Lirik pembuka dari “Gambang Semarang” sayup-sayup mulai terdengar seiring berkurangnya laju keretaku. Lagu yang diputar tersebut sebagai penanda bahwa kereta telah tiba di Stasiun Tawang, Kota Semarang. Bukan penari berlenggak-lenggok yang menyambut di stasiun, melainkan petugas porter berseragam biru dengan kode di punggung yang sibuk menawarkan jasa tenaganya. Meskipun layanan tersebut sudah tidak berbayar, terkadang uang tip tetap diberikan oleh penumpang. Toh rezeki tidak boleh ditolak, kan.
Aku bergegas turun dari salah satu gerbong kereta bersama sekitar ratusan penumpang lainnya yang juga sama-sama berangkat dari arah Jakarta. Malam itu tingkat okupansi kereta cukup tinggi. Maklum, kereta tersebut berangkat pada Jumat sore. Hari sakral dimana para pekerja rantau di kerasnya Jakarta untuk pulang menikmati akhir pekan bersama keluarga. Termasuk aku sebagai salah satu sosok dari pelaku ritual ini. Ritual yang mungkin bisa berbeda-beda frekuensi antarindividu. Ada yang setiap minggu, ada yang dua minggu sekali, atau bahkan ada yang sebulan sekali. Tergantung seberapa kocek yang perlu dirogoh. Aku termasuk salah satu beruntung yang bisa pulang hampir setiap minggu. Alhamdulillah.
“Saya pakai celana jeans biru dan jaket abu, ya pak” Begitu pesan yang aku tulis pada kotak pesan aplikasi ojek daring.
Aku rutin menggunakan aplikasi daring tersebut karena tidak mungkin meminta tolong orang rumah untuk menjemput. Selain jarak yang lumayan jauh antara Stasiun Tawang dengan posisi rumah, potensi bertemu dengan kreak juga perlu diminimalkan agar perjalanan tetap aman dan selamat.
Kulirik jam tangan di tangan, waktu sudah mendekati tengah malam menjelang pergantian hari. Sudah lima menit aku menunggu. Icon motor pada peta di aplikasi sudah bergerak ke posisi dimana aku berada.
Rasa kantuk yang berat mulai menyerangaku. Menurutku, tidur di kereta masih relatif lebih nyaman dibandingkan moda transportasi lain. Namun, tetap saja “tidur ayam” itu tidak bisa menggantikan rasa nyaman tidur di kasur rumah.
Di sela-sela proses menunggu, telingaku kembali menangkap sayup suara. Bukan nada Gambang Semarang, kali ini berbeda. Irama menghentak dan mendentum yang seharusnya berbunyi kencang tetapi seperti larut oleh foam peredam. Penasaran, aku pun mulai menajamkan pendengaran. Deg! Aku baru ingat, suara itu berasal dari tempat hiburan malam yang berlokasi tidak jauh dari pintu keluar stasiun. Tempat yang sebentar lagi akan diistirahatkan sementara sebagai bentuk toleransi bagi umat Islam yang akan menjalankan puasa.
“Mas Sinu… Mas Sinu…”
Suara tersebut membuyarkan kantukku. Aku mengira panggilan tersebut berasal dari tempat hiburan, tetapi ternyata dari pengemudi ojek daring yang kedatangannya sedari tadi sudah kutunggu. Segera kusapa pengemudi itu sambal tersenyum. Beliau memberikan senyum balik sambil menyerahkan helm. Sekilas, terlihat raut penyesalan di wajahnya, mungkin karena seharusnya dia mengganti sapaan “mas” menjadi “pak”. Entah, aku hanya bisa menerka tanpa berani menanyakan lebih lanjut.
Kupakai helm tersebut dan perjalanan ke rumah siap ditunaikan.
Dinginnya angin malam mulai menusuk menembus jaket. Namun, itu tidak begitu kupedulikan karena terbayang esok hari aku bisa melihat hangatnya senyum dan keceriaan anak-anakku.
Tak terasa 30 menit durasi perjalanan dan aku sudah tiba di rumah.
“Walaikumsalam” Istriku menjawab salam dan membukakan pintu. Tak lupa beliau menyiapkan baju ganti dan segelas teh hangat. Setelah membersihkan diri, aku masuk ke kamar dan melihat kedua anakku tidur dengan damai. Kucium kening mereka dengan pelan karena aku tidak ingin membuat mereka terbangun saat ini.
“Ayaah, bangun…. Sudah pagi.” suara kecil terdengar lembut yang membangunkanku dari tidur.
Aku baru menyadari bahwa aku tertidur setelah sholat Shubuh. Hal ini terjadi karena rasa lelah dari perjalanan belum sepenuhnya pergi.
Tidak ada yang berbeda, rutinitas “momong bocah” harus kulakukan sedari pagi. Istriku, atau yang biasa anak-anakku panggil dengan sapaan Mama, tetap bekerja di hari Sabtu hingga selesai pukul dua belas siang. Perlu tenaga ekstra untuk menjaga dua anak sekaligus, Kirana si sulung berumur tujuh tahun dan Jennar adiknya yang terpaut empat tahun. Kadang-kadang akur, namun seringkali keributan kecil khas anak-anak tidak terhindarkan. Namanya juga bocah.
Menjelang siang, Kirana yang sudah bersekolah kelas 2 SD tiba-tiba menghampiriku sambil menyerahkan sebuah buku.
“Ayah, ini ada buku ramadhan dari sekolah. Buat puasa minggu depan.”
Kuterima buku itu dan kubuka lembar per lembar. Ingatanku kembali cukup jauh ke circa 1999 atau 2000.
Ya, aku mulai mengingat apa yang terjadi denganku saat masih kelas 2 SD. Aku juga pernah mendapatkan buku ramadhan sama seperti anakku. Beda sampul, namun isinya mirip.
Sebuah buku yang berisikan panduan bacaan niat dan doa berbuka puasa, kotak tabel berisi jadwal sholat, progres tadarus yang dilakukan, ringkasan kultum dari ustadz saat tarawih, hingga di halaman paling belakang yaitu kolom nilai dari guru agama.
Buku tersebut sebagai bukti aktivitas selama ramadhan dan menambah nilai mata pelajaran agama.
Aku mengingat dulu pernah mengisinya dengan tanda centang maupun setrip, berimbang. Termasuk memori saat berebut dengan teman-temanku untuk mendapatkan tanda tangan penceramah. Aku selalu meminta paraf bapakku sebagai bukti bahwa aku telah berkegiatan dengan baik. Kini, akulah yang akan berada di posisi sama seperti bapakku.
“Oh ya, buku ini nanti diisi ya. Sholatnya mulai lima waktu, ngajinya ditambah waktunya. Mumpung bulan puasa banyak berkah. Kirana, nanti puasanya bisa full seharian, nggak?” begitu pesan-pesanku sebagai sosok ayah yang jarang ada di rumah.
“Ya kayaknya sih, insya alloh.” jawabnya dengan pelan namun pasti.
Adegan berikutnya dia pun melengos untuk melanjutkan bermain dengan adiknya di teras di rumah. Pemandangan yang sungguh menyejukkan hati bagiku.
Meskipun ini ramadhan keduanya untuk berpuasa, jujur saja aku agak khawatir jika Kirana akan menjalankan puasa sehari full. Bagaimana tidak, badannya yang bisa dikatakan cukup kurus menjadikanku merasa iba apabila dia harus menahan haus dan lapar seharian.
Berdasarkan hasil searching di dunia maya, usia optimal anak untuk puasa sehari full adalah sekitar 12 tahun. Kirana sudah lebih cepat 5 tahun! Namun, Yangkungnya sudah memberikan wejangan kepadaku dan istriku.
“Mbok ora usah full poso disik, mesakke bocahe ndak awakke dadi tambah entek.”
Kurang lebih terjemahan dari wejangan tersebut yaitu menyarankan agar Kirana tidak perlu puasa full terlebih dulu karena nanti badannya bisa semakin kurus.
Aku serta istri mengiyakan dan kami sepakat akan memantau Kirana dalam berpuasa. Tidak memaksa, namun memberi dorongan dan semangat agar puasanya menjadi salah satu proses pembelajaran mengukur diri dan juga kejujuran.
“Nanti kalau puasanya tidak kuat, bilang ke Mama ya. Boleh puasa setengah hari atau makan pas sudah lapar banget. Yang penting Kirana ngomong, jujur ke Mama dan tidak ngumpet-ngumpet.” Begitu kira-kira inti dari ucapanku saat akan berangkat ke Jakarta di Minggu malam.
“Oke, Yah.” jawab Kirana disertai dengan anggukan kecil sebagai bukti penguat diri. Juga penguat bagiku dalam menjalani ramadhan yang ke sekian sebagai pekerja rantau.
Aku yakin meskipun tahun ini masih belum bisa mendampingi anakku berpuasa setiap harinya, dia tetap bisa tumbuh dengan nilai kejujuran diri.
Pukul sembilan malam. Waktu yang sebenarnya cukup larut untuk anak-anak tidur. Lambaian tangan anak-anakku di ambang pintu mengantar keberangkatanku ke stasiun. Namun, mereka berdua rela menahan kantuk hanya demi berpamitan dengan ayahnya.
Sambil menyiapkan buka puasa di kosan, aku menelepon keluargaku melalui video call. Dengan perbedaan waktu adzan sekitar 15 menit menjadikan keluargaku untuk dapat berbuka puasa terlebih dahulu dibandingkan denganku.
“Halo, kalian buka pakai apa? Gimana puasanya? Nanti malam sholat tarawih ya.” Pertanyaan-pertanyaan template yang wajib aku lontarkan saat percakapan dimulai.
Terlihat dari layar smartphone wajah-wajah bahagia yang dihadapkan dengan berbagai kudapan, termasuk Kirana yang notabene masih pilih-pilih dalam hal makanan. Melihat dia dan adiknya (meskipun tidak puasa) makan dengan lahap saja sudah membuat hati ini tenang.
“Ayah, hari ini aku puasanya bisa full. Temenku yang satu jemputan sama aku juga full, padahal dia masih kelas 1 lho. Tapi, Yah… hari ini aku kelupaan sholat Dhuhur, yang di buku sudah aku kasih “strip”. Semoga besok aku nggak lupa lagi. Habis sholat Maghrib aku mau ngaji sama Mama, terus ke masjid sama Mbahti.” begitu laporan anak sulungku yang runtut, padat, dan tidak bertele-tele.
Mendengar itu ada rasa bahagia di hati. Meskipun baru beberapa hari berpuasa. Anak seumuran tersebut sudah berani untuk berkomitmen, berusaha maksimal dan konsisten, serta berterus terang atas kelalaian yang diperbuat. Lalu, bagaimana dengan kita yang sudah ada di usia sekarang? Sudahkah kita melakukannya?
“Allahu Akbar…Allahu Akbar…”
Belum selesai aku memikirkan jawaban atas pertanyaan dalam diri tadi, suara kumandang adzan Maghrib dari toa masjid dekat kosan sudah terdengar. Segera ku ambil segelas air putih dan kurma sebagai kudapan untuk membatalkan puasa.
Masing-masing dari kita memiliki buku sendiri. Tidak hanya buku ramadhan, namun buku seumur hidup sebagai pertanggungjawaban kelak di hari akhir.
Buku yang memiliki sosok pencatat otomatis di sebelah kanan dan kiri kita. Kedua sosok yang tidak bisa dikelabui dan ditipu.
Kita sebagai orang dewasa mungkin bisa dengan mudah menahan lapar dan dahaga puasa. Namun, apakah godaan hanya itu saja? Silakan jawab sendiri. Godaan akan selalu ada untuk menodai catatan di buku. Tinggal bagaimana usaha kita agar pencatat di sebelah kanan itu menggoreskan catatan terbaiknya. Semoga ramadhan tahun ini menjadi berkah bagi kita semua.
*Teruntuk kedua anakku yang selalu menjadi sumber semangatku dalam bekerja. Semoga kalian selalu sehat dan berada dalam lindunganNya. Mungkin kita tidak setiap hari bertemu secara fisik, namun cintaku akan selalu membimbing kalian hingga bisa mandiri menghadapi ujian kehidupan.”
-Sinu, Ayahmu-