Beberapa
menit yang lalu...
Pesawat terbang itu tak
kunjung datang. Aku terdiam, gelisah, dan resah. Menunggu... sesuatu yang terkadang
mengasyikkan sekaligus menjemukan.
Pesawat yang akan mengantarku
kembali ke Jakarta sebelum melanjutkan lagi ke tanah rantau belum juga tiba.
Tiga ribu enam ratus
detik jarak waktuku dengan kota itu.
Bosan menunggu, tiba-tiba otakku mulai bekerja.
Bosan menunggu, tiba-tiba otakku mulai bekerja.
Aku teringat dengan
“Twenty Four” yang ada dalam tasku.
Dan aku teringat satu
lagu yang ketika aku putar dan akan selalu teringat ke kamu. Lagunya?
Saat
sekarang...
Sepanjang mata
memandang hanya ada orang berlalu lalang. Pilot, pramugari, penumpang, petugas
bandara, dan semua yang ada di situ berlalu lalang.Hilir mudik tak tentu arah.
Aku terduduk di kursi besi panjang di depan Gate
F5 SHIA. Ya, akhirnya aku dapat mendarat dengan selamat di Jakarta.
Waktuku tersisa 2 jam lagi sebelum aku melanjutkan penerbangan menuju Bengkulu. Antara masuk apa
enggak. Aku hanya diam duduk memikirkan semuanya. Dan utamanya pikiranku hanya
tertuju padamu. Apa mungkin ini jalanku? 30 menit berlalu dan aku masih belum
beranjak dari tempatku semula.
Tak perlu waktu lama,
kuambil telepon seluler, pencet sana-sini.
Dan... pandanganku terhenti
ketika menemukan nomormu. Nah kali ini perlu waktu lama, mutusin, telepon..
enggak.. telepon..enggak. Pencet, pencet, pencet. Sejurus kemudian terdengar suara “Halo”. di seberang sana. Ringan dan santai.
Dan kita pun bertukar
kata demi kata. Nggak lama sih. Bahas ini itu, itu ini, ini itu, itu ini. Hingga
akhirnya....
“Tapi
emang dari dulu aku sudah ada rasa sama kamu, tapi aku sadar posisiku, dari
dulu serba salah.” Tiba-tiba
aku berucap seperti itu.
"Kamu ini sebenarnya serius nggak sih?"
"Iya, aku serius."
"Kamu ini sebenarnya serius nggak sih?"
"Iya, aku serius."
“Hmmmm...ya
kalo kamu serius ya aku serius”
Dan inilah sebuah
kalimat yang mungkin jadi makin yakin. Sekian lama aku berpetualang, tidak ada
yang pernah berkata seperti ini.
“Ya
aku serius, kita nikah tahun depan.”
“Mana
ada... Nggak secepet itu.”
Hahaha... gila ya. Kadang
aku tuh nggak mikir panjang, tapi aku serius kalo emang mau tahun depan ya oke.
Tinggal berusaha lagi, ngumpulin modal sama keyakinan. Entah kamu yakin sama
aku apa enggak. Hihihi.
Obrolan pun terus
berlanjut, hingga akhirnya kamu berucap...
“Wes
ah, aku meh nyirami”
hahaha.. Entah ini mau mengakhiri pembicaraan karena sama-sama grogi apa emang beneran.
“Oh
yaudah aku juga mau boarding, tinggal bentar lagi.”
“Oke”
Beberapa
minggu berselang, di waktu menjelang tengah malam dan sepinya sebuah lobi hotel
di Jakarta
“Oh
iya, aku nggak pernah bilang ya?”
“Bilang
apa?”
“Aku
kayaknya nggak pernah bilang –aku sayang kamu- Ya.. nih aku bilang. Aku sayang kamu.”
“Ohhh...
iya.”
Tuut tuut tuut.... dan
telepon putus begitu saja....
Entah apa
kesimpulannya...kadang kalo inget sendiri jadi geli.
Dan itulah kamu
Kamu yang ternyata
punya banyak cerita...
Kamu yang ternyata
punya banyak tawa...
Kamu yang dikit-dikit
makan kue bandung...
Kamu yang ternyata
punya jutaan inspirasi...buat aku...
Dua minggu aku terkena
penyakit sana-sini, entah karena kurang iman apa emang akunya nggak pede bisa punya
kamu. Dan jujur, sampai sekarang kadang juga aku minder, kamu dengan
profesimu yang waaaah sedangkan aku yang cuma pelayan negara, jauh lagi dari
Jawa. Dan aku bukan termasuk yang good looking, nggak jelek-jelek amat sih,
tapi ya nggak ganteng juga...haha.
Terima kasih dan semoga
banyak hal-hal indah yang akan kita temui. Meskipun ke depan bakal banyak jalan
terjal, asal kamu masih mau beriringan denganku menjalaninya, Insya Alloh kita
dapat melewatinya.
Semangat yaaa.. tunggu
aku pulang.
Yaaa.. aku sayang
kamu.....
(Jakarta - Bengkulu - Bintuhan,
1 bulan yang telah lewat dari saat ini)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar