Struggle

Pelajaran kali ini adalah :
1. Perbuatan baik akan dibalas dengan hal yang baik pula, pun sebaliknya
2. Yakinilah sesuatu yang sudah kita pilih, meragukannya malah akan menjadi 2 buah kesalahan. Salah dan Ragu
3. Setia terhadap kawan, dan berbuat baik terhadap semuanya
4. Menikmati semua jalan cerita hidup, mungkin dari sisi materiil akan rugi, tetapi dari segi pengalaman.. Wow, nggak ada orang lain yanh punya cerita lebih hebat darimu.
5. Salah? Minta maaf dengan tulus, berusaha memperbaikinya
6. Makan ketika lapar dan memasuki waktunya
7. Tidur dengan cukup, mimpi dengan nyaman, dan bangun dengan tepat pada waktunya
8. Yhaaa... Istirahat

(sembari rebahan di rest area bandara, dimana aku tertimggal kereta api yang menuju ke pelukan mentariku)

Detak Dag Dig Dug

Delapan belas hari berlalu...

BKS, 11-03-2017
#17.00 p.m.
Detik waktu mulai berjalan cepat seiring pesawat yang semakin mendekati landasan pacu bandara di sini. Lagi-lagi berkat teknologi, aku harus berterima kasih tidak perlu buru-buru ke bandara. Namun, namanya juga panik tetap saja jantung mulai terpacu. Pemanasan.

#18.15 p.m.
Pesawat yang delay sekitar 15 menit dari yang dijadwalkan, lambat laun mulai kembali  ke landasan pacu. Kali ini pesawat itu membawaku dan penumpang lain untuk meninggalkan bandara menuju Jakarta. Pemandangan malam mulai nampak, lambat laun lampu kerlip-kerlip di darat dan pemandangan ini semakin mengecil hingga tak terlihat lagi

#onflight19.00 p.m.
Pengumuman bahwa pesawat akan mendarat sudah dikeluarkan oleh pilot pesawat. Segera kutegakkan kursi dan berdoa segala sesuatunya berjalan lancar. Jantung kembali berdegup. Apakah masih keburu atau akan gagal. 15 menit berlalu dan firasatku mengatakan bahwa pesawat ini hanya berputar saja mengelilingi langit Jakarta. Deg.

HLP, 11-03-2017

#19.30 p.m.
Pesawat mendarat dengan mulus dan segera kuambil langkah cepat menuju pintu keluar bandara. Sambil memperhatikan langkahku, jemariku mulai memainkan gawai untuk memesan layanan ojek online dan alhamdulillah ada yang mau.

#20.00 p.m.
Bapak ojek mulai memacu kendaraannya dari gigi 1 ke gigi 4. Ya, bahkan dari mengurangi kecepatan, gigi tetap berada pada angka 4. Alhasil, motor yang dipacu berasa emak-emak yang ngeden mau lahiran. Haha. Berkali-kali saya menyaou peluh di dahi saya dan berkata, ”Pak, bisa lebih cepat lagi?” dan berkali-kali pula Bapak itu bilang “Ya, ini sudah kencang”

#20.16 p.m.
Tiba di tempat tujuan. Kurogoh dompet dan membayar Bapak itu tanpa meminta kembalian. Bunyi kereta mulai terdengar. Aku berlari sekuat tenaga menuju counter check in. Untung tidak antri banyak. Segera aku tekan keyboard dengan kode booking -yang sudah aku hafalin sejak di boncengan Bapak ojek- hahaha. Amazing. Jadwal kereta pukul 20.25 dan aku baru check in 20.22. it’s only 3 minutes. Senam jantung.

#20.25 p.m.
Alhamdulillah, aku sudah duduk manis di dalam kereta dengan keringat yang dleweran. Segera kuraih gawai dan menelepon kekasih tercinta. Agak diam sejenak dan “I make it” haha. Terdengar tawa riang dari seberang sana. Kuceritakan hal yang telah terjadi sejak di Bengkulu tadi. Sudah menjadi kebiasaanku untuk membuatnya menjadi pendengar yang baik. Plong sudah detak jantung ini. Berkat ini bisa jadi gambaran buat next homecoming. Pulang naik pesawat, sambung naik kereta dengan jeda waktu yang singkat. Masih berani? Sayangi jantungmu... hahaha

#SRG, 12-13 Maret 2017
Dan kamu tahu apa yang terjadi berikutnya... hari-hari berlalu indah dengan hadirnya canda tawa kita. Belum lagi kehujanan. Hahaha. We see a moonlight together, and... semua hanya berlalu begitu saja. Dua hari yang terlalu singkat untuk melewatinya bersamamu... I love you


I paling suka kalo udah pasang pose yg diskriminatif :p

Hidup nggak melulu soal uang, tapi kalau kamu sudah punya banyak pasti minta yang selalu melulu. Ironi.

