It Supposed to be Two Years

Penghujung tahun Dua Ribu Dua Puluh Lima Sudah lama tidak menulis di sini, padahal di dalam benakku sudah banyak mengantri apa yang ingin dituliskan Oke mari kita sedikit kembali susun itu. ************************************************************************************************************************************************************************** “Wisnu ini udah bebas dari penjara, malah masuk lagi” “Jadi mas, setelah apa yang kamu muntahkan akhirnya kamu jilat balik lagi” Dari total dua belas bulan dalam satu kalender ini, Saya merasa perlu membuat dikotomi tahun 2025. Bukan per semester, tetapi periode 4 bulan dan 8 bulan. Saya merasa 4 bulan terakhir, senyum dan tertawa saya tidak sama dengan periode 8 bulan sebelumnya. Entah apakah keputusan ini benar atau salah. Saya ingat betul, berulang kali saya mengucapkan permintaan maaf. Maaf atas pekerjaan-pekerjaan yang tidak saya tuntaskan. Satu tahun delapan bulan periode saya pergi Kepergian yang (sempat) saya tangisi dalam salah satu sholat saya. Bukan, bukan karena tempatnya yang saya tidak suka. Air mata saya menetes karena teringat kekecewaan rekan-rekan saat mereka juga berharap saya bisa pulang Semarang. Saya kecewa, mereka sedih, dan hidup harus terus berjalan. Namun, disinilah titik baliknya. Satu tahun delapan bulan, saya (sedang) mulai menikmati pekerjaan ini. Ditemani dengan lagu Langgas dari Soegi Bornean dan Lamunan Sunyi dari Clubeighties yang selalu menemani hari-hari awal saya di sana. Dengan dikelilingi orang-orang yang super baik, super sabar, dan super komedi membuat gairah hidup saya kembali. Sesulit dan sebanyak pekerjaan selalu saya upayakan semaksimal mungkin. Bahkan, terkadang di hari Sabtu saya ke kantor, selain buat ngadem. “yang enak pekerjaannya atau pimpinannya?” seketika saya tercekat oleh ucapan seorang sahabat yang saat itu mendengar saya selalu menyanjung pekerjaan menjadi AR ini. Padahal di tempat lain banyak yang mengeluh pekerjaan ini. “betul juga” ucapku dalam hati seolah mengiyakan sepenuhnya ucapan tadi. “ah tapi nggak juga” kembali aku tidak sepakat dengannya, tentunya tetap dalam hati. Selain pimpinan yang sangat mendukung, juga ada rekan-rekan lain yang selalu memberikan bantuan, yang selalu ada saat saya pusing, yang selalu bisa tertawa bahkan saat candaan saya garing, dan berikutnya yang terakhir. Kepo orang lain mungkin jadi salah satu passion saya. Satu tahun delapan bulan dan saya kembali Sungguh berdusta jika saya bilang di tempat ini sama seperti saat aku tinggalkan dulu. Sudah lebih solid dan handal, terkadang saya takut justru saya yang merusak irama. Kembali ke tempat yang sama, pekerjaan yang sama, namun dengan kubikel yang berbeda. Yah, kubikel yang baru jadi cerminan bahwa saya kembali dengan semangat baru, ilmu baru, dan pengalaman baru… Awalnya. “Ya Wis, selamat datang kembali, kamu sudah tahu pekerjaan di sini dan tahu model bekerja di sini seperti apa” “Di sini semua kerja tim, nggak ada yang jadi superhero” Begitu 2 kalimat dari 2 sosok pimpinan yang masih kuingat sampai dengan sekarang. Empat bulan berlalu dan saya masih disini Pandangan masih sering mengawang, lamunan kosong terkadang muncul. Pikiran-pikiran gila kadang bersliweran di kepala. Sampai sekarang, saat saya sedang jatuh-jatuhnya, pertanyaan itu selalu muncul “Apakah ini keputusan yang tepat?”

Sebelas Terbaik

Kalau sepak bola dimainkan oleh sebelas orang di lapangan tiap timnya. Yang ini adalah sebelas momen sebagai kaleidoskop musim 2023. Tentunya bukan melulu hasil yang terbaik, tetapi proses, proses, dan proses yang menuju ke arah terbaik. hasilnya? cek aja sendiri di bawah :p
Dengan mengenakan seragam saat tergabung pada musim perdana bersama DIP, saat itu berhasil mencetak gol ke gawang lawan yang juga saya tergabung di dalamnya. Selebrasi yang kikuk, akhirnya hanya melambai ke bench untuk meminta maaf kepada tim lawan. Fix lah, ini match fixing. Haha.
Pertandingan perdana bersama IKMAS FC, setelah 2 kali gagal bergabung. Meskipun sedang tidak berada dalam kondisi fit, alhamdulillah justru diberikan gol, 2 lagi. Alhasil, ekspresinya pun girang seperti tante.
Pertandingan ke sekian bersama DIP, jersey kedua dengan balutan warna biru dan krem. Lagi dan lagi, mencetak gol ke gawang tim DJP201310. Kesan di match ini, bek nya tangguh tapi tetap saja saya bisa nyolong gol, keahlian saya bisa menonjol di sini, menyelinap dalam gelap.
Untuk kesekian kalinya menjadi pemain cabutan. Bergabung dengan CoretaxFC yang kebetulan waktu itu disuruh untuk membawa jersey biru. Oke. Dipilihlah jersey PSIS Semarang musim 22/23. Ketok ngganteng, dipadu dengan celana yang juga PSIS. Sejauh ini, ini yang paling jauh.
Berikutnya, dalam suatu pertandingan memakai jersey Lazio edisi spesial. Dipadukan dengan manset biru terlihat lebih cocok kombinasinya. Kalau dilihat sekilas sudah kayak Makinwa! Pecinta Serie A lawas pasti tau siapa beliau. Haha.
Laga silaturahmi yang digelar di Std. Citarum, Kota Semarang setelah lebaran 2023. Bersama IKMAS FC lintas angkatan. Selain memakai jersey IKMAS, saat itu juga dipinjami jersey inventaris Jateng I. Gimana? Udah cocok lah ya transfer in ke Semarang? Aamiin.
Dalam sebuah pertandingan Sabtu pagi di lapangan belakang kosan, yak betul. Lapangan STAN. Saat itu tergabung dalam tim biru -yang bukan film-. Akhirnya memakai jersey PSIS yang saya lupa musim berapa. Enak juga main di rumput asli, habis itu tinggal capeknya bersihin sepatu. Hiks.
Ini sedang kode minta ganti pemain. Ternyata susah juga main dalam 2 pertandingan berturutan. Antara pikiran dan tubuh sudah tidak sinkron, akhirnya melambai-lambai. Eng, bukan melambai yang itu yak. Meminta rekan di luar untuk masuk, lha kok malah difoto sama kang jepret.
Ikut bermain dalam sebuah internal game (bukan sparring) angkatan di atas saya. Main enak dan santai. Masih bisa adu lari. Bisa cetak 1 angka berkat menemukan ruang kosong dan eksekusi yang tenang. Btw, jersey nya bagus banget. Cocok lah kalau punya jersey putih. Glow in the light!
Jersey yang nggak bakal punya andai tidak tergabung dalam tim merah. Jersey timnas pun dipilih dan tentu saja langsung ke pemasok jersey jempolan yang juga merupakan sohib sejak tahun 2009. Keren juga kombinasi merah-merah nya. Berasa kayak jadi anggota timnas u-16!
Banyak orang bilang save the best for the last, and now please welcome… my first ever jersey. Kalian bakal nggak percaya kalo jersey Semfok FC ini diproduksi tahun 2006 atau 2007 #terharu. Keren juga pake jersey ala pemain-pemain Eropa, dimasukin ke celana! Bebas, sopan, dan rapi yak.

Bal-balan

31 Match, 34 Goals, 22 Assists

(Source: Futsal, Minisoccer)

Sedikit statistik dan rekapitulasi dengan menggunakan metode “iling-iling”. Lumayan susah yak fokus olahraga sama pengumpulan data. Tentunya sangat puas dengan pencapaian di atas. Namun, ke depan selalu ada ruang dan waktu untuk terus memperbaiki diri. Keep Fighting and Never Surrender. Berikut kesan-kesan setelah menjalani Season 2022:

Best Goal?

Mungkin dari beberapa gol, yang favorit dan paling gampang ya. Salah satu Futsal Jumat Krida pagi, sebuah tendangan yang bisa me-nutmeg bek dan kiper sekaligus. Haha. Saya pun tak menyangka.

Moments of the year?

1.    Gagal pinalti di saat gawang sudah terbuka lebar. Mungkin belum panas atau sudah lupa cara nendang pinalti.

2.     Akhirnya kembali ke lapangan besar, setelah sekian tahun dan berujung kram.

3.     Bisa main bola bersama berbagai macam komunitas.

4.  Hampir saja… hampir.. memulai perselisihan yang tak perlu. Hampir terpancing, tetapi tidak.

 

Yak, mungkin segitu aja kesan-kesan di 2022. Untuk tahun depan harapannya apa ya, semoga masih diberi kesehatan dan kesempatan mengolah raga dan menyepak bola lagi. Aamiin. Kalo harapan spesifik, mungkin ini:

1.      Jangan buang peluang! Sekecil apa pun dan apa pun itu. Karena jika buang-buang peluang, suatu saat akan dihukum dengan sesuatu yang nampaknya sepele tetapi vital.

2.       Putuskan dengan cepat, meskipun implementasinya tidak tepat. Coba lagi dan coba lagi.

3.       Tetap berkepala dingin, sesuai saran my old friend.


Beberapa jepretan....

after a long time.. leg crump


focus and then run (not so) fast

believe it... i've doing this for hundred times

start the game!

ball, please come to me and don't go around

what kind of celebration? aha!





Dua Belas Terbaik untuk Dua Ribu Dua Puluh

Rasanya sudah lama sekali nggak nulis santai. Terakhir nulis waktu bikin revisi resolusi untuk tahun 2020 yang mana menjadi tahun yang lebih “rame” dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin sejarah akan mencatatnya sebagai tahun prihatin, tahun yang menghantam semua sendi-sendi kehidupan manusia.

Namun, dari segala kesusahan yang dialami waktu tahun 2020 kemarin tentunya ada beberapa cuilan yang setidaknya menjadi penyejuk suasana di kala obrolan-obrolan toxic mulai melanda. Ingin rasanya kembali ke momen tersebut, tetapi bahkan yang sudah lewat pun tidak bisa kita raih kembali. Hidup harus terus berjalan dengan bergulirnya detik dan berhembusnya nafas.

Berikut dua belas momen terbaik yang bisa terangkum untuk tahun 2020. Momen-momen yang bakal menjadi pengingat ke depan andai dapat pertanyaan “tahun 2020 lagi dimana?” pasti jawabnya sambil bilang gini: “sik sik, 2020 ya,.. oh aku di xxx, aku pernah ke xxx, wah pas itu lagi xxx, dst

Januari : Terhantam flu berat, meriang, masuk angin hingga makan pun terasa hambar serta masih perlu menempuh perjalanan naik kereta dengan insiden celana sobek. Apakah aku terkena COVID-19? Komplit sudah.

Februari : Hasil jungkir balik selama satu semester skripsi tuntas dengan pernyataan “selamat Mas, Anda lulus” setelah sebelumnya ditanyain “Mas, deg-degan nggak?” Akhirnya usai sudah perjuangan pemotongan tukin selama setahun lebih, sekolah gratis tetapi menguras tabungan juga. Haha.

Maret : Pikiran sudah plong dan akhirnya bisa jalan-jalan. Nyetir sampai Temanggung merupakan sebuah prestasi yang biasanya (ke)tidur(an) kalo ke Temanggung. Sekaligus bisa liburan tipis-tipis karena penyebaran si virus sudah dimulai.

April : Hampir full di Semarang karena rumah adalah tempat terindah untuk pulang. Berkumpul bersama keluarga menjadi hal-hal yang pasti akan dirindukan bilamana terdapat jarak yang terpaut entah itu dekat maupun jauh. Sungguh rasanya sangat bahagia melihat tumbuh kembang anak.

Mei : Puasa dan lebaran full di Semarang jadi nggak perlu pusing mikir akomodasi tiket buat arus mudik maupun arus balik. Lagi, hal ini bakal menjadi sesuatu yang sulit untuk diulang dan tentunya akan sangat rindu. Semoga ketemu ramadhan lagi dengan kondisi yang lebih baik. Oh iya, Sholat Id nya di rumah. Hehe. Salah satu hasil karya saya yang secara nggak sengaja publish di jurnal negeri antah berantah sana. Entah, saya pun juga lupa kapan submit-nya. Alhamdulillah

Juni : Tak diduga. Covid itu (agak) nyata. Harus mengisolasi orang rumah ke pusat isolasi dan menjalani isolasi mandiri meskipun alhamdulillah tidak ada keluhan. Pokoknya yang penting kondisi tubuhnya dijaga, jangan stres, istirahat yang cukup. Alhamdulillah anak juga menjalani aktivitas seperti biasa, mungkin karena belum paham. Semoga COVID pergi jauh ya...

Juli : It’s time to work! Makaryo! Kejo meneh! Pertama kali kerja di gedung tinggi, naik lift, keluar lift langsung oleng. Haha... kalo kata Mas Tukul maklum wong ndeso, tapi rapopo rejekine kutho. Kembali bekerja untuk hari ini dan hari tua. Kembali belajar dari nol. Semangat. Oh iyo, sedih karena nggak bisa merayakan ultah anak.

Agustus : Mondar-mandir Jakarta-Semarang pulang-pergi bolak-balik menjadi hal yang hampir menjadi rutinitas di kala akhir pekan. Masih sempat untuk kondangan dengan protokol ketat. Ngajak bocil untuk ke pantai (baru dua kali) dan ke daerah pegunungan buat refreshing. Alhamdulillah. 

September : Jalan-jalan pake baju samaan sekeluarga. Mungkin (agak) norak, tetapi yowes ben lah wong keluargaku dhewe. Hehe. Sungguh jalan-jalan sama keluarga itu bisa jadi momen yang susah diraih kembali di periode-periode ini.

Oktober : Nyetir sampai ndesone Bapak trus lanjut ke Solo. Hahaha, The longest ride that I’ve ever made in my life. Bisa liburan staycation eh piye sih.. haha, pengen meneh tetapi harus nyari tanggal yang bagus. Udah kayak orang mau nikah aja. Ayo liburan dengan protokol kesehatan.

November : Tiba-tiba diminta bantuan untuk bantu acara di kantor. Nggak tanggung-tanggung acaranya untuk big boss one and two. Karena perlu banyak persiapan dan latihan jadi untuk pertama kalinya lembur dan balik dari Gatsu jam setengah sembilan malam, jalanan lengang sih tapi semoga besok-besok nggak perlu pulang malam lagi, yo.

Desember : Nggak disangka dan nggak diduga. Bahkan sampai sekarang tayangan ulangnya tidak berani (tidak mau) saya tonton lagi, tetapi setidaknya sudah menjadi capaian tersendiri. Cita-cita besar masih menanti. Tunggu untuk karya-karya selanjutnya.

Mungkin sekian dulu, pemanasan untuk menuju 2021 yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Cerminan 2020 untuk meniru hal-hal baik dan meninggalkan atau mengurangi hal-hal negatif yang controlable.

Stay positive mind

and go away toxic environment.

_FW Wardhono_

Menggembosi Resolusi yang Basi

Sudah menjadi tradisi bagi kebanyakan khalayak dalam menghadapi siklus akhir/awal tahun. Bukan. Ini bukan menyoal perdebatan pesta kembang api maupun meniup terompet. Perdebatan yang selalu muncul. Perdebatan tersebut seharusnya dan sepatutnya dapat hilang andai masing-masing dari kita meresapi toleransi. Lhoh malah kesini. Ganti.

Akhir tahun selalu berujung dengan koreksi dan evaluasi (mungkin juga evakuasi) atas cerminan diri selama satu periode kalender Masehi. Lalu munculah retorika yang disebut resolusi. Ah, seberapa banyak dari kita yang peduli resolusi. Paling terjadi lagi-terulang lagi-menyesal lagi-tobat lagi. Wajar. Namanya juga manusia, tempatnya lupa dan salah.

Kemudian, ijinkan diri saya untuk menulis apa resolusi untuk tahun 2020. Nggak perlu njlimet-njlimet, nggak perlu ambisius, hanya perlu yang challenging and achievable.


  1. Lebih hemat dalam menggunakan uang. Jangan royal, tetapi nggak pelit. Hidup itu serba memilih dan pilihan kadang sulit. Coba berpikir kemungkinan-kemungkinan yang muncul.
  2. Menabung untuk anak. Bedakan dengan poin di atas. Dengan 2019 yang bisa dikatakan agak tergerogoti tiap bulannya, diharapkan agar saldo tabungan dapat diperbaiki supaya tidak miris dan mringis.
  3. Hidup lebih sehat. Ya, memasuki usia yang semakin menua, aktivitas fisik boleh dikatakan harus distabilkan jangan sampai mati suri. Olahraga, makan bergizi, minum air segar,  kurangi begadang,,, tetapi kalo ada perlu dan maunya ya begadang boleh.. sesekali,
  4. Menjadi suami dan ayah yang hebat. 2019 menjadi tahun yang bahagia sekaligus membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam menjalani kedua peran tersebut. Sebagai seorang suami, untuk bisa lebih membuat bahagia istri, lebih sabar, lebih bisa ambil keputusan yang terbaik buatnya. Sebagai seorang ayah, perlu banyak belajar dan mendampingi anak. Kurangi keteledoran dalam mengawasi anak. Alhamdulillah, dititipi anak olehNya yang sangat kuat. Thanks to both of you, make me stronger and better everyday.
  5. Kerja dengan baik. tak bisa ditolak dan dipungkiri. 2019 dikatakan menjadi tahun longgar  dalam dunia karir sejak 6 tahun silam. 2020 sudah menghadang dengan kondisi yang sangat sangat sempit berkumpul dalam kehangatan selimut... selimut keluarga... haha


Nggak perlu banyak-banyak, cukup itu dulu sambil di-improve di tengah jalan. Bismillah. Welcome 2020. Semoga ini tidak gembos dan basi

*ditulis sembari menunggu detik pergantian tahun dan menemani anak istri yang sedang terlelap untuk menandai mimpi indah terakhir mereka di 2019.

Ayah

UPDATE 08 JANUARI 2020
Make a mistake is an ordinary things to human race, but confess the mistake and try to make it better is the hardest way. Baru tanggal 8 udah basi apa ya itu resolusi. Bahkan, saya lupa memasukkan bagaimana untuk beribadah lebih baik lagi di 2020. Meskipun, cukup privasi untuk urusan satu ini tetapi ya itu adalah sebuah hal fundamental. Dasar dari segala dasar.
Semoga ada peningkatan dalam segi mendekatkan diri kepada Tuhan. Maha besar dan penolong di dalam kesempitan.

antara kata dan kita

memang tidak ada korelasi yang pas untuk menghubungkan kata dan kita
hanya perbedaan satu huruf yang membuat keduanya memiliki makna yang berbeda
begitupun dengan manusia, tidak ada satu kesamaan pun di antara
karena Tuhan menciptakan dengan beraneka
tak mengapa... bukankah justru itu yang membuat adanya kita

terlewati tahun kedua
dengan suka duka canda tawa tangis bahagia
cinta kita akan selalu membara dan terjaga

terima kasih kekasih jiwa
sudah engaku hadirkan warna berbeda
semoga selalu terlewati tahun-tahun berikutnya
dengan penuh kasih dan asa

-20/08/2019-
satu, dua, tiga

Selamat ulang tahun anak ayaaah...
nggak kerasa sudah 1 tahun yaa sejak kelahiranmu yang membawa banyak keberkahan buat kita semua...
Kamu lahir, ayah sekolah lagi, mama keterima CPNS,.
Semoga sehat selalu ya nak, jadi anak yang pintar, manut sama orang tua, tambah sholehah
Aamiin