One-Circus-Man Show

“Kamu pernah nonton sirkus”
“Ya kalo di TV pernah, tapi kalo live belum pernah kayaknya, seingetku. Kenapa?”
“Enggak. Di sini lagi ada sirkus.”
Begitu sebuah percakapan kami di sebuah aplikasi chat, sebuah upaya untuk menghilangkan semua rindu. Diawali dari obrolan yang ringan hingga kadang membahas yang berat. Yang penting setidaknya komunikasi kami selalu terjaga dengan bak.
..................................................................................................................................................
Sementara itu nun jauh di sana, di belahan dunia yang lain. Si pemain sirkus sedang berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya. Tugasnya yaitu membujuk harimau yang beratnya ratusan kilo supaya mau melompat ke dalam lingkaran semacam cincin berdiameter besar. Bukan sembarang lingkaran, lingkaran itu udah dipenuhi dengan api.
Perhatiannya terpusat penuh pada tongkat yang dia gunakan sebagai komando harimau tersebut. Meskipun sudah jinak, dia tidak mau berspekulasi andai harimau itu ngambek dan tiba-tiba menerkamnya. Sesaat kemudian dia menyentakkan tongkatnya ke bawah dan... harimau itu berhasil melewati lingkaran api. Tepuk tangan penonton pun bergemuruh di dalam kubah sirkus tersebut.
Sang pemain sirkus lega dan puas atas aksinya tersebut. Dia memberikan salam kepada penonton kemudian hilang bersama ditutupnya tirai panggung tersebut.

..................................................................................................................................................
“Ramai juga yang datang hari ini. Hasil yang kita dapat bisa sebanyak ini. Hehehe” begitu kekehan seorang tua sambil menepuk-nepuk segepok uang yang ada di tangannya. Kemudian, dia pun membagi 2 uang tersebut kepada pemain sirkus harimau tadi. Tumpukan yag dierikan kepadanya tidak ada setengah. Paling-paling cuma 1/3 dari uang tersebut. Pemain sirkus itu menerimanya dengan senyum simpul.
“Besok kita harus menyiapkan show yang lain. Bagus sekali nak kerjamu hari ini.”
..................................................................................................................................................
Keesokan harinya, pemandangan pun berbeda. Pemain sirkus yang sebelumnya beraksi dengan harimau sekarang sudah bersama dengan anjing laut. Kali ini pekerjaannya cukup mudah, yaitu memberi aba-aba kepada anjing laut supaya beratraksi menjaga keseimbangn sebuah bola di atas mulutnya. Aksi itu diselingi dengan gestur yang kocak. Penonton yang hadir pun tertawa dan bergembira melihat aksi keduanya.



..................................................................................................................................................
“Apalagi ya yang mau aku tampilkan besok? Wah.. susah juga, semua aksi yang aku bisa sudah aku tunjukkan. Apa perlu aku ikut rombongan sirkus yang lain ya...biar penonton di sini juga tidak jenuh. Lagipula, pak tua itu yang selalu dapat lebih. Padahal dia cuma duduk dan tugasnya hanya menukar uang dengan tiket. Enak ya hidupnya.
Ahh.. kemarin waktu show  harimau, tanganku hampir dicakarnya. Belum lagi dengan anjing laut, badanku dibuatnya amis seharian. Hahaha. Ya nggak apa-apa. Daripada aku nggak bisa makan. Cuma itu keahlian yang aku punya. Masih untung ada yang mau menampungku.
Tetapi, rasanya itu semua hilang dengan canda tawa, sorak sorai, dan tepuk tangan dari para penonton. Senang rasanya bisa menghibur mereka. Mengganti uang mereka dengan kepuasan. Pokoknya aku harus bisa lebih baik lagi.”
..................................................................................................................................................
“Oh mau ngajakin nonton sirkus?”
“Ya kalau masih ada. Haha.”

Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan pemain sirkus yang jauh di sana. Sedang ada pertunjukan apa ya hari ini? Apa jangan-jangan dia sudah.... ah sudahlah... dia pasti baik-baik saja.

Carut Marut VR46 vs MM93 (dan JL99)

Oke, sekali-kali nulis yang up to date. Lagi pada rame ngomongin MotoGP 2015 yang tahun ini tentunya banyak intrik dan drama. Pada klimaksnya, tahun ini dimenangkan oleh Jorge Lorenzo. Gelar juaranya yang ke-3 di kelas MotoGP (sebelumnya pada tahun 2010 dan 2012), setelah memenangi race terakhir di sirkuit Ricardo Tormo, Valencia. Kemenangan di race tersebut membuatnya mengangkangi Valentino Rossi dari posisi puncak. Tepat di race terakhir. Ya, Rossi hanya bisa finish di posisi 4. Di belakang 3 rider tuan rumah. Itu pun setelah dia harus start dari posisi paling belakang. Yah, apapun itu... selamat kepada JL99 yang telah berhasil memenangi tahun ini.

Yang menjadi perdebatan adalah munculnya beragam pendapat dari para netizen. Ada yang bilang harusnya Rossi yang juara dan ada yang bilang Lorenzo juga pantas jadi juara. Jadi? Siapa yang pantas dong? Berikut ini adalah statistik head to head antara kedua kandidat tersebut (kalo nggak salah hitung):

Rossi : 18 race à 15x podium, 4x juara
Jorge : 18 race à 12x podium, 7x juara, 1x tidak finish

Terserah.. menurut Anda siapa yang paling pantas juara? Semua memiliki sudut pandang dan pendapat masing-masing. Nggak bakal selesai kalo eyel-eyelan.
Yang jadi sorotan adalah, mengapa Marc Marquez juga turut disebut? Dia-nya saja sudah tidak ada peluang di musim ini. Banyaknya crash dan ketidakberuntungan membuatnya harus menjadi pelengkap di antara kedua pembalap tersebut. Tetapi, bukan sekedar pelengkap.. Marquez mungkin menjadi aktor utama di antara keduanya, terutama “dendam” kepada The Doctor.

Bermula dari insiden di seri ke 3 di Argentina. Duel sengit antara Rossi vs Marquez, dan pada suatu manuver dari The Doctor “menyebabkan” The Baby Alien harus out of race.

Insiden berlanjut pada seri Assen, Belanda. Lagi-lagi keduanya terlibat duel sengit hingga last lap. Pada sebuah tikungan ganda, motor mereka bersenggolan sehingga Rossi melintas kencang melewati Gravel, dan ajaibnya dia malah menjadi juara 1.

Mungkin akibat kedua insiden ini, Marquez menjadi dongkol. Alih-alih ikut persaingan Rossi vs Loenzo, Marquez malah sering jatuh dan cedera. Dan setelah kepastian dia tidak bisa meraih gelar juara, dia mulai mendukung kompatriot se-negaranya. Lorenzo.

Tibalah pada race ke-15, seri Phillip Island, Australia. Race yang (katanya) terbaik di musim ini, mempertontonkan aksi ciamik untuk merebut juara 1. Ya, 4 rider sekaligus yang berpeluang memenangi race ini. Marquez, Lorenzo, Iannone, dan Valentino. Terlihat sangat jelas bahwa ketika Rossi berhasil menyodok untuk mendekati Lorenzo, Marquez sengaja melakukan cara balap yang aneh (entah melambat atau ada gangguan pada motornya). Hingga Rossi tampak kesulitan pada beberapa manuvernya. Hingga akhirnya Rossi hanya bertarung dengan Iannone. Marquez hanya membayangi Lorenzo. Dan pada beberapa tikungan terakhir, tiba-tiba Baby Alien “mengeksekusi” Lorenzo untuk mengambil podium pertama. Misi sukses. Marquez juara 1 dan Lorenzo finish di depan Rossi yang hanya finish di urutan 4.

Belum selesai di situ, race di Sepang, Malaysia sepekan sesudahnya menjadi saksi bagaimana duel sengit hingga berujung konflik. Rossi terlihat sibuk dengan Marquez di setiap tikungannya. Sementara itu Lorenzo melesat jauh meninggalkan mereka berdua. Perebutan tempat ketiga berlangsung sangat sengit, sampai pada suatu kesempatan Rossi berhasil menyalip Marquez dan memberikan lambaian. Entah apa maknanya. Apakah itu peringatan atau itu sebuah ejekan provokasi. Dan sampailah pada sebuah tikungan di mana, Rossi menoleh seolah-olah menunggu Marquez. Sedikit melebar dari jalurnya dan Marquez memaksa masuk. Dan. Boom.. Marquez terjatuh setelah menyundul/ditendang Rossi (monggo yang punya analisis). Dan seakan sudah pasrah, Marquez kembali ke paddock. Puncaknya

Beberapa tayangan ulang menampakkan bahwa kaki kiri Vale bergerak menendang Marquez, ada juga yang menampakkan Marquez lah yang menyundul Rossi. Rossi mengaku kakinya selip di footstep motornya, Marquez merasa Rossi sengaja menendangnya. Entah. Hanya Rossi dan Marquez yang tahu. Pada akhirnya Jorge tetap melaju mulus hingga finish dan semakin memperkecil jarak.

Drama berlanjut di podium, saat Rossi menerima trophy. Terlihat Jorge mengeluarkan gestur yang “luar biasa”. Saat seremoni sampanye pun Jorge langsung ngacir pergi. Entah karena mungkin di Sepang banyak fans The Doctor, dan dia mendapat hujatan atas aksinya tersebut. Buntut dari jatuhnya Marquez adalah diberikannya poin pinalty bagi Rossi sebanyak 3 poin dan genaplah sudah pinalti Rossi menjadi 4 setelah sebelumnya mendapat 1 poin saat di Misano. Itu artinya apapun hasil kualifikasi Rossi, dia harus start dari posisi paling buncit.

Dua pekan kemudian. Semua mata menuju ke Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol. Lorenzo yang di kualifikasi tampil luar biasa menghasilkan pole position saat start. Dan Rossi harus berada di baris paling belakang. Start dimulai dan...

Tiba-tiba Rossi masuk melesat ke dalam, mengiris beberapa rider. Seolah seperti membuka jalan, rider-rider lain dilibas satu demi satu. Hanya Espargaro bersaudara yang terlihat ngotot membalap dengan normal. Tiba di pertengahan race, Rossi sudah berada di posisi 4 tetapi rombongan 3 besar sudah sangat jauh.

Di depan terlihat sangat monoton. Lorenzo yang tampil brilian seperti mendapat kawalan dari Marquez yang hanya menguntitnya lap demi lap. Mungkin, dia ingin memakai strateginya terdahulu, mengeksekusi Jorge di lap-lap terakhir. Luar biasanya, Pedrosa yang seperti menemukan ritme berhasil mendekati Marquez. Marquez yang sepanjang lap terlihat kalem, tiba-tiba menjadi beringas. Seolah seperti penjaga ada pengganggu yang mendekati tuannya. Jorge semakin jauh, dan duel terjadi sesama duo Honda. Dan tibalah Jorge pada garis finish untuk mengunci gelar juara dengan keunggulan 5 poin dari seniornya.

Hikmah yang dapat diambil dari musim ini adalah:
1.       Seharusnya Jorge Lorenzo lebih fokus kepada balapannya. Terlihat di beberapa kesempatan Lorenzo mengintimidasi pada persidangan Rossi di CAS. Dan terlalu banyak berkomentar soal perseteruan Rossi vs Marquez, seperti seorang kakak membela adiknya. Gestur terakhir pada podium Sepang juga menunjukkan betapa tidak ada respect dia kepada rekan setim.
2.       Valentino Rossi, sebagai pembalap senior yang sudah banyak pengalaman seharusnya tidak terpancing provokasi dari pembalap muda. Yah namanya emosi,. Semua sudah terlanjur, perjuangannya memuncaki klasemen pembalap di 17 race harus musnah karena sebuah kesalahan. Pupus sudah gelar ke-10.
3.       Marc Marquez, masa depannya masih panjang. Gelar demi gelar bisa diraih. Namun, di tahun ini sepertinya dia menjadi tokoh antagonis. Setelah perseteruannya dengan The Doctor. Mesti harus menjaga fokus dan sportivitas.
4.       Daniel Pedrosa, pembalap yang dari dulu selalu diunggulkan di awal musim tetapi selalu gagal menjawab ekspektasinya itu. Komentarnya di Sepang merupakan komen yang netral dimana saat itu dia mengeluarkan pernyataan “membalaplah untuk dirimu sendiri”. Tidak membela Vale dan tidak menyudutkan Marc. Satu-satunya pembalap yang tulus membalap.

Dan saya pribadi membayangkan apabila Casey Stoner masih membalap. Pembalap favorit saya yang tidak kalah garangnya ini mungkin juga akan menyikat Marc yang ibaratnya masih ingusan. Stoner tidak segan-segan “menegur” pembalap lain dengan blak-blakan.

Satu lagi, andai mendiang Marco Simoncelli juga masih hidup. Mungkin di seri terakhir, dia tidak segan-segan menabrak Marc demi membuka peluang buat Rossi. Nekad ketemu nekad.
Inilah hasilnya, apapun itu... terima kasih MotoGP 2015 sudah menyajikan aliran adrenalin yang tidak henti, dari awal hingga akhir.


pernyataan Vale pada situs resmi MotoGP

Kesempatan Kedua dalam Seharian Ini (yang sangat sepi)

Pusing kembali
Sebelumnya... Nggak pernah ngerasa se-sepi dan se-bosen ini. Gejalanya udah ada sejak beberapa bulan lalu sih. Ketika, makin kes ini semuanya seperti berpencar. Nggak ada satu visi, satu misi, satu tujuan. Semuanya ingin selamat sendiri-sendiri. Menurut mu/kalian, Saya nggak mau selamat? Bukan gitu caranya... Setelah apa yang kita lalui bersama sejauh ini dan yang sudah saya usahakan (?) tentunya kita semua ingin itu semua lancar tanpa masalah di kemudian hari.

Mungkin enak bagi kalian yang dapat pekerjaan dekat dengan keluarga. Bisa pulang lihat kondisi rumah dan keluarga. Tapi itu nggak bisa dijadikan alasan buat kerja malas-malasan. Kali ini sudah kelewatan. Saya memang bodoh dan gampang ditipu, tetapi dengan pemikiran yang nggak maju seperti ini semoga saja dibukakan pintu hati untuk kembal ke jalan yang benar. Atau mungkin sepeninggal saya nanti, akan ada yang lebih enak mengarahkan daripada saya yang hanya sekedar marah-marah dan minta ini itu. Perlu untuk jadi, saya seperti itu karena nggak mau ada yang disalahkan. Oke kalo yang disalahkan saya, beres. Coba kalo bukan saya. Cuma omongan di belakang yang nantinya memperburuk keadaan.

Pernah nggak mikir kerjaan sampai yang udah parah gitu? Tiap sejam kebangun, merem lagi, kebangun lagi. Rasanya, sampe detik ini cuma saya (yang kadang) lebih mikir tempat kerja ini. Entah yang lain mungkin juga ada yang lebih dari saya, atau bahkan ada yang nggak sama sekali? Mungkin kalau saya di posisi seperti itu (kerja dekat keluarga), saya juga bakal jadi malas kerja. Semoga enggak!

Bukan membanggakan diri ketika pimpinan di sini pernah memuji saya “Contoh tuh si Wisnu, ada surat masuk, dibaca, langsung dikerjakan, nggak usah nunggu saya disposisi ke dia”Ya iyalah... waktu itu saya di sini sendiri. Pikiran saya adalah saya nggak mau repot di kemudian hari sehingga pokoknya semua harus selesai sesegera mungkin. Kerjaan di sini seringnya tidak terduga. Ketika jam 3 sore kita udah bikin “to do list” buat keesokan harinya, eh mesin fax berbunyi dan isinya mengharuskan untuk melakukan safari jam 4 pagi. Maka dari itu, semua pekerjaan yang berpotensi “merepotkan” harus segera dihabisi. bahkan saat Weekend, kalau nggak pulang ke ibukota, saya lebih banyak duduk di meja kerja, ngecek apa yang belum beres, belum rapi. Satpam saya bahkan sampai geleng-geleng dan menegur "Makan tuh kerjaan, jangan sampai mati karena kerja Mas" haha.. asem.

Dan ketika semua kebosanan dan kesepian jadi satu di kepala, jadi makin kangen sama yang jauh di sana. Terutama sama Bapak, Ibu, dan Dik Pacar. Namun, rasanya di sini udah kebiasa sepi. Ditelpon Bapak sama Ibu cuma bisa denger pesen-pesen mereka kasih semangat, sama nanyain kapan pulang, dan tentunya cerita bahagia di rumah (semoga mereka semua sehat di sana). Alhamdulillah masih ada kakak di rumah yang nemenin di rumah dan si keponakan susah buat ngomong ditelpon. Sekalinya mau ngomong yang ditanyain adalah: kapan pulang, beliin mainan. Hahaha. Bikin kangen semuanya.

Masih ada satu lagi, rindu yang tidak kalah spesial buat Dik Pacar. Beliaunya lagi nggak bisa lama-lama diganggu. Hari pertempuran sudah dekat. Harus bisa sabar buat jaga fokus dia. Aku sendiri yang bilang gakpapa kalo agak dikurangi dan kali ini aku yang ngerasa lebih sepi aja. But, it doesn’t matter. Demi cita-cita kita semua, Bismillah bisa sabar. Semoga belajarmu membawa hasil yaa... aku disini selalu nungguin kamu, nggak ada di pikiran aku buat nyuekin atau bahkan kemana-mana. Kalo kadang aku ngerasa sepi itu karena salahku aja yang kurang kegiatan. Haha.

Intinya...
Semua harus dijalani dengan ikhlas, tanpa keluhan, dan berikan yang terbaik. (Lagi-lagi) seperti sesuatu yang ideal dan gampang. Manusia... melesetnya, bolehlah sedikit nggak ikhlas, sedikit mengeluh, sedikit malas. Tapi ingat, hanya sedikit. Setelah udah dapet yang sedikit itu tetep harus kembali ke jalan yang benar dan berdoa supaya bisa pulang lagi ke sana. Berkumpul dengan semuanya.

*sampai saat ini, belum menemukan lagi alasan untuk keberadaan saya di sini lebih lama lagi.
Yang mulai bingung,.. maaf kalau menye-menye.. lagi sentisip -F W W-


tidak
nyaman
lagi
tapi
nggak
boleh
mengeluh
kudu
tetep
kuat
dan
sehat
jangan
sakit
ini
apa
sih
ya
ruwet