Pagi ini mendung menggelayuti mentari. Kita
lewati bersama jalan itu. Jalan yang tiap pagi selalu dipenuhi kendaraan dan
asap. Selalu seperti itu tiap pagi. Bersama para pencari isi perut, penjemput
rezeki. Aku dan kamu selalu bersama menghadapi itu semua. Beruntung aku
memilikimu di sini. Seperti itulah jodoh, kamu yang nggak pernah aku duga
sebelumnya bisa muncul dan selalu menemani penatnya hari-hariku.
***
![]() |
more sad |
Kali ini saya
akan nglantur dikit soal jodoh. Jujur saja, minggu ini saya jadi korban FTV.
Hahaha. Bahkan gara-gara FTV, saya hampir terlambat untuk mendatangi acara
futsal sama teman-teman. Hmmmm... Jadi, apa sebenarnya jodoh itu? Menurut KBBI
(Kamus Besar Bahasa Indonesia) jodoh adalah:
1. Orang yang cocok menjadi suami atau istri;
pasangan hidup; imbangan
2. Sesuatu yang cocok, sehingga menjadi sepasang;
pasangan
3. Cocok; tepat
Dalam arti yang nomor 1, terlalu berat buat saya untuk
membahasnya. Harus punya ilmu kanuragan yang tinggi. Mungkin bisa kalo
dikit-dikit yang nomor 2 dan 3. Jodoh adalah sesuatu yang cocok.
Manusia boleh berusaha, mencari, mengharap, menemukan, menentukan
bahwa “sesuatu” itu adalah jodohnya. Dan manusia pun boleh bahagia akan keyakinannya
itu. Namun, ketika Tuhan berkehendak lain bagaimana komentar selanjutnya.
“Oh ternyata
bukan jodohku”
“Ah belum jodoh
deh”
“Ya mau gimana
lagi, bukan jodohnya”
Menurut pendapat hemat saya “kehendak lain” Tuhan itu
juga merupakan jodoh. Tidak ada yang bukan merupakan jodoh. Saya ambil sebuah cerita yang sedikit banyak
bersinggungan dengan jodoh.
Waktu duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Waktu itu Bapak
membelikan sebuah sepeda motor untuk saya, sepeda motor keluaran terbaru. Motor
bebek dengan kekuatan 100cc. Mungkin karena saya sudah besar jadi harus
berangkat sekolah sendiri. Perlu diketahui waktu kelas 1 SMA saya selalu nebeng teman saya untuk berangkat
sekolah. Dengan adanya kendaraan baru itu membuat mobilitas saya menjadi lebih
fleksibel. Kemana-mana bisa sendiri.
Sungguh sangat senang rasanya. Punya motor baru dan
kegantengan saya meningkat 5%. Seenggaknya (kalo punya) pacar jadi nggak
kerepotan. Ya tapi itu cuma khayalan yaah. Faktanya, saya SMA bahkan nggak
punya pacar. Haha. Euforia motor baru berlanjut dengan me-makeup motor supaya terlihat lebih garang. Tabungan dibongkar untuk
membiayai keperluan motor. Boros memang.
Akhirnya, semua tidak berakhir dengan indah beberapa
bulan kemudian. Di suatu sore, bapak bercerita kalau temannya baru saja
membelikan anaknya sepeda motor dan si anak ternyata nggak mau. Si anak itu
nggak mau karena katanya barang bekas dan nggak sesuai dengan yang diharapkan. Bapak
menawari saya, “mau nggak ganti motor”.
Motor yang ditawarkan itu adalah motor sport,
macho, dan berkekuatan 160cc tetapi
merupakan barang kedua. Dilema memang. Dan ternyata saya memilih melepas motor
baru demi mendapat motor yang pada akhirnya hingga sampai saat ini menjadi
teman perjalanan saya ke kantor seperti prolog di awal postingan ini. Motor
yang membawa jutaan cerita dan kisah melebihi perjodohan dengan motor sebelumnya.
Hikmah yang bisa dipetik dari ilustrasi itu adalah jodoh tidak ada yang bisa menebak, semuanya
merupakan rahasia Tuhan yang harus dijalani dengan ikhlas. Perjuangkan sesuatu
yang kamu yakini dengan maksimal dan serahkan hasilnya pada Tuhan meskipun pada
akhirnya tidak sesuai harapan. Percayalah, tidak ada yang salah dengan rencana
Tuhan.
***
Dua kali sudah aku mencoba dan dua kali pula aku
gagal. Aku dulu sempat berpikir bahwa dari dulu memang kita belum berjodoh.
Belum berjodoh dalam arti akan ada suatu masa dimana Tuhan menjodohkan
kita. Ketika kamu dengan yang lain, aku
pun juga dengan yang lain. Sama-sma memperjuangkan jodoh dan ternyata memang jodohnya di tempat lain. Aku selalu yakin ketika kamu dengan yang lain itu
merupakan jodohmu, dan ketika aku dengan yang lain itu juga merupakan jodohku.
Bahkan keyakinanku bisa dimentahkan Tuhan dengan rencananya yang indah.
Mungkin aku harus menyerah untuk memikirkan
“perjodohan” kita ini. Atau mungkin kita berjodoh dalam hal lain. Semua masih
misteri. Hidupku bukan cuma kamu, kamu belum menjadi seseorang yang berperan
dalam hidup aku. Meskipun aku selalu berpikir, kamu itu penting. Selalu saja
penyangkalan itu muncul. Kamu mungkin
hanya semacam candu yang sering melintas di benakku. Dan pada intinya ketika
kamu mendapatkan kebahagiaan dengan yang lain aku pun turut berbahagia untuk
kebahagiaanmu.
Ketahuilah, hingga detik ini, aku selalu
mengharapkanmu. Namun, apa usahaku? nol besar. Dan dari sinilah bahkan untuk
memimpikan dan mengharapkanmu, aku tidak berhak. Masih ada yang lain di luar
sana yang lebih, lebih, dan lebih bisa membahagiakanmu daripada cuma aku yang
hanya bisa membisu di depan netbook. Aku dengan 'keseriusan' semu, hanya bisa mengagumimu dari tempatku bersembunyi.
Tidak ada yang
perlu diakhiri, bahkan dimulai saja belum...
Teruntukmu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar