Percaya

Percayalah
Alloh itu tidak tidur

Percayalah
Alloh itu tidak tidur

Percayalah
Alloh itu tidak tidur

Percayalah
Alloh itu tidak tidur

Empat kali saya mengetik hal yang sama, bukan hanya copy paste. ya, benar-benar mengetik. pake beberapa jari.
Hal yang sama, yang saya lakukan kemarin, pagi tadi, siang tadi, sore tadi, petang tadi, esok pagi, esok siang, esok petang, dan esoknya lagi. Begitu terus.

Dan bahkan begitu ketikan "baris" yang pertama selesai, saya masih percaya
Gusti mboten sare....

dan ini bukan salah Tuhan, Tuhan tidak pernah salah
Salahkan saja semuanya kepada manusia
Bukankah manusia ciptaan Tuhan? Jadi?

Bukankah manusia itu yang tertidur, sedangkan dia yang terjaga....


aku dan aku

Sampai ketika saya menemukan sebuah sore di mana....
Saya tidak tahu apa yang akan dan seharusnya saya kerjakan, terlalu banyak darkside di dalam diri saya.

Semua terlihat begitu gamblang,, kesalahan-kesalahan itu...
Rasa iri itu, padahal saya tahu hal tersebut adalah sesuatu yang salah.

*another selfsuggestion to be better person
friendship


better friend

Berjuta pelita mungkin bisa menerangi, tetapi seorang sahabat akan lebih hebat

Selama 2 tahun ini, begitu banyak kawan datang dan pergi di tanah rantau, tetapi hanya beberapa yang mungkin bisa menjadi lebih dari sekedar kawan.

Intinya adalah
Saya benar-benar merasa kehilangan sesosok yang memiliki multiperan.
Saya kehilangan sosok yang akan selalu tertawa mendengar lelucon saya, yang bahkan kalau kering pun akan ditertawakannya.
Saya kehilangan sosok yang akan selalu mencela, dimana celaannya tidak akan membuat saya tersinggung. Sedikitpun. Karena kami sama-sama tahu, celaan itu bukan untuk merendahkan. Dan ini yang saya suka, mau dicela sebagaimanapun hati ini susah untuk sakit. Haha.
Saya kehilangan sesosok yang bisa mengajari saya hal-hal baru dan tak pernah lelah untuk memberi masukan. Kadang menjadi junior, kadang menjadi senior. Saling memberi pesan dan semangat
Saya kehilangan sesosok yang memiliki selera humor yang sama, yang bahkan apabila diceritakan ribuan kali, tawa itu akan ada.


Mungkin saya merasa kehilangan, tetapi sebenarnya tidak...
tetapi mungkin iya



















Senyumlah, dan si manis pun tertawahadirkan rasa tuk berbagi cinta
Senyumlah, dan si manis pun tertawahadirkan rasa rindu di hati






ilusi

mengapa saya harus mengkhawatirkan hari esok? bahkan di hari ini saja belum tentu saya bisa menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Padahal satu tarikan nafas dan satu detakan jantung sungguh sangat berharga dalam perjalanan waktu.

Ingat, dulu saya pernah dalam kondisi seperti ini. Tahun pertama saya hampir bisa menjalaninya dengan baik. Hanya saja waktu itu saya lebih memilih untuk menjadi seorang average yang yaah.. pokoknya ikuti jalan saja.

Tapi kini, di posisi yang (hampir) baru tapi rasa lama, levelnya sungguh jauh berbeda. Akan ada banyak kepala manusia (?) yang bersliweran di benak saya. Akan ada banyak suara manusia (?) yang riwa-riwi di daun telinga saya. Akan ada banyak hati yang mungkin akan sakit dan luka apabila telinga ini terlalu banyak mendengar.

Bismillah...
Untuk segalanya yang semoga menjadi lebih baik.
karena, mungkin ini jalannya...

Senandung Segelas Kopi

Manusia selalu hidup dalam penyesalan, yah meskipun sudah terjadi dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti sedia kala. Dan cerita harus terus berjalan seperti apa yang telah tertulis.

Penyesalan yang hadir pun bisa datang dari segelas kopi yang teracuhkan.

Seandainya...

Seandainya saja waktu itu, kopinya telah diseduh dan siap diminum maka cerita akan lain.

“Kenapa tidak meminumku?” gumam kopi dalam diamnya.

“Maaf kopi, aku takut tidak bisa tidur karenamu”

“Lalu, kenapa kamu takut tidak bisa tidur?” tanya kopi lagi.

“Maaf kopi, aku takut akan terjadi sesuatu dengan perlombaanku”

“Lalu, kenapa kamu takut dengan perlombaanmu?” lagi-lagi dia mencecar

“Maaf kopi, aku takut menjadi pecundang apabila gagal”

“Hmmm, dengan ketakutanmu seperti itu, kamu sudah menjadi pecundang, hei pecundang. Minumlah aku seteguk saja. Maka akan kujaga dirimu dari rasa kantuk dan lelah”

“Maaf kopi, aku terlalu takut denganmu malam ini” aku pun mulai muak dengan cecaran dari kopi.

“Bukankah kau sudah berjanji dengannya. Sebegitu jahatnya engkau, padahal aku hendak membantu kesulitanmu. Baik, kali ini kumaafkan. Lain kali, seduhlah aku tetapi jangan harap aku selalu membantumu melawan kantuk dan lelah yang menderamu


Begitulah sebuah penyesalan yang datang dari sesederhana menghiraukan bisikan segelas kopi.
angrycoffee

The love to you is alive in me every day
For love you are aside of me every day

(kosong)

diantara milyaran orang yang berkelas average, saya termasuk kategori yang payah...
tetapi saya tidak pernah menyerah
semua sudah digariskan oleh takdir dan apakah pernah ada pengkhianatan oleh usaha saya selama ini??

selalu saja, kalau pulang terasa berat
dari sini ke sana, bahkan di pikiran (ter)jahat..
pernah terasa berat pula dari sana ke sini
ahh.. itu cuma imajinasi...

get well soon, pemala