Drop

Capek. Ya begitulah. Capek yang patut buat disyukuri. Lagi-lagi karena urusan kerjaan. Prinsipnya adalah banyak kerjaan, banyak capek, berarti masih banyak rezeki. Rezeki buat nambah rekening, rezeki buat nambah ilmu, nambah pengalaman, nambah kawan.. dan rezeki buat pulang.. insya alloh

Capek yang kadang kebablasan, akhirnya diingatkan sama yang di atas. Fisik (dan jiwa) yang diberikannya akhirnya ambruk. Overuse. Memang terkadang,, kadang ya,, selalu saja ada yang harus saya paksakan.

Kini, seminggu sudah. Bertubi-tubi. Dari flu berat, panas dingin, suara berubah, batuk berkepanjangan, kepala pusing. Segala upaya sudah dilakukan. Konsultasi, minum obat, makan banyak, bobok yang cukup. Bismillah. Seminggu sudah cukup.


#kejarsetoran #sibukkerja

Late Holiday, Early Happiness

And… the holiday is over…
Setelah seminggu berkutat dengan penyusunan LK tingkat Satker. Termasuk senior juga ya udah sampe season ke-5. Rasanya campur aduk. Seneng, sedih, kesel, bahagia. Semua jadi satu Semoga ini yang terakhir dan terbaik. Haha. Sedikit cerita tentang penyusunan LK ini, kalo boleh. Saya di Bandar Lampung seminggu, rencana buat senang-senang sama mantan satpam kantor pun hanya bisa semalam saja. Itu masih dibarengi dengan capek dan ngantuk luar biasa. Huft. Yah ndakpapa lah, lain kali kita nogkrong-nongkrong lagi yo mas.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Dan tibalah saat pulang ke Semarang. Ambil cuti 5 hari kerja sebagai pengganti libur akhir tahun. Rehat sejenak dari urusan kantor, bertemu dengan keluarga, bertemu dengan pacar. Yah diharapkan nantinya pas kembali ke meja kerja bisa lebih fokus dan semangat. Bismillah.
Seminggu di Semarang dan tiap hari ketemu kamu, rasanya masih terlalu cepat. (Harusnya) masih banyak lagi kegembiraan-kegembiraan yang bisa kita bagi bersama. Tapi nggaktau nek nanti kamu malah bosen. Hikks. Rangkaian cerita yang hanya bisa lewat telepon beberapa jam, rasanya tidak sebanding dengan obrolan langsung denganmu. Candamu, tawamu, wajah sebelmu, wajah kusutmu,, rasanya itu semua pengen bisa ada di hari-hariku.
 “Kalo bisa ada progress ya di tahun ini? Kamu mau gini-gini aja?”
“Progress gimana?”
Yah… bahkan aku nggak bisa membelamu saat ibuku tercinta menanyakan itu padamu. Kamu pasti lihat raut bahagia di tiap senyum ibuku dan pancaran semangat di mata bapakku. Aku nggak perlu lagi bilang “Bapak sama Ibu sudah kasih lampu hijau”
“Sambil jalan ya….”
Bapak sama ibu sekarang sudah tahu apa yang menjadi programmu, tetapi dengan persiapan yang bisa lebih dini bukannya itu lebih baik #eh
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Selain liburan, momen bersejarah yang lain adalah kegembiraanku bisa melihat kamu menyelesaikan pendidikanmu. Lama menunggu namamu dipanggil akhirnya fotomu terpampang lebar di bigscreen dan dari jauh aku melihatmu melangkahkan kaki untuk menerima ucapan selamat dari rektor kampus.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“Nggak kelihatan og,, podo kabeh wonge” begitu komentar ibumu sambil tersenyum bahagia.
Yah meskipun tidak kelihatan, ibu dan bapakmu pasti bangga bisa melihat anaknya sekarang sudah menyandang gelar “dr.” di depan namanya. Berterima kasihlah kepada beliau berdua, semuanya tak lepas dari usaha beliau hingga kamu bisa ada di posisi seperti ini. Bapak rela jauh dari keluarga demi bisa membayar ongkos kuliah. Ibu yang tentunya tidak henti-hentinya berdoa di setiap habis sholat fardhu maupun sunnahnya. Sungguh sebuah tauladan keluarga yang (terbukti) menghasilkan anak yang sholehah, bermanfaat bagi orang sekitar, agama, dan negaranya. Amiin.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Saatnya jalan-jalan….
“Besok mau kemana? Makan keluar yuk! Yuk main kesana, katanya kamu belum pernah. Nonton ini yuk”
Dan menghabiskan waktu denganmu adalah bahagiaku. Mumpung aku bisa pulang. Saatnya jalan-jalan, lupain pekerjaan dan jaga. Tiba-tiba kamu jadi anak ngehits, dan aku menjadi tertuduh yang katanya pengen foto-foto. Haha. Foto aja sering ndangak dan bingung pose meh piye. Yang penting setiap kegembiraan bisa kita ingat dalam memori, buat cerita nanti dan juga buat nyombong sama temen-temen #halah
Jepret-jepret di semua penjuru dan hasilnya yaah bisa dilihat di memori hape dan laptop. Haha. Makasih ya sayang, kamu mau meluangkan waktumu.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Karena setiap perbuatan pasti ada kekurangan. Maaf yah kalo aku pulang masih aja ngambek, masih ada yang sekiranya buat kamu kurang berkenan. Sama-sama belajar dan sabar buat ngejalanin hubungan ini. Bismillah. Bismillah. Bismillah.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Inget ya beberapa hari dari sekarang, titipanku itu dibuka. Harus sama Beki bukanya, dan harus ada aku lewat telepon. Haha. Aku mau denger ketawamu. Udah yaah, liburan telah usai. Nyari uang dulu buat sewa gedung sama pesen catering #eh
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Cuma segini ya kualitas tulisan dari yang katanya dapet juara harapan 3 dengan peserta 6 orang (mungkin) hahaha….


Salah satu catatan statistik pribadi saya. Iseng-iseng aja sih, setidaknya di 2015 masih diberi kesibukan untuk wara-wari kesana dan kesini. Semoga di tahun-tahun yang akan datang bisa menjadi lebih baik lagi. Dikurangin deg-degannya, was-wasnya, dan semoga selalu diberi kelancaran baik menuju maupun pergi dari Semarang.

2015 : Antara Amal, Dosa, dan Janji

Bicara persoalan “menjadi baik”, nah ini salah satu hal yang gampang-gampang susah. Gampang diucapkan, susah diterapkan. Dan hal ini pula yang menjadi koreksi dan evaluasi selama 2015 (setidaknya hingga tulisan ini diposting).

Desember... penghujung bulan di akhir tahun, selalu seperti itu. Waktunya untuk introspeksi di tahun penanggalan Masehi.  Langsung saja, sepertinya sudah terlalu banyak niatan dan ucapan saya untuk menjadi baik, berhenti berbuat yang tidak baik, dan semuanya lah yang dianggap tidak baik untuk tidak dilakukan. Dan sepertinya sudah terlalu banyak penginngkaran dari niatan dan ucapan itu. Selalu saja ada tindak tanduk, ucapan, pikiran, niatan yang memunculkan hal yang tidak baik. Astaghfirulloh....

Apakah saya masih bisa menjadi pribadi yang lebih baik, andaikan selama ini saya bukanlah seorang yang baik? Katakan, saya ini adalah seorang yang hina. Yang sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit nggak menjaga mulut, sedikit-sedikit bertindak ngawur, sedikit-sedikit bertindak sesuka hati. Nah kan, ujungnya malah jadi banyak bukan sedikit lagi.

Karena benar apa yang pernah saya dengar, tetapi saya lupa mendengarnya dimana. Bahwa manusia itu hanya melihat dampaknya secara langsung (kurang lebih seperti ini). Misalnya, satu perbuatan dosa itu menimbulkan bau busuk maka pasti orang akan berlomba-lomba untuk tidak mengeluarkan bau busuk. Pun dengan amal, andaikan amal itu bisa mendatangkan satu keping emas. Semua orang pasti akan berebut untuk berbuat kebaikan di muka bumi ini.

Problemnya adalah semua itu berkebalikan. Saya dan manusia yang lain seringkali lupa atau bahkan tidak tahu, bahwa amal-amal itu pembalasannya ada di hari akhir. timbanganNya lah yang akan berbicara. Dan itu tidak bisa ditambah atau dikurangi. 

Kesempatan mencari amal ada di dunia dan itu pun bisa melalui cara. Konsekuensinya adalah manusia tidak bisa “merasakan” secara real amal itu di dunia. Hingga akhirnya kita semua seringkali berkubang dalam lumpur dosa.

Sama seperti amal, dosa itu tidak terlihat efeknya. Tanpa sadar orang yang berbangga-bangga dengan dosa masih saja terlihat rapi, terpandang, dan juga berpengaruh. Padahal andaikan dosa itu berbau busuk seperti di atas tadi, ya tidak bisa disembunyikan yang dinamakan dosa itu. Luar biasanya lagi, mayoritas perbuatan dosa adalah perbuatan yang menyenangkan, tidak sesuai dengan kaidah agama maupun hukum manusia.

Dan seperti inilah yang saya khawatirkan, masihkah saya menjadi lebih baik keesokan hari?
Terlalu banyak janji-janji yang baik saya ucapkan maupun saya dengarkan. Rasa kecewa kepada janji itu pasti ada. Entah kecewa karena tidak bisa menepati janji yang diucapkan dan (seringkali) kecewa terhadap janji-janji yang didengarkan. Kalau sudah mendengar ada janji, tetapi dengan embel-embel “katanya” ya wallahu alam. Toh bukan yang ngomong yang berjanji, kan katanya... patut kecewa?

Dimulai dari diri sendiri. Kadang saya pun sering berjanji, entah kepada rekan, orang tua, atasan, dan pacar saya. Dan berkali-kali pula mereka sering saya kecewakan dengan janji yang saya buat. Menjadi hal yang paling sedih apalagi kalo kita sudah bilang ini ternyata jadi itu, bilang itu ternyata jadi ini.

Terakhir, ketika saya sudah berjanji, saya akan berusaha memenuhinya, andai saya gagal, hanya bisa ucapan maaf yang saya berikan berikut penyesalan dari yang paling dalam. Itu janji saya.

Kamu mau sampai kapan jadi orang nggak bener?



there's no more

A l a s a n
Bahkan sampai detik di mana aku mengetik ini, tidak ada lagi yang namanya menemukan sebuah alasan untuk lebih lama lagi di sini. No passion.

Selalu ada yang datang dan selalu ada yang pergi. Bersama semua duka dan tawa. Dan hingga terakhir tinggal aku “sendiri” di sini. Baru merasakan datang dan belum merasakan pergi. Ketika semuanya sudah mulai pergi satu demi satu, semuanya pun berubah satu demi satu, selangkah demi langkah.

Sepi rasanya di sini. Ibarat dua orang berjalan beriringan, tetapi jaraknya puluhan meter. Ibarat satu kepala memiliki dua keinginan, yang satu ingin ke kiri, yang satu ingin ke kanan. Begitu seterusnya.

Dan janji pun tinggal janji. Semua datang dan pergi membawa janji. Janji yang entah kapan ditepati. Atau mungkin janji itu cuma empati. Ironi.

Ini antara meninggalkan melawan ditinggalkan. Bener apa kata orang, lebih sakit berada di pihak yang ditinggalkan. Mungkin belum siap, mungkin belum rela, atau mungkin....

Tetapi, alasan meninggalkan adalah benar. Buat apa berlama-lama di tempat yang bahkan kita sendiri enggan. Toh, pada akhirnya kalau nggak ditinggalkan mungkin akan jadi yang meninggalkan. Dan pertarungan keduanya pun selalu berlanjut.

meninggalkan

atau

ditinggalkan...

dan ini adalah sebuah pilihan yang sulit. Ingin rasanya saya pergi dari tempat ini, dari posisi ini. Tapi, saya tidak tahu akan kemana, apakah nanti akan baik-baik saja saya meninggalkan tempat ini, apakah nanti di tempat baru nanti akan mendapatkan sesuai harapan kita. Ahh..
sudahlah...

saya laki-laki, bisa kalut bisa bingung. Tapi cukup sekali ini saya bingung dan setelah ini tidak ada yang perlu saya bingungkan lagi, karena...
masih tidak ada alasan bagi saya...

*otak saya akhir-akhir ini tidak sehat. Bahkan menyusun beberapa paragraf yang saling terkait saja susah. It’s not a good one.

One-Circus-Man Show

“Kamu pernah nonton sirkus”
“Ya kalo di TV pernah, tapi kalo live belum pernah kayaknya, seingetku. Kenapa?”
“Enggak. Di sini lagi ada sirkus.”
Begitu sebuah percakapan kami di sebuah aplikasi chat, sebuah upaya untuk menghilangkan semua rindu. Diawali dari obrolan yang ringan hingga kadang membahas yang berat. Yang penting setidaknya komunikasi kami selalu terjaga dengan bak.
..................................................................................................................................................
Sementara itu nun jauh di sana, di belahan dunia yang lain. Si pemain sirkus sedang berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya. Tugasnya yaitu membujuk harimau yang beratnya ratusan kilo supaya mau melompat ke dalam lingkaran semacam cincin berdiameter besar. Bukan sembarang lingkaran, lingkaran itu udah dipenuhi dengan api.
Perhatiannya terpusat penuh pada tongkat yang dia gunakan sebagai komando harimau tersebut. Meskipun sudah jinak, dia tidak mau berspekulasi andai harimau itu ngambek dan tiba-tiba menerkamnya. Sesaat kemudian dia menyentakkan tongkatnya ke bawah dan... harimau itu berhasil melewati lingkaran api. Tepuk tangan penonton pun bergemuruh di dalam kubah sirkus tersebut.
Sang pemain sirkus lega dan puas atas aksinya tersebut. Dia memberikan salam kepada penonton kemudian hilang bersama ditutupnya tirai panggung tersebut.

..................................................................................................................................................
“Ramai juga yang datang hari ini. Hasil yang kita dapat bisa sebanyak ini. Hehehe” begitu kekehan seorang tua sambil menepuk-nepuk segepok uang yang ada di tangannya. Kemudian, dia pun membagi 2 uang tersebut kepada pemain sirkus harimau tadi. Tumpukan yag dierikan kepadanya tidak ada setengah. Paling-paling cuma 1/3 dari uang tersebut. Pemain sirkus itu menerimanya dengan senyum simpul.
“Besok kita harus menyiapkan show yang lain. Bagus sekali nak kerjamu hari ini.”
..................................................................................................................................................
Keesokan harinya, pemandangan pun berbeda. Pemain sirkus yang sebelumnya beraksi dengan harimau sekarang sudah bersama dengan anjing laut. Kali ini pekerjaannya cukup mudah, yaitu memberi aba-aba kepada anjing laut supaya beratraksi menjaga keseimbangn sebuah bola di atas mulutnya. Aksi itu diselingi dengan gestur yang kocak. Penonton yang hadir pun tertawa dan bergembira melihat aksi keduanya.



..................................................................................................................................................
“Apalagi ya yang mau aku tampilkan besok? Wah.. susah juga, semua aksi yang aku bisa sudah aku tunjukkan. Apa perlu aku ikut rombongan sirkus yang lain ya...biar penonton di sini juga tidak jenuh. Lagipula, pak tua itu yang selalu dapat lebih. Padahal dia cuma duduk dan tugasnya hanya menukar uang dengan tiket. Enak ya hidupnya.
Ahh.. kemarin waktu show  harimau, tanganku hampir dicakarnya. Belum lagi dengan anjing laut, badanku dibuatnya amis seharian. Hahaha. Ya nggak apa-apa. Daripada aku nggak bisa makan. Cuma itu keahlian yang aku punya. Masih untung ada yang mau menampungku.
Tetapi, rasanya itu semua hilang dengan canda tawa, sorak sorai, dan tepuk tangan dari para penonton. Senang rasanya bisa menghibur mereka. Mengganti uang mereka dengan kepuasan. Pokoknya aku harus bisa lebih baik lagi.”
..................................................................................................................................................
“Oh mau ngajakin nonton sirkus?”
“Ya kalau masih ada. Haha.”

Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan pemain sirkus yang jauh di sana. Sedang ada pertunjukan apa ya hari ini? Apa jangan-jangan dia sudah.... ah sudahlah... dia pasti baik-baik saja.

Carut Marut VR46 vs MM93 (dan JL99)

Oke, sekali-kali nulis yang up to date. Lagi pada rame ngomongin MotoGP 2015 yang tahun ini tentunya banyak intrik dan drama. Pada klimaksnya, tahun ini dimenangkan oleh Jorge Lorenzo. Gelar juaranya yang ke-3 di kelas MotoGP (sebelumnya pada tahun 2010 dan 2012), setelah memenangi race terakhir di sirkuit Ricardo Tormo, Valencia. Kemenangan di race tersebut membuatnya mengangkangi Valentino Rossi dari posisi puncak. Tepat di race terakhir. Ya, Rossi hanya bisa finish di posisi 4. Di belakang 3 rider tuan rumah. Itu pun setelah dia harus start dari posisi paling belakang. Yah, apapun itu... selamat kepada JL99 yang telah berhasil memenangi tahun ini.

Yang menjadi perdebatan adalah munculnya beragam pendapat dari para netizen. Ada yang bilang harusnya Rossi yang juara dan ada yang bilang Lorenzo juga pantas jadi juara. Jadi? Siapa yang pantas dong? Berikut ini adalah statistik head to head antara kedua kandidat tersebut (kalo nggak salah hitung):

Rossi : 18 race à 15x podium, 4x juara
Jorge : 18 race à 12x podium, 7x juara, 1x tidak finish

Terserah.. menurut Anda siapa yang paling pantas juara? Semua memiliki sudut pandang dan pendapat masing-masing. Nggak bakal selesai kalo eyel-eyelan.
Yang jadi sorotan adalah, mengapa Marc Marquez juga turut disebut? Dia-nya saja sudah tidak ada peluang di musim ini. Banyaknya crash dan ketidakberuntungan membuatnya harus menjadi pelengkap di antara kedua pembalap tersebut. Tetapi, bukan sekedar pelengkap.. Marquez mungkin menjadi aktor utama di antara keduanya, terutama “dendam” kepada The Doctor.

Bermula dari insiden di seri ke 3 di Argentina. Duel sengit antara Rossi vs Marquez, dan pada suatu manuver dari The Doctor “menyebabkan” The Baby Alien harus out of race.

Insiden berlanjut pada seri Assen, Belanda. Lagi-lagi keduanya terlibat duel sengit hingga last lap. Pada sebuah tikungan ganda, motor mereka bersenggolan sehingga Rossi melintas kencang melewati Gravel, dan ajaibnya dia malah menjadi juara 1.

Mungkin akibat kedua insiden ini, Marquez menjadi dongkol. Alih-alih ikut persaingan Rossi vs Loenzo, Marquez malah sering jatuh dan cedera. Dan setelah kepastian dia tidak bisa meraih gelar juara, dia mulai mendukung kompatriot se-negaranya. Lorenzo.

Tibalah pada race ke-15, seri Phillip Island, Australia. Race yang (katanya) terbaik di musim ini, mempertontonkan aksi ciamik untuk merebut juara 1. Ya, 4 rider sekaligus yang berpeluang memenangi race ini. Marquez, Lorenzo, Iannone, dan Valentino. Terlihat sangat jelas bahwa ketika Rossi berhasil menyodok untuk mendekati Lorenzo, Marquez sengaja melakukan cara balap yang aneh (entah melambat atau ada gangguan pada motornya). Hingga Rossi tampak kesulitan pada beberapa manuvernya. Hingga akhirnya Rossi hanya bertarung dengan Iannone. Marquez hanya membayangi Lorenzo. Dan pada beberapa tikungan terakhir, tiba-tiba Baby Alien “mengeksekusi” Lorenzo untuk mengambil podium pertama. Misi sukses. Marquez juara 1 dan Lorenzo finish di depan Rossi yang hanya finish di urutan 4.

Belum selesai di situ, race di Sepang, Malaysia sepekan sesudahnya menjadi saksi bagaimana duel sengit hingga berujung konflik. Rossi terlihat sibuk dengan Marquez di setiap tikungannya. Sementara itu Lorenzo melesat jauh meninggalkan mereka berdua. Perebutan tempat ketiga berlangsung sangat sengit, sampai pada suatu kesempatan Rossi berhasil menyalip Marquez dan memberikan lambaian. Entah apa maknanya. Apakah itu peringatan atau itu sebuah ejekan provokasi. Dan sampailah pada sebuah tikungan di mana, Rossi menoleh seolah-olah menunggu Marquez. Sedikit melebar dari jalurnya dan Marquez memaksa masuk. Dan. Boom.. Marquez terjatuh setelah menyundul/ditendang Rossi (monggo yang punya analisis). Dan seakan sudah pasrah, Marquez kembali ke paddock. Puncaknya

Beberapa tayangan ulang menampakkan bahwa kaki kiri Vale bergerak menendang Marquez, ada juga yang menampakkan Marquez lah yang menyundul Rossi. Rossi mengaku kakinya selip di footstep motornya, Marquez merasa Rossi sengaja menendangnya. Entah. Hanya Rossi dan Marquez yang tahu. Pada akhirnya Jorge tetap melaju mulus hingga finish dan semakin memperkecil jarak.

Drama berlanjut di podium, saat Rossi menerima trophy. Terlihat Jorge mengeluarkan gestur yang “luar biasa”. Saat seremoni sampanye pun Jorge langsung ngacir pergi. Entah karena mungkin di Sepang banyak fans The Doctor, dan dia mendapat hujatan atas aksinya tersebut. Buntut dari jatuhnya Marquez adalah diberikannya poin pinalty bagi Rossi sebanyak 3 poin dan genaplah sudah pinalti Rossi menjadi 4 setelah sebelumnya mendapat 1 poin saat di Misano. Itu artinya apapun hasil kualifikasi Rossi, dia harus start dari posisi paling buncit.

Dua pekan kemudian. Semua mata menuju ke Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol. Lorenzo yang di kualifikasi tampil luar biasa menghasilkan pole position saat start. Dan Rossi harus berada di baris paling belakang. Start dimulai dan...

Tiba-tiba Rossi masuk melesat ke dalam, mengiris beberapa rider. Seolah seperti membuka jalan, rider-rider lain dilibas satu demi satu. Hanya Espargaro bersaudara yang terlihat ngotot membalap dengan normal. Tiba di pertengahan race, Rossi sudah berada di posisi 4 tetapi rombongan 3 besar sudah sangat jauh.

Di depan terlihat sangat monoton. Lorenzo yang tampil brilian seperti mendapat kawalan dari Marquez yang hanya menguntitnya lap demi lap. Mungkin, dia ingin memakai strateginya terdahulu, mengeksekusi Jorge di lap-lap terakhir. Luar biasanya, Pedrosa yang seperti menemukan ritme berhasil mendekati Marquez. Marquez yang sepanjang lap terlihat kalem, tiba-tiba menjadi beringas. Seolah seperti penjaga ada pengganggu yang mendekati tuannya. Jorge semakin jauh, dan duel terjadi sesama duo Honda. Dan tibalah Jorge pada garis finish untuk mengunci gelar juara dengan keunggulan 5 poin dari seniornya.

Hikmah yang dapat diambil dari musim ini adalah:
1.       Seharusnya Jorge Lorenzo lebih fokus kepada balapannya. Terlihat di beberapa kesempatan Lorenzo mengintimidasi pada persidangan Rossi di CAS. Dan terlalu banyak berkomentar soal perseteruan Rossi vs Marquez, seperti seorang kakak membela adiknya. Gestur terakhir pada podium Sepang juga menunjukkan betapa tidak ada respect dia kepada rekan setim.
2.       Valentino Rossi, sebagai pembalap senior yang sudah banyak pengalaman seharusnya tidak terpancing provokasi dari pembalap muda. Yah namanya emosi,. Semua sudah terlanjur, perjuangannya memuncaki klasemen pembalap di 17 race harus musnah karena sebuah kesalahan. Pupus sudah gelar ke-10.
3.       Marc Marquez, masa depannya masih panjang. Gelar demi gelar bisa diraih. Namun, di tahun ini sepertinya dia menjadi tokoh antagonis. Setelah perseteruannya dengan The Doctor. Mesti harus menjaga fokus dan sportivitas.
4.       Daniel Pedrosa, pembalap yang dari dulu selalu diunggulkan di awal musim tetapi selalu gagal menjawab ekspektasinya itu. Komentarnya di Sepang merupakan komen yang netral dimana saat itu dia mengeluarkan pernyataan “membalaplah untuk dirimu sendiri”. Tidak membela Vale dan tidak menyudutkan Marc. Satu-satunya pembalap yang tulus membalap.

Dan saya pribadi membayangkan apabila Casey Stoner masih membalap. Pembalap favorit saya yang tidak kalah garangnya ini mungkin juga akan menyikat Marc yang ibaratnya masih ingusan. Stoner tidak segan-segan “menegur” pembalap lain dengan blak-blakan.

Satu lagi, andai mendiang Marco Simoncelli juga masih hidup. Mungkin di seri terakhir, dia tidak segan-segan menabrak Marc demi membuka peluang buat Rossi. Nekad ketemu nekad.
Inilah hasilnya, apapun itu... terima kasih MotoGP 2015 sudah menyajikan aliran adrenalin yang tidak henti, dari awal hingga akhir.


pernyataan Vale pada situs resmi MotoGP