Kubuka mata, dan matahari masih nampak
malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Sembari mengembalikan kesadaran, aku
teringat bahwa petang nanti aku harus kembali (sesaat) ke Jakarta. Kota yang
dulu pernah kujadikan kota mati. Namun, bagaimanapun aku menyangkalnya
setidaknya selama beberapa tahun aku pernah berkecimpung di sana. Menyatu
dengan kejamnya ibu kota.
Entah apa yang ada dalam benakku hari
itu. Sore hari aku ke Jakarta, dan besok sore langsung pulang kembali ke
Semarang. Mungkin ini yang dinamakan One
Day Trip. Sebuah perjalanan pendek dengan sejuta harapan besar di tangan
pemuda-pemudi harapan bangsa.
Sejenak aku teringat, bahwa hari itu
aku punya janji dengan muridku. Oke. Kutunaikan dulu janjiku sebagai guru. Dan
kutransfer semua ilmu yang aku punya. Proses transfer ilmu berjalan lancar
disertai dengan petuah-petuah bijak memberi dorongan mental supaya beliau siap
dalam ujiannya.
Sampai rumah sudah agak sore, segera
aku menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan besok. Kemeja putih, celana
panjang, peralatan mandi, berkas-berkas. Oke, semua sudah siap dan tak lupa
ritual sebelum keberangkatan harus dilakukan. Menyetel lagu pake headset sambil
memandangi langit-langit kamar sambil memikirkan makna hidup.
Adzan Maghrib sudah berkumandang,
segera aku melakukan sholat Maghrib dan Isya berurutan. Sejurus kemudian, aku
diantar bapak menuju stasiun karena kebetulan kereta berangkat pukul 19.00 dan
itu nggak pake molor. Perjalananku kali ini diiiringi dengan mendungnya kotaku,
seakan memberi tanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Oke. Kubuang jauh
pikiran jelek itu.
Tak terasa tiba-tiba aku sudah berada
di depan pintu keberangkatan. Kutunggu teman-temanku di sana. Saat itu kita
beranggotakan 16 orang anak. Ada yang datangnya awal dan ada yang datangnya belakangan.
Satu persatu kawan-kawanku itu muncul. Dan ternyata setelah dihitung kembali
kurang 2 orang. Ohh,, ternyata Izhar dan Faris. Maklum rumah mereka berada jauh
di ujung barat kota kami. Haha.
Jam di handphone menunjukkan pukul
18.45. Oke. Semuanya masih dalam kontrol. Segera mengontak keduanya dan tetap
bersikap keep calm and forza ikmas.
Izhar datang beberapa menit kemudian. Alhamdulillah. Nah, mana Faris? Petugas
stasiun sudah memberitahukan untuk segera masuk ke dalam kereta. Di sini
pengambilan keputusan harus segera dilakukan. Entah karena aku memang jahat
atau bagaimana, aku mengambil keputusan untuk segera memasukkan teman-teman
terlebih dahulu + memasukkan barang-barang dan kemudian turun kembali ke peron
untuk menjemput Faris.
Adrenalin mulai terpacu karena jam
sudah menunjukkan 18.55. Oke. Dilema dua pilihan : satu tertinggal atau semua
tertinggal. Aku pun turun dari gerbong, belum sampai peron ternyata orang yang
kurus tinggi itu muncul. Yaak. Faris akhirnya datang. Dan dengan umpatannya
yang khas..
“ooo..
wedhus kuwe, Mbon”
Haha.. rasanya pengin nangis liat
Faris datang. Alhamdulillah. Segera kami masuk ke gerbong. Berasa gerbong
pribadi karena dalam satu gerbong hanya diisi canda tawa rombongan kami.
Tentunya tawa kami masih bisa dikontrol supaya nggak menganggu penumpang lain.
Ada yang main kartu, ada yang cuma nyemil-nyemil, ada yang ngobrol-ngobrol, ada
yang curhat, ada yang cuma memandang keluar jendela dengan wajah sendu. Haha.
Macem-macem. Dan akhirnya hari itu ditutup dengan harapan kami yang akan
menjadi punggawa keuangan negara yang berintegritas tinggi.
(05.00-23.00 26 Sept'13)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar