Perjuanganku lebih susah karena aku harus melawan diriku sendiri....
Action sudah sesuai dengan plan. Apa plannya yang salah?
Apa ini yang dinamakan kurang menikmati....
Baru terasa sekarang....
Memang dari luar tidak terasa, tapi seiring berlalunya waktu, makin lama semakin tergerogoti, terkikis, perlahan....
Mungkin pikiran sudah mulai gila....
Aku kudu piye, nda... awakku sui-sui remuk.
Lagi Males
yang dulu cuma bisa dilihat di TV, sekarang bisa dilihat dengan mata sendiri |
benawang, sebuah jalur pemandangan buat snorkel amatir xp. Pas lagi surut |
kumpulan ikan sedang berlindung di sekitar "bulu" |
mumpung belum kabur, masih bisa dijepret tanpa zoom. hehe |
nggak sengaja ketemu ini, tapi karena ombak besar "sayap"nya jadi malu keluar |
foto tanpa zoom, berlindung di balik karang dari kencangnya arus |
nggak boleh sembarangan menginjak makhluk hidup ini |
harus jeli saat berpindah spot, jangan sampai terinjak |
coba tebak ikannya di mana? |
menyala dibalik birunya air dan karang. hehe |
mau crabby patty?? sebentar yaa... semoga masih bisa diberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran sehingga pas bosan nulis bisa share underwater's life in picture. |
Serpihan Awal Bulan
“Badai
pasti berlalu...Badai pasti berlalu...”
Mobil kami bergejolak hebat melewati
jalan yang berlubang. Dari radio terdengar suara Ari Lasso yang mengalun lembut
menyanyikan lagu legendaris tersebut. Jarang dengerin sih, sekalinya denger kok
ya pas sama suasana beberapa hari ini yang sangat “wah”. Ibarat naik perahu
bebek-bebekan terus disuruh menyeberang Samudra Hindia mencari pesawat yang
hilang. Kebayang nggak sih. Kudu naikin jangkar, kibarkan layar, dan putar
haluan ketemu ombak yang tingginya bisa sampe 3 meter. Fix, yang ini lebay
woooy. Mana ada perahu bebek punya layar sama haluan. Lah.
Dimulai dari keluhan pelanggan (sebut
saja itu) yang bikin kuping saya hampir nggak tahan dengernya. Dilanjut dengan
keluhan bos profesional (sebut saja itu) yang sempet bikin saya berkecil hati.
Masih dilanjutkan dengan kacau balaunya masalah-masalah kecil di kantor. Ibarat
semut, kecil sih tapi kalo dateng sebatalyon pas di muka, terus pada gigit gitu
kan rasanya sakit juga lama-lama.
Pernah nggak sih, kita disodorin handphone disuruh ngomong eh dari
seberang belum-belum udah diteriakin. Wooy, sinyalnya nggak putus-putus jadi
nggak perlu teriak-teriak. Emak-emak pula. Dan saya baru sadar, kemungkinan
emak-emak tersebut adalah wakil bupati, pliss semoga yang ini salah. Kita nggak
tahu maksud ibu itu apa, eh si ibu udah bla bla bla.
“Maaf
bu, jadi saya ini masih belum nangkap maksudnya ibu itu gimana, saya nggak tahu
karena barusan disodorin telepon”
“Aduh
mas, kan sudah saya jelasin daritadi.. bla bla bla..”
Dan saya cuma bisa ah oh ah oh aja
sambil bengong.
Itu satu.
Berikutnya, pernah nggak gara-gara
salah dan kurang teliti terus kita kena omel ibarat kesalahan kita macem
ngebakar kantor. Ya kecil sih salah saya itu, menurut saya. Tapi, bos yang jauh
di seberang sana sampai telepon dan bikin hati saya teriris. Ahh, mungkin itu
saya baru sendu-sendunya. Mungkin beliau bilang kalimat “Kalian kalo kerja profesional dikit bisa?” pas lagi santai sambil
nyeruput es degan di pinggir pantai, pake kolor pulak. Tetap saja buat saya itu
kurang santai, Bos. Dan mungkin sebenarnya Bos Profesional ini kurang berhak
“menasehati” saya, okelah kalo itu bos saya langsung. Saya terima-terima aja
kalo sampai dimaki-maki, habis itu nyari yang bisa dicurhatin juga sih.
Ujung-ujungnya ya nulis.
Itu yang kedua.
Berikutnya lagi, ketika semua
masalah-masalah kecil di kantor yang terakmulasi. Dimulai dari komputer yang
udah minta pensiun, jaringan yang nggak stabil, printer yang ngadat. Dan,
semuanya datang disaat saya lagi ribet sama urusan-urusan non teknis. Berasa,
saya ini kepala kantor yang kudu mikir semua. Okelah kalau saya kepala kantor,
gajinya gede nggak kayak kroco ini. tapi dengan gaji yang ada ini juga saya
udah bersyukur alhamdulillah.
Sebenarnya, ini lagi sendu aja. Dan
nggak ada cerita kayak di atas itu kalo saya:
- Nggak buat kesalahan, minimal saya bisa lebih cermat saat kerja. Sehingga mampu berpikir lebih jernih untuk menemukan solusi yang pas.
- Lebih sadar diri aja, saya ini pelayan ya wajar kalau dimaki-maki, dicerca. Coba kalau saya raja, pasti udah dipuja-puja, dielu-elukan, dilayani.
- Kalau kerja harus profesional, kalau bisa jangan bawa perasaan. Lempeng aja gitu kayak robot.
Dan tentunya masih banyak hal lagi
yang harus diperbaiki.
Tapi... itulah manusia... selalu punya
kekurangan, punya mimpi, dan punya perasaan. Kalau saya robot ya mungkin bisa
kerja sempurna. Salah ya tinggal nyalahin progammernya, nggak bakalan robot
disalahin. Dimaki juga paling capek sendiri yang maki, iye robot. Digimanain
kalo udah off ya nggak bakal
ngerespons. Saya (masih) manusia dan saya bukan robot, tetapi saya harus
belajar untuk menekan itu semua.
Dan terakhir, yang kamu katakan memang ada benarnya.
“Mungkin
kamu dulu ada salah, jadi ini teguran dari Alloh buat kamu. Siapa tahu sholatmu
nggak di awal waktu, ngajimu kurang.”
begitu bisikan yang dikeluarkannya di telingaku.. lewat handphone.
Saya akui memang untuk hal tersebut
saya masih kurang. Masih perlu banyak belajar lagi membagi waktu dan membuat
prioritas. Kadang habis maghrib saya masih berkutat dengan GPP dan aplikasi
yang macem-macemlah.
Mungkin berikutnya agak nggak nyambung
sama yang di atas ya. Jadi inget sama yang diomongin JB alias Johny Blaze. “This is the sign” dialog ini muncul
saat dia bertemu Roxanne, kekasihnya yang dulu. Pointnya, bukan kekasih. He talks about second chance.
Setiap orang punya kesempatan kedua.
Termasuk saya. Ya meskipun saya tidak bisa berubah jadi sesosok berkepala
tengkorak berapi gitu. Sumpah, jika ada kesempatan kedua bagi saya untuk jadi
orang baik saya juga mau bilang ‘ini tandanya’. Hidup saya di masa lampau
kadang saya sendiri merasa jijik dan hina. Sedih dan malu untuk diingat. Roda
pun terus berputar ke depan, bismillah... Semoga Alloh SWT melindungi saya.
Ketika aku ketemu kamu, hati kecilku
tanpa sadar berkata “this is the sign”
Terima kasih atas segala kesediaan
waktumu untuk berbagi semuanya. Terima kasih atas pengalamanmu berbagi solusi.
Kata-katamu sungguh terasa nyata daripada sekedar retorika. Dan ke depan bakal
banyak yang bisa kita bagi, semuanya. Canda, tawa, juga sedih, sebel. Cuma kamu
dan aku. Meskipun aku di sini dan kamu di sana, Insya Alloh kita tetap bersama.
Bersama dalam mimpi dan angan. Semoga mimpi itu bisa terjaga hingga dapat restu
dari Alloh SWT. Aamiin.
I.L.U My A.K.A
Satu Dekade Kebersamaan
Entah sudah berapa kali saya bahas
tentang sepak bola. Sudah jadi kegemaran tersendiri sejak tahun 2000an. Biarpun
gagal jadi pesepakbola profesional, setidaknya ada sedikit semangat yang bisa
membuat keringat mengucur dari badan.
Kali ini, akan saya singgung sedikit
mengenai pemilihan nomor 85. Mungkin di beberapa kesempatan saya pernah
membahas mengapa saya (hampir) selalu memakai nomor ini. Yang pertama dan
utama, karena nomor ini mirip dengan inisial nama Bapak. B Sumantri. Bapak ini
sosok yang sabar dulu menunggu saya latihan, habis dari pulang kantor langsung
ke rumah terus mengajak ke lapangan.
Beliau dengan sabar menunggu hingga
selesai latihan. Meskipun pada akhirnya saya hanya betah 3 bulan berlatih. Setidaknya
saya jadi sedikit mengerti pola-pola latihan yang benar. Hehe.
Alasan yang kedua, karena nomor 85 ini
dipakai oleh pemain favorit saya di Lazio. Di tahun 2005, dia adalah pemain muda
terbaik seri B sebelum diboyong ke Lazio. Pemain itu bernama Valon Behrami. Dengan
rambut pirang dan skillnya, pemuda berkebangsaan Swiss ini memberi tenaga di
lini tengah Lazio. Meskipun saat itu (hingga kini) prestasi tim Biru Langit
seperti yoyo yang naik turun di tiap musimnya, saya begitu cinta pada klub ini.
tidak banyak yang suka pada tim ecek-ecek. Entah, yang terekam di kepala saya
waktu itu adalah sebuah tim dengan warna jersey yang damai dan permainan yang
bagus.
Saya baru menyadari di ujung karir
nomor 85 ternyata ada inisial lagi yang bisa dicocokkan. Inisial nama papi mami
saya ternyata juga bisa. Hahaha. Mami S Aisiyah.
Selalu ada semangat tersendiri memilih
dengan hati. Mungkin itu yang dirasakan Gabriel “Batigol” Batistuta. Legenda
klub sebelah. Saat dia ditransfer ke klub sebelah, dia ingin memakai nomor 9. Berhubung
nomor 9 sudah dipakai Vincenzo Montella, akhirnya dia memakai jersey nomor 18,
yang apabila dijumlahkan menjadi 9.
Jadi, lengkap sudah sejak tahun 2005,
awal saya memiliki sebuah jersey hingga terakhir di tahun 2015 ini, saya setia
dengan nomor tersebut. Dan kini saatnya saya menggantung jersey tersebut
beserta kenangan-kenangannya....
Tahun 2005 akhir, Namanya masih alay khas tahun segituan. Nggak dapet juara di tahun itu, tetapi beberapa tahun kemudian bisa angkat piala pake jersey ini.
Langsung skip ke tahun 2010, sempat memakai nomer 90. Akhirnya kembali lagi ke cinta lama. Sama, nggak dapet gelar di tahun itu, tetapi setahun kemudian angkat piala doong, bikin gol pulak.
Akhirnya langsung ke tahun 2015. Dipertemukan dengan kawan-kawan baru di kelas L. 3x main cuma dapet peringkat 4. Dapat bye di fase awal. Match 1 menghasilkan gol tunggal kemenangan. Match 2 kalah di semifinal. Match 3 kalah di perebutan tempat ketiga.
Bahkan saya sempat hijrah ke Barcelona :p. Sayangnya, saya tidak sempat dimainkan oleh Barcelona. Gagal deh satu tim dengan La Pulga. Hahaha
Kisah Si Bocah, Induk Ayam dan Telurnya
Bocah itu berlarian riang kesana
kemari. Bocah yang baru saja bisa berjalan dengan dua kakinya sendiri. Meskipun
dia terjatuh pada beberapa usahanya, dia tetap bangkit lagi untuk berlari
kesana kemari. Dia berdiri, kemudian menepuk kedua lutut dan telapak tangannya
yang terkena debu. Begitulah tingkah laku Si Bocah.
Umurnya mungkin sekitar 2,5 tahun atau
mungkin malah lebih. Umur di mana seorang bocah ingin mengetahui segalanya.
Beberapa barang bahkan hampir masuk ke mulutnya andai ibunya tidak (dengan
lembut) mencegahnya. Perlu tenaga yang ekstra untuk mengawasi bocah ini. Dasar
bocah....
Suatu ketika Si Bocah ini berlarian
menuju ke halaman belakang. Ibunya tanpa lelah mengikuti bocah itu dengan peluh
yang terus mengalir. Namun, dia begitu senang melihat anaknya sangat aktif. Si
Bocah berlari kesana kemari dan pandangannya terhenti pada sebuah benda. Benda
itu berbentuk kotak besar dan terbuat dari susunan potongan bambu yang diikat
dengan kawat. Ukurannya cukup lebar dan sangat tinggi, bahkan melebihi tinggi
Si Bocah. Ada pintu kecil di sudutnya dan terlihat ada bola lampu dengan nyala
agak redup di dalam. Ya, ternyata yang dilihat Si Bocah tersebut adalah kandang
ayam. Tanpa ragu Si Bocah berjalan pelan mendekatinya.
Dari sela-sela dinding bambu kandang
itu dia melihat ke dalam. Si Bocah melihat seekor ayam sedang “duduk” terdiam
tanpa gerak. Dia melihat dengan penuh tanda tanya, keheranan. Melihat Si Bocah itu,
Sang Ibu membuka kandang itu dan dengan kelembutannya yang khas dia berkata
“Itu
namanya ayam, Le... dia sedang angkrem, menjaga telurnya biar nanti keluar anak
ayam.”
“Ayam?
Telur? Apalagi itu” gumam Si Bocah.
Kemudian Sang Ibu mengambil sesendok
nasi dan meletakkannya di dalam kandang. Ayam itu pun bangkit dari “duduk”nya
dan berjalan mendatangi makanan tersebut. Si Bocah semakin heran ketika ayam
tersebut bergeser tempat, tampak ada sesuatu yang berbentuk bulat di tempat
ayam itu berdiri.
“Ohh...Mungkin
itu yang dinamakan telur.” pikir
Si Bocah dengan sebatas pengetahuan yang ia miliki
Beberapa
hari kemudian....
Si Bocah kembali berlarian di sekitar
kandang ayam. Kali ini ibunya hanya melihat dari jauh tetapi masih sambil
mengawasi. Pintu kandang ayam itu terbuka, sehingga Si Bocah bisa leluasa
melihat ke dalam kandang. Dia pun lagi-lagi melihat ke telur ayam tadi. Dia
melihat induk ayam sedang minum di tempat minumnya.
Dari sudut mata pandangan Si Bocah,
telur itu terlihat retak di beberapa sisi. Dari cangkangnya yang hampir lepas,
dia melihat seonggok makhluk kecil dengan bulunya yang masih basah. Makhluk itu
masih lemah, bahkan matanya masih tertutup. Dasar bocah, dia berusaha untuk
mengambil telur itu.
Tanpa diduga, induk ayam itu
menghentikan kegiatan melepas dahaganya dan berlari menuju telur yang hampir
diambil oleh Si Bocah. Bocah itu pun kaget bukan kepalang. Meskipun induk ayam
tidak menyerang Si Bocah, tetap saja Si Bocah berlari ketakutan menghampiri
ibunya.
***
Induk ayam pun kembali di peraduannya,
menjaga dengan lebih was-was kalau Si Bocah itu kembali. Menunggu dengan sabar
telurnya yang sebentar lagi menetas.
***
Si Bocah yang berlarian tadi telah
sampai di pangkuan ibunya. Dengan polosnya dia mencoba menceritakan apa yang
terjadi. Tentunya dengan gumaman dan bahasa tubuhnya yang masih polos. Ibunya
yang dari tadi memperhatikan dari jauh pun tersenyum kecil, dan dengan bijak
dia berucap....
“Le,
kamu kalau mau ambil telur itu nanti saja. Tunggu beberapa hari lagi sampai
anak ayam keluar dari telurnya. Kalau perlu tunggu anak ayam itu sampai bisa
jalan. Nanti anak ayam itu juga dilepas kok sama Bapak, biar bisa cari cacing
di halaman. Itu induknya ngejar kamu, karena kamu mau ambil telurnya. Induknya
itu khawatir kalau terjadi sesuatu sama telur itu. Tinggal sedikit lagi kan
telur itu menetas jadi anak ayam yang lucu. Terus anaknya itu nanti bisa tumbuh
besar. Sekarang, anak ayam itu masih berusaha buat keluar dari telur. Kamu yang
sabar kayak induk ayam itu, Le.”
“Sama kayak ibu. Waktu kamu kecil dulu, ibu harus melek terus. Ibu takut kalau kamu digigit nyamuk, popokmu basah karena ompol, kamu haus dan lapar. Ya, itu karena ibu sayang sama kamu, Le. Sekarang kamu udah bisa jalan, kalau jatuh udah bisa bangun sendiri, kalau lapar sama haus bisa bilang sama ibu. Kamu jangan takut jatuh ya, Le.”
“Sini
hak duluu...”
“Aeeeemmm”
Si Bocah membuka mulutnya
dan memakan suapan nasi ibunya itu.
“Udah
sana lari-lari lagi, nanti kalo udah habis maemnya kesini lagi ya.”
Dan Si Bocah itu pun kembali berlarian
dengan riang....
***
Additional Story....
X
: Hmmm... kamu inget nggak aku masih punya utang.
Y
: Lhoh.. apa?
X
: Aku kan belum bilang by live yang dulu aku bilang di bandara.
X
: Ooohhh...
X
: Iya,, aku sayang kamu, mau nggak kamu jadi pacarku.
Y : Haha.. harus ya diomongin lagi??
Oh ya.. Ini ada sesuatu buat kamu, jangan sampe ilang ya soalnya ini cuma ada
dua di dunia ini. Aku juga sayang kamu (Dan adegan berikutnya, kamu ambil
sesuatu dari tasmu dan memakaikannya di tangan kiriku)
X : makasih yaa.. Insya Alloh bakal
aku jaga, semuanya. Udah tuh keretamu udah mau berangkat.
Y : iyaa..kok kayaknya cuma aku ya
yang berangkat. Sepi bener.
Dan bayangan suara klakson kereta
membuat cerita ini ragu untuk dilanjutkan kembali...
Another Cheesy Tale
Beberapa
menit yang lalu...
Pesawat terbang itu tak
kunjung datang. Aku terdiam, gelisah, dan resah. Menunggu... sesuatu yang terkadang
mengasyikkan sekaligus menjemukan.
Pesawat yang akan mengantarku
kembali ke Jakarta sebelum melanjutkan lagi ke tanah rantau belum juga tiba.
Tiga ribu enam ratus
detik jarak waktuku dengan kota itu.
Bosan menunggu, tiba-tiba otakku mulai bekerja.
Bosan menunggu, tiba-tiba otakku mulai bekerja.
Aku teringat dengan
“Twenty Four” yang ada dalam tasku.
Dan aku teringat satu
lagu yang ketika aku putar dan akan selalu teringat ke kamu. Lagunya?
Saat
sekarang...
Sepanjang mata
memandang hanya ada orang berlalu lalang. Pilot, pramugari, penumpang, petugas
bandara, dan semua yang ada di situ berlalu lalang.Hilir mudik tak tentu arah.
Aku terduduk di kursi besi panjang di depan Gate
F5 SHIA. Ya, akhirnya aku dapat mendarat dengan selamat di Jakarta.
Waktuku tersisa 2 jam lagi sebelum aku melanjutkan penerbangan menuju Bengkulu. Antara masuk apa
enggak. Aku hanya diam duduk memikirkan semuanya. Dan utamanya pikiranku hanya
tertuju padamu. Apa mungkin ini jalanku? 30 menit berlalu dan aku masih belum
beranjak dari tempatku semula.
Tak perlu waktu lama,
kuambil telepon seluler, pencet sana-sini.
Dan... pandanganku terhenti
ketika menemukan nomormu. Nah kali ini perlu waktu lama, mutusin, telepon..
enggak.. telepon..enggak. Pencet, pencet, pencet. Sejurus kemudian terdengar suara “Halo”. di seberang sana. Ringan dan santai.
Dan kita pun bertukar
kata demi kata. Nggak lama sih. Bahas ini itu, itu ini, ini itu, itu ini. Hingga
akhirnya....
“Tapi
emang dari dulu aku sudah ada rasa sama kamu, tapi aku sadar posisiku, dari
dulu serba salah.” Tiba-tiba
aku berucap seperti itu.
"Kamu ini sebenarnya serius nggak sih?"
"Iya, aku serius."
"Kamu ini sebenarnya serius nggak sih?"
"Iya, aku serius."
“Hmmmm...ya
kalo kamu serius ya aku serius”
Dan inilah sebuah
kalimat yang mungkin jadi makin yakin. Sekian lama aku berpetualang, tidak ada
yang pernah berkata seperti ini.
“Ya
aku serius, kita nikah tahun depan.”
“Mana
ada... Nggak secepet itu.”
Hahaha... gila ya. Kadang
aku tuh nggak mikir panjang, tapi aku serius kalo emang mau tahun depan ya oke.
Tinggal berusaha lagi, ngumpulin modal sama keyakinan. Entah kamu yakin sama
aku apa enggak. Hihihi.
Obrolan pun terus
berlanjut, hingga akhirnya kamu berucap...
“Wes
ah, aku meh nyirami”
hahaha.. Entah ini mau mengakhiri pembicaraan karena sama-sama grogi apa emang beneran.
“Oh
yaudah aku juga mau boarding, tinggal bentar lagi.”
“Oke”
Beberapa
minggu berselang, di waktu menjelang tengah malam dan sepinya sebuah lobi hotel
di Jakarta
“Oh
iya, aku nggak pernah bilang ya?”
“Bilang
apa?”
“Aku
kayaknya nggak pernah bilang –aku sayang kamu- Ya.. nih aku bilang. Aku sayang kamu.”
“Ohhh...
iya.”
Tuut tuut tuut.... dan
telepon putus begitu saja....
Entah apa
kesimpulannya...kadang kalo inget sendiri jadi geli.
Dan itulah kamu
Kamu yang ternyata
punya banyak cerita...
Kamu yang ternyata
punya banyak tawa...
Kamu yang dikit-dikit
makan kue bandung...
Kamu yang ternyata
punya jutaan inspirasi...buat aku...
Dua minggu aku terkena
penyakit sana-sini, entah karena kurang iman apa emang akunya nggak pede bisa punya
kamu. Dan jujur, sampai sekarang kadang juga aku minder, kamu dengan
profesimu yang waaaah sedangkan aku yang cuma pelayan negara, jauh lagi dari
Jawa. Dan aku bukan termasuk yang good looking, nggak jelek-jelek amat sih,
tapi ya nggak ganteng juga...haha.
Terima kasih dan semoga
banyak hal-hal indah yang akan kita temui. Meskipun ke depan bakal banyak jalan
terjal, asal kamu masih mau beriringan denganku menjalaninya, Insya Alloh kita
dapat melewatinya.
Semangat yaaa.. tunggu
aku pulang.
Yaaa.. aku sayang
kamu.....
(Jakarta - Bengkulu - Bintuhan,
1 bulan yang telah lewat dari saat ini)
Kok yo ono....
Ing sawijining dino, ning tanah adoh
seko jawa kono. Ono cerito, cerito nyatha, opo anane, lan nggenah kedadeyane.
Cerito iki marakke aku kudu ngelus
dada. Dadaku dewe lho ya, dudu dadane wong liyo...
Dadi ringkes cerito, mergo ono
kedadeyan kui mau pemikiranku iso mbagi jenis wong kui dadi 4 jenis:
Sing kepisan, wong sing meneng,
anteng, kalem amargo ora iso, ora mudeng, ora wani.
Sing kepindo, wong sing petakilan,
jumowo, crigis, usil amargo wong iku pancen iso, nah mergo rumangsa iso dadi
gedi sirahe.
Sing ketelu, wong sing meneng, anteng,
kalem amargo emang watake koyo ngono, padahal asline wong kui iso, mahir, ahli.
Nek gelem ki lho deknen iso sombong karo wong liyane, nanging yo mergo wes
watake menengan yo piye meneh. Deknen tetep stel kendho karo sak kelilinge
wong.
Sing kepapat, wong sing petakilan,
jumowo, crigis, usil, meskipun wong iki ngerti deknen gak iso, gak ahli, dan
gak mudeng. Biasane wong koyok ngene iki, nduwe tingkah laku koyok ngene yo ben
nutupi kekurangane kui.
Nah, coba dipikir awakmu ki melu sing
ndi? Nek aku yo jelas... aku termasuk sing... rahasia to yaaa...
Dadi kesimpulane dino iki yaiku, aku
ketemu karo wong sing penguripane koyok kategori kepindo. Yo kui wong sing
petakilan, jumowo, crigis.. pinter sih, tapi nek cara londho ngomonge bad
attitude. Arep wae aku emosi, untunge aku cepet-cepet ndang gage lungo ning
kamar mandi. Raup. Ben seger pemikirane.
Nah iki, aku bersyukur banget iso
nahan emosi. Sebab, wes akeh penyesalan-penyesalan sing ono nek perkoro kesulut
emosi.
Mulane to cah, aku ki seneng ketemu
karo wong ning kategori pisan karo ketelu. Wes menengan gakpopo, angger dijak
omong yo ngomong tho, nek mbok jak omong tapi ra nyauri mungkin wonge turu. Perkoro
wonge (ngapunten) rada bodho, ora iso, ora mudengan,, yo ra masalah. Jenenge menungso
ki yo raono sing sempurna, kabeh bener, kabeh kudu iso. Yo nek emang kurang, yo
ditompo karo ikhlas.
Daripada cah, kowe ketemu wong sing opo
kui mau,, bad attitude... lha opo ra marai mangkel dewe ning ati.
Mring babagan crito iki, aku dadi
sadar ngopo biji-biji pengurusan duit (baca: nilai-nilai kementerian keuangan) kui
sing nomer siji yo integritas lagi profesional. Integritas kui ra adoh seko
attitude, lha nek profesional ra adoh seko kepinteran, kemahiran. Iso mikir
to??
Kok yo jek ono penguripan koyok
ngene...
Aku njaluk ngapuro yo...
Lha piye meneh...
Wes kelewat e...
Langganan:
Postingan (Atom)