Salah satu catatan statistik pribadi saya. Iseng-iseng aja sih, setidaknya di 2015 masih diberi kesibukan untuk wara-wari kesana dan kesini. Semoga di tahun-tahun yang akan datang bisa menjadi lebih baik lagi. Dikurangin deg-degannya, was-wasnya, dan semoga selalu diberi kelancaran baik menuju maupun pergi dari Semarang.
2015 : Antara Amal, Dosa, dan Janji
Bicara persoalan “menjadi baik”, nah
ini salah satu hal yang gampang-gampang susah. Gampang diucapkan, susah
diterapkan. Dan hal ini pula yang menjadi koreksi dan evaluasi selama 2015
(setidaknya hingga tulisan ini diposting).
Desember... penghujung bulan di akhir
tahun, selalu seperti itu. Waktunya untuk introspeksi di tahun penanggalan
Masehi. Langsung saja, sepertinya sudah
terlalu banyak niatan dan ucapan saya untuk menjadi baik, berhenti berbuat yang
tidak baik, dan semuanya lah yang dianggap tidak baik untuk tidak dilakukan. Dan
sepertinya sudah terlalu banyak penginngkaran dari niatan dan ucapan itu. Selalu
saja ada tindak tanduk, ucapan, pikiran, niatan yang memunculkan hal yang tidak
baik. Astaghfirulloh....
Apakah saya masih bisa menjadi pribadi
yang lebih baik, andaikan selama ini saya bukanlah seorang yang baik? Katakan,
saya ini adalah seorang yang hina. Yang sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit
nggak menjaga mulut, sedikit-sedikit bertindak ngawur, sedikit-sedikit
bertindak sesuka hati. Nah kan, ujungnya malah jadi banyak bukan sedikit lagi.
Karena benar apa yang pernah saya
dengar, tetapi saya lupa mendengarnya dimana. Bahwa manusia itu hanya melihat
dampaknya secara langsung (kurang lebih seperti ini). Misalnya, satu perbuatan
dosa itu menimbulkan bau busuk maka pasti orang akan berlomba-lomba untuk tidak
mengeluarkan bau busuk. Pun dengan amal, andaikan amal itu bisa mendatangkan
satu keping emas. Semua orang pasti akan berebut untuk berbuat kebaikan di muka
bumi ini.
Problemnya adalah semua itu
berkebalikan. Saya dan manusia yang lain seringkali lupa atau bahkan tidak
tahu, bahwa amal-amal itu pembalasannya ada di hari akhir. timbanganNya lah
yang akan berbicara. Dan itu tidak bisa ditambah atau dikurangi.
Kesempatan mencari
amal ada di dunia dan itu pun bisa melalui cara. Konsekuensinya adalah manusia
tidak bisa “merasakan” secara real amal itu di dunia. Hingga akhirnya kita
semua seringkali berkubang dalam lumpur dosa.
Sama seperti amal, dosa itu tidak
terlihat efeknya. Tanpa sadar orang yang berbangga-bangga dengan dosa masih
saja terlihat rapi, terpandang, dan juga berpengaruh. Padahal andaikan dosa itu
berbau busuk seperti di atas tadi, ya tidak bisa disembunyikan yang dinamakan
dosa itu. Luar biasanya lagi, mayoritas perbuatan dosa adalah perbuatan yang
menyenangkan, tidak sesuai dengan kaidah agama maupun hukum manusia.
Dan seperti inilah yang saya
khawatirkan, masihkah saya menjadi lebih baik keesokan hari?
Terlalu banyak janji-janji yang baik
saya ucapkan maupun saya dengarkan. Rasa kecewa kepada janji itu pasti ada. Entah
kecewa karena tidak bisa menepati janji yang diucapkan dan (seringkali) kecewa
terhadap janji-janji yang didengarkan. Kalau sudah mendengar ada janji, tetapi
dengan embel-embel “katanya” ya wallahu alam. Toh bukan yang ngomong yang
berjanji, kan katanya... patut kecewa?
Dimulai dari diri sendiri. Kadang saya
pun sering berjanji, entah kepada rekan, orang tua, atasan, dan pacar saya. Dan
berkali-kali pula mereka sering saya kecewakan dengan janji yang saya buat. Menjadi
hal yang paling sedih apalagi kalo kita sudah bilang ini ternyata jadi itu,
bilang itu ternyata jadi ini.
Terakhir, ketika saya sudah berjanji,
saya akan berusaha memenuhinya, andai saya gagal, hanya bisa ucapan maaf yang
saya berikan berikut penyesalan dari yang paling dalam. Itu janji saya.
Kamu mau sampai kapan jadi orang nggak
bener?
there's no more
A l a s a n
Bahkan sampai detik di mana aku mengetik ini, tidak ada lagi
yang namanya menemukan sebuah alasan untuk lebih lama lagi di sini. No passion.
Selalu ada yang datang dan selalu ada yang pergi. Bersama semua
duka dan tawa. Dan hingga terakhir tinggal aku “sendiri” di sini. Baru merasakan
datang dan belum merasakan pergi. Ketika semuanya sudah mulai pergi satu demi
satu, semuanya pun berubah satu demi satu, selangkah demi langkah.
Sepi rasanya di sini. Ibarat dua orang berjalan beriringan,
tetapi jaraknya puluhan meter. Ibarat satu kepala memiliki dua keinginan, yang
satu ingin ke kiri, yang satu ingin ke kanan. Begitu seterusnya.
Dan janji pun tinggal janji. Semua datang dan pergi membawa
janji. Janji yang entah kapan ditepati. Atau mungkin janji itu cuma empati. Ironi.
Ini antara meninggalkan melawan ditinggalkan. Bener apa kata
orang, lebih sakit berada di pihak yang ditinggalkan. Mungkin belum siap,
mungkin belum rela, atau mungkin....
Tetapi, alasan meninggalkan adalah benar. Buat apa
berlama-lama di tempat yang bahkan kita sendiri enggan. Toh, pada akhirnya
kalau nggak ditinggalkan mungkin akan jadi yang meninggalkan. Dan pertarungan
keduanya pun selalu berlanjut.
meninggalkan
atau
ditinggalkan...
dan ini adalah sebuah pilihan yang sulit. Ingin rasanya saya
pergi dari tempat ini, dari posisi ini. Tapi, saya tidak tahu akan kemana,
apakah nanti akan baik-baik saja saya meninggalkan tempat ini, apakah nanti di
tempat baru nanti akan mendapatkan sesuai harapan kita. Ahh..
sudahlah...
saya laki-laki, bisa kalut bisa bingung. Tapi cukup sekali
ini saya bingung dan setelah ini tidak ada yang perlu saya bingungkan lagi,
karena...
masih tidak ada alasan bagi saya...
*otak saya akhir-akhir ini tidak sehat. Bahkan menyusun
beberapa paragraf yang saling terkait saja susah. It’s not a good one.
One-Circus-Man Show
“Kamu pernah nonton sirkus”
“Ya kalo di TV pernah, tapi kalo live belum
pernah kayaknya, seingetku. Kenapa?”
“Enggak. Di sini lagi ada
sirkus.”
Begitu sebuah percakapan
kami di sebuah aplikasi chat, sebuah upaya untuk menghilangkan semua rindu. Diawali
dari obrolan yang ringan hingga kadang membahas yang berat. Yang penting
setidaknya komunikasi kami selalu terjaga dengan bak.
..................................................................................................................................................
Sementara itu nun jauh di
sana, di belahan dunia yang lain. Si pemain sirkus sedang berkonsentrasi
menyelesaikan tugasnya. Tugasnya yaitu membujuk harimau yang beratnya ratusan
kilo supaya mau melompat ke dalam lingkaran semacam cincin berdiameter besar. Bukan
sembarang lingkaran, lingkaran itu udah dipenuhi dengan api.
Perhatiannya terpusat penuh
pada tongkat yang dia gunakan sebagai komando harimau tersebut. Meskipun sudah
jinak, dia tidak mau berspekulasi andai harimau itu ngambek dan tiba-tiba menerkamnya. Sesaat kemudian dia menyentakkan
tongkatnya ke bawah dan... harimau itu berhasil melewati lingkaran api. Tepuk tangan
penonton pun bergemuruh di dalam kubah sirkus tersebut.
Sang pemain sirkus lega dan
puas atas aksinya tersebut. Dia memberikan salam kepada penonton kemudian
hilang bersama ditutupnya tirai panggung tersebut.
..................................................................................................................................................
“Ramai juga yang datang
hari ini. Hasil yang kita dapat bisa sebanyak ini. Hehehe” begitu kekehan
seorang tua sambil menepuk-nepuk segepok uang yang ada di tangannya. Kemudian,
dia pun membagi 2 uang tersebut kepada pemain sirkus harimau tadi. Tumpukan yag
dierikan kepadanya tidak ada setengah. Paling-paling cuma 1/3 dari uang
tersebut. Pemain sirkus itu menerimanya dengan senyum simpul.
“Besok kita harus
menyiapkan show yang lain. Bagus sekali nak kerjamu hari ini.”
..................................................................................................................................................
Keesokan harinya,
pemandangan pun berbeda. Pemain sirkus yang sebelumnya beraksi dengan harimau
sekarang sudah bersama dengan anjing laut. Kali ini pekerjaannya cukup mudah,
yaitu memberi aba-aba kepada anjing laut supaya beratraksi menjaga keseimbangn
sebuah bola di atas mulutnya. Aksi itu diselingi dengan gestur yang kocak. Penonton
yang hadir pun tertawa dan bergembira melihat aksi keduanya.
..................................................................................................................................................
“Apalagi ya yang mau aku
tampilkan besok? Wah.. susah juga, semua aksi yang aku bisa sudah aku
tunjukkan. Apa perlu aku ikut rombongan sirkus yang lain ya...biar penonton di sini
juga tidak jenuh. Lagipula, pak tua itu yang selalu dapat lebih. Padahal dia cuma
duduk dan tugasnya hanya menukar uang dengan tiket. Enak ya hidupnya.
Ahh.. kemarin waktu show harimau, tanganku hampir dicakarnya. Belum lagi dengan anjing laut, badanku
dibuatnya amis seharian. Hahaha. Ya nggak apa-apa. Daripada aku nggak bisa
makan. Cuma itu keahlian yang aku punya. Masih untung ada yang mau menampungku.
Tetapi, rasanya itu semua
hilang dengan canda tawa, sorak sorai, dan tepuk tangan dari para penonton. Senang
rasanya bisa menghibur mereka. Mengganti uang mereka dengan kepuasan. Pokoknya aku
harus bisa lebih baik lagi.”
..................................................................................................................................................
“Oh mau ngajakin nonton
sirkus?”
“Ya kalau masih ada. Haha.”
Tiba-tiba saja aku jadi
teringat dengan pemain sirkus yang jauh di sana. Sedang ada pertunjukan apa ya
hari ini? Apa jangan-jangan dia sudah.... ah sudahlah... dia pasti baik-baik
saja.
Carut Marut VR46 vs MM93 (dan JL99)
Oke, sekali-kali
nulis yang up to date. Lagi pada rame ngomongin MotoGP 2015 yang tahun ini
tentunya banyak intrik dan drama. Pada klimaksnya, tahun ini dimenangkan oleh
Jorge Lorenzo. Gelar juaranya yang ke-3 di kelas MotoGP (sebelumnya pada tahun
2010 dan 2012), setelah memenangi race terakhir di sirkuit Ricardo Tormo,
Valencia. Kemenangan di race tersebut membuatnya mengangkangi Valentino Rossi
dari posisi puncak. Tepat di race terakhir. Ya, Rossi hanya bisa finish di
posisi 4. Di belakang 3 rider tuan rumah. Itu pun setelah dia harus start dari
posisi paling belakang. Yah, apapun itu... selamat kepada JL99 yang telah
berhasil memenangi tahun ini.
Yang menjadi
perdebatan adalah munculnya beragam pendapat dari para netizen. Ada yang bilang
harusnya Rossi yang juara dan ada yang bilang Lorenzo juga pantas jadi juara. Jadi?
Siapa yang pantas dong? Berikut ini adalah statistik head to head antara kedua
kandidat tersebut (kalo nggak salah hitung):
Rossi : 18 race à 15x podium, 4x juara
Jorge : 18 race à 12x podium, 7x juara,
1x tidak finish
Terserah..
menurut Anda siapa yang paling pantas juara? Semua memiliki sudut pandang dan
pendapat masing-masing. Nggak bakal selesai kalo eyel-eyelan.
Yang jadi
sorotan adalah, mengapa Marc Marquez juga turut disebut? Dia-nya saja sudah tidak
ada peluang di musim ini. Banyaknya crash dan ketidakberuntungan membuatnya
harus menjadi pelengkap di antara kedua pembalap tersebut. Tetapi, bukan
sekedar pelengkap.. Marquez mungkin menjadi aktor utama di antara keduanya,
terutama “dendam” kepada The Doctor.
Bermula dari
insiden di seri ke 3 di Argentina. Duel sengit antara Rossi vs Marquez, dan pada
suatu manuver dari The Doctor “menyebabkan” The Baby Alien harus out of race.
Insiden
berlanjut pada seri Assen, Belanda. Lagi-lagi keduanya terlibat duel sengit
hingga last lap. Pada sebuah tikungan ganda, motor mereka bersenggolan sehingga
Rossi melintas kencang melewati Gravel, dan ajaibnya dia malah menjadi juara 1.
Mungkin akibat
kedua insiden ini, Marquez menjadi dongkol. Alih-alih ikut persaingan Rossi vs
Loenzo, Marquez malah sering jatuh dan cedera. Dan setelah kepastian dia tidak
bisa meraih gelar juara, dia mulai mendukung kompatriot se-negaranya. Lorenzo.
Tibalah pada
race ke-15, seri Phillip Island, Australia. Race yang (katanya) terbaik di
musim ini, mempertontonkan aksi ciamik untuk merebut juara 1. Ya, 4 rider
sekaligus yang berpeluang memenangi race ini. Marquez, Lorenzo, Iannone, dan
Valentino. Terlihat sangat jelas bahwa ketika Rossi berhasil menyodok untuk
mendekati Lorenzo, Marquez sengaja melakukan cara balap yang aneh (entah
melambat atau ada gangguan pada motornya). Hingga Rossi tampak kesulitan pada
beberapa manuvernya. Hingga akhirnya Rossi hanya bertarung dengan Iannone. Marquez
hanya membayangi Lorenzo. Dan pada beberapa tikungan terakhir, tiba-tiba Baby
Alien “mengeksekusi” Lorenzo untuk mengambil podium pertama. Misi sukses.
Marquez juara 1 dan Lorenzo finish di depan Rossi yang hanya finish di urutan
4.
Belum selesai
di situ, race di Sepang, Malaysia sepekan sesudahnya menjadi saksi bagaimana
duel sengit hingga berujung konflik. Rossi terlihat sibuk dengan Marquez di
setiap tikungannya. Sementara itu Lorenzo melesat jauh meninggalkan mereka
berdua. Perebutan tempat ketiga berlangsung sangat sengit, sampai pada suatu
kesempatan Rossi berhasil menyalip Marquez dan memberikan lambaian. Entah apa
maknanya. Apakah itu peringatan atau itu sebuah ejekan provokasi. Dan sampailah
pada sebuah tikungan di mana, Rossi menoleh seolah-olah menunggu Marquez. Sedikit
melebar dari jalurnya dan Marquez memaksa masuk. Dan. Boom.. Marquez terjatuh
setelah menyundul/ditendang Rossi (monggo yang punya analisis). Dan seakan
sudah pasrah, Marquez kembali ke paddock. Puncaknya
Beberapa tayangan
ulang menampakkan bahwa kaki kiri Vale bergerak menendang Marquez, ada juga
yang menampakkan Marquez lah yang menyundul Rossi. Rossi mengaku kakinya selip
di footstep motornya, Marquez merasa Rossi sengaja menendangnya. Entah. Hanya Rossi
dan Marquez yang tahu. Pada akhirnya Jorge tetap melaju mulus hingga finish dan
semakin memperkecil jarak.
Drama berlanjut
di podium, saat Rossi menerima trophy. Terlihat Jorge mengeluarkan gestur yang “luar
biasa”. Saat seremoni sampanye pun Jorge langsung ngacir pergi. Entah karena
mungkin di Sepang banyak fans The Doctor, dan dia mendapat hujatan atas aksinya
tersebut. Buntut dari jatuhnya Marquez adalah diberikannya poin pinalty bagi
Rossi sebanyak 3 poin dan genaplah sudah pinalti Rossi menjadi 4 setelah
sebelumnya mendapat 1 poin saat di Misano. Itu artinya apapun hasil kualifikasi
Rossi, dia harus start dari posisi paling buncit.
Dua pekan
kemudian. Semua mata menuju ke Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol.
Lorenzo yang di kualifikasi tampil luar biasa menghasilkan pole position saat
start. Dan Rossi harus berada di baris paling belakang. Start dimulai dan...