Sebuah sarkas yang mungkin beberapa minggu ini menjangkit di 10 meter radius keberadaan saya. Dalam sudut pandang suudzon saya, apa yang di dapat adalah sebuah kepalsuan. Semu.
Saya bisa apa? tetap berbuat baik dan tentu saja,, suudzon.. wkwkwk

nggakpapa lah. Bismillah.
Besok udah pulang, dan yang disana juga udah terlelap setelah seharian capek bekerja. Yang nyenyak yaa, nanti tak curhatin lagi tengah malem aku nggak bisa merem. hahaha

Semoga besok cerah suasananya. aamiin.

cryness



Manusia pasti menangis
Dan manusia pun bisa mengambil hikmahnya
(Dewa-Air Mata)

Sebuah nukilan dari lagu salah satu grup musik terkemuka di negeri ini. Lirik yang menggambarkan bagaimana air mata itu tidak membedakan kelamin manusia. Dia bisa muncul dari lembutnya tatapan mata wanita atau dari tegasnya tatapan seorang pria. Tidak ada yang salah dengan itu.

“Udah,Nu gapapa... kalo kayak gini enaknya nyetel Air Mata sambil nongkrong di pinggir pantai”
Dan kuteringat dengan sebuah chat seorang sahabat beberapa tahun yang lalu. Saat itu beliau baru saja mengalami kegagalan yang ternyata tahun berikutnya saya juga mengalaminya #sedihguwe. Entah mengapa beliau lebih suka memeras kesedihannya dengan sesuatu hal yang lebih mellow

Air mata identik dengan kesedihan. Pernah suatu kali saya hampir menitikkan air mata. Gara-garanya sepele. Baca komik. Haha. Tapi sumpah itu sedih banget, saya cuma bisa nggregel aja di dalam hati. Untung masih bisa ketahan.

Air mata. Dia selalu berusaha untuk disembunyikan. Nggak boleh sembarang orang tahu bahwa seseorang telah mengeluarkan air mata. Bisa di pojokan, bisa di kamar, bisa di pinggir jalan di pagi buta (hahaha). Tak mengenal waktu dan tak mengenal momen. Mau senang atau mau sedih. Selalu ada air mata disitu.

Jadilah seseorang yang lebih tegar....
Jadilah seseorang yang lebih baik. Bukankah dia adalah cerminan dirimu?
Sedih boleh, kecewa boleh, dan bicarakan semuanya dengan baik.
Ingat, ragawi saja sudah terpisah beberapa ratus kilometer.
Lalu apa jaminanku kepadanya? Percaya.

It’s faith. Believe to me and i will go home....






Iri tanda tak mampu
Nggak usah ada iri pun, sudah kelihatan kalau nggak mampu...
Menurut kacamata manusia, tetapi kalau yang di atas berkata memang mampu ya nggak perlu diragukan lagi
Tetap saja kan...

Jangan seringkali merendahkan diri dan merendahkan orang
Mungkin saja secara kebetulan, orang lain lebih dulu tahu, lebih dulu mengerti...
Tinggal jalani saja, nggak perlu berlebihan, semua sesuai takarannya...
Pas

berani??

Kilas balik
Denting jarum jam mulai bergerak menuju angka dua belas. Sama seperti biasanya, yang membedakan adalah denting ini akan bergerak menuju pergantian tahun. Dan (lagi-lagi) seperti biasanya, banyak hal yang senang dan sedih silih berganti datang. Bahkan bisa sekaligus keduanya datang bersama.
Sebenarnya cukup scroll bulan-bulan lalu saja sudah tahu apa yang terjadi selama setahun ini. Sedikit meringkasnya. Namun, beberapa hal yang perlu jadi aware.

Januari - Pulang ke Semarang untuk pertama kalinya di tahun 2016, alhamdulillah bisa jalan-jalan sama dik pacar yang hampir seminggu full. Datang di acara wisudanya, sambil bawa Beki yang diselingi dengan salah arah pas lari buat ngasihnya.

Februari - Pertama kalinya ngucapin ulang tahun buat dik pacar lagi. Jam 12 malem dari kota terpencil. Yang sayangnya nggak bisa pulang.

Maret - hari ultah saya dirayain sama banyak orang, rasanya jadi seneng. Ya, seneng aja. Dan si adik dari jauh sana, tiba-tiba ngucapin sambil buat video dan kue yang saya sendiri tidak mencicipinya. Iyalah. Haha. Kayaknya saya sih pulang ke Semarang, di akhir bulan kalau nggak salah

April - kayaknya.. kayaknya ya.. di bulan ini saya gagal. Sebut saja kegagalan terbesar di tahun 2016. Sempat down dan beberapa kali masih memakai topeng untuk menutupi kesedihan itu. Yaa, saya harus tegar.

Mei - beberapa kali isu berhembus, kalau saya akan balik ke kota. Yah, namanya juga isu.

Juni - merayakan bulan ramadhan di kota kecil, tiap weekend pulang ke kota besar. Hingga akhirnya di penghujung ramadhan saya harus berpisah dengan salah satu kawan terbaik saya disini.

Juli - alhamdulillah bisa berlebaran di rumah. Dan, kembali tangis saya pecah ketika harus sungkem dengan bapak ibu. Disitu saya menangis sedu karena saya merasa tidak bisa memberikan yang terbaik buat beliau, disitu beliau selalu menguatkan hati saya, membesarkan hati, dan.. Ibu adalah makhluk paling spesial di dunia.

Agustus - seminggu setelah masuk di kantor, akhirnya saya pulang ke kota. Sedih rasanya meninggalkan kota kecil ini. Dua tahun bersama, menjadi waktu yang spesial buat saya untuk menemukan keluarga baru. Sedih rasanya, sekaligus deg-degan untuk menjabat posisi baru.

September - posisi baru, hanya dengan level yang lebh tinggi, banyak kepala yang berseliweran. Alhamdulillah saya masih kuat. Bisa pulang Semarang yeeeee.

Oktober - dan hari itu tiba, saya kembali harus kehilangan the big man. Orang hebat yang selalu mementoring saya, mempersiapkan saya untuk berada di posisi sekarang. Tangis haru pecah saat melepas beliau kembali ke kampung halaman. Alhamdulillah bisa pulang Semarang, dan... alhamdulillah dia mau... mau apa hayooo...

November - kembali menduduki jabatan lama, rutinitas yang memliki tingkat kesulitan tinggi. Kembali mendengar nada dering telepon yang sering berbunyi.

Desember - bulan krusial. Kalau mau lebay, berasa nggak ada waktu buat narik napas. Semua harus dikerjakan cepat dan sesegera mungkin, frekuensi buat nelpon jadi berkurang, baik itu buat keluarga maupun buat pacar.

Solusi
Tentunya, di tahun depan harapannya selalu hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
“memperbaiki yang belum benar dan meningkatkan yang sudah baik”

Tujuan:
Rasanya badan ini sudah memiliki beban yang berat dengan lemak-lemak jahat. Hilangkan.
Bisa lebih sering sholat 5 waktu di masjid berjamaah, utamanya shubuh. Dengan menjaga shubuh berjamaah insya alloh bisa didekatkan dengan jodoh. Laksanakan. Pernah sekali rasanya di telinga, seperti ada yang membisik, nggak usah ke masjid. Dan ajaibnya, badan saya sukses untuk tidak beranjak dari kasur. Sedih rasanya. Semoga ke depan bisa melawan yang seperti ini.
Lebih memperbanyak sunnah-sunnah, misalnya puasa senin-kamis. Rasa malas sering muncul. Lawan.
Nikah?? Semua selalu mengharap yang terbaik. Ketika saya seakan optimis dan membayangkan hari-hari indah, seketika si Adik serasa pesimis. Mungkin itu di pikiran saya, sebenarnya yang ada di benaknya adalah realistis. Iya, realistis saja. Jangan selalu saya yang selalu berharap lebih, nanti malah jadi pepesan kosong dan hampa.

Intinya, tahun 2017 adalah tahun dimana saya harus lebih BERANI.

Berani???