Lagi Males

yang dulu cuma bisa dilihat di TV, sekarang bisa dilihat dengan mata sendiri

benawang, sebuah jalur pemandangan buat snorkel amatir xp. Pas lagi surut

kumpulan ikan sedang berlindung di sekitar "bulu" 

mumpung belum kabur, masih bisa dijepret tanpa zoom. hehe

nggak sengaja ketemu ini, tapi karena ombak besar "sayap"nya jadi malu keluar

foto tanpa zoom, berlindung di balik karang dari kencangnya arus

nggak boleh sembarangan menginjak makhluk hidup ini

harus jeli saat berpindah spot, jangan sampai terinjak

coba tebak ikannya di mana? 

menyala dibalik birunya air dan karang. hehe

mau crabby patty?? sebentar yaa...



semoga masih bisa diberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran sehingga pas bosan nulis bisa
share underwater's life in picture.

Serpihan Awal Bulan

“Badai pasti berlalu...Badai pasti berlalu...”

Mobil kami bergejolak hebat melewati jalan yang berlubang. Dari radio terdengar suara Ari Lasso yang mengalun lembut menyanyikan lagu legendaris tersebut. Jarang dengerin sih, sekalinya denger kok ya pas sama suasana beberapa hari ini yang sangat “wah”. Ibarat naik perahu bebek-bebekan terus disuruh menyeberang Samudra Hindia mencari pesawat yang hilang. Kebayang nggak sih. Kudu naikin jangkar, kibarkan layar, dan putar haluan ketemu ombak yang tingginya bisa sampe 3 meter. Fix, yang ini lebay woooy. Mana ada perahu bebek punya layar sama haluan. Lah.

Dimulai dari keluhan pelanggan (sebut saja itu) yang bikin kuping saya hampir nggak tahan dengernya. Dilanjut dengan keluhan bos profesional (sebut saja itu) yang sempet bikin saya berkecil hati. Masih dilanjutkan dengan kacau balaunya masalah-masalah kecil di kantor. Ibarat semut, kecil sih tapi kalo dateng sebatalyon pas di muka, terus pada gigit gitu kan rasanya sakit juga lama-lama.

Pernah nggak sih, kita disodorin handphone disuruh ngomong eh dari seberang belum-belum udah diteriakin. Wooy, sinyalnya nggak putus-putus jadi nggak perlu teriak-teriak. Emak-emak pula. Dan saya baru sadar, kemungkinan emak-emak tersebut adalah wakil bupati, pliss semoga yang ini salah. Kita nggak tahu maksud ibu itu apa, eh si ibu udah bla bla bla.

Maaf bu, jadi saya ini masih belum nangkap maksudnya ibu itu gimana, saya nggak tahu karena barusan disodorin telepon”

“Aduh mas, kan sudah saya jelasin daritadi.. bla bla bla..”

Dan saya cuma bisa ah oh ah oh aja sambil bengong.
Itu satu.

Berikutnya, pernah nggak gara-gara salah dan kurang teliti terus kita kena omel ibarat kesalahan kita macem ngebakar kantor. Ya kecil sih salah saya itu, menurut saya. Tapi, bos yang jauh di seberang sana sampai telepon dan bikin hati saya teriris. Ahh, mungkin itu saya baru sendu-sendunya. Mungkin beliau bilang kalimat “Kalian kalo kerja profesional dikit bisa?” pas lagi santai sambil nyeruput es degan di pinggir pantai, pake kolor pulak. Tetap saja buat saya itu kurang santai, Bos. Dan mungkin sebenarnya Bos Profesional ini kurang berhak “menasehati” saya, okelah kalo itu bos saya langsung. Saya terima-terima aja kalo sampai dimaki-maki, habis itu nyari yang bisa dicurhatin juga sih. Ujung-ujungnya ya nulis.

Itu yang kedua.
Berikutnya lagi, ketika semua masalah-masalah kecil di kantor yang terakmulasi. Dimulai dari komputer yang udah minta pensiun, jaringan yang nggak stabil, printer yang ngadat. Dan, semuanya datang disaat saya lagi ribet sama urusan-urusan non teknis. Berasa, saya ini kepala kantor yang kudu mikir semua. Okelah kalau saya kepala kantor, gajinya gede nggak kayak kroco ini. tapi dengan gaji yang ada ini juga saya udah bersyukur alhamdulillah.

Sebenarnya, ini lagi sendu aja. Dan nggak ada cerita kayak di atas itu kalo saya:
  • Nggak buat kesalahan, minimal saya bisa lebih cermat saat kerja. Sehingga mampu berpikir lebih jernih untuk menemukan solusi yang pas.
  • Lebih sadar diri aja, saya ini pelayan ya wajar kalau dimaki-maki, dicerca. Coba kalau saya raja, pasti udah dipuja-puja, dielu-elukan, dilayani.
  • Kalau kerja harus profesional, kalau bisa jangan bawa perasaan. Lempeng aja gitu kayak robot.

Dan tentunya masih banyak hal lagi yang harus diperbaiki.
Tapi... itulah manusia... selalu punya kekurangan, punya mimpi, dan punya perasaan. Kalau saya robot ya mungkin bisa kerja sempurna. Salah ya tinggal nyalahin progammernya, nggak bakalan robot disalahin. Dimaki juga paling capek sendiri yang maki, iye robot. Digimanain kalo udah off ya nggak bakal ngerespons. Saya (masih) manusia dan saya bukan robot, tetapi saya harus belajar untuk menekan itu semua.

Dan terakhir, yang kamu katakan memang ada benarnya.
“Mungkin kamu dulu ada salah, jadi ini teguran dari Alloh buat kamu. Siapa tahu sholatmu nggak di awal waktu, ngajimu kurang.” begitu bisikan yang dikeluarkannya di telingaku.. lewat handphone.

Saya akui memang untuk hal tersebut saya masih kurang. Masih perlu banyak belajar lagi membagi waktu dan membuat prioritas. Kadang habis maghrib saya masih berkutat dengan GPP dan aplikasi yang macem-macemlah.

Mungkin berikutnya agak nggak nyambung sama yang di atas ya. Jadi inget sama yang diomongin JB alias Johny Blaze. “This is the sign” dialog ini muncul saat dia bertemu Roxanne, kekasihnya yang dulu. Pointnya, bukan kekasih. He talks about second chance.
Setiap orang punya kesempatan kedua. Termasuk saya. Ya meskipun saya tidak bisa berubah jadi sesosok berkepala tengkorak berapi gitu. Sumpah, jika ada kesempatan kedua bagi saya untuk jadi orang baik saya juga mau bilang ‘ini tandanya’. Hidup saya di masa lampau kadang saya sendiri merasa jijik dan hina. Sedih dan malu untuk diingat. Roda pun terus berputar ke depan, bismillah... Semoga Alloh SWT melindungi saya.
Ketika aku ketemu kamu, hati kecilku tanpa sadar berkata “this is the sign”

Terima kasih atas segala kesediaan waktumu untuk berbagi semuanya. Terima kasih atas pengalamanmu berbagi solusi. Kata-katamu sungguh terasa nyata daripada sekedar retorika. Dan ke depan bakal banyak yang bisa kita bagi, semuanya. Canda, tawa, juga sedih, sebel. Cuma kamu dan aku. Meskipun aku di sini dan kamu di sana, Insya Alloh kita tetap bersama. Bersama dalam mimpi dan angan. Semoga mimpi itu bisa terjaga hingga dapat restu dari Alloh SWT. Aamiin.
I.L.U My A.K.A

Satu Dekade Kebersamaan


Entah sudah berapa kali saya bahas tentang sepak bola. Sudah jadi kegemaran tersendiri sejak tahun 2000an. Biarpun gagal jadi pesepakbola profesional, setidaknya ada sedikit semangat yang bisa membuat keringat mengucur dari badan.

Kali ini, akan saya singgung sedikit mengenai pemilihan nomor 85. Mungkin di beberapa kesempatan saya pernah membahas mengapa saya (hampir) selalu memakai nomor ini. Yang pertama dan utama, karena nomor ini mirip dengan inisial nama Bapak. B Sumantri. Bapak ini sosok yang sabar dulu menunggu saya latihan, habis dari pulang kantor langsung ke rumah terus mengajak ke lapangan.
Beliau dengan sabar menunggu hingga selesai latihan. Meskipun pada akhirnya saya hanya betah 3 bulan berlatih. Setidaknya saya jadi sedikit mengerti pola-pola latihan yang benar. Hehe.

Alasan yang kedua, karena nomor 85 ini dipakai oleh pemain favorit saya di Lazio. Di tahun 2005, dia adalah pemain muda terbaik seri B sebelum diboyong ke Lazio. Pemain itu bernama Valon Behrami. Dengan rambut pirang dan skillnya, pemuda berkebangsaan Swiss ini memberi tenaga di lini tengah Lazio. Meskipun saat itu (hingga kini) prestasi tim Biru Langit seperti yoyo yang naik turun di tiap musimnya, saya begitu cinta pada klub ini. tidak banyak yang suka pada tim ecek-ecek. Entah, yang terekam di kepala saya waktu itu adalah sebuah tim dengan warna jersey yang damai dan permainan yang bagus.

Saya baru menyadari di ujung karir nomor 85 ternyata ada inisial lagi yang bisa dicocokkan. Inisial nama papi mami saya ternyata juga bisa. Hahaha. Mami S Aisiyah.

Selalu ada semangat tersendiri memilih dengan hati. Mungkin itu yang dirasakan Gabriel “Batigol” Batistuta. Legenda klub sebelah. Saat dia ditransfer ke klub sebelah, dia ingin memakai nomor 9. Berhubung nomor 9 sudah dipakai Vincenzo Montella, akhirnya dia memakai jersey nomor 18, yang apabila dijumlahkan menjadi 9.

Jadi, lengkap sudah sejak tahun 2005, awal saya memiliki sebuah jersey hingga terakhir di tahun 2015 ini, saya setia dengan nomor tersebut. Dan kini saatnya saya menggantung jersey tersebut beserta kenangan-kenangannya....

Tahun 2005 akhir, Namanya masih alay khas tahun segituan. Nggak dapet juara di tahun itu, tetapi beberapa tahun kemudian bisa angkat piala pake jersey ini.


 Langsung skip ke tahun 2010, sempat memakai nomer 90. Akhirnya kembali lagi ke cinta lama. Sama, nggak dapet gelar di tahun itu, tetapi setahun kemudian angkat piala doong, bikin gol pulak.


Akhirnya langsung ke tahun 2015. Dipertemukan dengan kawan-kawan baru di kelas L. 3x main cuma dapet peringkat 4. Dapat bye di fase awal. Match 1 menghasilkan gol tunggal kemenangan. Match 2 kalah di semifinal. Match 3 kalah di perebutan tempat ketiga.


 Bahkan saya sempat hijrah ke Barcelona :p. Sayangnya, saya tidak sempat dimainkan oleh Barcelona. Gagal deh satu tim dengan La Pulga. Hahaha







Kisah Si Bocah, Induk Ayam dan Telurnya

Bocah itu berlarian riang kesana kemari. Bocah yang baru saja bisa berjalan dengan dua kakinya sendiri. Meskipun dia terjatuh pada beberapa usahanya, dia tetap bangkit lagi untuk berlari kesana kemari. Dia berdiri, kemudian menepuk kedua lutut dan telapak tangannya yang terkena debu. Begitulah tingkah laku Si Bocah.

Umurnya mungkin sekitar 2,5 tahun atau mungkin malah lebih. Umur di mana seorang bocah ingin mengetahui segalanya. Beberapa barang bahkan hampir masuk ke mulutnya andai ibunya tidak (dengan lembut) mencegahnya. Perlu tenaga yang ekstra untuk mengawasi bocah ini. Dasar bocah....

Suatu ketika Si Bocah ini berlarian menuju ke halaman belakang. Ibunya tanpa lelah mengikuti bocah itu dengan peluh yang terus mengalir. Namun, dia begitu senang melihat anaknya sangat aktif. Si Bocah berlari kesana kemari dan pandangannya terhenti pada sebuah benda. Benda itu berbentuk kotak besar dan terbuat dari susunan potongan bambu yang diikat dengan kawat. Ukurannya cukup lebar dan sangat tinggi, bahkan melebihi tinggi Si Bocah. Ada pintu kecil di sudutnya dan terlihat ada bola lampu dengan nyala agak redup di dalam. Ya, ternyata yang dilihat Si Bocah tersebut adalah kandang ayam. Tanpa ragu Si Bocah berjalan pelan mendekatinya.

Dari sela-sela dinding bambu kandang itu dia melihat ke dalam. Si Bocah melihat seekor ayam sedang “duduk” terdiam tanpa gerak. Dia melihat dengan penuh tanda tanya, keheranan. Melihat Si Bocah itu, Sang Ibu membuka kandang itu dan dengan kelembutannya yang khas dia berkata

“Itu namanya ayam, Le... dia sedang angkrem, menjaga telurnya biar nanti keluar anak ayam.”

“Ayam? Telur? Apalagi itu” gumam Si Bocah.

Kemudian Sang Ibu mengambil sesendok nasi dan meletakkannya di dalam kandang. Ayam itu pun bangkit dari “duduk”nya dan berjalan mendatangi makanan tersebut. Si Bocah semakin heran ketika ayam tersebut bergeser tempat, tampak ada sesuatu yang berbentuk bulat di tempat ayam itu berdiri.

“Ohh...Mungkin itu yang dinamakan telur.” pikir Si Bocah dengan sebatas pengetahuan yang ia miliki

Beberapa hari kemudian....
Si Bocah kembali berlarian di sekitar kandang ayam. Kali ini ibunya hanya melihat dari jauh tetapi masih sambil mengawasi. Pintu kandang ayam itu terbuka, sehingga Si Bocah bisa leluasa melihat ke dalam kandang. Dia pun lagi-lagi melihat ke telur ayam tadi. Dia melihat induk ayam sedang minum di tempat minumnya.

Dari sudut mata pandangan Si Bocah, telur itu terlihat retak di beberapa sisi. Dari cangkangnya yang hampir lepas, dia melihat seonggok makhluk kecil dengan bulunya yang masih basah. Makhluk itu masih lemah, bahkan matanya masih tertutup. Dasar bocah, dia berusaha untuk mengambil telur itu.

Tanpa diduga, induk ayam itu menghentikan kegiatan melepas dahaganya dan berlari menuju telur yang hampir diambil oleh Si Bocah. Bocah itu pun kaget bukan kepalang. Meskipun induk ayam tidak menyerang Si Bocah, tetap saja Si Bocah berlari ketakutan menghampiri ibunya.
***
Induk ayam pun kembali di peraduannya, menjaga dengan lebih was-was kalau Si Bocah itu kembali. Menunggu dengan sabar telurnya yang sebentar lagi menetas.
***
Si Bocah yang berlarian tadi telah sampai di pangkuan ibunya. Dengan polosnya dia mencoba menceritakan apa yang terjadi. Tentunya dengan gumaman dan bahasa tubuhnya yang masih polos. Ibunya yang dari tadi memperhatikan dari jauh pun tersenyum kecil, dan dengan bijak dia berucap....

“Le, kamu kalau mau ambil telur itu nanti saja. Tunggu beberapa hari lagi sampai anak ayam keluar dari telurnya. Kalau perlu tunggu anak ayam itu sampai bisa jalan. Nanti anak ayam itu juga dilepas kok sama Bapak, biar bisa cari cacing di halaman. Itu induknya ngejar kamu, karena kamu mau ambil telurnya. Induknya itu khawatir kalau terjadi sesuatu sama telur itu. Tinggal sedikit lagi kan telur itu menetas jadi anak ayam yang lucu. Terus anaknya itu nanti bisa tumbuh besar. Sekarang, anak ayam itu masih berusaha buat keluar dari telur. Kamu yang sabar kayak induk ayam itu, Le.”

“Sama kayak ibu. Waktu kamu kecil dulu, ibu harus melek terus. Ibu takut kalau kamu digigit nyamuk, popokmu basah karena ompol, kamu haus dan lapar. Ya, itu karena ibu sayang sama kamu, Le. Sekarang kamu udah bisa jalan, kalau jatuh udah bisa bangun sendiri, kalau lapar sama haus bisa bilang sama ibu. Kamu jangan takut jatuh ya, Le.”

“Sini hak duluu...”

“Aeeeemmm” Si Bocah membuka mulutnya dan memakan suapan nasi ibunya itu.

“Udah sana lari-lari lagi, nanti kalo udah habis maemnya kesini lagi ya.”
Dan Si Bocah itu pun kembali berlarian dengan riang....
***
Additional Story....
X : Hmmm... kamu inget nggak aku masih punya utang.
Y : Lhoh.. apa?
X : Aku kan belum bilang by live yang dulu aku bilang di bandara.
X : Ooohhh...
X : Iya,, aku sayang kamu, mau nggak kamu jadi pacarku.
Y : Haha.. harus ya diomongin lagi?? Oh ya.. Ini ada sesuatu buat kamu, jangan sampe ilang ya soalnya ini cuma ada dua di dunia ini. Aku juga sayang kamu (Dan adegan berikutnya, kamu ambil sesuatu dari tasmu dan memakaikannya di tangan kiriku)
X : makasih yaa.. Insya Alloh bakal aku jaga, semuanya. Udah tuh keretamu udah mau berangkat.
Y : iyaa..kok kayaknya cuma aku ya yang berangkat. Sepi bener.

Dan bayangan suara klakson kereta membuat cerita ini ragu untuk dilanjutkan kembali...



Another Cheesy Tale

Beberapa menit yang lalu...
Pesawat terbang itu tak kunjung datang. Aku terdiam, gelisah, dan resah. Menunggu... sesuatu yang terkadang mengasyikkan sekaligus menjemukan.

Pesawat yang akan mengantarku kembali ke Jakarta sebelum melanjutkan lagi ke tanah rantau belum juga tiba.
Tiga ribu enam ratus detik jarak waktuku dengan kota itu.
Bosan menunggu, tiba-tiba otakku mulai bekerja.
Aku teringat dengan “Twenty Four” yang ada dalam tasku.
Dan aku teringat satu lagu yang ketika aku putar dan akan selalu teringat ke kamu. Lagunya?

Saat sekarang...
Sepanjang mata memandang hanya ada orang berlalu lalang. Pilot, pramugari, penumpang, petugas bandara, dan semua yang ada di situ berlalu lalang.Hilir mudik tak tentu arah. Aku terduduk di kursi besi panjang di depan Gate F5 SHIA. Ya, akhirnya aku dapat mendarat dengan selamat di Jakarta.

Waktuku tersisa 2 jam lagi sebelum aku melanjutkan penerbangan menuju Bengkulu. Antara masuk apa enggak. Aku hanya diam duduk memikirkan semuanya. Dan utamanya pikiranku hanya tertuju padamu. Apa mungkin ini jalanku? 30 menit berlalu dan aku masih belum beranjak dari tempatku semula.

Tak perlu waktu lama, kuambil telepon seluler, pencet sana-sini.
Dan... pandanganku terhenti ketika menemukan nomormu. Nah kali ini perlu waktu lama, mutusin, telepon.. enggak.. telepon..enggak. Pencet, pencet, pencet. Sejurus kemudian terdengar suara “Halo”. di seberang sana. Ringan dan santai.

Dan kita pun bertukar kata demi kata. Nggak lama sih. Bahas ini itu, itu ini, ini itu, itu ini. Hingga akhirnya....

“Tapi emang dari dulu aku sudah ada rasa sama kamu, tapi aku sadar posisiku, dari dulu serba salah.” Tiba-tiba aku berucap seperti itu.

"Kamu ini sebenarnya serius nggak sih?"

"Iya, aku serius."

“Hmmmm...ya kalo kamu serius ya aku serius”

Dan inilah sebuah kalimat yang mungkin jadi makin yakin. Sekian lama aku berpetualang, tidak ada yang pernah berkata seperti ini.

“Ya aku serius, kita nikah tahun depan.”

“Mana ada... Nggak secepet itu.”

Hahaha... gila ya. Kadang aku tuh nggak mikir panjang, tapi aku serius kalo emang mau tahun depan ya oke. Tinggal berusaha lagi, ngumpulin modal sama keyakinan. Entah kamu yakin sama aku apa enggak. Hihihi.

Obrolan pun terus berlanjut, hingga akhirnya kamu berucap...

“Wes ah, aku meh nyirami” hahaha.. Entah ini mau mengakhiri pembicaraan karena sama-sama grogi apa emang beneran.

“Oh yaudah aku juga mau boarding, tinggal bentar lagi.”

“Oke”

Beberapa minggu berselang, di waktu menjelang tengah malam dan sepinya sebuah lobi hotel di Jakarta

“Oh iya, aku nggak pernah bilang ya?”

“Bilang apa?”

“Aku kayaknya nggak pernah bilang –aku sayang kamu- Ya.. nih aku bilang. Aku sayang kamu.”

“Ohhh... iya.”

Tuut tuut tuut.... dan telepon putus begitu saja....

Entah apa kesimpulannya...kadang kalo inget sendiri jadi geli.

Dan itulah kamu
Kamu yang ternyata punya banyak cerita...
Kamu yang ternyata punya banyak tawa...
Kamu yang dikit-dikit makan kue bandung...
Kamu yang ternyata punya jutaan inspirasi...buat aku...

Dua minggu aku terkena penyakit sana-sini, entah karena kurang iman apa emang akunya nggak pede bisa punya kamu. Dan jujur, sampai sekarang kadang juga aku minder, kamu dengan profesimu yang waaaah sedangkan aku yang cuma pelayan negara, jauh lagi dari Jawa. Dan aku bukan termasuk yang good looking, nggak jelek-jelek amat sih, tapi ya nggak ganteng juga...haha.

Terima kasih dan semoga banyak hal-hal indah yang akan kita temui. Meskipun ke depan bakal banyak jalan terjal, asal kamu masih mau beriringan denganku menjalaninya, Insya Alloh kita dapat melewatinya.
Semangat yaaa.. tunggu aku pulang.

Yaaa.. aku sayang kamu.....


(Jakarta - Bengkulu - Bintuhan, 1 bulan yang telah lewat dari saat ini)

Kok yo ono....

Ing sawijining dino, ning tanah adoh seko jawa kono. Ono cerito, cerito nyatha, opo anane, lan nggenah kedadeyane.
Cerito iki marakke aku kudu ngelus dada. Dadaku dewe lho ya, dudu dadane wong liyo...
Dadi ringkes cerito, mergo ono kedadeyan kui mau pemikiranku iso mbagi jenis wong kui dadi 4 jenis:

Sing kepisan, wong sing meneng, anteng, kalem amargo ora iso, ora mudeng, ora wani.
Sing kepindo, wong sing petakilan, jumowo, crigis, usil amargo wong iku pancen iso, nah mergo rumangsa iso dadi gedi sirahe.
Sing ketelu, wong sing meneng, anteng, kalem amargo emang watake koyo ngono, padahal asline wong kui iso, mahir, ahli. Nek gelem ki lho deknen iso sombong karo wong liyane, nanging yo mergo wes watake menengan yo piye meneh. Deknen tetep stel kendho karo sak kelilinge wong.
Sing kepapat, wong sing petakilan, jumowo, crigis, usil, meskipun wong iki ngerti deknen gak iso, gak ahli, dan gak mudeng. Biasane wong koyok ngene iki, nduwe tingkah laku koyok ngene yo ben nutupi kekurangane kui.
Nah, coba dipikir awakmu ki melu sing ndi? Nek aku yo jelas... aku termasuk sing... rahasia to yaaa...

Dadi kesimpulane dino iki yaiku, aku ketemu karo wong sing penguripane koyok kategori kepindo. Yo kui wong sing petakilan, jumowo, crigis.. pinter sih, tapi nek cara londho ngomonge bad attitude. Arep wae aku emosi, untunge aku cepet-cepet ndang gage lungo ning kamar mandi. Raup. Ben seger pemikirane.

Nah iki, aku bersyukur banget iso nahan emosi. Sebab, wes akeh penyesalan-penyesalan sing ono nek perkoro kesulut emosi.
Mulane to cah, aku ki seneng ketemu karo wong ning kategori pisan karo ketelu. Wes menengan gakpopo, angger dijak omong yo ngomong tho, nek mbok jak omong tapi ra nyauri mungkin wonge turu. Perkoro wonge (ngapunten) rada bodho, ora iso, ora mudengan,, yo ra masalah. Jenenge menungso ki yo raono sing sempurna, kabeh bener, kabeh kudu iso. Yo nek emang kurang, yo ditompo karo ikhlas.

Daripada cah, kowe ketemu wong sing opo kui mau,, bad attitude... lha opo ra marai mangkel dewe ning ati.

Mring babagan crito iki, aku dadi sadar ngopo biji-biji pengurusan duit (baca: nilai-nilai kementerian keuangan) kui sing nomer siji yo integritas lagi profesional. Integritas kui ra adoh seko attitude, lha nek profesional ra adoh seko kepinteran, kemahiran. Iso mikir to??

Kok yo jek ono penguripan koyok ngene...
Aku njaluk ngapuro yo...
Lha piye meneh...

Wes kelewat e...

R.I.N.D.U

"Aku rindu kamu"

Sebuah kalimat yang terdiri dari 3 kata. "aku", "rindu", dan "kamu". Tiga kata yang mungkin sama-sama keluar dari mulut yang bersumber dari hati, demi melepas sebuah rasa yang terpendam.

Namun....
satu kalimat, beda arti, beda kadar, beda tujuan...

Rinduku tidak sama dengan rindumu
Rindumu tidak sama dengan rindunya

Bahkan aku membutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkan rindu yang baru, rindu yang benar-benar muncul dari tulusnya hati.

Entahlah... semakin banyak yang aku tahu, semakin banyak pula yang tidak aku mengerti.

Karena rindu yang terbaik adalah rinduMu dan rinduNya.