2015 : Antara Amal, Dosa, dan Janji

Bicara persoalan “menjadi baik”, nah ini salah satu hal yang gampang-gampang susah. Gampang diucapkan, susah diterapkan. Dan hal ini pula yang menjadi koreksi dan evaluasi selama 2015 (setidaknya hingga tulisan ini diposting).

Desember... penghujung bulan di akhir tahun, selalu seperti itu. Waktunya untuk introspeksi di tahun penanggalan Masehi.  Langsung saja, sepertinya sudah terlalu banyak niatan dan ucapan saya untuk menjadi baik, berhenti berbuat yang tidak baik, dan semuanya lah yang dianggap tidak baik untuk tidak dilakukan. Dan sepertinya sudah terlalu banyak penginngkaran dari niatan dan ucapan itu. Selalu saja ada tindak tanduk, ucapan, pikiran, niatan yang memunculkan hal yang tidak baik. Astaghfirulloh....

Apakah saya masih bisa menjadi pribadi yang lebih baik, andaikan selama ini saya bukanlah seorang yang baik? Katakan, saya ini adalah seorang yang hina. Yang sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit nggak menjaga mulut, sedikit-sedikit bertindak ngawur, sedikit-sedikit bertindak sesuka hati. Nah kan, ujungnya malah jadi banyak bukan sedikit lagi.

Karena benar apa yang pernah saya dengar, tetapi saya lupa mendengarnya dimana. Bahwa manusia itu hanya melihat dampaknya secara langsung (kurang lebih seperti ini). Misalnya, satu perbuatan dosa itu menimbulkan bau busuk maka pasti orang akan berlomba-lomba untuk tidak mengeluarkan bau busuk. Pun dengan amal, andaikan amal itu bisa mendatangkan satu keping emas. Semua orang pasti akan berebut untuk berbuat kebaikan di muka bumi ini.

Problemnya adalah semua itu berkebalikan. Saya dan manusia yang lain seringkali lupa atau bahkan tidak tahu, bahwa amal-amal itu pembalasannya ada di hari akhir. timbanganNya lah yang akan berbicara. Dan itu tidak bisa ditambah atau dikurangi. 

Kesempatan mencari amal ada di dunia dan itu pun bisa melalui cara. Konsekuensinya adalah manusia tidak bisa “merasakan” secara real amal itu di dunia. Hingga akhirnya kita semua seringkali berkubang dalam lumpur dosa.

Sama seperti amal, dosa itu tidak terlihat efeknya. Tanpa sadar orang yang berbangga-bangga dengan dosa masih saja terlihat rapi, terpandang, dan juga berpengaruh. Padahal andaikan dosa itu berbau busuk seperti di atas tadi, ya tidak bisa disembunyikan yang dinamakan dosa itu. Luar biasanya lagi, mayoritas perbuatan dosa adalah perbuatan yang menyenangkan, tidak sesuai dengan kaidah agama maupun hukum manusia.

Dan seperti inilah yang saya khawatirkan, masihkah saya menjadi lebih baik keesokan hari?
Terlalu banyak janji-janji yang baik saya ucapkan maupun saya dengarkan. Rasa kecewa kepada janji itu pasti ada. Entah kecewa karena tidak bisa menepati janji yang diucapkan dan (seringkali) kecewa terhadap janji-janji yang didengarkan. Kalau sudah mendengar ada janji, tetapi dengan embel-embel “katanya” ya wallahu alam. Toh bukan yang ngomong yang berjanji, kan katanya... patut kecewa?

Dimulai dari diri sendiri. Kadang saya pun sering berjanji, entah kepada rekan, orang tua, atasan, dan pacar saya. Dan berkali-kali pula mereka sering saya kecewakan dengan janji yang saya buat. Menjadi hal yang paling sedih apalagi kalo kita sudah bilang ini ternyata jadi itu, bilang itu ternyata jadi ini.

Terakhir, ketika saya sudah berjanji, saya akan berusaha memenuhinya, andai saya gagal, hanya bisa ucapan maaf yang saya berikan berikut penyesalan dari yang paling dalam. Itu janji saya.

Kamu mau sampai kapan jadi orang nggak bener?



there's no more

A l a s a n
Bahkan sampai detik di mana aku mengetik ini, tidak ada lagi yang namanya menemukan sebuah alasan untuk lebih lama lagi di sini. No passion.

Selalu ada yang datang dan selalu ada yang pergi. Bersama semua duka dan tawa. Dan hingga terakhir tinggal aku “sendiri” di sini. Baru merasakan datang dan belum merasakan pergi. Ketika semuanya sudah mulai pergi satu demi satu, semuanya pun berubah satu demi satu, selangkah demi langkah.

Sepi rasanya di sini. Ibarat dua orang berjalan beriringan, tetapi jaraknya puluhan meter. Ibarat satu kepala memiliki dua keinginan, yang satu ingin ke kiri, yang satu ingin ke kanan. Begitu seterusnya.

Dan janji pun tinggal janji. Semua datang dan pergi membawa janji. Janji yang entah kapan ditepati. Atau mungkin janji itu cuma empati. Ironi.

Ini antara meninggalkan melawan ditinggalkan. Bener apa kata orang, lebih sakit berada di pihak yang ditinggalkan. Mungkin belum siap, mungkin belum rela, atau mungkin....

Tetapi, alasan meninggalkan adalah benar. Buat apa berlama-lama di tempat yang bahkan kita sendiri enggan. Toh, pada akhirnya kalau nggak ditinggalkan mungkin akan jadi yang meninggalkan. Dan pertarungan keduanya pun selalu berlanjut.

meninggalkan

atau

ditinggalkan...

dan ini adalah sebuah pilihan yang sulit. Ingin rasanya saya pergi dari tempat ini, dari posisi ini. Tapi, saya tidak tahu akan kemana, apakah nanti akan baik-baik saja saya meninggalkan tempat ini, apakah nanti di tempat baru nanti akan mendapatkan sesuai harapan kita. Ahh..
sudahlah...

saya laki-laki, bisa kalut bisa bingung. Tapi cukup sekali ini saya bingung dan setelah ini tidak ada yang perlu saya bingungkan lagi, karena...
masih tidak ada alasan bagi saya...

*otak saya akhir-akhir ini tidak sehat. Bahkan menyusun beberapa paragraf yang saling terkait saja susah. It’s not a good one.

One-Circus-Man Show

“Kamu pernah nonton sirkus”
“Ya kalo di TV pernah, tapi kalo live belum pernah kayaknya, seingetku. Kenapa?”
“Enggak. Di sini lagi ada sirkus.”
Begitu sebuah percakapan kami di sebuah aplikasi chat, sebuah upaya untuk menghilangkan semua rindu. Diawali dari obrolan yang ringan hingga kadang membahas yang berat. Yang penting setidaknya komunikasi kami selalu terjaga dengan bak.
..................................................................................................................................................
Sementara itu nun jauh di sana, di belahan dunia yang lain. Si pemain sirkus sedang berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya. Tugasnya yaitu membujuk harimau yang beratnya ratusan kilo supaya mau melompat ke dalam lingkaran semacam cincin berdiameter besar. Bukan sembarang lingkaran, lingkaran itu udah dipenuhi dengan api.
Perhatiannya terpusat penuh pada tongkat yang dia gunakan sebagai komando harimau tersebut. Meskipun sudah jinak, dia tidak mau berspekulasi andai harimau itu ngambek dan tiba-tiba menerkamnya. Sesaat kemudian dia menyentakkan tongkatnya ke bawah dan... harimau itu berhasil melewati lingkaran api. Tepuk tangan penonton pun bergemuruh di dalam kubah sirkus tersebut.
Sang pemain sirkus lega dan puas atas aksinya tersebut. Dia memberikan salam kepada penonton kemudian hilang bersama ditutupnya tirai panggung tersebut.

..................................................................................................................................................
“Ramai juga yang datang hari ini. Hasil yang kita dapat bisa sebanyak ini. Hehehe” begitu kekehan seorang tua sambil menepuk-nepuk segepok uang yang ada di tangannya. Kemudian, dia pun membagi 2 uang tersebut kepada pemain sirkus harimau tadi. Tumpukan yag dierikan kepadanya tidak ada setengah. Paling-paling cuma 1/3 dari uang tersebut. Pemain sirkus itu menerimanya dengan senyum simpul.
“Besok kita harus menyiapkan show yang lain. Bagus sekali nak kerjamu hari ini.”
..................................................................................................................................................
Keesokan harinya, pemandangan pun berbeda. Pemain sirkus yang sebelumnya beraksi dengan harimau sekarang sudah bersama dengan anjing laut. Kali ini pekerjaannya cukup mudah, yaitu memberi aba-aba kepada anjing laut supaya beratraksi menjaga keseimbangn sebuah bola di atas mulutnya. Aksi itu diselingi dengan gestur yang kocak. Penonton yang hadir pun tertawa dan bergembira melihat aksi keduanya.



..................................................................................................................................................
“Apalagi ya yang mau aku tampilkan besok? Wah.. susah juga, semua aksi yang aku bisa sudah aku tunjukkan. Apa perlu aku ikut rombongan sirkus yang lain ya...biar penonton di sini juga tidak jenuh. Lagipula, pak tua itu yang selalu dapat lebih. Padahal dia cuma duduk dan tugasnya hanya menukar uang dengan tiket. Enak ya hidupnya.
Ahh.. kemarin waktu show  harimau, tanganku hampir dicakarnya. Belum lagi dengan anjing laut, badanku dibuatnya amis seharian. Hahaha. Ya nggak apa-apa. Daripada aku nggak bisa makan. Cuma itu keahlian yang aku punya. Masih untung ada yang mau menampungku.
Tetapi, rasanya itu semua hilang dengan canda tawa, sorak sorai, dan tepuk tangan dari para penonton. Senang rasanya bisa menghibur mereka. Mengganti uang mereka dengan kepuasan. Pokoknya aku harus bisa lebih baik lagi.”
..................................................................................................................................................
“Oh mau ngajakin nonton sirkus?”
“Ya kalau masih ada. Haha.”

Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan pemain sirkus yang jauh di sana. Sedang ada pertunjukan apa ya hari ini? Apa jangan-jangan dia sudah.... ah sudahlah... dia pasti baik-baik saja.

Carut Marut VR46 vs MM93 (dan JL99)

Oke, sekali-kali nulis yang up to date. Lagi pada rame ngomongin MotoGP 2015 yang tahun ini tentunya banyak intrik dan drama. Pada klimaksnya, tahun ini dimenangkan oleh Jorge Lorenzo. Gelar juaranya yang ke-3 di kelas MotoGP (sebelumnya pada tahun 2010 dan 2012), setelah memenangi race terakhir di sirkuit Ricardo Tormo, Valencia. Kemenangan di race tersebut membuatnya mengangkangi Valentino Rossi dari posisi puncak. Tepat di race terakhir. Ya, Rossi hanya bisa finish di posisi 4. Di belakang 3 rider tuan rumah. Itu pun setelah dia harus start dari posisi paling belakang. Yah, apapun itu... selamat kepada JL99 yang telah berhasil memenangi tahun ini.

Yang menjadi perdebatan adalah munculnya beragam pendapat dari para netizen. Ada yang bilang harusnya Rossi yang juara dan ada yang bilang Lorenzo juga pantas jadi juara. Jadi? Siapa yang pantas dong? Berikut ini adalah statistik head to head antara kedua kandidat tersebut (kalo nggak salah hitung):

Rossi : 18 race à 15x podium, 4x juara
Jorge : 18 race à 12x podium, 7x juara, 1x tidak finish

Terserah.. menurut Anda siapa yang paling pantas juara? Semua memiliki sudut pandang dan pendapat masing-masing. Nggak bakal selesai kalo eyel-eyelan.
Yang jadi sorotan adalah, mengapa Marc Marquez juga turut disebut? Dia-nya saja sudah tidak ada peluang di musim ini. Banyaknya crash dan ketidakberuntungan membuatnya harus menjadi pelengkap di antara kedua pembalap tersebut. Tetapi, bukan sekedar pelengkap.. Marquez mungkin menjadi aktor utama di antara keduanya, terutama “dendam” kepada The Doctor.

Bermula dari insiden di seri ke 3 di Argentina. Duel sengit antara Rossi vs Marquez, dan pada suatu manuver dari The Doctor “menyebabkan” The Baby Alien harus out of race.

Insiden berlanjut pada seri Assen, Belanda. Lagi-lagi keduanya terlibat duel sengit hingga last lap. Pada sebuah tikungan ganda, motor mereka bersenggolan sehingga Rossi melintas kencang melewati Gravel, dan ajaibnya dia malah menjadi juara 1.

Mungkin akibat kedua insiden ini, Marquez menjadi dongkol. Alih-alih ikut persaingan Rossi vs Loenzo, Marquez malah sering jatuh dan cedera. Dan setelah kepastian dia tidak bisa meraih gelar juara, dia mulai mendukung kompatriot se-negaranya. Lorenzo.

Tibalah pada race ke-15, seri Phillip Island, Australia. Race yang (katanya) terbaik di musim ini, mempertontonkan aksi ciamik untuk merebut juara 1. Ya, 4 rider sekaligus yang berpeluang memenangi race ini. Marquez, Lorenzo, Iannone, dan Valentino. Terlihat sangat jelas bahwa ketika Rossi berhasil menyodok untuk mendekati Lorenzo, Marquez sengaja melakukan cara balap yang aneh (entah melambat atau ada gangguan pada motornya). Hingga Rossi tampak kesulitan pada beberapa manuvernya. Hingga akhirnya Rossi hanya bertarung dengan Iannone. Marquez hanya membayangi Lorenzo. Dan pada beberapa tikungan terakhir, tiba-tiba Baby Alien “mengeksekusi” Lorenzo untuk mengambil podium pertama. Misi sukses. Marquez juara 1 dan Lorenzo finish di depan Rossi yang hanya finish di urutan 4.

Belum selesai di situ, race di Sepang, Malaysia sepekan sesudahnya menjadi saksi bagaimana duel sengit hingga berujung konflik. Rossi terlihat sibuk dengan Marquez di setiap tikungannya. Sementara itu Lorenzo melesat jauh meninggalkan mereka berdua. Perebutan tempat ketiga berlangsung sangat sengit, sampai pada suatu kesempatan Rossi berhasil menyalip Marquez dan memberikan lambaian. Entah apa maknanya. Apakah itu peringatan atau itu sebuah ejekan provokasi. Dan sampailah pada sebuah tikungan di mana, Rossi menoleh seolah-olah menunggu Marquez. Sedikit melebar dari jalurnya dan Marquez memaksa masuk. Dan. Boom.. Marquez terjatuh setelah menyundul/ditendang Rossi (monggo yang punya analisis). Dan seakan sudah pasrah, Marquez kembali ke paddock. Puncaknya

Beberapa tayangan ulang menampakkan bahwa kaki kiri Vale bergerak menendang Marquez, ada juga yang menampakkan Marquez lah yang menyundul Rossi. Rossi mengaku kakinya selip di footstep motornya, Marquez merasa Rossi sengaja menendangnya. Entah. Hanya Rossi dan Marquez yang tahu. Pada akhirnya Jorge tetap melaju mulus hingga finish dan semakin memperkecil jarak.

Drama berlanjut di podium, saat Rossi menerima trophy. Terlihat Jorge mengeluarkan gestur yang “luar biasa”. Saat seremoni sampanye pun Jorge langsung ngacir pergi. Entah karena mungkin di Sepang banyak fans The Doctor, dan dia mendapat hujatan atas aksinya tersebut. Buntut dari jatuhnya Marquez adalah diberikannya poin pinalty bagi Rossi sebanyak 3 poin dan genaplah sudah pinalti Rossi menjadi 4 setelah sebelumnya mendapat 1 poin saat di Misano. Itu artinya apapun hasil kualifikasi Rossi, dia harus start dari posisi paling buncit.

Dua pekan kemudian. Semua mata menuju ke Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol. Lorenzo yang di kualifikasi tampil luar biasa menghasilkan pole position saat start. Dan Rossi harus berada di baris paling belakang. Start dimulai dan...

Tiba-tiba Rossi masuk melesat ke dalam, mengiris beberapa rider. Seolah seperti membuka jalan, rider-rider lain dilibas satu demi satu. Hanya Espargaro bersaudara yang terlihat ngotot membalap dengan normal. Tiba di pertengahan race, Rossi sudah berada di posisi 4 tetapi rombongan 3 besar sudah sangat jauh.

Di depan terlihat sangat monoton. Lorenzo yang tampil brilian seperti mendapat kawalan dari Marquez yang hanya menguntitnya lap demi lap. Mungkin, dia ingin memakai strateginya terdahulu, mengeksekusi Jorge di lap-lap terakhir. Luar biasanya, Pedrosa yang seperti menemukan ritme berhasil mendekati Marquez. Marquez yang sepanjang lap terlihat kalem, tiba-tiba menjadi beringas. Seolah seperti penjaga ada pengganggu yang mendekati tuannya. Jorge semakin jauh, dan duel terjadi sesama duo Honda. Dan tibalah Jorge pada garis finish untuk mengunci gelar juara dengan keunggulan 5 poin dari seniornya.

Hikmah yang dapat diambil dari musim ini adalah:
1.       Seharusnya Jorge Lorenzo lebih fokus kepada balapannya. Terlihat di beberapa kesempatan Lorenzo mengintimidasi pada persidangan Rossi di CAS. Dan terlalu banyak berkomentar soal perseteruan Rossi vs Marquez, seperti seorang kakak membela adiknya. Gestur terakhir pada podium Sepang juga menunjukkan betapa tidak ada respect dia kepada rekan setim.
2.       Valentino Rossi, sebagai pembalap senior yang sudah banyak pengalaman seharusnya tidak terpancing provokasi dari pembalap muda. Yah namanya emosi,. Semua sudah terlanjur, perjuangannya memuncaki klasemen pembalap di 17 race harus musnah karena sebuah kesalahan. Pupus sudah gelar ke-10.
3.       Marc Marquez, masa depannya masih panjang. Gelar demi gelar bisa diraih. Namun, di tahun ini sepertinya dia menjadi tokoh antagonis. Setelah perseteruannya dengan The Doctor. Mesti harus menjaga fokus dan sportivitas.
4.       Daniel Pedrosa, pembalap yang dari dulu selalu diunggulkan di awal musim tetapi selalu gagal menjawab ekspektasinya itu. Komentarnya di Sepang merupakan komen yang netral dimana saat itu dia mengeluarkan pernyataan “membalaplah untuk dirimu sendiri”. Tidak membela Vale dan tidak menyudutkan Marc. Satu-satunya pembalap yang tulus membalap.

Dan saya pribadi membayangkan apabila Casey Stoner masih membalap. Pembalap favorit saya yang tidak kalah garangnya ini mungkin juga akan menyikat Marc yang ibaratnya masih ingusan. Stoner tidak segan-segan “menegur” pembalap lain dengan blak-blakan.

Satu lagi, andai mendiang Marco Simoncelli juga masih hidup. Mungkin di seri terakhir, dia tidak segan-segan menabrak Marc demi membuka peluang buat Rossi. Nekad ketemu nekad.
Inilah hasilnya, apapun itu... terima kasih MotoGP 2015 sudah menyajikan aliran adrenalin yang tidak henti, dari awal hingga akhir.


pernyataan Vale pada situs resmi MotoGP

Kesempatan Kedua dalam Seharian Ini (yang sangat sepi)

Pusing kembali
Sebelumnya... Nggak pernah ngerasa se-sepi dan se-bosen ini. Gejalanya udah ada sejak beberapa bulan lalu sih. Ketika, makin kes ini semuanya seperti berpencar. Nggak ada satu visi, satu misi, satu tujuan. Semuanya ingin selamat sendiri-sendiri. Menurut mu/kalian, Saya nggak mau selamat? Bukan gitu caranya... Setelah apa yang kita lalui bersama sejauh ini dan yang sudah saya usahakan (?) tentunya kita semua ingin itu semua lancar tanpa masalah di kemudian hari.

Mungkin enak bagi kalian yang dapat pekerjaan dekat dengan keluarga. Bisa pulang lihat kondisi rumah dan keluarga. Tapi itu nggak bisa dijadikan alasan buat kerja malas-malasan. Kali ini sudah kelewatan. Saya memang bodoh dan gampang ditipu, tetapi dengan pemikiran yang nggak maju seperti ini semoga saja dibukakan pintu hati untuk kembal ke jalan yang benar. Atau mungkin sepeninggal saya nanti, akan ada yang lebih enak mengarahkan daripada saya yang hanya sekedar marah-marah dan minta ini itu. Perlu untuk jadi, saya seperti itu karena nggak mau ada yang disalahkan. Oke kalo yang disalahkan saya, beres. Coba kalo bukan saya. Cuma omongan di belakang yang nantinya memperburuk keadaan.

Pernah nggak mikir kerjaan sampai yang udah parah gitu? Tiap sejam kebangun, merem lagi, kebangun lagi. Rasanya, sampe detik ini cuma saya (yang kadang) lebih mikir tempat kerja ini. Entah yang lain mungkin juga ada yang lebih dari saya, atau bahkan ada yang nggak sama sekali? Mungkin kalau saya di posisi seperti itu (kerja dekat keluarga), saya juga bakal jadi malas kerja. Semoga enggak!

Bukan membanggakan diri ketika pimpinan di sini pernah memuji saya “Contoh tuh si Wisnu, ada surat masuk, dibaca, langsung dikerjakan, nggak usah nunggu saya disposisi ke dia”Ya iyalah... waktu itu saya di sini sendiri. Pikiran saya adalah saya nggak mau repot di kemudian hari sehingga pokoknya semua harus selesai sesegera mungkin. Kerjaan di sini seringnya tidak terduga. Ketika jam 3 sore kita udah bikin “to do list” buat keesokan harinya, eh mesin fax berbunyi dan isinya mengharuskan untuk melakukan safari jam 4 pagi. Maka dari itu, semua pekerjaan yang berpotensi “merepotkan” harus segera dihabisi. bahkan saat Weekend, kalau nggak pulang ke ibukota, saya lebih banyak duduk di meja kerja, ngecek apa yang belum beres, belum rapi. Satpam saya bahkan sampai geleng-geleng dan menegur "Makan tuh kerjaan, jangan sampai mati karena kerja Mas" haha.. asem.

Dan ketika semua kebosanan dan kesepian jadi satu di kepala, jadi makin kangen sama yang jauh di sana. Terutama sama Bapak, Ibu, dan Dik Pacar. Namun, rasanya di sini udah kebiasa sepi. Ditelpon Bapak sama Ibu cuma bisa denger pesen-pesen mereka kasih semangat, sama nanyain kapan pulang, dan tentunya cerita bahagia di rumah (semoga mereka semua sehat di sana). Alhamdulillah masih ada kakak di rumah yang nemenin di rumah dan si keponakan susah buat ngomong ditelpon. Sekalinya mau ngomong yang ditanyain adalah: kapan pulang, beliin mainan. Hahaha. Bikin kangen semuanya.

Masih ada satu lagi, rindu yang tidak kalah spesial buat Dik Pacar. Beliaunya lagi nggak bisa lama-lama diganggu. Hari pertempuran sudah dekat. Harus bisa sabar buat jaga fokus dia. Aku sendiri yang bilang gakpapa kalo agak dikurangi dan kali ini aku yang ngerasa lebih sepi aja. But, it doesn’t matter. Demi cita-cita kita semua, Bismillah bisa sabar. Semoga belajarmu membawa hasil yaa... aku disini selalu nungguin kamu, nggak ada di pikiran aku buat nyuekin atau bahkan kemana-mana. Kalo kadang aku ngerasa sepi itu karena salahku aja yang kurang kegiatan. Haha.

Intinya...
Semua harus dijalani dengan ikhlas, tanpa keluhan, dan berikan yang terbaik. (Lagi-lagi) seperti sesuatu yang ideal dan gampang. Manusia... melesetnya, bolehlah sedikit nggak ikhlas, sedikit mengeluh, sedikit malas. Tapi ingat, hanya sedikit. Setelah udah dapet yang sedikit itu tetep harus kembali ke jalan yang benar dan berdoa supaya bisa pulang lagi ke sana. Berkumpul dengan semuanya.

*sampai saat ini, belum menemukan lagi alasan untuk keberadaan saya di sini lebih lama lagi.
Yang mulai bingung,.. maaf kalau menye-menye.. lagi sentisip -F W W-


tidak
nyaman
lagi
tapi
nggak
boleh
mengeluh
kudu
tetep
kuat
dan
sehat
jangan
sakit
ini
apa
sih
ya
ruwet

Edisi Rindu

Walau jarak terpisah, kau tetap milikku
Bayangan dirimu slalu kurindu...
Tlah kuterima surat darimu, kucoba membaca dan memahaminya
Bunga cinta...
Sungguh senang hatiku, dilanda asmara cintamu
Kekasihku...
Biarkan cintamu tercurahkan hanya untukku dan tertuliskan semua teruntukku
Kutulis indah balasan suratmu untuk dirimu yang slalu kurindu

Sebuah lagu yang mungkin cuma aku dan generasi pecinta musik Indonesia 2000-an awal yang tau siapa yang nyanyiin lagu ini. Bahkan lagu ini nggak ada video klipnya. Maklum, lagu yang lebih populer di pasaran (pada eranya) yaitu yang berjudul Lagu Untukmu dan Tak Harus Miliki.

Musik pop Indo yang ringan dan diselingi oleh hentakan dangdut yang membuat lagu ini terasa unik. Lagu ini menggambarkan sebuah kerinduan dua sejoli yang hanya bisa saling tersalurkan melalui sebuah surat. Zaman segitu yang pegang hape mungkin masih sedikit, jadi media persuratan dengan perangko menjadi idola.

Sekarang, zaman sudah modern. Dari yang sekedar surat, sekarang bisa sms, atau berhubungan pake media sosial lain.
Tinggal bagaimana menggunakannya dengan bijak. Kebanyakan pakai media sosial, nanti dikira mengumbar-umbar kemesraan -,-“. Ya kalo aku sih, cukup nampilin foto aku sama pacar buat nunjukin,, ini lho aku udah ada, ini lho dia udah ada. Bukan pamer ya, ya sekedar ngasih warning aja buat yang lain.
  
Lucu rasanya kalo aku bilang sama dia “aku kangen” tiap hari. Yang ada malah dia nya bosen. Tapi, jujur... Begitulah adanya... dan kadang hal ini buat fokusku sedikit goyang. Resiko tanggung penumpang. Dan jam segini biasanya beliau baru belajar (kalo nggak ketiduran ya).

Malam ini kangenku spesial, karena mungkin malam ini begitu banyak godaan yang ada. Dan jujur saja, nggak bohong. Tips saya mengilangkan godaan itu adalah...

Berhenti sejenak, menarik napas panjang, memejamkan mata, sambil bayangin betapa beruntungnya aku bisa punya kamu. Kamu, yang masih mau nerima sampah macam ini. Semoga maki kesana kamu nggak makin ilfil sama sampah yang makin lama makin keliatan busuknya.

Beruntungnya aku bisa ketawa sama-sama, bisa merangkai mimpi sama-sama. Yah meskipun hubungan kami masih seumur jagung, tapi aku percaya kamu yang terakhir buat aku, Bismillah. Hanya tinggal butuh waktu saja (padahal jek suwi, tapi ojo suwi-suwi) dan saling jaga kepercayaan.

Ngomongin kepercayaan, ada yang mau aku bilang soal LPJ. Kamu bilangnya LPJ kan :p. LPJ ku kali ini seharusnya aku cerit ke kamua soal yang kemarin, soal yang kemungkinan bakal ngeganggu pikiran aku, ganggu keyakinan aku. Yah, dan ternyata si mbak yang itu beracara di hotel yang sama dengan aku.

Aku cerita gini sungguh bukan keyakinanku goyah, aku hanya mau menyampaikan apa yang seharusnya menjadi laporanku padamu. Entah, aku belum tau apa reaksimu. Aku nggak mau ganggu fokus belajar kamu. Dan aku, satu pun nggak berpikir macam-macam. Ya kalo ini diriku 5 tahun yang lalu, kamu boleh makin curiga sama aku. Tapi kini, petualanganku sudah dihampir ujung jalan. Nggak mungkin aku balik lagi ke titik start.

Jujur saja, kamu boleh marah kalo emang kamu ngeliat ada yang salah sama aku. Tetapi setidaknya aku sudah terus terang. Terus terang itu sepele tapi susah. Bukan perkara bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak. Itulah kejujuran. Dan aku selalu lebih memilih kamu, yang bisa jaga emosi aku. Yang selalu bisa membuat aku sadar, membuat aku semangat.

Last, dan aku selalu mencoba untuk menjadi lebih, lebih, dan lebih memantaskan diri buat kamu...

Semangat belajar ya,, habis ini Line an lagi.

walau jarak terpisah, kau tetap milikku...