Buku Ramadhan untuk Ayah

Empat penari…kian kemari, Jalan melenggang…Aduh” 
Lirik pembuka dari “Gambang Semarang” sayup-sayup mulai terdengar seiring berkurangnya laju keretaku. Lagu yang diputar tersebut sebagai penanda bahwa kereta telah tiba di Stasiun Tawang, Kota Semarang. Bukan penari berlenggak-lenggok yang menyambut di stasiun, melainkan petugas porter berseragam biru dengan kode di punggung yang sibuk menawarkan jasa tenaganya. Meskipun layanan tersebut sudah tidak berbayar, terkadang uang tip tetap diberikan oleh penumpang. Toh rezeki tidak boleh ditolak, kan. 

Aku bergegas turun dari salah satu gerbong kereta bersama sekitar ratusan penumpang lainnya yang juga sama-sama berangkat dari arah Jakarta. Malam itu tingkat okupansi kereta cukup tinggi. Maklum, kereta tersebut berangkat pada Jumat sore. Hari sakral dimana para pekerja rantau di kerasnya Jakarta untuk pulang menikmati akhir pekan bersama keluarga. Termasuk aku sebagai salah satu sosok dari pelaku ritual ini. Ritual yang mungkin bisa berbeda-beda frekuensi antarindividu. Ada yang setiap minggu, ada yang dua minggu sekali, atau bahkan ada yang sebulan sekali. Tergantung seberapa kocek yang perlu dirogoh. Aku termasuk salah satu beruntung yang bisa pulang hampir setiap minggu. Alhamdulillah. 

“Saya pakai celana jeans biru dan jaket abu, ya pak” Begitu pesan yang aku tulis pada kotak pesan aplikasi ojek daring. Aku rutin menggunakan aplikasi daring tersebut karena tidak mungkin meminta tolong orang rumah untuk menjemput. Selain jarak yang lumayan jauh antara Stasiun Tawang dengan posisi rumah, potensi bertemu dengan kreak juga perlu diminimalkan agar perjalanan tetap aman dan selamat. 

Kulirik jam tangan di tangan, waktu sudah mendekati tengah malam menjelang pergantian hari. Sudah lima menit aku menunggu. Icon motor pada peta di aplikasi sudah bergerak ke posisi dimana aku berada. Rasa kantuk yang berat mulai menyerangaku. Menurutku, tidur di kereta masih relatif lebih nyaman dibandingkan moda transportasi lain. Namun, tetap saja “tidur ayam” itu tidak bisa menggantikan rasa nyaman tidur di kasur rumah. 

Di sela-sela proses menunggu, telingaku kembali menangkap sayup suara. Bukan nada Gambang Semarang, kali ini berbeda. Irama menghentak dan mendentum yang seharusnya berbunyi kencang tetapi seperti larut oleh foam peredam. Penasaran, aku pun mulai menajamkan pendengaran. Deg! Aku baru ingat, suara itu berasal dari tempat hiburan malam yang berlokasi tidak jauh dari pintu keluar stasiun. Tempat yang sebentar lagi akan diistirahatkan sementara sebagai bentuk toleransi bagi umat Islam yang akan menjalankan puasa.

“Mas Sinu… Mas Sinu…” Suara tersebut membuyarkan kantukku. Aku mengira panggilan tersebut berasal dari tempat hiburan, tetapi ternyata dari pengemudi ojek daring yang kedatangannya sedari tadi sudah kutunggu. Segera kusapa pengemudi itu sambal tersenyum. Beliau memberikan senyum balik sambil menyerahkan helm. Sekilas, terlihat raut penyesalan di wajahnya, mungkin karena seharusnya dia mengganti sapaan “mas” menjadi “pak”. Entah, aku hanya bisa menerka tanpa berani menanyakan lebih lanjut. Kupakai helm tersebut dan perjalanan ke rumah siap ditunaikan.

Dinginnya angin malam mulai menusuk menembus jaket. Namun, itu tidak begitu kupedulikan karena terbayang esok hari aku bisa melihat hangatnya senyum dan keceriaan anak-anakku. Tak terasa 30 menit durasi perjalanan dan aku sudah tiba di rumah. 

