Journey#1 Rush at The Train Station



Kubuka mata, dan matahari masih nampak malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Sembari mengembalikan kesadaran, aku teringat bahwa petang nanti aku harus kembali (sesaat) ke Jakarta. Kota yang dulu pernah kujadikan kota mati. Namun, bagaimanapun aku menyangkalnya setidaknya selama beberapa tahun aku pernah berkecimpung di sana. Menyatu dengan kejamnya ibu kota.

Entah apa yang ada dalam benakku hari itu. Sore hari aku ke Jakarta, dan besok sore langsung pulang kembali ke Semarang. Mungkin ini yang dinamakan One Day Trip. Sebuah perjalanan pendek dengan sejuta harapan besar di tangan pemuda-pemudi harapan bangsa.

Sejenak aku teringat, bahwa hari itu aku punya janji dengan muridku. Oke. Kutunaikan dulu janjiku sebagai guru. Dan kutransfer semua ilmu yang aku punya. Proses transfer ilmu berjalan lancar disertai dengan petuah-petuah bijak memberi dorongan mental supaya beliau siap dalam ujiannya.

Sampai rumah sudah agak sore, segera aku menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan besok. Kemeja putih, celana panjang, peralatan mandi, berkas-berkas. Oke, semua sudah siap dan tak lupa ritual sebelum keberangkatan harus dilakukan. Menyetel lagu pake headset sambil memandangi langit-langit kamar sambil memikirkan makna hidup.

Adzan Maghrib sudah berkumandang, segera aku melakukan sholat Maghrib dan Isya berurutan. Sejurus kemudian, aku diantar bapak menuju stasiun karena kebetulan kereta berangkat pukul 19.00 dan itu nggak pake molor. Perjalananku kali ini diiiringi dengan mendungnya kotaku, seakan memberi tanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Oke. Kubuang jauh pikiran jelek itu.

Tak terasa tiba-tiba aku sudah berada di depan pintu keberangkatan. Kutunggu teman-temanku di sana. Saat itu kita beranggotakan 16 orang anak. Ada yang datangnya awal dan ada yang datangnya belakangan. Satu persatu kawan-kawanku itu muncul. Dan ternyata setelah dihitung kembali kurang 2 orang. Ohh,, ternyata Izhar dan Faris. Maklum rumah mereka berada jauh di ujung barat kota kami.  Haha.

Jam di handphone menunjukkan pukul 18.45. Oke. Semuanya masih dalam kontrol. Segera mengontak keduanya dan tetap bersikap keep calm and forza ikmas. Izhar datang beberapa menit kemudian. Alhamdulillah. Nah, mana Faris? Petugas stasiun sudah memberitahukan untuk segera masuk ke dalam kereta. Di sini pengambilan keputusan harus segera dilakukan. Entah karena aku memang jahat atau bagaimana, aku mengambil keputusan untuk segera memasukkan teman-teman terlebih dahulu + memasukkan barang-barang dan kemudian turun kembali ke peron untuk menjemput Faris.

Adrenalin mulai terpacu karena jam sudah menunjukkan 18.55. Oke. Dilema dua pilihan : satu tertinggal atau semua tertinggal. Aku pun turun dari gerbong, belum sampai peron ternyata orang yang kurus tinggi itu muncul. Yaak. Faris akhirnya datang. Dan dengan umpatannya yang khas..

“ooo.. wedhus kuwe, Mbon”

Haha.. rasanya pengin nangis liat Faris datang. Alhamdulillah. Segera kami masuk ke gerbong. Berasa gerbong pribadi karena dalam satu gerbong hanya diisi canda tawa rombongan kami. Tentunya tawa kami masih bisa dikontrol supaya nggak menganggu penumpang lain. Ada yang main kartu, ada yang cuma nyemil-nyemil, ada yang ngobrol-ngobrol, ada yang curhat, ada yang cuma memandang keluar jendela dengan wajah sendu. Haha. Macem-macem. Dan akhirnya hari itu ditutup dengan harapan kami yang akan menjadi punggawa keuangan negara yang berintegritas tinggi.

(05.00-23.00 26 Sept'13)


Tidak ada komentar: