Balada Pria

Angkringan… The Power of Java, bermacam-macam rupa dan rasa dengan porsi yang sesuai selera.
“Pinten, Mas? Segone dua, (sate) baksone dua, tahu ne tiga, sama mimik e teh anget panas”
“Dua belas (ribu), Mas” timpal mas yang tunggu warung.
Wow… this is incredible of Java Island. Meanwhile, in other side of this earth, many people must pay more to buy at the “same thing”
Dan di angkringan itulah seorang pria paruh baya menemukan sebuah pencerahan. Pencerahan yang diceritakannya kepada saya itu sungguh mengena. Dia berbicara mengenai hijrah. hi-jrah. H I J R A H.
Pria itu mulai bercerita bahwa ia baru kembali dari rantau dan menyempatkan diri mengelilingi kota ini. Menurut ceritanya, kota ini sangat ramai bahkan di malam hari. Banyak anak remaja (ataupun dewasa) yang memenuhi kota. Di pusat kota, di pinggir jalan, di tempat pusat perbelanjaan. Ada yang sekedar duduk-duduk sambil ngobrol, ada yang keluar sekedar mencari cemilan. Malam pun semakin ramai dengan adanya sebuah konser musik yang mendatangkan grup musik papan atas negeri ini. Sungguh suasana yang menggambarkan riuhnya kota malam ini.
Pria itu melanjutkan kisahnya lagi. Kali ini dia menceritakan kemajuan kota ini. Gedung-gedung baru mulai dibangun, fasilitas umum mulai dirawat, dan pembangunan hingga ke area pinggiran kota. Dia begitu takjub akan kerlap-kerlip lampu yang menyala di malam hari.
Saya yang dari tadi duduk di sebelahnya sambil menyeruput secangkir teh menjadi terheran-heran. Dan tiba-tiba saya ingat kalau malam itu adalah malam minggu, malam yang katanya sakral untuk para pasangan, malam di mana akan terjadi meningkatnya volume kendaraan dan polusi. Ya pantes ramai, lhawong ini malam minggu. Pria ini nggak waras ya? Saya mencoba bertanya-tanya dalam hati dan saya hendak menyanggah semua celotehnya itu. Cangkir pun saya letakkan dan aaaa,, baru juga membuka mulut, Pria itu tiba-tiba bercerita lagi.
Sambil sedikt lesu dan setengah lirih dia berkata, “Saya ingin hijrah”
Itu kalimat yang diucapkannya. Ha? Hijrah yang bagaimana?
Sejurus kemudian Pria itu menggumam sendiri, saya yang di sebelahnya jelas mendengar apa yang diucapkannya tetapi susah untuk memahami. Mungkin hanya Pria itu sendiri yang tahu. Kira-kira yang keluar dari mulutnya seperti ini :
Nak, kamu masih muda. Jangan kebanyakan senang-senang. Umur tidak ada yang tahu. Hidup di dunia ini singkat, raihlah cita-cita kehidupan yang ada di akhirat nanti. Kamu lupa? janjiNya adalah pasti.
Saya cuma mengangguk saja, ketika saya mau berkomentar apa maksud dari perkataan si Pria itu, lagi-lagi si Pria itu melanjutkan ocehannya.
Aku memang bukan yang terbaik, beda denganmu yang bisa meraih itu.
Aku juga bukan sosok yang banyak teman, beda denganmu yang ramah.
Usahaku untuk sepertimu? Nol besar kawan..
Aku bukan orang yang murah senyum dan ringan tangan, beda denganmu yang selalu tersenyum.
Aku bukan orang yang religius, beda denganmu yang selalu melantunkan ayat suci bahkan hingga hapal.
Tetapi aku masih mencobanya, hingga kini.
Aku memang bukan orang yang pandai berkelahi, beda denganmu yang bahkan mampu membuat orang bergidik melihatmu
Aku bukan orang yang punya banyak harta, beda denganmu yang tiap hari selalu saja ada yang baru.
Maafkan aku kawan.
Aku bukan orang yang selalu sabar, beda denganmu yang selalu memiliki kepala yang dingin.
Aku bukan orang yang punya tekad kuat, beda denganmu yang selalu menunjukkan lebih.
Tiba-tiba pria itu berhenti mengoceh dan terbengong beberapa saat. Saya yang di sebelahnya menjadi keki. Hampir kutepuk pundak si Pria itu, dia tiba-tiba berceloteh kembali.
Dan kini aku terjebak dalam nostalgia. Ketika semuanya berubah menjadi yang lebih baik, aku hanya diam saja, terjebak dalam zona nyaman, terjebak dengan hingar bingar ini. Semuanya yang tidak berubah akan berlalu berkalang dengan debu. Sebaliknya, yang (setidaknya) mau dan berusaha untuk berubah akan menikmati hasil dan jerih payahnya. Sungguh aku menyesal. Semoga ini tidak hanya di mulut saja. Aku pengin hijrah.
Pria itu berhenti berbicara dan mulai menghabiskan teh panasnya. Sekilas kulihat tadi ada genangan air di kedua matanya. Mungkin Pria itu sedih, teringat anaknya, teringat istrinya, eh sudah menikah belum ya. Siapa tahu dia teringat yang lain, kekasihnya mungkin atau orang tuanya. Aku pun hendak bertanya lebih detil mengenai identitas si Pria itu.
Namun, Pria itu tiba-tiba berdiri dan mengambil cermin di sebelahku. Cermin? Sejak kapan ada cermin di sebelahku? Aku masih heran. Di tengah keherananku, Si Pria itu berlalu sambil menenteng cermin di pinggangnya.
“Lho piye to Bapak e kae, rung dibayar kok malah wes lungo”
“Lha piye to mas?”Aku pun bertanya dengan logat Jawa yang kental.
“Mbuh kui, malah lungo. Lha iki sing mbayar sopo. Apes tenan.”
“Bapak kui entek e piro, Mas? Sopo reti iso sisan tak bayar, iki aku nggowo duit luwih kok”
“Dua belas (ribu), Mas”


Tidak ada komentar: