berani??

Kilas balik
Denting jarum jam mulai bergerak menuju angka dua belas. Sama seperti biasanya, yang membedakan adalah denting ini akan bergerak menuju pergantian tahun. Dan (lagi-lagi) seperti biasanya, banyak hal yang senang dan sedih silih berganti datang. Bahkan bisa sekaligus keduanya datang bersama.
Sebenarnya cukup scroll bulan-bulan lalu saja sudah tahu apa yang terjadi selama setahun ini. Sedikit meringkasnya. Namun, beberapa hal yang perlu jadi aware.

Januari - Pulang ke Semarang untuk pertama kalinya di tahun 2016, alhamdulillah bisa jalan-jalan sama dik pacar yang hampir seminggu full. Datang di acara wisudanya, sambil bawa Beki yang diselingi dengan salah arah pas lari buat ngasihnya.

Februari - Pertama kalinya ngucapin ulang tahun buat dik pacar lagi. Jam 12 malem dari kota terpencil. Yang sayangnya nggak bisa pulang.

Maret - hari ultah saya dirayain sama banyak orang, rasanya jadi seneng. Ya, seneng aja. Dan si adik dari jauh sana, tiba-tiba ngucapin sambil buat video dan kue yang saya sendiri tidak mencicipinya. Iyalah. Haha. Kayaknya saya sih pulang ke Semarang, di akhir bulan kalau nggak salah

April - kayaknya.. kayaknya ya.. di bulan ini saya gagal. Sebut saja kegagalan terbesar di tahun 2016. Sempat down dan beberapa kali masih memakai topeng untuk menutupi kesedihan itu. Yaa, saya harus tegar.

Mei - beberapa kali isu berhembus, kalau saya akan balik ke kota. Yah, namanya juga isu.

Juni - merayakan bulan ramadhan di kota kecil, tiap weekend pulang ke kota besar. Hingga akhirnya di penghujung ramadhan saya harus berpisah dengan salah satu kawan terbaik saya disini.

Juli - alhamdulillah bisa berlebaran di rumah. Dan, kembali tangis saya pecah ketika harus sungkem dengan bapak ibu. Disitu saya menangis sedu karena saya merasa tidak bisa memberikan yang terbaik buat beliau, disitu beliau selalu menguatkan hati saya, membesarkan hati, dan.. Ibu adalah makhluk paling spesial di dunia.

Agustus - seminggu setelah masuk di kantor, akhirnya saya pulang ke kota. Sedih rasanya meninggalkan kota kecil ini. Dua tahun bersama, menjadi waktu yang spesial buat saya untuk menemukan keluarga baru. Sedih rasanya, sekaligus deg-degan untuk menjabat posisi baru.

September - posisi baru, hanya dengan level yang lebh tinggi, banyak kepala yang berseliweran. Alhamdulillah saya masih kuat. Bisa pulang Semarang yeeeee.

Oktober - dan hari itu tiba, saya kembali harus kehilangan the big man. Orang hebat yang selalu mementoring saya, mempersiapkan saya untuk berada di posisi sekarang. Tangis haru pecah saat melepas beliau kembali ke kampung halaman. Alhamdulillah bisa pulang Semarang, dan... alhamdulillah dia mau... mau apa hayooo...

November - kembali menduduki jabatan lama, rutinitas yang memliki tingkat kesulitan tinggi. Kembali mendengar nada dering telepon yang sering berbunyi.

Desember - bulan krusial. Kalau mau lebay, berasa nggak ada waktu buat narik napas. Semua harus dikerjakan cepat dan sesegera mungkin, frekuensi buat nelpon jadi berkurang, baik itu buat keluarga maupun buat pacar.

Solusi
Tentunya, di tahun depan harapannya selalu hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
“memperbaiki yang belum benar dan meningkatkan yang sudah baik”

Tujuan:
Rasanya badan ini sudah memiliki beban yang berat dengan lemak-lemak jahat. Hilangkan.
Bisa lebih sering sholat 5 waktu di masjid berjamaah, utamanya shubuh. Dengan menjaga shubuh berjamaah insya alloh bisa didekatkan dengan jodoh. Laksanakan. Pernah sekali rasanya di telinga, seperti ada yang membisik, nggak usah ke masjid. Dan ajaibnya, badan saya sukses untuk tidak beranjak dari kasur. Sedih rasanya. Semoga ke depan bisa melawan yang seperti ini.
Lebih memperbanyak sunnah-sunnah, misalnya puasa senin-kamis. Rasa malas sering muncul. Lawan.
Nikah?? Semua selalu mengharap yang terbaik. Ketika saya seakan optimis dan membayangkan hari-hari indah, seketika si Adik serasa pesimis. Mungkin itu di pikiran saya, sebenarnya yang ada di benaknya adalah realistis. Iya, realistis saja. Jangan selalu saya yang selalu berharap lebih, nanti malah jadi pepesan kosong dan hampa.

Intinya, tahun 2017 adalah tahun dimana saya harus lebih BERANI.

Berani???





Tidak ada komentar: