Terkadang... Ada bagian dari diri kita di waktu yang telah lewat, tidak perlu kita seret ke waktu sekarang. Biarlah dia menjadi bagian dari masanya. Dan biarlah yang kini menjalani napas, bersatu dengan takdir.
Semua usaha sudah dilakukan, semoga memang menjadi rezeki di waktu sekarang.
Dan sama halnya, aku juga tidak bisa jauh-jauh dari cinta yang berada jauh di sana.
tetapi...
Kalaupun takdir berkata lain aku hanya bisa terus berusaha.
biar kamu nggak jauh-jauh
Sepi
Sepi... Aku sendiri... terjebak di rentan hari
Takut menghalangi batasi gerak diri
Akal sehatku mati, agungkan yang tak pasti
Mautpun membayangi tak sanggup kusembunyi
Asa yang menari menggeliat dibenakku
Samar nur pun melambai memanggilku untuk kembali
Satu sisi telah terhapus sisakan perih
Satu sisi telah terlahir memecah sunyi
Satu sisi melimpah berkah memeluk lelahku
Satu sisi tak kan kulepas temani hariku
Tiba-tiba siang tadi pengen banget nyetel lagu
ini. Lumayan mengingatkan kembali zaman masih muda. Zaman masih sekamar berdua.
Zaman otak masih cerdas, sedikit dijelasin bisa langsung nyantol. Beda,
sekarang ya nyantol tapi cuma bentar. Habis itu ya,, embuh kemana.
Lagu penghilang sepi. Dewa dan Gigi. haha
Kali ini terasa berat… beneran berat… tapi bismillah
semoga bisa melewati ujian ini.
“BISA karena MAU dan TERBIASA”
Dan ini adalah serius melebihi dari serius.
Terkadang sulit untuk memulai, bismillah,, saatnya kembali ke jalan yang lurus.
.........................................................................................................................................................
Tiga bulan sudah sejak bergantinya kalender,
Dan selama tiga bulan itu, tidak ada lagi gelak
tawa yang biasanya kita bagi bersama,
Semuanya terasa datar, terasa hambar,
Mungkin ada sedikit canda dan bahagia,
Tapi tetap saja itu berbeda,
Kawan,
Hadirmu selalu kurindukan,
Tapi fisikmu tidak kuharapkan,
Karena kita sama-sama tahu,
Ya… Rumah selalu memiliki kenyamanan yang tak
habis oleh waktu,
Dan sekarang, hei kawan…
Tunggu giliranku untuk kembali pulang.
Jadi nunggu kalo ada adegan-adegan film lawak
jadul.
Adegan Warkop ngamen di bus trus si Madona teriak
"Kasino, Indro". haha. pasti langsung keinget.
Belum lagi adegan horor waktu Suzanna bilang
"Bokir kecuuuut", trus suara ketawanya ditiru. haha.
The Best 25
Someone I love was born today
I’m just being the one so lucky here to say some words
Happy Birthday my dearest one…. J
Ciee, masih muda, umurya masih seperempat… abad. Hihihi
Selamat ulang tahun yah sayaaang, semoga selalu diberkahi sama Allah,
diberi kesehatan, dimudahkan setiap pekerjaan dan urusan kamu. Semoga apa yang
kamu cita-citakan diridhoi dan dikabulkan sama Allah.
Tambah soleh. Tambah manis (kayak di foto yang aku bilang :) )
Tambah sayang sama keluarga, temen-temen, sama aku juga boleh :p *),
tapi satu ya, Jangan ditambah shading idungnya..
Aku nggak bisa ngasih kamu apa-apa, but this silly cushion, kamu sering
tanya, “gimana kalo kangen?” kamu ngasih beki buat dipeluk, aku cuma bisa kasih
ini.. (ya kali aku ngasih kamu boneka, nanti..nanti..ketagihan..:p) Hug this
cushion when feels like I’m hugging you back. Remember, though we’re apart, we
still stare at the same moon and stars in the sky every night..
Dan bukunya..anggep aja kamu belum punya ya. Katanya disana nggak ada,
eh.giliran ada malah sama-sama belinya mungkin jodoh ya…..bukunya…*dan yang
beli* hahaha
Niatnya aku beli bukan buat aku sendiri kok, jadi nggak mau dibuka deh
bukunya,yaudah deh, so I brought this book to you..hahaha
It’s 3 am when I'm writing this, so… I guess I couldn’t say nothing
more..at the very last.
Thank you for believing me and allow me to hold you in my heart.
Selamat ulang tahun ya mas wisnu.. :) semoga kita bisa sama-sama terus
ya… aamiin…
I love you, to the moon and back
09.03.16 3:45 a.m.
Beberapa jam setelahnya….
“Ini dibawa ikut terbang ya,
tapi aku nggak bawa tasnya. Bisa kan masuk di tasmu?”
Dan kubawa kado itu itu terbang
melewati lautan dan menembus gerhana. Sampai di tempat tujuan, sesuai wejangan
dari yang bawain, jangan dibuka sebelum waktunya. (katanya) Beliaunya bisa tahu
kalau aku nakal buka duluan. Haha.
14 Maret 2016
Sempet pake acara ketiduran
juga, alhamdulillah bisa bangun pukul 00.22 (apal banget), dan langsung telepon
pacar. Nyobain video call, tapi
apalah daya upaya apabila sinyal tidak mendukung. Akhirnya balik ke telepon
konvensional, dan… Ya Alloh perjuanganmu di malam sebelumnya. Habis diceritain,
jadi sedih-sedih geli. Ndakpapa. Terima kasih ya sayang, kamu sudah repot-repot
cuma buat ngerayain ulang tahun orang yang jauh disini. Terima kasih doa dan
kadonya. This is the best birthday gift,
sama kayak kamu yang udah ada di usiaku yang ke-25 ini. Pokoknya terima kasih
atas perhatian dan semuanyaaaa :*
15 Maret 2016
Pulang sosialisasi, dan
mbak-mbaknya sibuk di belakang. Udah jam selesai kantor dan tiba-tiba.
“Selamat ulang tahun, Mas”. Haha.
Mbak-mbaknya pada nongol sambil bawa kue dengan lilin di atasnya. Lilinnya
berangka 23. Alhamdulillah, aku masih berasa 23. Dan, mereka saling ribut kecil
karena keliru soal lilin. Yaudah nggakpapa, yang penting essensinya. Lilin ditiup,
kemudian roti dibagikan rata kepada semuanya. Makasih ya.. udah repot-repot, sampe
dibuatin beginian.
20 Maret 2016
Habis foto studio sama
rekan-rekan BKS48 (angkatan kami yang penempatan di Bengkulu), pulangnya mampir
ke Rumah Pizza. Dilanjutkan ke kantor, entah mau ngapain. Utamanya mau
foto-foto sih, perpisahan karena ada beberapa dari kami yang dimutasikan. Alhamdulillah.
Sudah sampai di kantor, ternyata dapat surprise lagi. Tiup lilin lagi. Haha. Makasih
yo cah, semoga kita segera dikembalikan ke habitat. Aamiin.
Dan akhirnya…
Di usia yang sekarang, makin
banyak angan, makin banyak cobaan, dan makin harus banyak bersabar, berbesar
hati, dan legowo. Intinya adalah selalu berpikir jernih, jangan mengedepankan
emosi. Ingat, kamu sudah gede. Bisa bedain mana yang benar dan mana yang salah.
Sudah saatnya kamu tampil ke
depan, memimpin diri sendiri. Dan apabila dapat amanah, pimpin yang lain:
bawahan, teman sejawat, dan ke depan insya alloh menjadi kepala keluarga.
Bukan lagi pacaran seperti anak
muda. Harus sudah mulai memikirkan masa depan dan memikirkan bagaimana caranya
bisa segera kembali ke homeland. Belajar yang rajin, Mbon. Ujian di depan mata.
Bismillah.
Terakhir, selamat seperempat
abad menghabiskan oksigen di muka bumi. Semoga ke depan masih diberi kesempatan
dan kesehatan dan bisa menukar amal dan ibadah dengan ganjaranNya di akhirat
nanti. Aamiin.
A long way to go... Baru pertama… emm ya pertama yang namanya hiking alias munggah gunung. Itu juga rencana dadakan yang nyaris batal karena
anak-anak nggak semangat.
04.00 WIB
Dibangunin
Ifan dengan cara disaduk.. hiks
“Nu Nu,, tangi sido hiking gak?” aku pun njenggirat
bangun karena dibangunin pake cara itu. haha.
04.45 WIB
Akhirnya perjalanan dimulai.
Setelah dihitung, yang berangkat cukup banyak juga : 3 pria lajang dan 1
pasangan suami istri. Pagi-pagi buta menembus tapal batas kota melewati 2 kabupaten,
yang mana pemandangannya Masya Alloh indah banget. Saat itu adalah pertama
kalinya aku pergi ke arah gunung, karena daerah yang aku kunjungi kebanyakan
berkontur pantai.
Kanan - kiri penuh dengan vegetasi dan jurang. Maklum, namanya
pegunungan… hehe. Kabut yang kadang turun membuat suasana menjadi sendu. Ada
yang masih ngantuk, ada yang merem-merem melek (atau melek-melek merem)
08.30 WIB
Setelah perjalanan yang jauh,
akhirnya sampai ke kota yang berada di atas gunung itu. suasananya damai dan
dingin. Aku yakin orang jualan AC nggak bakal laku di kota itu. hihi.
Mending-mending jualan wedang ronde. Kami bergegas mencari suatu tempat untuk
sekedar mengisi perut. Sempat terjadi perdebatan kecil apakah perlu sarapan
atau tidak. Pertimbangannya antara “nggak ada tenaga/laper” dan “suduken”
Akhirnya ya jadilah kami sarapan. Menu yang beruntung kami pilih pagi itu
adalah mi pangsit yang katanya murah.
09.00 WIB
Selesai sarapan dan kami
meneruskan perjalanan berkelok-kelok menuju pos lapor. Sebelum itu, kami pergi
ke warung untuk menyiapkan perbekalan. Mengisi tas dengan snack angin dan
beberapa botol air mineral. Dikarenakan cuaca yang agak mendung, kami
melengkapi perbekalan dengan membeli mantel plastik seharga 6 ribu rupiah. Oke
perbekalan kami… Insya Alloh lengkap.
09.30 WIB
Tiba di lokasi, dan seorang
kawan melapor ke pos penjagaan dan membayar biaya administrasi (?). Di pos itu,
petugas menyarankan kami untuk mengikuti jalan beraspal saja, karena di antara
kami berlima belum ada yang pernah hiking ke situ.
Setelah kami lapor, ternyata ada
satu orang wanita yang “dititipkan” ke rombongan kami. Usut punya usut ternyata
si mbak ini adalah pegawai magang di dinas setempat dan ternyata masih satu
angkatan sama kami. Aku jadi mikir kalo misalnya nggak ada kami, mbaknya ini
tetep naik apa nggak ya. Secara wanita dewean
munggah gunung, mengko nek digondol macan
piye,, opo neh macan garong #krik
Kami pun berangkat dengan
personel 6 orang. Sampai di pintu masuk, jalanan yang kami lalui terus
menanjak. Kaki ini mulai terasa malas untuk mengikuti perintah otak. Jantung
pun mulai berdebar-debar. Dub dub dub begitu kencang. Jaket khas yang selalu
aku pakai akhirnya aku lepas karena keringat mulai membuat gerah. Setapak demi
setapak.
Oh iya, kata petugas dan beberapa
rekan yang sudah pernah hiking ke situ, untuk mencapai puncak diperlukan waktu
2 jam. Namun, bagi yang sudah biasa hiking ya mungkin sekitar 1,5jam. Kami
semua di situ masih amatiran dan kami pun memilih paket 2 jam++ . hahaha.
10.00 WIB
Baru setengah jam jalan dan kami
pun berhenti. Lega aku mendengar kawan-kawan berhenti. Pas berhenti, kepala
berasa nggliyeng, napas tersengal-sengal, jantungnya masih dub dub dub nggak
karuan #halah.
“lungguh sik, Mbon”
Aku selonjorin kaki sambil duduk
di tempat yang agak datar. Dan tiba-tiba perut saya mules. Disinilah hati saya
bergejolak. Terus jalan atau dibuang isi perut. Kalau terus jalan nanti makin
nggak karuan, kalau dibuang ya,, ya,, ini kan di hutan, mana ada kamar mandi.
Dan tiba-tiba ada suara dari
alam yang membisik ke telingaku dan kuambillah keputusan.
“Guys, kalian berempat jalan
dulu aja. Biar aku sama Angga jalan belakangan. Aku ada urusan.”
Sok cool banget.. lha iya
daripada bilang “aku meh ngebom sik, ben dikancani Angga arep nyebokin”
Jadilah mereka berempat jalan
duluan, saya pun masuk ke hutan, mencari semak-semak dan si Angga berjaga-jaga
kalo misalnya ada beruang yang merasa terusik,, oleh bau dari arahku,,emmm
Beres berhajat, aku dan Angga
pun berjalan kembali menyusul. Sekitar 15 menit kami bertemu dengan rombongan.
Ternyata mereka juga pelan-pelan menunggu kami.
11.20 WIB
Tibalah kami di depan tangga
menuju puncak,, bukan gemilang cahaya ya tapi. Di situ kami berfoto-foto
sebentar sambil mengumpulkan tenaga untuk mendaki tangga terakhir menuju
puncak. Katanya sih tangganya berjumlah 300-an. Senang rasanya sudah mendekati
puncak. Kaki ini kembali bersemangat untuk menginjak anak tangga itu satu per
satu.
11.30 WIB
Dan… puncak, alhamdulillah bisa
sampai. Terbayar sudah perjalanan sekitar 2 jam (bener ya 2 jam). Pemandangan
dari puncak sungguh luar biasa. Kota yang tadi kami singgahi berada di bawah
kami. Bahkan tempat sarapan kami tadi terlihat dari situ (opoooo). Nggak ding
becanda. Haha
Pokoknya puas banget sampai
puncak. Jadi hikmahnya adalah : harus jaga kondisi fisik dan berusaha sekuat
mungkin untuk mengejar cita-cita.. jadi manusia tidak boleh malas. Kalau capek
ya berhenti sejenak, tarik nafas, sabar. Kemudian lanjutkan perjuangan kembali
tanpa menoleh ke belakang #sokbijak
12.15
Kami pun seperti dipaksa turun
oleh alam. Gerimis mulai mengundang dan kabut pun keluar menutupi jalan
pendakian kami. Benar saja, sekitar 5 menit jalan hujan semakin menjadi. Kami
keluarkan mantel plastik kami dan segera memakainya. Sayangnya si mbak yang
ikut rombongan kami tadi tidak membawa plastik, jadilah beliau berkeruduk jaket. Alhamdulillah hujan
tidak lama mengguyur.
Perjalanan turun terasa (agak)
lebih ringan. Hanya kontrol keseimbangan saja biar nggak terpeleset dan tidak
bablas ngglundung. Otot dengkul lebih terkoordinasi untuk mengerem dorongan
gravitasi ke bawah. Sesuai ilmu fisika bahwa F = m x a. untung m ku besar, jadi
a nya agak kurang oposih.
Untuk menghilangkan capek, aku
pun mulai menyenandungkan beberapa lagu. Dan mujarab, baru juga beberapa lagu,
kami sudah sampai kembali di pintu masuk tadi.
13.30
Sampai juga akhirnya di tempat
pos tadi, kami melapor kepada petugas dan berpisah dengan si mbak tadi. Ketika
akan cuci kaki, aku pun kaget karena dari telapak kaki sudah belepotan darah.
Tiap disiram air, darahnya hilang. Namun, 5 detik kemudian mengucur lagi darah.
Padahal tidak ada nyeri sama sekali. Mau telepon pacar tapi sinyalnya susah.
Yaudah sementara dilap pake tissue. Kami pun segera beranjak pergi menuju kota
lagi sambil mencari warung untuk membeli plester. Giliranku menyetir dan dengan
darah yang semakin dleweran.
Pas udah dapet plester untuk
dipasang, kuangkat kaki dan ternyata darah sudah menetes kemana-mana. Telapak
kaki yang putih berubah menjadi genangan darah. Belum lagi yang menetes di
karpet mobil #lebaysitik. Alhamdulillah tidak kenapa-kenapa setelah diplester.
13.30 – 18.00
Waktunya pulang untuk Ishoma.
Istirahat di mobil, sholat di masjid, dan makan di temapt makan. Tak lupa
pulang membeli oleh-oleh. Hehe
Alhamdulillah masih diberi
kekuatan dan kesehatan untuk melakukan hiking.
Umur sudah hampir seperempat abad, berat badan udah kepala 7. Huft. Semoga ke
depan bisa hiking lagi sekaligus camping. Aamiin.
*Bengkulu - Curup, 12 Maret 2016
![]() |
masih segar belum naik |
![]() |
di depan pintu masuk, start - finish |
![]() |
pohon ambruk |
![]() |
mulai lelah, untung ada ranting pohon |
![]() |
difoto mbaknya |
![]() |
mulai ngos - ngosan |
![]() |
jalur pendakian tangga |
![]() |
sampai di puncak, Angga ki pose opo |
![]() |
asap dari kawah belerang |
![]() |
penghuni C6 |
![]() |
pemandangan (?) |
Balada Pria
Angkringan… The Power of Java,
bermacam-macam rupa dan rasa dengan porsi yang sesuai selera.
“Pinten, Mas? Segone dua, (sate) baksone dua, tahu ne tiga, sama mimik e
teh anget panas”
“Dua belas (ribu), Mas” timpal mas yang tunggu warung.
Wow… this is incredible of
Java Island. Meanwhile, in other side of this earth, many people must pay more
to buy at the “same thing”
Dan di angkringan itulah seorang pria paruh baya menemukan sebuah
pencerahan. Pencerahan yang diceritakannya kepada saya itu sungguh mengena. Dia
berbicara mengenai hijrah. hi-jrah. H I J R A H.
Pria itu mulai bercerita bahwa ia baru kembali dari rantau dan
menyempatkan diri mengelilingi kota ini. Menurut ceritanya, kota ini sangat
ramai bahkan di malam hari. Banyak anak remaja (ataupun dewasa) yang memenuhi
kota. Di pusat kota, di pinggir jalan, di tempat pusat perbelanjaan. Ada yang
sekedar duduk-duduk sambil ngobrol, ada yang keluar sekedar mencari cemilan.
Malam pun semakin ramai dengan adanya sebuah konser musik yang mendatangkan
grup musik papan atas negeri ini. Sungguh suasana yang menggambarkan riuhnya
kota malam ini.
Pria itu melanjutkan kisahnya lagi. Kali ini dia menceritakan kemajuan
kota ini. Gedung-gedung baru mulai dibangun, fasilitas umum mulai dirawat, dan
pembangunan hingga ke area pinggiran kota. Dia begitu takjub akan kerlap-kerlip
lampu yang menyala di malam hari.
Saya yang dari tadi duduk di sebelahnya sambil menyeruput secangkir teh menjadi terheran-heran. Dan tiba-tiba saya ingat kalau malam itu adalah malam
minggu, malam yang katanya sakral untuk para pasangan, malam di mana akan
terjadi meningkatnya volume kendaraan dan polusi. Ya pantes ramai, lhawong ini malam minggu. Pria ini nggak
waras ya? Saya mencoba bertanya-tanya dalam hati dan saya hendak menyanggah semua
celotehnya itu. Cangkir pun saya letakkan dan aaaa,, baru juga membuka mulut, Pria
itu tiba-tiba bercerita lagi.
Sambil sedikt lesu dan setengah lirih dia berkata, “Saya ingin hijrah”
Itu kalimat yang diucapkannya. Ha? Hijrah yang bagaimana?
Sejurus kemudian Pria itu menggumam sendiri, saya yang di sebelahnya
jelas mendengar apa yang diucapkannya tetapi susah untuk memahami. Mungkin
hanya Pria itu sendiri yang tahu. Kira-kira yang keluar dari mulutnya seperti
ini :
Nak, kamu masih muda. Jangan
kebanyakan senang-senang. Umur tidak ada yang tahu. Hidup di dunia ini singkat,
raihlah cita-cita kehidupan yang ada di akhirat nanti. Kamu lupa? janjiNya
adalah pasti.
Saya cuma mengangguk saja, ketika saya mau berkomentar apa maksud dari
perkataan si Pria itu, lagi-lagi si Pria itu melanjutkan ocehannya.
Aku memang bukan yang terbaik,
beda denganmu yang bisa meraih itu.
Aku juga bukan sosok yang banyak
teman, beda denganmu yang ramah.
Usahaku untuk sepertimu? Nol
besar kawan..
Aku bukan orang yang murah
senyum dan ringan tangan, beda denganmu yang selalu tersenyum.
Aku bukan orang yang religius,
beda denganmu yang selalu melantunkan ayat suci bahkan hingga hapal.
Tetapi aku masih mencobanya,
hingga kini.
Aku memang bukan orang yang
pandai berkelahi, beda denganmu yang bahkan mampu membuat orang bergidik
melihatmu
Aku bukan orang yang punya
banyak harta, beda denganmu yang tiap hari selalu saja ada yang baru.
Maafkan aku kawan.
Aku bukan orang yang selalu
sabar, beda denganmu yang selalu memiliki kepala yang dingin.
Aku bukan orang yang punya
tekad kuat, beda denganmu yang selalu menunjukkan lebih.
Tiba-tiba pria itu berhenti mengoceh dan terbengong beberapa saat. Saya
yang di sebelahnya menjadi keki. Hampir kutepuk pundak si Pria itu, dia
tiba-tiba berceloteh kembali.
Dan kini aku terjebak dalam
nostalgia. Ketika semuanya berubah menjadi yang lebih baik, aku hanya diam
saja, terjebak dalam zona nyaman, terjebak dengan hingar bingar ini. Semuanya
yang tidak berubah akan berlalu berkalang dengan debu. Sebaliknya, yang
(setidaknya) mau dan berusaha untuk berubah akan menikmati hasil dan jerih
payahnya. Sungguh aku menyesal. Semoga ini tidak hanya di mulut saja. Aku
pengin hijrah.
Pria itu berhenti berbicara dan mulai menghabiskan teh panasnya. Sekilas
kulihat tadi ada genangan air di kedua matanya. Mungkin Pria itu sedih,
teringat anaknya, teringat istrinya, eh sudah menikah belum ya. Siapa tahu dia
teringat yang lain, kekasihnya mungkin atau orang tuanya. Aku pun hendak
bertanya lebih detil mengenai identitas si Pria itu.
Namun, Pria itu tiba-tiba berdiri dan mengambil cermin di sebelahku.
Cermin? Sejak kapan ada cermin di sebelahku? Aku masih heran. Di tengah
keherananku, Si Pria itu berlalu sambil menenteng cermin di pinggangnya.
“Lho piye to Bapak e kae, rung
dibayar kok malah wes lungo”
“Lha piye to mas?”Aku pun
bertanya dengan logat Jawa yang kental.
“Mbuh kui, malah lungo. Lha
iki sing mbayar sopo. Apes tenan.”
“Bapak kui entek e piro, Mas?
Sopo reti iso sisan tak bayar, iki aku nggowo duit luwih kok”
“Dua belas (ribu), Mas”
Drop
Capek. Ya begitulah. Capek yang patut buat disyukuri. Lagi-lagi karena
urusan kerjaan. Prinsipnya adalah banyak kerjaan, banyak capek, berarti masih
banyak rezeki. Rezeki buat nambah rekening, rezeki buat nambah ilmu, nambah
pengalaman, nambah kawan.. dan rezeki buat pulang.. insya alloh
Capek yang kadang kebablasan, akhirnya diingatkan sama yang di atas. Fisik
(dan jiwa) yang diberikannya akhirnya ambruk. Overuse. Memang terkadang,, kadang ya,, selalu saja ada yang harus
saya paksakan.
Kini, seminggu sudah. Bertubi-tubi. Dari flu berat, panas dingin, suara
berubah, batuk berkepanjangan, kepala pusing. Segala upaya sudah dilakukan. Konsultasi,
minum obat, makan banyak, bobok yang cukup. Bismillah. Seminggu sudah cukup.
#kejarsetoran #sibukkerja
Late Holiday, Early Happiness
And…
the holiday is over…
Setelah seminggu berkutat dengan
penyusunan LK tingkat Satker. Termasuk senior juga ya udah sampe season ke-5.
Rasanya campur aduk. Seneng, sedih, kesel, bahagia. Semua jadi satu Semoga ini
yang terakhir dan terbaik. Haha. Sedikit cerita tentang penyusunan LK ini, kalo
boleh. Saya di Bandar Lampung seminggu, rencana buat senang-senang sama mantan
satpam kantor pun hanya bisa semalam saja. Itu masih dibarengi dengan capek dan
ngantuk luar biasa. Huft. Yah ndakpapa lah, lain kali kita nogkrong-nongkrong
lagi yo mas.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Dan tibalah saat pulang ke Semarang.
Ambil cuti 5 hari kerja sebagai pengganti libur akhir tahun. Rehat sejenak dari
urusan kantor, bertemu dengan keluarga, bertemu dengan pacar. Yah diharapkan
nantinya pas kembali ke meja kerja bisa lebih fokus dan semangat. Bismillah.
Seminggu di Semarang dan tiap hari
ketemu kamu, rasanya masih terlalu cepat. (Harusnya) masih banyak lagi
kegembiraan-kegembiraan yang bisa kita bagi bersama. Tapi nggaktau nek nanti
kamu malah bosen. Hikks. Rangkaian cerita yang hanya bisa lewat telepon
beberapa jam, rasanya tidak sebanding dengan obrolan langsung denganmu.
Candamu, tawamu, wajah sebelmu, wajah kusutmu,, rasanya itu semua pengen bisa
ada di hari-hariku.
“Kalo bisa ada progress ya di tahun ini? Kamu
mau gini-gini aja?”
“Progress gimana?”
Yah… bahkan aku nggak bisa membelamu
saat ibuku tercinta menanyakan itu padamu. Kamu pasti lihat raut bahagia di
tiap senyum ibuku dan pancaran semangat di mata bapakku. Aku nggak perlu lagi
bilang “Bapak sama Ibu sudah kasih lampu hijau”
“Sambil jalan ya….”
Bapak sama ibu sekarang sudah tahu apa
yang menjadi programmu, tetapi dengan persiapan yang bisa lebih dini bukannya
itu lebih baik #eh
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Selain liburan, momen bersejarah yang
lain adalah kegembiraanku bisa melihat kamu menyelesaikan pendidikanmu. Lama
menunggu namamu dipanggil akhirnya fotomu terpampang lebar di bigscreen dan
dari jauh aku melihatmu melangkahkan kaki untuk menerima ucapan selamat dari
rektor kampus.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“Nggak kelihatan og,, podo kabeh wonge”
begitu komentar ibumu sambil tersenyum bahagia.
Yah meskipun tidak kelihatan, ibu dan
bapakmu pasti bangga bisa melihat anaknya sekarang sudah menyandang gelar “dr.”
di depan namanya. Berterima kasihlah kepada beliau berdua, semuanya tak lepas
dari usaha beliau hingga kamu bisa ada di posisi seperti ini. Bapak rela jauh
dari keluarga demi bisa membayar ongkos kuliah. Ibu yang tentunya tidak
henti-hentinya berdoa di setiap habis sholat fardhu maupun sunnahnya. Sungguh
sebuah tauladan keluarga yang (terbukti) menghasilkan anak yang sholehah,
bermanfaat bagi orang sekitar, agama, dan negaranya. Amiin.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Saatnya jalan-jalan….
“Besok mau kemana? Makan keluar yuk!
Yuk main kesana, katanya kamu belum pernah. Nonton ini yuk”
Dan menghabiskan waktu denganmu adalah
bahagiaku. Mumpung aku bisa pulang. Saatnya jalan-jalan, lupain pekerjaan dan
jaga. Tiba-tiba kamu jadi anak ngehits, dan aku menjadi tertuduh yang katanya
pengen foto-foto. Haha. Foto aja sering ndangak dan bingung pose meh piye. Yang
penting setiap kegembiraan bisa kita ingat dalam memori, buat cerita nanti dan
juga buat nyombong sama temen-temen #halah
Jepret-jepret di semua penjuru dan
hasilnya yaah bisa dilihat di memori hape dan laptop. Haha. Makasih ya sayang,
kamu mau meluangkan waktumu.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Karena setiap perbuatan pasti ada
kekurangan. Maaf yah kalo aku pulang masih aja ngambek, masih ada yang
sekiranya buat kamu kurang berkenan. Sama-sama belajar dan sabar buat
ngejalanin hubungan ini. Bismillah. Bismillah. Bismillah.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Inget ya
beberapa hari dari sekarang, titipanku itu dibuka. Harus sama Beki bukanya, dan
harus ada aku lewat telepon. Haha. Aku mau denger ketawamu. Udah yaah, liburan
telah usai. Nyari uang dulu buat sewa gedung sama pesen catering #eh
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Cuma segini ya kualitas tulisan dari yang katanya
dapet juara harapan 3 dengan peserta 6 orang (mungkin) hahaha….
Langganan:
Postingan (Atom)