Oke, sekali-kali
nulis yang up to date. Lagi pada rame ngomongin MotoGP 2015 yang tahun ini
tentunya banyak intrik dan drama. Pada klimaksnya, tahun ini dimenangkan oleh
Jorge Lorenzo. Gelar juaranya yang ke-3 di kelas MotoGP (sebelumnya pada tahun
2010 dan 2012), setelah memenangi race terakhir di sirkuit Ricardo Tormo,
Valencia. Kemenangan di race tersebut membuatnya mengangkangi Valentino Rossi
dari posisi puncak. Tepat di race terakhir. Ya, Rossi hanya bisa finish di
posisi 4. Di belakang 3 rider tuan rumah. Itu pun setelah dia harus start dari
posisi paling belakang. Yah, apapun itu... selamat kepada JL99 yang telah
berhasil memenangi tahun ini.
Yang menjadi
perdebatan adalah munculnya beragam pendapat dari para netizen. Ada yang bilang
harusnya Rossi yang juara dan ada yang bilang Lorenzo juga pantas jadi juara. Jadi?
Siapa yang pantas dong? Berikut ini adalah statistik head to head antara kedua
kandidat tersebut (kalo nggak salah hitung):
Rossi : 18 race à 15x podium, 4x juara
Jorge : 18 race à 12x podium, 7x juara,
1x tidak finish
Terserah..
menurut Anda siapa yang paling pantas juara? Semua memiliki sudut pandang dan
pendapat masing-masing. Nggak bakal selesai kalo eyel-eyelan.
Yang jadi
sorotan adalah, mengapa Marc Marquez juga turut disebut? Dia-nya saja sudah tidak
ada peluang di musim ini. Banyaknya crash dan ketidakberuntungan membuatnya
harus menjadi pelengkap di antara kedua pembalap tersebut. Tetapi, bukan
sekedar pelengkap.. Marquez mungkin menjadi aktor utama di antara keduanya,
terutama “dendam” kepada The Doctor.
Bermula dari
insiden di seri ke 3 di Argentina. Duel sengit antara Rossi vs Marquez, dan pada
suatu manuver dari The Doctor “menyebabkan” The Baby Alien harus out of race.
Insiden
berlanjut pada seri Assen, Belanda. Lagi-lagi keduanya terlibat duel sengit
hingga last lap. Pada sebuah tikungan ganda, motor mereka bersenggolan sehingga
Rossi melintas kencang melewati Gravel, dan ajaibnya dia malah menjadi juara 1.
Mungkin akibat
kedua insiden ini, Marquez menjadi dongkol. Alih-alih ikut persaingan Rossi vs
Loenzo, Marquez malah sering jatuh dan cedera. Dan setelah kepastian dia tidak
bisa meraih gelar juara, dia mulai mendukung kompatriot se-negaranya. Lorenzo.
Tibalah pada
race ke-15, seri Phillip Island, Australia. Race yang (katanya) terbaik di
musim ini, mempertontonkan aksi ciamik untuk merebut juara 1. Ya, 4 rider
sekaligus yang berpeluang memenangi race ini. Marquez, Lorenzo, Iannone, dan
Valentino. Terlihat sangat jelas bahwa ketika Rossi berhasil menyodok untuk
mendekati Lorenzo, Marquez sengaja melakukan cara balap yang aneh (entah
melambat atau ada gangguan pada motornya). Hingga Rossi tampak kesulitan pada
beberapa manuvernya. Hingga akhirnya Rossi hanya bertarung dengan Iannone. Marquez
hanya membayangi Lorenzo. Dan pada beberapa tikungan terakhir, tiba-tiba Baby
Alien “mengeksekusi” Lorenzo untuk mengambil podium pertama. Misi sukses.
Marquez juara 1 dan Lorenzo finish di depan Rossi yang hanya finish di urutan
4.
Belum selesai
di situ, race di Sepang, Malaysia sepekan sesudahnya menjadi saksi bagaimana
duel sengit hingga berujung konflik. Rossi terlihat sibuk dengan Marquez di
setiap tikungannya. Sementara itu Lorenzo melesat jauh meninggalkan mereka
berdua. Perebutan tempat ketiga berlangsung sangat sengit, sampai pada suatu
kesempatan Rossi berhasil menyalip Marquez dan memberikan lambaian. Entah apa
maknanya. Apakah itu peringatan atau itu sebuah ejekan provokasi. Dan sampailah
pada sebuah tikungan di mana, Rossi menoleh seolah-olah menunggu Marquez. Sedikit
melebar dari jalurnya dan Marquez memaksa masuk. Dan. Boom.. Marquez terjatuh
setelah menyundul/ditendang Rossi (monggo yang punya analisis). Dan seakan
sudah pasrah, Marquez kembali ke paddock.
Puncaknya
Beberapa tayangan
ulang menampakkan bahwa kaki kiri Vale bergerak menendang Marquez, ada juga
yang menampakkan Marquez lah yang menyundul Rossi. Rossi mengaku kakinya selip
di footstep motornya, Marquez merasa Rossi sengaja menendangnya. Entah. Hanya Rossi
dan Marquez yang tahu. Pada akhirnya Jorge tetap melaju mulus hingga finish dan
semakin memperkecil jarak.
Drama berlanjut
di podium, saat Rossi menerima trophy. Terlihat Jorge mengeluarkan gestur yang “luar
biasa”. Saat seremoni sampanye pun Jorge langsung ngacir pergi. Entah karena
mungkin di Sepang banyak fans The Doctor, dan dia mendapat hujatan atas aksinya
tersebut. Buntut dari jatuhnya Marquez adalah diberikannya poin pinalty bagi
Rossi sebanyak 3 poin dan genaplah sudah pinalti Rossi menjadi 4 setelah
sebelumnya mendapat 1 poin saat di Misano. Itu artinya apapun hasil kualifikasi
Rossi, dia harus start dari posisi paling buncit.
Dua pekan
kemudian. Semua mata menuju ke Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol.
Lorenzo yang di kualifikasi tampil luar biasa menghasilkan pole position saat
start. Dan Rossi harus berada di baris paling belakang. Start dimulai dan...
Tiba-tiba Rossi
masuk melesat ke dalam, mengiris beberapa rider. Seolah seperti membuka jalan,
rider-rider lain dilibas satu demi satu. Hanya Espargaro bersaudara yang
terlihat ngotot membalap dengan normal. Tiba di pertengahan race, Rossi sudah
berada di posisi 4 tetapi rombongan 3 besar sudah sangat jauh.
Di depan
terlihat sangat monoton. Lorenzo yang tampil brilian seperti mendapat kawalan
dari Marquez yang hanya menguntitnya lap demi lap. Mungkin, dia ingin memakai
strateginya terdahulu, mengeksekusi Jorge di lap-lap terakhir. Luar biasanya,
Pedrosa yang seperti menemukan ritme berhasil mendekati Marquez. Marquez yang
sepanjang lap terlihat kalem, tiba-tiba menjadi beringas. Seolah seperti
penjaga ada pengganggu yang mendekati tuannya. Jorge semakin jauh, dan duel
terjadi sesama duo Honda. Dan tibalah Jorge pada garis finish untuk mengunci
gelar juara dengan keunggulan 5 poin dari seniornya.
Hikmah yang
dapat diambil dari musim ini adalah:
1.
Seharusnya Jorge Lorenzo lebih fokus kepada
balapannya. Terlihat di beberapa kesempatan Lorenzo mengintimidasi pada
persidangan Rossi di CAS. Dan terlalu banyak berkomentar soal perseteruan Rossi
vs Marquez, seperti seorang kakak membela adiknya. Gestur terakhir pada podium
Sepang juga menunjukkan betapa tidak ada respect dia kepada rekan setim.
2.
Valentino Rossi, sebagai pembalap senior yang
sudah banyak pengalaman seharusnya tidak terpancing provokasi dari pembalap
muda. Yah namanya emosi,. Semua sudah terlanjur, perjuangannya memuncaki
klasemen pembalap di 17 race harus musnah karena sebuah kesalahan. Pupus sudah
gelar ke-10.
3.
Marc Marquez, masa depannya masih panjang. Gelar
demi gelar bisa diraih. Namun, di tahun ini sepertinya dia menjadi tokoh
antagonis. Setelah perseteruannya dengan The Doctor. Mesti harus menjaga fokus
dan sportivitas.
4.
Daniel Pedrosa, pembalap yang dari dulu selalu
diunggulkan di awal musim tetapi selalu gagal menjawab ekspektasinya itu. Komentarnya
di Sepang merupakan komen yang netral dimana saat itu dia mengeluarkan
pernyataan “membalaplah untuk dirimu sendiri”. Tidak membela Vale dan tidak
menyudutkan Marc. Satu-satunya pembalap yang tulus membalap.
Dan saya pribadi
membayangkan apabila Casey Stoner masih membalap. Pembalap favorit saya yang
tidak kalah garangnya ini mungkin juga akan menyikat Marc yang ibaratnya masih
ingusan. Stoner tidak segan-segan “menegur” pembalap lain dengan blak-blakan.
Satu lagi, andai
mendiang Marco Simoncelli juga masih hidup. Mungkin di seri terakhir, dia tidak
segan-segan menabrak Marc demi membuka peluang buat Rossi. Nekad ketemu nekad.
Inilah hasilnya,
apapun itu... terima kasih MotoGP 2015 sudah menyajikan aliran adrenalin yang
tidak henti, dari awal hingga akhir.
 |
pernyataan Vale pada situs resmi MotoGP |