cuiliiikk, sekarang udah kira-kira 1500gram. Alhamdulillah. Makin sehat ya nak, ayo digendutin lagi badannya. Makan yang banyak, kalo laper nendang mama yaah :p













Curiwis

Jangankan urusan hati dan perasaan, bahkan yang di atas bisa membolak-balikkan tindak tanduk seorang manusia.
Dan itu terjadi juga pada saya.
Saya yang mungkin dianggap sebagian orang adalah sebagai orang yang pelit bicara, yang pendiam, yang nggak rame. Ya itu benar. Dan mungkin sebagian orang lainnya menganggap saya adalah seorang yang cerewet, sok akrab, rame. Itu juga benar.
Repotnya...
Jika salah satu hal itu begitu mudah dibolak-balikkanNya.
Disaat saya lagi masuk mode irit bicara, saya merasa orang-orang di sekitar saya ini terlalu cerewet. Banyak omong. Ingin saya segera menyela apa yang dibicarakan orang yang cerewet itu. Hahaha. Serunya, kalo di mode ini, saya bertemu dengan teman/orang yang sepemikiran. Bakal rame.
Sebaliknya...
Disaat saya lagi masuk mode cerewet, saya merasa harus menggerakkan bibir. Bicara semua hal yang dari nggak penting sampai yang super penting. Saya merasa perlu lawan bicara dimana mereka masuk mode pendengar yang baik. Mungkin saya perlu melawak untuk menciptakan suasana yang lebih akrab.
Fatalnya lagi...
Apabila saya nggak menemukan seseorang di sekitar saya, hmmm rasanya hampir mirip orang stres. Ketemu gadget, scroll-scroll, bosen. Ditambah dengan bunyi notif chat yang masuk semakin bikin muak. Males banget buat ngechat, rasanya jadi nggak mood. Terus tiba-tiba jadi silent mode notificationnya.
Sepi ya rasanya nggak ada apa-apa di sekitar kita, berasa kayak di kamar, dan nggak punya koneksi, bisanya cuma tidur dan tidur. Tiba-tiba jam sudah berlalu dan sedih melewatkan waktu secepat itu.

Please...