“Walaikumsalam” Istriku menjawab salam dan membukakan pintu. Tak lupa beliau menyiapkan baju ganti dan segelas teh hangat. Setelah membersihkan diri, aku masuk ke kamar dan melihat kedua anakku tidur dengan damai. Kucium kening mereka dengan pelan karena aku tidak ingin membuat mereka terbangun saat ini.

“Ayaah, bangun…. Sudah pagi.” suara kecil terdengar lembut yang membangunkanku dari tidur. Aku baru menyadari bahwa aku tertidur setelah sholat Shubuh. Hal ini terjadi karena rasa lelah dari perjalanan belum sepenuhnya pergi. Tidak ada yang berbeda, rutinitas “momong bocah” harus kulakukan sedari pagi. Istriku, atau yang biasa anak-anakku panggil dengan sapaan Mama, tetap bekerja di hari Sabtu hingga selesai pukul dua belas siang. Perlu tenaga ekstra untuk menjaga dua anak sekaligus, Kirana si sulung berumur tujuh tahun dan Jennar adiknya yang terpaut empat tahun. Kadang-kadang akur, namun seringkali keributan kecil khas anak-anak tidak terhindarkan. Namanya juga bocah.

Menjelang siang, Kirana yang sudah bersekolah kelas 2 SD tiba-tiba menghampiriku sambil menyerahkan sebuah buku. “Ayah, ini ada buku ramadhan dari sekolah. Buat puasa minggu depan.” Kuterima buku itu dan kubuka lembar per lembar. Ingatanku kembali cukup jauh ke circa 1999 atau 2000.

Ya, aku mulai mengingat apa yang terjadi denganku saat masih kelas 2 SD. Aku juga pernah mendapatkan buku ramadhan sama seperti anakku. Beda sampul, namun isinya mirip. Sebuah buku yang berisikan panduan bacaan niat dan doa berbuka puasa, kotak tabel berisi jadwal sholat, progres tadarus yang dilakukan, ringkasan kultum dari ustadz saat tarawih, hingga di halaman paling belakang yaitu kolom nilai dari guru agama. 

Buku tersebut sebagai bukti aktivitas selama ramadhan dan menambah nilai mata pelajaran agama. Aku mengingat dulu pernah mengisinya dengan tanda centang maupun setrip, berimbang. Termasuk memori saat berebut dengan teman-temanku untuk mendapatkan tanda tangan penceramah. Aku selalu meminta paraf bapakku sebagai bukti bahwa aku telah berkegiatan dengan baik. Kini, akulah yang akan berada di posisi sama seperti bapakku.

“Oh ya, buku ini nanti diisi ya. Sholatnya mulai lima waktu, ngajinya ditambah waktunya. Mumpung bulan puasa banyak berkah. Kirana, nanti puasanya bisa full seharian, nggak?” begitu pesan-pesanku sebagai sosok ayah yang jarang ada di rumah.

“Ya kayaknya sih, insya alloh.” jawabnya dengan pelan namun pasti.

Adegan berikutnya dia pun melengos untuk melanjutkan bermain dengan adiknya di teras di rumah. Pemandangan yang sungguh menyejukkan hati bagiku. Meskipun ini ramadhan keduanya untuk berpuasa, jujur saja aku agak khawatir jika Kirana akan menjalankan puasa sehari full. Bagaimana tidak, badannya yang bisa dikatakan cukup kurus menjadikanku merasa iba apabila dia harus menahan haus dan lapar seharian.

Berdasarkan hasil searching di dunia maya, usia optimal anak untuk puasa sehari full adalah sekitar 12 tahun. Kirana sudah lebih cepat 5 tahun! Namun, Yangkungnya sudah memberikan wejangan kepadaku dan istriku. “Mbok ora usah full poso disik, mesakke bocahe ndak awakke dadi tambah entek.” Kurang lebih terjemahan dari wejangan tersebut yaitu menyarankan agar Kirana tidak perlu puasa full terlebih dulu karena nanti badannya bisa semakin kurus.

Aku serta istri mengiyakan dan kami sepakat akan memantau Kirana dalam berpuasa. Tidak memaksa, namun memberi dorongan dan semangat agar puasanya menjadi salah satu proses pembelajaran mengukur diri dan juga kejujuran. “Nanti kalau puasanya tidak kuat, bilang ke Mama ya. Boleh puasa setengah hari atau makan pas sudah lapar banget. Yang penting Kirana ngomong, jujur ke Mama dan tidak ngumpet-ngumpet.” Begitu kira-kira inti dari ucapanku saat akan berangkat ke Jakarta di Minggu malam. “Oke, Yah.” jawab Kirana disertai dengan anggukan kecil sebagai bukti penguat diri. Juga penguat bagiku dalam menjalani ramadhan yang ke sekian sebagai pekerja rantau.

Aku yakin meskipun tahun ini masih belum bisa mendampingi anakku berpuasa setiap harinya, dia tetap bisa tumbuh dengan nilai kejujuran diri. 

Pukul sembilan malam. Waktu yang sebenarnya cukup larut untuk anak-anak tidur. Lambaian tangan anak-anakku di ambang pintu mengantar keberangkatanku ke stasiun. Namun, mereka berdua rela menahan kantuk hanya demi berpamitan dengan ayahnya. Sambil menyiapkan buka puasa di kosan, aku menelepon keluargaku melalui video call. Dengan perbedaan waktu adzan sekitar 15 menit menjadikan keluargaku untuk dapat berbuka puasa terlebih dahulu dibandingkan denganku. 

“Halo, kalian buka pakai apa? Gimana puasanya? Nanti malam sholat tarawih ya.” Pertanyaan-pertanyaan template yang wajib aku lontarkan saat percakapan dimulai. Terlihat dari layar smartphone wajah-wajah bahagia yang dihadapkan dengan berbagai kudapan, termasuk Kirana yang notabene masih pilih-pilih dalam hal makanan. Melihat dia dan adiknya (meskipun tidak puasa) makan dengan lahap saja sudah membuat hati ini tenang.

“Ayah, hari ini aku puasanya bisa full. Temenku yang satu jemputan sama aku juga full, padahal dia masih kelas 1 lho. Tapi, Yah… hari ini aku kelupaan sholat Dhuhur, yang di buku sudah aku kasih “strip”. Semoga besok aku nggak lupa lagi. Habis sholat Maghrib aku mau ngaji sama Mama, terus ke masjid sama Mbahti.” begitu laporan anak sulungku yang runtut, padat, dan tidak bertele-tele. Mendengar itu ada rasa bahagia di hati. Meskipun baru beberapa hari berpuasa. Anak seumuran tersebut sudah berani untuk berkomitmen, berusaha maksimal dan konsisten, serta berterus terang atas kelalaian yang diperbuat. Lalu, bagaimana dengan kita yang sudah ada di usia sekarang? Sudahkah kita melakukannya?

“Allahu Akbar…Allahu Akbar…” Belum selesai aku memikirkan jawaban atas pertanyaan dalam diri tadi, suara kumandang adzan Maghrib dari toa masjid dekat kosan sudah terdengar. Segera ku ambil segelas air putih dan kurma sebagai kudapan untuk membatalkan puasa. Masing-masing dari kita memiliki buku sendiri. Tidak hanya buku ramadhan, namun buku seumur hidup sebagai pertanggungjawaban kelak di hari akhir.

Buku yang memiliki sosok pencatat otomatis di sebelah kanan dan kiri kita. Kedua sosok yang tidak bisa dikelabui dan ditipu. Kita sebagai orang dewasa mungkin bisa dengan mudah menahan lapar dan dahaga puasa. Namun, apakah godaan hanya itu saja? Silakan jawab sendiri. Godaan akan selalu ada untuk menodai catatan di buku. Tinggal bagaimana usaha kita agar pencatat di sebelah kanan itu menggoreskan catatan terbaiknya. Semoga ramadhan tahun ini menjadi berkah bagi kita semua. 

*Teruntuk kedua anakku yang selalu menjadi sumber semangatku dalam bekerja. Semoga kalian selalu sehat dan berada dalam lindunganNya. Mungkin kita tidak setiap hari bertemu secara fisik, namun cintaku akan selalu membimbing kalian hingga bisa mandiri menghadapi ujian kehidupan.” -Sinu, Ayahmu-

It Supposed to be Two Years

Penghujung tahun Dua Ribu Dua Puluh Lima. Sudah lama tidak menulis di sini, padahal di dalam benakku sudah banyak mengantri apa yang ingin dituliskan. Oke mari kita sedikit kembali susun itu. 


 “Wisnu ini udah bebas dari penjara, malah masuk lagi” 
Jadi mas, setelah apa yang kamu muntahkan akhirnya kamu jilat balik lagi” 

Dari total dua belas bulan dalam satu kalender ini, Saya merasa perlu membuat dikotomi tahun 2025. Bukan per semester, tetapi periode 4 bulan dan 8 bulan. Saya merasa 4 bulan terakhir, senyum dan tertawa saya tidak sama dengan periode 8 bulan sebelumnya. Entah apakah keputusan ini benar atau salah. Saya ingat betul, berulang kali saya mengucapkan permintaan maaf. Maaf atas pekerjaan-pekerjaan yang tidak saya tuntaskan. 

Satu tahun delapan bulan periode saya pergi. 
Kepergian yang (sempat) saya tangisi dalam salah satu sholat saya. Bukan, bukan karena tempatnya yang saya tidak suka. Air mata saya menetes karena teringat kekecewaan rekan-rekan saat mereka juga berharap saya bisa pulang Semarang. Saya kecewa, mereka sedih, dan hidup harus terus berjalan. Namun, disinilah titik baliknya. 
 
Satu tahun delapan bulan, saya (sedang) mulai menikmati pekerjaan ini. 
Ditemani dengan lagu Langgas dari Soegi Bornean dan Lamunan Sunyi dari Clubeighties yang selalu menemani hari-hari awal saya di sana. Dengan dikelilingi orang-orang yang super baik, super sabar, dan super komedi membuat gairah hidup saya kembali. Sesulit dan sebanyak pekerjaan selalu saya upayakan semaksimal mungkin. Bahkan, terkadang di hari Sabtu saya ke kantor, selain buat ngadem. 

yang enak pekerjaannya atau pimpinannya?” seketika saya tercekat oleh ucapan seorang sahabat yang saat itu mendengar saya selalu menyanjung pekerjaan menjadi AR ini. Padahal di tempat lain banyak yang mengeluh pekerjaan ini. “betul juga” ucapku dalam hati seolah mengiyakan sepenuhnya ucapan tadi. “ah tapi nggak juga” kembali aku tidak sepakat dengannya, tentunya tetap dalam hati. Selain pimpinan yang sangat mendukung, juga ada rekan-rekan lain yang selalu memberikan bantuan, yang selalu ada saat saya pusing, yang selalu bisa tertawa bahkan saat candaan saya garing, dan berikutnya yang terakhir. Kepo orang lain mungkin jadi salah satu passion saya. 

Satu tahun delapan bulan dan saya kembali.
Sungguh berdusta jika saya bilang di tempat ini sama seperti saat aku tinggalkan dulu. Sudah lebih solid dan handal, terkadang saya takut justru saya yang merusak irama. Kembali ke tempat yang sama, pekerjaan yang sama, namun dengan kubikel yang berbeda. Yah, kubikel yang baru jadi cerminan bahwa saya kembali dengan semangat baru, ilmu baru, dan pengalaman baru… Awalnya. 
 “Ya Wis, selamat datang kembali, kamu sudah tahu pekerjaan di sini dan tahu model bekerja di sini seperti apa
Di sini semua kerja tim, nggak ada yang jadi superhero” 
Begitu 2 kalimat dari 2 sosok pimpinan yang masih saya ingat sampai dengan sekarang. Empat bulan berlalu dan saya masih disini Pandangan masih sering mengawang, lamunan kosong terkadang muncul. Pikiran-pikiran gila kadang bersliweran di kepala. Sampai sekarang, saat saya sedang jatuh-jatuhnya, pertanyaan itu selalu muncul 

 “Apakah ini keputusan yang tepat?”

Sebelas Terbaik

Kalau sepak bola dimainkan oleh sebelas orang di lapangan tiap timnya. Yang ini adalah sebelas momen sebagai kaleidoskop musim 2023. Tentunya bukan melulu hasil yang terbaik, tetapi proses, proses, dan proses yang menuju ke arah terbaik. hasilnya? cek aja sendiri di bawah :p
Dengan mengenakan seragam saat tergabung pada musim perdana bersama DIP, saat itu berhasil mencetak gol ke gawang lawan yang juga saya tergabung di dalamnya. Selebrasi yang kikuk, akhirnya hanya melambai ke bench untuk meminta maaf kepada tim lawan. Fix lah, ini match fixing. Haha.
Pertandingan perdana bersama IKMAS FC, setelah 2 kali gagal bergabung. Meskipun sedang tidak berada dalam kondisi fit, alhamdulillah justru diberikan gol, 2 lagi. Alhasil, ekspresinya pun girang seperti tante.
Pertandingan ke sekian bersama DIP, jersey kedua dengan balutan warna biru dan krem. Lagi dan lagi, mencetak gol ke gawang tim DJP201310. Kesan di match ini, bek nya tangguh tapi tetap saja saya bisa nyolong gol, keahlian saya bisa menonjol di sini, menyelinap dalam gelap.
Untuk kesekian kalinya menjadi pemain cabutan. Bergabung dengan CoretaxFC yang kebetulan waktu itu disuruh untuk membawa jersey biru. Oke. Dipilihlah jersey PSIS Semarang musim 22/23. Ketok ngganteng, dipadu dengan celana yang juga PSIS. Sejauh ini, ini yang paling jauh.
Berikutnya, dalam suatu pertandingan memakai jersey Lazio edisi spesial. Dipadukan dengan manset biru terlihat lebih cocok kombinasinya. Kalau dilihat sekilas sudah kayak Makinwa! Pecinta Serie A lawas pasti tau siapa beliau. Haha.
Laga silaturahmi yang digelar di Std. Citarum, Kota Semarang setelah lebaran 2023. Bersama IKMAS FC lintas angkatan. Selain memakai jersey IKMAS, saat itu juga dipinjami jersey inventaris Jateng I. Gimana? Udah cocok lah ya transfer in ke Semarang? Aamiin.
Dalam sebuah pertandingan Sabtu pagi di lapangan belakang kosan, yak betul. Lapangan STAN. Saat itu tergabung dalam tim biru -yang bukan film-. Akhirnya memakai jersey PSIS yang saya lupa musim berapa. Enak juga main di rumput asli, habis itu tinggal capeknya bersihin sepatu. Hiks.
Ini sedang kode minta ganti pemain. Ternyata susah juga main dalam 2 pertandingan berturutan. Antara pikiran dan tubuh sudah tidak sinkron, akhirnya melambai-lambai. Eng, bukan melambai yang itu yak. Meminta rekan di luar untuk masuk, lha kok malah difoto sama kang jepret.
Ikut bermain dalam sebuah internal game (bukan sparring) angkatan di atas saya. Main enak dan santai. Masih bisa adu lari. Bisa cetak 1 angka berkat menemukan ruang kosong dan eksekusi yang tenang. Btw, jersey nya bagus banget. Cocok lah kalau punya jersey putih. Glow in the light!
Jersey yang nggak bakal punya andai tidak tergabung dalam tim merah. Jersey timnas pun dipilih dan tentu saja langsung ke pemasok jersey jempolan yang juga merupakan sohib sejak tahun 2009. Keren juga kombinasi merah-merah nya. Berasa kayak jadi anggota timnas u-16!
Banyak orang bilang save the best for the last, and now please welcome… my first ever jersey. Kalian bakal nggak percaya kalo jersey Semfok FC ini diproduksi tahun 2006 atau 2007 #terharu. Keren juga pake jersey ala pemain-pemain Eropa, dimasukin ke celana! Bebas, sopan, dan rapi yak.

Bal-balan

31 Match, 34 Goals, 22 Assists

(Source: Futsal, Minisoccer)

Sedikit statistik dan rekapitulasi dengan menggunakan metode “iling-iling”. Lumayan susah yak fokus olahraga sama pengumpulan data. Tentunya sangat puas dengan pencapaian di atas. Namun, ke depan selalu ada ruang dan waktu untuk terus memperbaiki diri. Keep Fighting and Never Surrender. Berikut kesan-kesan setelah menjalani Season 2022:

Best Goal?

Mungkin dari beberapa gol, yang favorit dan paling gampang ya. Salah satu Futsal Jumat Krida pagi, sebuah tendangan yang bisa me-nutmeg bek dan kiper sekaligus. Haha. Saya pun tak menyangka.

Moments of the year?

1.    Gagal pinalti di saat gawang sudah terbuka lebar. Mungkin belum panas atau sudah lupa cara nendang pinalti.

2.     Akhirnya kembali ke lapangan besar, setelah sekian tahun dan berujung kram.

3.     Bisa main bola bersama berbagai macam komunitas.

4.  Hampir saja… hampir.. memulai perselisihan yang tak perlu. Hampir terpancing, tetapi tidak.

 

Yak, mungkin segitu aja kesan-kesan di 2022. Untuk tahun depan harapannya apa ya, semoga masih diberi kesehatan dan kesempatan mengolah raga dan menyepak bola lagi. Aamiin. Kalo harapan spesifik, mungkin ini:

1.      Jangan buang peluang! Sekecil apa pun dan apa pun itu. Karena jika buang-buang peluang, suatu saat akan dihukum dengan sesuatu yang nampaknya sepele tetapi vital.

2.       Putuskan dengan cepat, meskipun implementasinya tidak tepat. Coba lagi dan coba lagi.

3.       Tetap berkepala dingin, sesuai saran my old friend.


Beberapa jepretan....

after a long time.. leg crump


focus and then run (not so) fast

believe it... i've doing this for hundred times

start the game!

ball, please come to me and don't go around

what kind of celebration? aha!





Dua Belas Terbaik untuk Dua Ribu Dua Puluh

Rasanya sudah lama sekali nggak nulis santai. Terakhir nulis waktu bikin revisi resolusi untuk tahun 2020 yang mana menjadi tahun yang lebih “rame” dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin sejarah akan mencatatnya sebagai tahun prihatin, tahun yang menghantam semua sendi-sendi kehidupan manusia.

Namun, dari segala kesusahan yang dialami waktu tahun 2020 kemarin tentunya ada beberapa cuilan yang setidaknya menjadi penyejuk suasana di kala obrolan-obrolan toxic mulai melanda. Ingin rasanya kembali ke momen tersebut, tetapi bahkan yang sudah lewat pun tidak bisa kita raih kembali. Hidup harus terus berjalan dengan bergulirnya detik dan berhembusnya nafas.

Berikut dua belas momen terbaik yang bisa terangkum untuk tahun 2020. Momen-momen yang bakal menjadi pengingat ke depan andai dapat pertanyaan “tahun 2020 lagi dimana?” pasti jawabnya sambil bilang gini: “sik sik, 2020 ya,.. oh aku di xxx, aku pernah ke xxx, wah pas itu lagi xxx, dst

Januari : Terhantam flu berat, meriang, masuk angin hingga makan pun terasa hambar serta masih perlu menempuh perjalanan naik kereta dengan insiden celana sobek. Apakah aku terkena COVID-19? Komplit sudah.

Februari : Hasil jungkir balik selama satu semester skripsi tuntas dengan pernyataan “selamat Mas, Anda lulus” setelah sebelumnya ditanyain “Mas, deg-degan nggak?” Akhirnya usai sudah perjuangan pemotongan tukin selama setahun lebih, sekolah gratis tetapi menguras tabungan juga. Haha.

Maret : Pikiran sudah plong dan akhirnya bisa jalan-jalan. Nyetir sampai Temanggung merupakan sebuah prestasi yang biasanya (ke)tidur(an) kalo ke Temanggung. Sekaligus bisa liburan tipis-tipis karena penyebaran si virus sudah dimulai.

April : Hampir full di Semarang karena rumah adalah tempat terindah untuk pulang. Berkumpul bersama keluarga menjadi hal-hal yang pasti akan dirindukan bilamana terdapat jarak yang terpaut entah itu dekat maupun jauh. Sungguh rasanya sangat bahagia melihat tumbuh kembang anak.

Mei : Puasa dan lebaran full di Semarang jadi nggak perlu pusing mikir akomodasi tiket buat arus mudik maupun arus balik. Lagi, hal ini bakal menjadi sesuatu yang sulit untuk diulang dan tentunya akan sangat rindu. Semoga ketemu ramadhan lagi dengan kondisi yang lebih baik. Oh iya, Sholat Id nya di rumah. Hehe. Salah satu hasil karya saya yang secara nggak sengaja publish di jurnal negeri antah berantah sana. Entah, saya pun juga lupa kapan submit-nya. Alhamdulillah

Juni : Tak diduga. Covid itu (agak) nyata. Harus mengisolasi orang rumah ke pusat isolasi dan menjalani isolasi mandiri meskipun alhamdulillah tidak ada keluhan. Pokoknya yang penting kondisi tubuhnya dijaga, jangan stres, istirahat yang cukup. Alhamdulillah anak juga menjalani aktivitas seperti biasa, mungkin karena belum paham. Semoga COVID pergi jauh ya...

Juli : It’s time to work! Makaryo! Kejo meneh! Pertama kali kerja di gedung tinggi, naik lift, keluar lift langsung oleng. Haha... kalo kata Mas Tukul maklum wong ndeso, tapi rapopo rejekine kutho. Kembali bekerja untuk hari ini dan hari tua. Kembali belajar dari nol. Semangat. Oh iyo, sedih karena nggak bisa merayakan ultah anak.

Agustus : Mondar-mandir Jakarta-Semarang pulang-pergi bolak-balik menjadi hal yang hampir menjadi rutinitas di kala akhir pekan. Masih sempat untuk kondangan dengan protokol ketat. Ngajak bocil untuk ke pantai (baru dua kali) dan ke daerah pegunungan buat refreshing. Alhamdulillah. 

September : Jalan-jalan pake baju samaan sekeluarga. Mungkin (agak) norak, tetapi yowes ben lah wong keluargaku dhewe. Hehe. Sungguh jalan-jalan sama keluarga itu bisa jadi momen yang susah diraih kembali di periode-periode ini.

Oktober : Nyetir sampai ndesone Bapak trus lanjut ke Solo. Hahaha, The longest ride that I’ve ever made in my life. Bisa liburan staycation eh piye sih.. haha, pengen meneh tetapi harus nyari tanggal yang bagus. Udah kayak orang mau nikah aja. Ayo liburan dengan protokol kesehatan.

November : Tiba-tiba diminta bantuan untuk bantu acara di kantor. Nggak tanggung-tanggung acaranya untuk big boss one and two. Karena perlu banyak persiapan dan latihan jadi untuk pertama kalinya lembur dan balik dari Gatsu jam setengah sembilan malam, jalanan lengang sih tapi semoga besok-besok nggak perlu pulang malam lagi, yo.

Desember : Nggak disangka dan nggak diduga. Bahkan sampai sekarang tayangan ulangnya tidak berani (tidak mau) saya tonton lagi, tetapi setidaknya sudah menjadi capaian tersendiri. Cita-cita besar masih menanti. Tunggu untuk karya-karya selanjutnya.

Mungkin sekian dulu, pemanasan untuk menuju 2021 yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Cerminan 2020 untuk meniru hal-hal baik dan meninggalkan atau mengurangi hal-hal negatif yang controlable.

Stay positive mind

and go away toxic environment.

_FW Wardhono_

Menggembosi Resolusi yang Basi

Sudah menjadi tradisi bagi kebanyakan khalayak dalam menghadapi siklus akhir/awal tahun. Bukan. Ini bukan menyoal perdebatan pesta kembang api maupun meniup terompet. Perdebatan yang selalu muncul. Perdebatan tersebut seharusnya dan sepatutnya dapat hilang andai masing-masing dari kita meresapi toleransi. Lhoh malah kesini. Ganti.

Akhir tahun selalu berujung dengan koreksi dan evaluasi (mungkin juga evakuasi) atas cerminan diri selama satu periode kalender Masehi. Lalu munculah retorika yang disebut resolusi. Ah, seberapa banyak dari kita yang peduli resolusi. Paling terjadi lagi-terulang lagi-menyesal lagi-tobat lagi. Wajar. Namanya juga manusia, tempatnya lupa dan salah.

Kemudian, ijinkan diri saya untuk menulis apa resolusi untuk tahun 2020. Nggak perlu njlimet-njlimet, nggak perlu ambisius, hanya perlu yang challenging and achievable.


  1. Lebih hemat dalam menggunakan uang. Jangan royal, tetapi nggak pelit. Hidup itu serba memilih dan pilihan kadang sulit. Coba berpikir kemungkinan-kemungkinan yang muncul.
  2. Menabung untuk anak. Bedakan dengan poin di atas. Dengan 2019 yang bisa dikatakan agak tergerogoti tiap bulannya, diharapkan agar saldo tabungan dapat diperbaiki supaya tidak miris dan mringis.
  3. Hidup lebih sehat. Ya, memasuki usia yang semakin menua, aktivitas fisik boleh dikatakan harus distabilkan jangan sampai mati suri. Olahraga, makan bergizi, minum air segar,  kurangi begadang,,, tetapi kalo ada perlu dan maunya ya begadang boleh.. sesekali,
  4. Menjadi suami dan ayah yang hebat. 2019 menjadi tahun yang bahagia sekaligus membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam menjalani kedua peran tersebut. Sebagai seorang suami, untuk bisa lebih membuat bahagia istri, lebih sabar, lebih bisa ambil keputusan yang terbaik buatnya. Sebagai seorang ayah, perlu banyak belajar dan mendampingi anak. Kurangi keteledoran dalam mengawasi anak. Alhamdulillah, dititipi anak olehNya yang sangat kuat. Thanks to both of you, make me stronger and better everyday.
  5. Kerja dengan baik. tak bisa ditolak dan dipungkiri. 2019 dikatakan menjadi tahun longgar  dalam dunia karir sejak 6 tahun silam. 2020 sudah menghadang dengan kondisi yang sangat sangat sempit berkumpul dalam kehangatan selimut... selimut keluarga... haha


Nggak perlu banyak-banyak, cukup itu dulu sambil di-improve di tengah jalan. Bismillah. Welcome 2020. Semoga ini tidak gembos dan basi

*ditulis sembari menunggu detik pergantian tahun dan menemani anak istri yang sedang terlelap untuk menandai mimpi indah terakhir mereka di 2019.

Ayah

UPDATE 08 JANUARI 2020
Make a mistake is an ordinary things to human race, but confess the mistake and try to make it better is the hardest way. Baru tanggal 8 udah basi apa ya itu resolusi. Bahkan, saya lupa memasukkan bagaimana untuk beribadah lebih baik lagi di 2020. Meskipun, cukup privasi untuk urusan satu ini tetapi ya itu adalah sebuah hal fundamental. Dasar dari segala dasar.
Semoga ada peningkatan dalam segi mendekatkan diri kepada Tuhan. Maha besar dan penolong di dalam kesempitan.

antara kata dan kita

memang tidak ada korelasi yang pas untuk menghubungkan kata dan kita
hanya perbedaan satu huruf yang membuat keduanya memiliki makna yang berbeda
begitupun dengan manusia, tidak ada satu kesamaan pun di antara
karena Tuhan menciptakan dengan beraneka
tak mengapa... bukankah justru itu yang membuat adanya kita

terlewati tahun kedua
dengan suka duka canda tawa tangis bahagia
cinta kita akan selalu membara dan terjaga

terima kasih kekasih jiwa
sudah engaku hadirkan warna berbeda
semoga selalu terlewati tahun-tahun berikutnya
dengan penuh kasih dan asa

-20/08/2019-
satu, dua, tiga