Carut Marut VR46 vs MM93 (dan JL99)

Oke, sekali-kali nulis yang up to date. Lagi pada rame ngomongin MotoGP 2015 yang tahun ini tentunya banyak intrik dan drama. Pada klimaksnya, tahun ini dimenangkan oleh Jorge Lorenzo. Gelar juaranya yang ke-3 di kelas MotoGP (sebelumnya pada tahun 2010 dan 2012), setelah memenangi race terakhir di sirkuit Ricardo Tormo, Valencia. Kemenangan di race tersebut membuatnya mengangkangi Valentino Rossi dari posisi puncak. Tepat di race terakhir. Ya, Rossi hanya bisa finish di posisi 4. Di belakang 3 rider tuan rumah. Itu pun setelah dia harus start dari posisi paling belakang. Yah, apapun itu... selamat kepada JL99 yang telah berhasil memenangi tahun ini.

Yang menjadi perdebatan adalah munculnya beragam pendapat dari para netizen. Ada yang bilang harusnya Rossi yang juara dan ada yang bilang Lorenzo juga pantas jadi juara. Jadi? Siapa yang pantas dong? Berikut ini adalah statistik head to head antara kedua kandidat tersebut (kalo nggak salah hitung):

Rossi : 18 race à 15x podium, 4x juara
Jorge : 18 race à 12x podium, 7x juara, 1x tidak finish

Terserah.. menurut Anda siapa yang paling pantas juara? Semua memiliki sudut pandang dan pendapat masing-masing. Nggak bakal selesai kalo eyel-eyelan.
Yang jadi sorotan adalah, mengapa Marc Marquez juga turut disebut? Dia-nya saja sudah tidak ada peluang di musim ini. Banyaknya crash dan ketidakberuntungan membuatnya harus menjadi pelengkap di antara kedua pembalap tersebut. Tetapi, bukan sekedar pelengkap.. Marquez mungkin menjadi aktor utama di antara keduanya, terutama “dendam” kepada The Doctor.

Bermula dari insiden di seri ke 3 di Argentina. Duel sengit antara Rossi vs Marquez, dan pada suatu manuver dari The Doctor “menyebabkan” The Baby Alien harus out of race.

Insiden berlanjut pada seri Assen, Belanda. Lagi-lagi keduanya terlibat duel sengit hingga last lap. Pada sebuah tikungan ganda, motor mereka bersenggolan sehingga Rossi melintas kencang melewati Gravel, dan ajaibnya dia malah menjadi juara 1.

Mungkin akibat kedua insiden ini, Marquez menjadi dongkol. Alih-alih ikut persaingan Rossi vs Loenzo, Marquez malah sering jatuh dan cedera. Dan setelah kepastian dia tidak bisa meraih gelar juara, dia mulai mendukung kompatriot se-negaranya. Lorenzo.

Tibalah pada race ke-15, seri Phillip Island, Australia. Race yang (katanya) terbaik di musim ini, mempertontonkan aksi ciamik untuk merebut juara 1. Ya, 4 rider sekaligus yang berpeluang memenangi race ini. Marquez, Lorenzo, Iannone, dan Valentino. Terlihat sangat jelas bahwa ketika Rossi berhasil menyodok untuk mendekati Lorenzo, Marquez sengaja melakukan cara balap yang aneh (entah melambat atau ada gangguan pada motornya). Hingga Rossi tampak kesulitan pada beberapa manuvernya. Hingga akhirnya Rossi hanya bertarung dengan Iannone. Marquez hanya membayangi Lorenzo. Dan pada beberapa tikungan terakhir, tiba-tiba Baby Alien “mengeksekusi” Lorenzo untuk mengambil podium pertama. Misi sukses. Marquez juara 1 dan Lorenzo finish di depan Rossi yang hanya finish di urutan 4.

Belum selesai di situ, race di Sepang, Malaysia sepekan sesudahnya menjadi saksi bagaimana duel sengit hingga berujung konflik. Rossi terlihat sibuk dengan Marquez di setiap tikungannya. Sementara itu Lorenzo melesat jauh meninggalkan mereka berdua. Perebutan tempat ketiga berlangsung sangat sengit, sampai pada suatu kesempatan Rossi berhasil menyalip Marquez dan memberikan lambaian. Entah apa maknanya. Apakah itu peringatan atau itu sebuah ejekan provokasi. Dan sampailah pada sebuah tikungan di mana, Rossi menoleh seolah-olah menunggu Marquez. Sedikit melebar dari jalurnya dan Marquez memaksa masuk. Dan. Boom.. Marquez terjatuh setelah menyundul/ditendang Rossi (monggo yang punya analisis). Dan seakan sudah pasrah, Marquez kembali ke paddock. Puncaknya

Beberapa tayangan ulang menampakkan bahwa kaki kiri Vale bergerak menendang Marquez, ada juga yang menampakkan Marquez lah yang menyundul Rossi. Rossi mengaku kakinya selip di footstep motornya, Marquez merasa Rossi sengaja menendangnya. Entah. Hanya Rossi dan Marquez yang tahu. Pada akhirnya Jorge tetap melaju mulus hingga finish dan semakin memperkecil jarak.

Drama berlanjut di podium, saat Rossi menerima trophy. Terlihat Jorge mengeluarkan gestur yang “luar biasa”. Saat seremoni sampanye pun Jorge langsung ngacir pergi. Entah karena mungkin di Sepang banyak fans The Doctor, dan dia mendapat hujatan atas aksinya tersebut. Buntut dari jatuhnya Marquez adalah diberikannya poin pinalty bagi Rossi sebanyak 3 poin dan genaplah sudah pinalti Rossi menjadi 4 setelah sebelumnya mendapat 1 poin saat di Misano. Itu artinya apapun hasil kualifikasi Rossi, dia harus start dari posisi paling buncit.

Dua pekan kemudian. Semua mata menuju ke Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol. Lorenzo yang di kualifikasi tampil luar biasa menghasilkan pole position saat start. Dan Rossi harus berada di baris paling belakang. Start dimulai dan...

Tiba-tiba Rossi masuk melesat ke dalam, mengiris beberapa rider. Seolah seperti membuka jalan, rider-rider lain dilibas satu demi satu. Hanya Espargaro bersaudara yang terlihat ngotot membalap dengan normal. Tiba di pertengahan race, Rossi sudah berada di posisi 4 tetapi rombongan 3 besar sudah sangat jauh.

Di depan terlihat sangat monoton. Lorenzo yang tampil brilian seperti mendapat kawalan dari Marquez yang hanya menguntitnya lap demi lap. Mungkin, dia ingin memakai strateginya terdahulu, mengeksekusi Jorge di lap-lap terakhir. Luar biasanya, Pedrosa yang seperti menemukan ritme berhasil mendekati Marquez. Marquez yang sepanjang lap terlihat kalem, tiba-tiba menjadi beringas. Seolah seperti penjaga ada pengganggu yang mendekati tuannya. Jorge semakin jauh, dan duel terjadi sesama duo Honda. Dan tibalah Jorge pada garis finish untuk mengunci gelar juara dengan keunggulan 5 poin dari seniornya.

Hikmah yang dapat diambil dari musim ini adalah:
1.       Seharusnya Jorge Lorenzo lebih fokus kepada balapannya. Terlihat di beberapa kesempatan Lorenzo mengintimidasi pada persidangan Rossi di CAS. Dan terlalu banyak berkomentar soal perseteruan Rossi vs Marquez, seperti seorang kakak membela adiknya. Gestur terakhir pada podium Sepang juga menunjukkan betapa tidak ada respect dia kepada rekan setim.
2.       Valentino Rossi, sebagai pembalap senior yang sudah banyak pengalaman seharusnya tidak terpancing provokasi dari pembalap muda. Yah namanya emosi,. Semua sudah terlanjur, perjuangannya memuncaki klasemen pembalap di 17 race harus musnah karena sebuah kesalahan. Pupus sudah gelar ke-10.
3.       Marc Marquez, masa depannya masih panjang. Gelar demi gelar bisa diraih. Namun, di tahun ini sepertinya dia menjadi tokoh antagonis. Setelah perseteruannya dengan The Doctor. Mesti harus menjaga fokus dan sportivitas.
4.       Daniel Pedrosa, pembalap yang dari dulu selalu diunggulkan di awal musim tetapi selalu gagal menjawab ekspektasinya itu. Komentarnya di Sepang merupakan komen yang netral dimana saat itu dia mengeluarkan pernyataan “membalaplah untuk dirimu sendiri”. Tidak membela Vale dan tidak menyudutkan Marc. Satu-satunya pembalap yang tulus membalap.

Dan saya pribadi membayangkan apabila Casey Stoner masih membalap. Pembalap favorit saya yang tidak kalah garangnya ini mungkin juga akan menyikat Marc yang ibaratnya masih ingusan. Stoner tidak segan-segan “menegur” pembalap lain dengan blak-blakan.

Satu lagi, andai mendiang Marco Simoncelli juga masih hidup. Mungkin di seri terakhir, dia tidak segan-segan menabrak Marc demi membuka peluang buat Rossi. Nekad ketemu nekad.
Inilah hasilnya, apapun itu... terima kasih MotoGP 2015 sudah menyajikan aliran adrenalin yang tidak henti, dari awal hingga akhir.


pernyataan Vale pada situs resmi MotoGP

Tidak ada komentar: