Suatu ketika saya pernah
merenung, atau mungkin membuat suatu pertanyaan. Mungkin cuma saya sendiri yang
bisa jawab pertanyaan ini. Pertanyaannya adalah apa sebenarnya cita-cita kamu
(saya)? Sepele sih, tapi kalo misalnya dipikir berat bisa jadi berat beneran.
Haha.
Oke.. langsung saja.. apa
cita-citamu? Nah,, udah mentok sini.. mau jawab apa.
Cita-cita saya mau jadi orang
berguna dan masuk surga.
......
Apa itu cita-cita? Saya
sebenarnya juga kurang paham... kayaknya semua orang juga punya cita-cita kayak
gitu. Semua keyakinan (religion) di dunia ini juga mengajarkan untuk mencapai
surga, nirwana, firdaus, atau apalah. Tentunya dengan keyakinan masing-masing.
Jangan disalahartikan ya,, bisa-bisa saya dianggap liberal. Ijtihad sendiri-,-
Oke.. kita tutup kasus di atas.
Jadi apa cita-citamu? (lagi)
Hmmmm.. *sruput kopi
Waktu masih duduk di sekolah
dasar. Cita-cita saya adalah menjadi pemain bola dan insinyur perikanan.
Anggap saja kondisi ceteris paribus, sehingga saya bisa mencapai cita-cita
tersebut. Nggak kebayang pastinya punya gelar “Ir.”. haha. Atau cita-cita saya
satunya, jadi pemain bola dengan gaji 3 M per pekan. Ceritanya dikontrak
tim-tim Eropa dan jadi terkenal di seluruh dunia. Haha.
Eh sori malah ngelantur... haha..
dan lihatlah saya sekarang, gelar Ir? Gaji 3M per pekan? Hahaha. Lantas apakah
saya perlu sedih? Perlu menghitung kerugian 3 M tersebut?
Sampai detik ini saya masih
cengar-cengir nggak jelas...haha
Nggak ada beban, nggak ada pressure, semuanya masih misteri..
Lantas kemudian saya tercekat dan terkaget dari lamunan bahwa banyak hal dalam hidup ini yang sangat sangat perlu disyukuri.
Pertama, sebenarnya orang tua lah
yang sedikit banyak punya peran. Dalam hal ini, orang tua saya lah yang
mengarahkan bagaimana anaknya mencapai cita-cita tersebut. Asal itu positif,
pasti orang tua akan mendukung. Tinggal bagaimana kita menerima respon arahan
tersebut. Ada yang ogah-ogahan, ada yang sekedar “iya”, ada yang pokoknya mau
jadi ini jadi itu. Fine. Nggak masalah bagi saya.
Kedua, nggak ada gunanya
menyesali sesuatu yang masih dalam bentuk angan-angan. Yang penting bagaimana
selalu memotivasi diri untuk menggapai cita-cita tersebut. Menikmati tiap
prosesnya adalah sebuah keberkahan sendiri dalam hidup. Mengeluh? Wajar...
manusia. Tapi jangan terus mengeluh, putar arah energi “keluhan” menjadi sebuah
semangat
Terakhir (cepet banget), jadilah
diri sendiri. Nah, ini mungkin bisa dikatakan sebuah cita-cita yang abstrak,
tetapi masih mending. Kebanyakan, orang lupa untuk menjadi diri sendiri.
Meniru, mereplika, menduplikat, dll sudah menjadi ciri umum dalam masyarakat.
Salah tiga tersebut sah-sah saja, asal jangan sama plek. Taruh kreativitas di
dalam bumbu kehidupanmu dan rasakan bedanya.
Nah, dari apa yang saya kemukakan
di atas bisa saya baca sendiri sebagai bukti bahwa saya pernah punya coretan
mengenai cita-cita. Dan cita-cita saya kali ini adalah menjadi seorang auditor.
Auditor yang tentunya memperhatikan orang tua, yang selalu termotivasi, yang
selalu menjadi diri sendiri. Dedikasi saya sepenuhnya untuk merah putih. Semoga
masing-masing dari kita dapat mencapai cita-cita sesuai keinginan. Selanjutnya?
Who knows.. hehe
Oh ya,, yang terakhir,,
Saya pengen masuk surga.. hihihi
(Semoga mendapatkan penempatan yang terbaik.. aamiin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar