Lagi Males

yang dulu cuma bisa dilihat di TV, sekarang bisa dilihat dengan mata sendiri

benawang, sebuah jalur pemandangan buat snorkel amatir xp. Pas lagi surut

kumpulan ikan sedang berlindung di sekitar "bulu" 

mumpung belum kabur, masih bisa dijepret tanpa zoom. hehe

nggak sengaja ketemu ini, tapi karena ombak besar "sayap"nya jadi malu keluar

foto tanpa zoom, berlindung di balik karang dari kencangnya arus

nggak boleh sembarangan menginjak makhluk hidup ini

harus jeli saat berpindah spot, jangan sampai terinjak

coba tebak ikannya di mana? 

menyala dibalik birunya air dan karang. hehe

mau crabby patty?? sebentar yaa...



semoga masih bisa diberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran sehingga pas bosan nulis bisa
share underwater's life in picture.

Serpihan Awal Bulan

“Badai pasti berlalu...Badai pasti berlalu...”

Mobil kami bergejolak hebat melewati jalan yang berlubang. Dari radio terdengar suara Ari Lasso yang mengalun lembut menyanyikan lagu legendaris tersebut. Jarang dengerin sih, sekalinya denger kok ya pas sama suasana beberapa hari ini yang sangat “wah”. Ibarat naik perahu bebek-bebekan terus disuruh menyeberang Samudra Hindia mencari pesawat yang hilang. Kebayang nggak sih. Kudu naikin jangkar, kibarkan layar, dan putar haluan ketemu ombak yang tingginya bisa sampe 3 meter. Fix, yang ini lebay woooy. Mana ada perahu bebek punya layar sama haluan. Lah.

Dimulai dari keluhan pelanggan (sebut saja itu) yang bikin kuping saya hampir nggak tahan dengernya. Dilanjut dengan keluhan bos profesional (sebut saja itu) yang sempet bikin saya berkecil hati. Masih dilanjutkan dengan kacau balaunya masalah-masalah kecil di kantor. Ibarat semut, kecil sih tapi kalo dateng sebatalyon pas di muka, terus pada gigit gitu kan rasanya sakit juga lama-lama.

Pernah nggak sih, kita disodorin handphone disuruh ngomong eh dari seberang belum-belum udah diteriakin. Wooy, sinyalnya nggak putus-putus jadi nggak perlu teriak-teriak. Emak-emak pula. Dan saya baru sadar, kemungkinan emak-emak tersebut adalah wakil bupati, pliss semoga yang ini salah. Kita nggak tahu maksud ibu itu apa, eh si ibu udah bla bla bla.

Maaf bu, jadi saya ini masih belum nangkap maksudnya ibu itu gimana, saya nggak tahu karena barusan disodorin telepon”

“Aduh mas, kan sudah saya jelasin daritadi.. bla bla bla..”

Dan saya cuma bisa ah oh ah oh aja sambil bengong.
Itu satu.

Berikutnya, pernah nggak gara-gara salah dan kurang teliti terus kita kena omel ibarat kesalahan kita macem ngebakar kantor. Ya kecil sih salah saya itu, menurut saya. Tapi, bos yang jauh di seberang sana sampai telepon dan bikin hati saya teriris. Ahh, mungkin itu saya baru sendu-sendunya. Mungkin beliau bilang kalimat “Kalian kalo kerja profesional dikit bisa?” pas lagi santai sambil nyeruput es degan di pinggir pantai, pake kolor pulak. Tetap saja buat saya itu kurang santai, Bos. Dan mungkin sebenarnya Bos Profesional ini kurang berhak “menasehati” saya, okelah kalo itu bos saya langsung. Saya terima-terima aja kalo sampai dimaki-maki, habis itu nyari yang bisa dicurhatin juga sih. Ujung-ujungnya ya nulis.

Itu yang kedua.
Berikutnya lagi, ketika semua masalah-masalah kecil di kantor yang terakmulasi. Dimulai dari komputer yang udah minta pensiun, jaringan yang nggak stabil, printer yang ngadat. Dan, semuanya datang disaat saya lagi ribet sama urusan-urusan non teknis. Berasa, saya ini kepala kantor yang kudu mikir semua. Okelah kalau saya kepala kantor, gajinya gede nggak kayak kroco ini. tapi dengan gaji yang ada ini juga saya udah bersyukur alhamdulillah.

Sebenarnya, ini lagi sendu aja. Dan nggak ada cerita kayak di atas itu kalo saya:
  • Nggak buat kesalahan, minimal saya bisa lebih cermat saat kerja. Sehingga mampu berpikir lebih jernih untuk menemukan solusi yang pas.
  • Lebih sadar diri aja, saya ini pelayan ya wajar kalau dimaki-maki, dicerca. Coba kalau saya raja, pasti udah dipuja-puja, dielu-elukan, dilayani.
  • Kalau kerja harus profesional, kalau bisa jangan bawa perasaan. Lempeng aja gitu kayak robot.

Dan tentunya masih banyak hal lagi yang harus diperbaiki.
Tapi... itulah manusia... selalu punya kekurangan, punya mimpi, dan punya perasaan. Kalau saya robot ya mungkin bisa kerja sempurna. Salah ya tinggal nyalahin progammernya, nggak bakalan robot disalahin. Dimaki juga paling capek sendiri yang maki, iye robot. Digimanain kalo udah off ya nggak bakal ngerespons. Saya (masih) manusia dan saya bukan robot, tetapi saya harus belajar untuk menekan itu semua.

Dan terakhir, yang kamu katakan memang ada benarnya.
“Mungkin kamu dulu ada salah, jadi ini teguran dari Alloh buat kamu. Siapa tahu sholatmu nggak di awal waktu, ngajimu kurang.” begitu bisikan yang dikeluarkannya di telingaku.. lewat handphone.

Saya akui memang untuk hal tersebut saya masih kurang. Masih perlu banyak belajar lagi membagi waktu dan membuat prioritas. Kadang habis maghrib saya masih berkutat dengan GPP dan aplikasi yang macem-macemlah.

Mungkin berikutnya agak nggak nyambung sama yang di atas ya. Jadi inget sama yang diomongin JB alias Johny Blaze. “This is the sign” dialog ini muncul saat dia bertemu Roxanne, kekasihnya yang dulu. Pointnya, bukan kekasih. He talks about second chance.
Setiap orang punya kesempatan kedua. Termasuk saya. Ya meskipun saya tidak bisa berubah jadi sesosok berkepala tengkorak berapi gitu. Sumpah, jika ada kesempatan kedua bagi saya untuk jadi orang baik saya juga mau bilang ‘ini tandanya’. Hidup saya di masa lampau kadang saya sendiri merasa jijik dan hina. Sedih dan malu untuk diingat. Roda pun terus berputar ke depan, bismillah... Semoga Alloh SWT melindungi saya.
Ketika aku ketemu kamu, hati kecilku tanpa sadar berkata “this is the sign”

Terima kasih atas segala kesediaan waktumu untuk berbagi semuanya. Terima kasih atas pengalamanmu berbagi solusi. Kata-katamu sungguh terasa nyata daripada sekedar retorika. Dan ke depan bakal banyak yang bisa kita bagi, semuanya. Canda, tawa, juga sedih, sebel. Cuma kamu dan aku. Meskipun aku di sini dan kamu di sana, Insya Alloh kita tetap bersama. Bersama dalam mimpi dan angan. Semoga mimpi itu bisa terjaga hingga dapat restu dari Alloh SWT. Aamiin.
I.L.U My A.K.A

Satu Dekade Kebersamaan


Entah sudah berapa kali saya bahas tentang sepak bola. Sudah jadi kegemaran tersendiri sejak tahun 2000an. Biarpun gagal jadi pesepakbola profesional, setidaknya ada sedikit semangat yang bisa membuat keringat mengucur dari badan.

Kali ini, akan saya singgung sedikit mengenai pemilihan nomor 85. Mungkin di beberapa kesempatan saya pernah membahas mengapa saya (hampir) selalu memakai nomor ini. Yang pertama dan utama, karena nomor ini mirip dengan inisial nama Bapak. B Sumantri. Bapak ini sosok yang sabar dulu menunggu saya latihan, habis dari pulang kantor langsung ke rumah terus mengajak ke lapangan.
Beliau dengan sabar menunggu hingga selesai latihan. Meskipun pada akhirnya saya hanya betah 3 bulan berlatih. Setidaknya saya jadi sedikit mengerti pola-pola latihan yang benar. Hehe.

Alasan yang kedua, karena nomor 85 ini dipakai oleh pemain favorit saya di Lazio. Di tahun 2005, dia adalah pemain muda terbaik seri B sebelum diboyong ke Lazio. Pemain itu bernama Valon Behrami. Dengan rambut pirang dan skillnya, pemuda berkebangsaan Swiss ini memberi tenaga di lini tengah Lazio. Meskipun saat itu (hingga kini) prestasi tim Biru Langit seperti yoyo yang naik turun di tiap musimnya, saya begitu cinta pada klub ini. tidak banyak yang suka pada tim ecek-ecek. Entah, yang terekam di kepala saya waktu itu adalah sebuah tim dengan warna jersey yang damai dan permainan yang bagus.

Saya baru menyadari di ujung karir nomor 85 ternyata ada inisial lagi yang bisa dicocokkan. Inisial nama papi mami saya ternyata juga bisa. Hahaha. Mami S Aisiyah.

Selalu ada semangat tersendiri memilih dengan hati. Mungkin itu yang dirasakan Gabriel “Batigol” Batistuta. Legenda klub sebelah. Saat dia ditransfer ke klub sebelah, dia ingin memakai nomor 9. Berhubung nomor 9 sudah dipakai Vincenzo Montella, akhirnya dia memakai jersey nomor 18, yang apabila dijumlahkan menjadi 9.

Jadi, lengkap sudah sejak tahun 2005, awal saya memiliki sebuah jersey hingga terakhir di tahun 2015 ini, saya setia dengan nomor tersebut. Dan kini saatnya saya menggantung jersey tersebut beserta kenangan-kenangannya....

Tahun 2005 akhir, Namanya masih alay khas tahun segituan. Nggak dapet juara di tahun itu, tetapi beberapa tahun kemudian bisa angkat piala pake jersey ini.


 Langsung skip ke tahun 2010, sempat memakai nomer 90. Akhirnya kembali lagi ke cinta lama. Sama, nggak dapet gelar di tahun itu, tetapi setahun kemudian angkat piala doong, bikin gol pulak.


Akhirnya langsung ke tahun 2015. Dipertemukan dengan kawan-kawan baru di kelas L. 3x main cuma dapet peringkat 4. Dapat bye di fase awal. Match 1 menghasilkan gol tunggal kemenangan. Match 2 kalah di semifinal. Match 3 kalah di perebutan tempat ketiga.


 Bahkan saya sempat hijrah ke Barcelona :p. Sayangnya, saya tidak sempat dimainkan oleh Barcelona. Gagal deh satu tim dengan La Pulga. Hahaha