Senandung Segelas Kopi

Manusia selalu hidup dalam penyesalan, yah meskipun sudah terjadi dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti sedia kala. Dan cerita harus terus berjalan seperti apa yang telah tertulis.

Penyesalan yang hadir pun bisa datang dari segelas kopi yang teracuhkan.

Seandainya...

Seandainya saja waktu itu, kopinya telah diseduh dan siap diminum maka cerita akan lain.

“Kenapa tidak meminumku?” gumam kopi dalam diamnya.

“Maaf kopi, aku takut tidak bisa tidur karenamu”

“Lalu, kenapa kamu takut tidak bisa tidur?” tanya kopi lagi.

“Maaf kopi, aku takut akan terjadi sesuatu dengan perlombaanku”

“Lalu, kenapa kamu takut dengan perlombaanmu?” lagi-lagi dia mencecar

“Maaf kopi, aku takut menjadi pecundang apabila gagal”

“Hmmm, dengan ketakutanmu seperti itu, kamu sudah menjadi pecundang, hei pecundang. Minumlah aku seteguk saja. Maka akan kujaga dirimu dari rasa kantuk dan lelah”

“Maaf kopi, aku terlalu takut denganmu malam ini” aku pun mulai muak dengan cecaran dari kopi.

“Bukankah kau sudah berjanji dengannya. Sebegitu jahatnya engkau, padahal aku hendak membantu kesulitanmu. Baik, kali ini kumaafkan. Lain kali, seduhlah aku tetapi jangan harap aku selalu membantumu melawan kantuk dan lelah yang menderamu


Begitulah sebuah penyesalan yang datang dari sesederhana menghiraukan bisikan segelas kopi.
angrycoffee

The love to you is alive in me every day
For love you are aside of me every day

Tidak ada komentar: