Sleep

Tidur.
Merupakan salah satu hal yang kadang saya membencinya. Ketika saya tidur, saya seringkali merasa dunia saya sudah habis karena tiba-tiba waktu berlalu. mungkin.
Karena di dalam tidur pula, saya membenci apa itu mimpi. Sebuah gambaran yang seringkali saya tidak mampu mengendalikannya, ya,, meskipun di dalam mimpi itu saya bisa melakukan hal-hal yang di luar akal sehat. Saya bisa terbang, saya bisa mengalahkan monster-monster, saya bisa menyelam di laut yang sangat dalam, dll. Terkadang, tapi sangat jarang sekali, saya tahu dan saya sadar kalau saya sedang bermimpi. Senang bisa mengendalikan mimpi itu.

Manusia butuh tidur, ya 5-8jam tiap malamnya. Sering saya tidur dengan penuh khawatir, apakah bisa bangun tepat waktu, sebelum shubuh misalnya, atau sebelum sahur... atau... memang mau bangun siang. Hei, itu masih tepat waktu, kalau saya menginginkannya bukan? Sejak kecil, ibu saya menanamkan untuk selalu bangun pagi. Entah itu dengan diguncang-guncang, dipercikkan air, bahkan dulu di awal saya jauh dari rumah. Nggak pernah absen buat bangunin. "Wes shubuhan durung?" sempat beberapa kali kesel, karena mungkin ibu nggak tahu, semalaman saya begadangan. Ok. Ibu tidak mau alasan itu, yang penting kamu bangun, sholat, dan silahkan tidur lagi. Tapi siap-siap, kamu akan terbangunkan kembali.

Sialnya, saya malah begitu mencintai tidur. Entah itu di ruangan, atau di depan televisi, bahkan beberapa kali di bioskop. Ketika saya (ter)tidur, saya akan menyesal ketika bangun. Bagaimana bisa saya melewatkan waktu dengan tidak menyadarkan diri? Apa saja yang telah terjadi di semesta ini ketika saya tidur?

mungkin rotasi bumi sudah berjalan berjuta kilometer?
mungkin kawanan lumba-lumba di Samudra Atlantik telah menemukan rumahnya?
atau mungkin sebuah proyek pengaspalan jalan sudah selesai dikerjakan?

begitu banyak hal berharga yang sudah saya lewatkan ketika saya tidur.
semakin saya membenci tidur, semakin mudah saya akan tertidur.
ya,, seperti itulah.

ketika tiba-tiba gawai yang saya mainkan (sambil tiduran) sudah terjatuh tak beraturan.
itulah saatnya saya untuk mencintai tidur... melewatkan waktu yang berharga...
untuk mengisi kembali energi
dan nantinya akan melewatkan waktu yang berharga keesokan harinya...
tinggal bagaimana saya memilih, bahagia di mimpi atau bahagia dengan waktu.

Selamat tidur dan selamat beristirahat...


Petuah

“Aku yakin koe iki sakjane iso, mung sing wingi koe rodo overconfident wae”

Sebuah kalimat yang terlontar, ditujukan untuk memperbaiki diri ini yang hampir selalu mendewakan kejumawaan semu. Padahal sungguh seandainya itu merupakan sebuah kelebihan, itulah semata-mata anugrah dari yang maha kuasa. Dan aku tidak boleh melangkahi kehendakNya.

Sayangnya, seringkali khayalan ini selalu berusaha mengejar jarum jam yang sudah berdetak sesuai iramanya. Aku sering berkhayal mengenai apa yang sesuatu itu bahkan belum aku jalani. Entah itu berupa gambaran positif ataupun gambaran negatif. Hasilnya pun sudah tentu, merusak mood dan konsentrasi masa sekarang.

Andai yang ada di benakku merupakan sesuatu yang positif, tubuh ini akan bereaksi berlebihan. Seolah-olah apa yang ada di benak itu pasti terjadi. Dan di akhir cerita, aku akan tersenyum lebar penuh kemenangan. Menang terhadap apa? Entah. Hingga muncul suatu bentuk overpede, anggap remeh, tidak serius, dll. Faktanya? Tidak sedikit aku harus gigit jari di akhir cerita.

Sebaliknya, andai yang ada di benakku adalah sesuatu yang negatif, seolah-olah semesta tidak merestui semuanya. Jadilah tersisa sebuah badan yang nyaris tak memiliki arti hidup. Akan ada sesosok yang super optimis...untuk gagal. Hingga akhirnya tidak akan muncul fighting spirit, kelah sebelum bertanding. Kalah terhadap apa? Entah. Dan di ujung cerita akan muncul pembelaan dan pemakluman atas kegagalan itu.

Tidak bisakah aku hidup normal?
Menjalani satu per satu cerita hidup, tanpa harus melihat hidup yang lain, dan tidak perlu mengambil beberapa langkah ke depan/
Apa yang terjadi ya itulah rejeki yang ada... buat kita, buat detik waktu yang mengiringi langkah hidupku.

Masa beberapa waktu dari sekarang...

Aku pun masih berjalan dengan waktu dan membiarkannya bergerak liar melebihi apa yang seharusnya ia tidak mampu melebihinya.

Percaya

Percayalah
Alloh itu tidak tidur

Percayalah
Alloh itu tidak tidur

Percayalah
Alloh itu tidak tidur

Percayalah
Alloh itu tidak tidur

Empat kali saya mengetik hal yang sama, bukan hanya copy paste. ya, benar-benar mengetik. pake beberapa jari.
Hal yang sama, yang saya lakukan kemarin, pagi tadi, siang tadi, sore tadi, petang tadi, esok pagi, esok siang, esok petang, dan esoknya lagi. Begitu terus.

Dan bahkan begitu ketikan "baris" yang pertama selesai, saya masih percaya
Gusti mboten sare....

dan ini bukan salah Tuhan, Tuhan tidak pernah salah
Salahkan saja semuanya kepada manusia
Bukankah manusia ciptaan Tuhan? Jadi?

Bukankah manusia itu yang tertidur, sedangkan dia yang terjaga....


aku dan aku

Sampai ketika saya menemukan sebuah sore di mana....
Saya tidak tahu apa yang akan dan seharusnya saya kerjakan, terlalu banyak darkside di dalam diri saya.

Semua terlihat begitu gamblang,, kesalahan-kesalahan itu...
Rasa iri itu, padahal saya tahu hal tersebut adalah sesuatu yang salah.

*another selfsuggestion to be better person
friendship


better friend

Berjuta pelita mungkin bisa menerangi, tetapi seorang sahabat akan lebih hebat

Selama 2 tahun ini, begitu banyak kawan datang dan pergi di tanah rantau, tetapi hanya beberapa yang mungkin bisa menjadi lebih dari sekedar kawan.

Intinya adalah
Saya benar-benar merasa kehilangan sesosok yang memiliki multiperan.
Saya kehilangan sosok yang akan selalu tertawa mendengar lelucon saya, yang bahkan kalau kering pun akan ditertawakannya.
Saya kehilangan sosok yang akan selalu mencela, dimana celaannya tidak akan membuat saya tersinggung. Sedikitpun. Karena kami sama-sama tahu, celaan itu bukan untuk merendahkan. Dan ini yang saya suka, mau dicela sebagaimanapun hati ini susah untuk sakit. Haha.
Saya kehilangan sesosok yang bisa mengajari saya hal-hal baru dan tak pernah lelah untuk memberi masukan. Kadang menjadi junior, kadang menjadi senior. Saling memberi pesan dan semangat
Saya kehilangan sesosok yang memiliki selera humor yang sama, yang bahkan apabila diceritakan ribuan kali, tawa itu akan ada.


Mungkin saya merasa kehilangan, tetapi sebenarnya tidak...
tetapi mungkin iya



















Senyumlah, dan si manis pun tertawahadirkan rasa tuk berbagi cinta
Senyumlah, dan si manis pun tertawahadirkan rasa rindu di hati






ilusi

mengapa saya harus mengkhawatirkan hari esok? bahkan di hari ini saja belum tentu saya bisa menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Padahal satu tarikan nafas dan satu detakan jantung sungguh sangat berharga dalam perjalanan waktu.

Ingat, dulu saya pernah dalam kondisi seperti ini. Tahun pertama saya hampir bisa menjalaninya dengan baik. Hanya saja waktu itu saya lebih memilih untuk menjadi seorang average yang yaah.. pokoknya ikuti jalan saja.

Tapi kini, di posisi yang (hampir) baru tapi rasa lama, levelnya sungguh jauh berbeda. Akan ada banyak kepala manusia (?) yang bersliweran di benak saya. Akan ada banyak suara manusia (?) yang riwa-riwi di daun telinga saya. Akan ada banyak hati yang mungkin akan sakit dan luka apabila telinga ini terlalu banyak mendengar.

Bismillah...
Untuk segalanya yang semoga menjadi lebih baik.
karena, mungkin ini jalannya...