Kesempatan Kedua dalam Seharian Ini (yang sangat sepi)

Pusing kembali
Sebelumnya... Nggak pernah ngerasa se-sepi dan se-bosen ini. Gejalanya udah ada sejak beberapa bulan lalu sih. Ketika, makin kes ini semuanya seperti berpencar. Nggak ada satu visi, satu misi, satu tujuan. Semuanya ingin selamat sendiri-sendiri. Menurut mu/kalian, Saya nggak mau selamat? Bukan gitu caranya... Setelah apa yang kita lalui bersama sejauh ini dan yang sudah saya usahakan (?) tentunya kita semua ingin itu semua lancar tanpa masalah di kemudian hari.

Mungkin enak bagi kalian yang dapat pekerjaan dekat dengan keluarga. Bisa pulang lihat kondisi rumah dan keluarga. Tapi itu nggak bisa dijadikan alasan buat kerja malas-malasan. Kali ini sudah kelewatan. Saya memang bodoh dan gampang ditipu, tetapi dengan pemikiran yang nggak maju seperti ini semoga saja dibukakan pintu hati untuk kembal ke jalan yang benar. Atau mungkin sepeninggal saya nanti, akan ada yang lebih enak mengarahkan daripada saya yang hanya sekedar marah-marah dan minta ini itu. Perlu untuk jadi, saya seperti itu karena nggak mau ada yang disalahkan. Oke kalo yang disalahkan saya, beres. Coba kalo bukan saya. Cuma omongan di belakang yang nantinya memperburuk keadaan.

Pernah nggak mikir kerjaan sampai yang udah parah gitu? Tiap sejam kebangun, merem lagi, kebangun lagi. Rasanya, sampe detik ini cuma saya (yang kadang) lebih mikir tempat kerja ini. Entah yang lain mungkin juga ada yang lebih dari saya, atau bahkan ada yang nggak sama sekali? Mungkin kalau saya di posisi seperti itu (kerja dekat keluarga), saya juga bakal jadi malas kerja. Semoga enggak!

Bukan membanggakan diri ketika pimpinan di sini pernah memuji saya “Contoh tuh si Wisnu, ada surat masuk, dibaca, langsung dikerjakan, nggak usah nunggu saya disposisi ke dia”Ya iyalah... waktu itu saya di sini sendiri. Pikiran saya adalah saya nggak mau repot di kemudian hari sehingga pokoknya semua harus selesai sesegera mungkin. Kerjaan di sini seringnya tidak terduga. Ketika jam 3 sore kita udah bikin “to do list” buat keesokan harinya, eh mesin fax berbunyi dan isinya mengharuskan untuk melakukan safari jam 4 pagi. Maka dari itu, semua pekerjaan yang berpotensi “merepotkan” harus segera dihabisi. bahkan saat Weekend, kalau nggak pulang ke ibukota, saya lebih banyak duduk di meja kerja, ngecek apa yang belum beres, belum rapi. Satpam saya bahkan sampai geleng-geleng dan menegur "Makan tuh kerjaan, jangan sampai mati karena kerja Mas" haha.. asem.

Dan ketika semua kebosanan dan kesepian jadi satu di kepala, jadi makin kangen sama yang jauh di sana. Terutama sama Bapak, Ibu, dan Dik Pacar. Namun, rasanya di sini udah kebiasa sepi. Ditelpon Bapak sama Ibu cuma bisa denger pesen-pesen mereka kasih semangat, sama nanyain kapan pulang, dan tentunya cerita bahagia di rumah (semoga mereka semua sehat di sana). Alhamdulillah masih ada kakak di rumah yang nemenin di rumah dan si keponakan susah buat ngomong ditelpon. Sekalinya mau ngomong yang ditanyain adalah: kapan pulang, beliin mainan. Hahaha. Bikin kangen semuanya.

Masih ada satu lagi, rindu yang tidak kalah spesial buat Dik Pacar. Beliaunya lagi nggak bisa lama-lama diganggu. Hari pertempuran sudah dekat. Harus bisa sabar buat jaga fokus dia. Aku sendiri yang bilang gakpapa kalo agak dikurangi dan kali ini aku yang ngerasa lebih sepi aja. But, it doesn’t matter. Demi cita-cita kita semua, Bismillah bisa sabar. Semoga belajarmu membawa hasil yaa... aku disini selalu nungguin kamu, nggak ada di pikiran aku buat nyuekin atau bahkan kemana-mana. Kalo kadang aku ngerasa sepi itu karena salahku aja yang kurang kegiatan. Haha.

Intinya...
Semua harus dijalani dengan ikhlas, tanpa keluhan, dan berikan yang terbaik. (Lagi-lagi) seperti sesuatu yang ideal dan gampang. Manusia... melesetnya, bolehlah sedikit nggak ikhlas, sedikit mengeluh, sedikit malas. Tapi ingat, hanya sedikit. Setelah udah dapet yang sedikit itu tetep harus kembali ke jalan yang benar dan berdoa supaya bisa pulang lagi ke sana. Berkumpul dengan semuanya.

*sampai saat ini, belum menemukan lagi alasan untuk keberadaan saya di sini lebih lama lagi.
Yang mulai bingung,.. maaf kalau menye-menye.. lagi sentisip -F W W-


tidak
nyaman
lagi
tapi
nggak
boleh
mengeluh
kudu
tetep
kuat
dan
sehat
jangan
sakit
ini
apa
sih
ya
ruwet

Edisi Rindu

Walau jarak terpisah, kau tetap milikku
Bayangan dirimu slalu kurindu...
Tlah kuterima surat darimu, kucoba membaca dan memahaminya
Bunga cinta...
Sungguh senang hatiku, dilanda asmara cintamu
Kekasihku...
Biarkan cintamu tercurahkan hanya untukku dan tertuliskan semua teruntukku
Kutulis indah balasan suratmu untuk dirimu yang slalu kurindu

Sebuah lagu yang mungkin cuma aku dan generasi pecinta musik Indonesia 2000-an awal yang tau siapa yang nyanyiin lagu ini. Bahkan lagu ini nggak ada video klipnya. Maklum, lagu yang lebih populer di pasaran (pada eranya) yaitu yang berjudul Lagu Untukmu dan Tak Harus Miliki.

Musik pop Indo yang ringan dan diselingi oleh hentakan dangdut yang membuat lagu ini terasa unik. Lagu ini menggambarkan sebuah kerinduan dua sejoli yang hanya bisa saling tersalurkan melalui sebuah surat. Zaman segitu yang pegang hape mungkin masih sedikit, jadi media persuratan dengan perangko menjadi idola.

Sekarang, zaman sudah modern. Dari yang sekedar surat, sekarang bisa sms, atau berhubungan pake media sosial lain.
Tinggal bagaimana menggunakannya dengan bijak. Kebanyakan pakai media sosial, nanti dikira mengumbar-umbar kemesraan -,-“. Ya kalo aku sih, cukup nampilin foto aku sama pacar buat nunjukin,, ini lho aku udah ada, ini lho dia udah ada. Bukan pamer ya, ya sekedar ngasih warning aja buat yang lain.
  
Lucu rasanya kalo aku bilang sama dia “aku kangen” tiap hari. Yang ada malah dia nya bosen. Tapi, jujur... Begitulah adanya... dan kadang hal ini buat fokusku sedikit goyang. Resiko tanggung penumpang. Dan jam segini biasanya beliau baru belajar (kalo nggak ketiduran ya).

Malam ini kangenku spesial, karena mungkin malam ini begitu banyak godaan yang ada. Dan jujur saja, nggak bohong. Tips saya mengilangkan godaan itu adalah...

Berhenti sejenak, menarik napas panjang, memejamkan mata, sambil bayangin betapa beruntungnya aku bisa punya kamu. Kamu, yang masih mau nerima sampah macam ini. Semoga maki kesana kamu nggak makin ilfil sama sampah yang makin lama makin keliatan busuknya.

Beruntungnya aku bisa ketawa sama-sama, bisa merangkai mimpi sama-sama. Yah meskipun hubungan kami masih seumur jagung, tapi aku percaya kamu yang terakhir buat aku, Bismillah. Hanya tinggal butuh waktu saja (padahal jek suwi, tapi ojo suwi-suwi) dan saling jaga kepercayaan.

Ngomongin kepercayaan, ada yang mau aku bilang soal LPJ. Kamu bilangnya LPJ kan :p. LPJ ku kali ini seharusnya aku cerit ke kamua soal yang kemarin, soal yang kemungkinan bakal ngeganggu pikiran aku, ganggu keyakinan aku. Yah, dan ternyata si mbak yang itu beracara di hotel yang sama dengan aku.

Aku cerita gini sungguh bukan keyakinanku goyah, aku hanya mau menyampaikan apa yang seharusnya menjadi laporanku padamu. Entah, aku belum tau apa reaksimu. Aku nggak mau ganggu fokus belajar kamu. Dan aku, satu pun nggak berpikir macam-macam. Ya kalo ini diriku 5 tahun yang lalu, kamu boleh makin curiga sama aku. Tapi kini, petualanganku sudah dihampir ujung jalan. Nggak mungkin aku balik lagi ke titik start.

Jujur saja, kamu boleh marah kalo emang kamu ngeliat ada yang salah sama aku. Tetapi setidaknya aku sudah terus terang. Terus terang itu sepele tapi susah. Bukan perkara bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak. Itulah kejujuran. Dan aku selalu lebih memilih kamu, yang bisa jaga emosi aku. Yang selalu bisa membuat aku sadar, membuat aku semangat.

Last, dan aku selalu mencoba untuk menjadi lebih, lebih, dan lebih memantaskan diri buat kamu...

Semangat belajar ya,, habis ini Line an lagi.

walau jarak terpisah, kau tetap milikku...

Hikayat Si Putih

Sebut saja Putih. Dia berpisah dari keluarganya yang berada jauh di kaki gunung. Bukan hanya dia saja, semua keluarga dan temannya pasti suatu saat akan mengalami yang hal yang sama. Merah, Merah Muda, Kuning, dan masih banyak lagi teman si Putih.

Entah ikhlas maupun tidak, terpaksa maupun tidak, itu sudah menjadi takdir mereka untuk pergi. Merantau ke kota-kota, bertahan hidup beberapa hari hingga akhirnya mati. Kematian mereka akan selalu dikenang sebagai kematian yang terhormat bak pahlawan.

Bagaimana tidak? Mereka mengeluarkan semua upaya untuk dapat memberi sebuah sinyum simpul kepada mereka yang memilikinya. Hanya dengan bantuan air, mereka berjuang untuk menularkan semangat yang tumbuh. Meskipun akhirnya harus gugur. Gugur yang (tanpa) meninggalkan bekas.

*****
Mungkin pagi itu sudah menjadi takdir pertemuanku dengan si Putih. Setelah beberapa lama berpikir, aku pun memilihnya. Putih identik dengan bersih dan suci. Dan itu selalu tertanam di kepalaku. Yang aku punya untukmu harus sesuatu yang putih dan bersih. Aku yakini itu semua. Bismillah. Selalu jaga putih itu hingga akhirnya nanti datang waktunya.

Beberapa jam kemudian, takdirmu untuk bertemu dengan si Putih. Yaah meskipun aku bukan seorang yang romantis, aku mencoba untuk ikhlas memberikannya dan membuat kondisi menjadi tidak sulit. Beberapa hari sebelum itu aku sudah bisa melihat tawamu dan senyummu kembali. Meskipun faktanya aku menempatkanmu pada posisi yang terjepit.  Kamu yang sabar yah. Aku sadar hari itu (harusnya) menjadi hari terakhir pertemuan kita sebelum kembali terpisah untuk beberapa bulan ke depan.

Aku titipkan semangatku kepada Putih yang mungkin hanya bisa bertahan paling lama 4 hari. Semoga semangatku benar-benar tertular dan senyummu selalu terkembang. Meskipun hidup tidak selalu senang, selalu ada yang bisa diambil dari rasa lelah dan sedih.
Aku berharap suatu saat akan menjadi si Putih. Memberimu semangat, bersamamu melewati sisa umur dan kemudian kembali kepadaNya.

*****
Saat ini, Putih sudah gugur dan semoga kamu sabar bisa menunggu kepulanganku selanjutnya. Aku akan terus menjaga apa yang sudah aku perjuangkan. Percaya kepada yang punya hidup semoga kita diberikan yang terbaik.
Aamiin.



Jakarta April-Mei

Mejeng dulu habis apel pagi

Warkop D K I edisi KW


Kena Bully!!!


Testimoni kawan-kawan edaan.. haha

Ini salah satu kelas yang meninggalkan kesan yang mendalam, baik buat saya maupun teman-teman saya yang lain...beberapa bulan yang lalu baru kepikiran diposting sekarang. Hehe.

Jalan Hidup

Ekstremnya, saya mau Anda berkhayal. Khayalan iseng aja sih. Berkhayal menjadi seorang presenter sebuah acara di salah satu stasiun televisi di negeri ini. Anda ditugaskan untuk meliput kehidupan satwa liar di belantara hutan Borneo. Anda akan menembus gelapnya suasana di dalam hutan hujan tropis yang tersebar di hampir semua pulau, atau Anda akan menyusuri sungai yang sepertinya tak bermuara. Cukup seru bukan.

Dan di tengah pencarian, Anda bertemu dengan sesosok ular legendaris. Ular Anaconda. Konon, ular ini hidup di Kalimantan. Yaah, meskipun cuma dalam film. Siapa tahu ular ini benar-benar hidup di sana. Sembunyi dalam teduhnya hutan hujan tropis. Berkeliaran di malam hari untuk sekedar mengisi perut..

Apa yang akan Anda lakukan jika dalam situasi tersebut? Pilihan ada banyak. Mungkin harus kabur sejauh-jauhnya, mungkin melawan sebelum ular itu menyerang, atau hanya terdiam menunggu ular itu memangsa Anda.

Bagi saya, meskipun ini cuma khayalan... Yang akan saya lakukan adalah tidak mengusiknya. Tetap tenang, meskipun itu sulit. Jangan lakukan gerakan tiba-tiba. Semua makhluk hidup akan menjadi agresif jika merasa dirinya terganggu. Berjalanlah dengan tenang. Tetap berdoa semoga diberi keselamatan. Dan terakhir, tetaplah fokus dengan tujuan Anda. Anda tidak disuruh mencari Anaconda bukan?

Andaikan boleh saya berkhayal yang lebih ekstrem lagi. Saya tidak melakukan self suggestion seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Maka pilihan saya cuma ada dua, dimakan atau diikat. Dan itulah resiko yang harus saya ambil.

Dimakan. Anaconda adalah pemakan daging, tentunya melihat seonggok daging segede saya, enggak susah buat Anaconda untuk menelan saya bulat-bulat hingga tak tersisa.

Diikat (dibelit). Kemungkinan kedua. Mungkin Anaconda lagi nggak lapar tetapi dia merasa terusik. Dengan badannya yang licin dipenuhi sisik, enggak butuh waktu lama buat anaconda buat membelit Anda dan meremukkan semua tulang yang ada di tubuh Anda.
Ngeri kan...

Sama seperti kehidupan, kalau bisa lebih sedikit resikonya kenapa kita harus terjun ke resiko besar? Meskipun hanya sepele, bahkan yang sepele saja bisa menjadi masalah. Maka minimalkan segala kesalahan. Berusaha untuk menjadi yang terbaik. Meskipun ada kalanya untuk salah, segera minta maaf dan perbaiki.

Yah,, itulah komitmenmu sama komitmenku. Terdengar ringan, nggak serius, tapi buatku itu bakal selalu terngiang. Belajar berkomitmen dari yang sederhana, biar bisa berkomitmen yang lebih serius nantinya.

Jadi, pilihannya tinggal dua..
Dimakan
Atau
Diikat



Sad-tember

Perjuanganku lebih susah karena aku harus melawan diriku sendiri....

Action sudah sesuai dengan plan. Apa plannya yang salah?

Apa ini yang dinamakan kurang menikmati....

Baru terasa sekarang....

Memang dari luar tidak terasa, tapi seiring berlalunya waktu, makin lama semakin tergerogoti, terkikis, perlahan....

Mungkin pikiran sudah mulai gila....

Aku kudu piye, nda... awakku sui-sui remuk.