Tiba-tiba Rossi
masuk melesat ke dalam, mengiris beberapa rider. Seolah seperti membuka jalan,
rider-rider lain dilibas satu demi satu. Hanya Espargaro bersaudara yang
terlihat ngotot membalap dengan normal. Tiba di pertengahan race, Rossi sudah
berada di posisi 4 tetapi rombongan 3 besar sudah sangat jauh.
Di depan
terlihat sangat monoton. Lorenzo yang tampil brilian seperti mendapat kawalan
dari Marquez yang hanya menguntitnya lap demi lap. Mungkin, dia ingin memakai
strateginya terdahulu, mengeksekusi Jorge di lap-lap terakhir. Luar biasanya,
Pedrosa yang seperti menemukan ritme berhasil mendekati Marquez. Marquez yang
sepanjang lap terlihat kalem, tiba-tiba menjadi beringas. Seolah seperti
penjaga ada pengganggu yang mendekati tuannya. Jorge semakin jauh, dan duel
terjadi sesama duo Honda. Dan tibalah Jorge pada garis finish untuk mengunci
gelar juara dengan keunggulan 5 poin dari seniornya.
Hikmah yang
dapat diambil dari musim ini adalah:
1.
Seharusnya Jorge Lorenzo lebih fokus kepada
balapannya. Terlihat di beberapa kesempatan Lorenzo mengintimidasi pada
persidangan Rossi di CAS. Dan terlalu banyak berkomentar soal perseteruan Rossi
vs Marquez, seperti seorang kakak membela adiknya. Gestur terakhir pada podium
Sepang juga menunjukkan betapa tidak ada respect dia kepada rekan setim.
2.
Valentino Rossi, sebagai pembalap senior yang
sudah banyak pengalaman seharusnya tidak terpancing provokasi dari pembalap
muda. Yah namanya emosi,. Semua sudah terlanjur, perjuangannya memuncaki
klasemen pembalap di 17 race harus musnah karena sebuah kesalahan. Pupus sudah
gelar ke-10.
3.
Marc Marquez, masa depannya masih panjang. Gelar
demi gelar bisa diraih. Namun, di tahun ini sepertinya dia menjadi tokoh
antagonis. Setelah perseteruannya dengan The Doctor. Mesti harus menjaga fokus
dan sportivitas.
4.
Daniel Pedrosa, pembalap yang dari dulu selalu
diunggulkan di awal musim tetapi selalu gagal menjawab ekspektasinya itu. Komentarnya
di Sepang merupakan komen yang netral dimana saat itu dia mengeluarkan
pernyataan “membalaplah untuk dirimu sendiri”. Tidak membela Vale dan tidak
menyudutkan Marc. Satu-satunya pembalap yang tulus membalap.
Dan saya pribadi
membayangkan apabila Casey Stoner masih membalap. Pembalap favorit saya yang
tidak kalah garangnya ini mungkin juga akan menyikat Marc yang ibaratnya masih
ingusan. Stoner tidak segan-segan “menegur” pembalap lain dengan blak-blakan.
Satu lagi, andai
mendiang Marco Simoncelli juga masih hidup. Mungkin di seri terakhir, dia tidak
segan-segan menabrak Marc demi membuka peluang buat Rossi. Nekad ketemu nekad.
Inilah hasilnya,
apapun itu... terima kasih MotoGP 2015 sudah menyajikan aliran adrenalin yang
tidak henti, dari awal hingga akhir.
![]() |
pernyataan Vale pada situs resmi MotoGP |
Kesempatan Kedua dalam Seharian Ini (yang sangat sepi)
Pusing kembali |
Sebelumnya... Nggak
pernah ngerasa se-sepi dan se-bosen ini. Gejalanya udah ada sejak beberapa
bulan lalu sih. Ketika, makin kes ini semuanya seperti berpencar. Nggak ada
satu visi, satu misi, satu tujuan. Semuanya ingin selamat sendiri-sendiri. Menurut
mu/kalian, Saya nggak mau selamat? Bukan gitu caranya... Setelah apa yang kita
lalui bersama sejauh ini dan yang sudah saya usahakan (?) tentunya kita semua
ingin itu semua lancar tanpa masalah di kemudian hari.
Mungkin enak
bagi kalian yang dapat pekerjaan dekat dengan keluarga. Bisa pulang lihat
kondisi rumah dan keluarga. Tapi itu nggak bisa dijadikan alasan buat kerja
malas-malasan. Kali ini sudah kelewatan. Saya memang bodoh dan gampang ditipu,
tetapi dengan pemikiran yang nggak maju seperti ini semoga saja dibukakan pintu
hati untuk kembal ke jalan yang benar. Atau mungkin sepeninggal saya nanti,
akan ada yang lebih enak mengarahkan daripada saya yang hanya sekedar
marah-marah dan minta ini itu. Perlu untuk jadi, saya seperti itu karena nggak
mau ada yang disalahkan. Oke kalo yang disalahkan saya, beres. Coba kalo bukan
saya. Cuma omongan di belakang yang nantinya memperburuk keadaan.
Pernah nggak
mikir kerjaan sampai yang udah parah gitu? Tiap sejam kebangun, merem lagi, kebangun
lagi. Rasanya, sampe detik ini cuma saya (yang kadang) lebih mikir tempat kerja
ini. Entah yang lain mungkin juga ada yang lebih dari saya, atau bahkan ada
yang nggak sama sekali? Mungkin kalau saya di posisi seperti itu (kerja dekat
keluarga), saya juga bakal jadi malas kerja. Semoga enggak!
Bukan membanggakan
diri ketika pimpinan di sini pernah memuji saya “Contoh tuh si Wisnu, ada surat
masuk, dibaca, langsung dikerjakan, nggak usah nunggu saya disposisi ke dia”Ya iyalah...
waktu itu saya di sini sendiri. Pikiran saya adalah saya nggak mau repot di
kemudian hari sehingga pokoknya semua harus selesai sesegera mungkin. Kerjaan di
sini seringnya tidak terduga. Ketika jam 3 sore kita udah bikin “to do list”
buat keesokan harinya, eh mesin fax berbunyi dan isinya mengharuskan untuk
melakukan safari jam 4 pagi. Maka dari itu, semua pekerjaan yang berpotensi “merepotkan”
harus segera dihabisi. bahkan saat Weekend, kalau nggak pulang ke ibukota, saya lebih banyak duduk di meja kerja, ngecek apa yang belum beres, belum rapi. Satpam saya bahkan sampai geleng-geleng dan menegur "Makan tuh kerjaan, jangan sampai mati karena kerja Mas" haha.. asem.
Dan ketika semua
kebosanan dan kesepian jadi satu di kepala, jadi makin kangen sama yang jauh di
sana. Terutama sama Bapak, Ibu, dan Dik Pacar. Namun, rasanya di sini udah
kebiasa sepi. Ditelpon Bapak sama Ibu cuma bisa denger pesen-pesen mereka kasih
semangat, sama nanyain kapan pulang, dan tentunya cerita bahagia di rumah
(semoga mereka semua sehat di sana). Alhamdulillah masih ada kakak di rumah
yang nemenin di rumah dan si keponakan susah buat ngomong ditelpon. Sekalinya
mau ngomong yang ditanyain adalah: kapan pulang, beliin mainan. Hahaha. Bikin kangen
semuanya.
Masih ada satu
lagi, rindu yang tidak kalah spesial buat Dik Pacar. Beliaunya lagi nggak bisa
lama-lama diganggu. Hari pertempuran sudah dekat. Harus bisa sabar buat jaga
fokus dia. Aku sendiri yang bilang gakpapa kalo agak dikurangi dan kali ini aku
yang ngerasa lebih sepi aja. But, it doesn’t matter. Demi cita-cita kita semua,
Bismillah bisa sabar. Semoga belajarmu membawa hasil yaa... aku disini selalu
nungguin kamu, nggak ada di pikiran aku buat nyuekin atau bahkan kemana-mana. Kalo
kadang aku ngerasa sepi itu karena salahku aja yang kurang kegiatan. Haha.
Intinya...
Semua harus
dijalani dengan ikhlas, tanpa keluhan, dan berikan yang terbaik. (Lagi-lagi)
seperti sesuatu yang ideal dan gampang. Manusia... melesetnya, bolehlah sedikit
nggak ikhlas, sedikit mengeluh, sedikit malas. Tapi ingat, hanya sedikit.
Setelah udah dapet yang sedikit itu tetep harus kembali ke jalan yang benar dan
berdoa supaya bisa pulang lagi ke sana. Berkumpul dengan semuanya.
*sampai saat
ini, belum menemukan lagi alasan untuk keberadaan saya di sini lebih lama lagi.
Yang mulai
bingung,.. maaf kalau menye-menye.. lagi sentisip -F W W-
Langganan:
Postingan (Atom)