Short Rilex


Hari masih terlihat sangat mendung. Hujan yang turun sejak semalam masih menumpahkan kerinduannya kepada bumi hingga pagi ini. Kuraih tegukan terakhir air putih di gelasku dan bersiap menjadi astronot. Ya,, hari ini untuk pertama kalinya berangkat memakai peralatan anti hujan lengkap. Dimulai dengan memakai celana panjang. Celana kantor ditekuk dulu sampai lutut. kemudian jaket tebal, dan yang terakhir jas anti hujan. Ditambah memakai helm merah. Dan jadilah seperti astronot di pagi hari yang gelap itu. Haha.

Dan perjalanan itu dimulai...

Hujan yang berintensitas sedang-sedang lebat mulai membasahi pakaian astronotku. Lebatnya hujan yang menghadang tidak membuat nyaliku ciut. Justru terasa asyik berkendara sambil hujan-hujanan. Tentunya dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Jalanan mulai memburuk ketika memasuki area Bangkong. Di area ini aktivitas gedung sekolah mulai padat. Mobil-mobil yang hendak masuk ke sekolah membuat situasi agak tersendat. Mulai dari sini, pikiranku berubah dari yang semula “jangan terlambat” berubah menjadi “sing penting selamet tekan kantor”. Bismillah, jalanan yang padat itu mulai dapat terlewati. 

Tetapi... berikutnya akan menjadi sebuah klimaks.

Pemandangan yang tidak biasa terlihat di ujung jalan Mataram, tepatnya menjelang bundaran Bubakan. Air mulai menggenang dan semakin dalam. Banyak pengendara mulai bertumbangan di tepi jalan dan menuntun motornya. Hati ini mulai bimbang. Antara maju atau mundur. Banyak yang memilih putar balik, Bismillah akhirnya aku memilih maju. Semakin ke arah utara, air semakin dalam. Mula-mula menenggelamkan setengah ban, kemudian lama-lama menjadi satu ban utuh tenggelam. Jadilah pagi ini kendaraan berubah menjadi speedboat mode.


Dengan kecepatan stabil dan hanya masuk di gigi satu. Speedboat dadakan itu berjalan pelan membelah genangan banjir. Dan di jalan itu hampir aku sendiri yang menerjang. Banyak yang menepi dan mogok karena knalpotnya kemasukan air. Sempat was-was juga andai tiba-tiba kendaraan ini mati. Air pun terlihat hitam karena air selokan bercampur dengan air hujan.

Setelah melewati hadangan genangan yang cukup dalam, tiba saatnya memasuki kantor. Depan kantor pun air mulai menggenang dengan ketinggian agak dalam. Dengan instruksi bapak-bapak security, akhirnya bisa memasuki kantor dengan menghindari jalan yang sekiranya agak dalam. Sampai di tempat parkir, suasana agak mencekam karena lampu mati dan hanya beberapa kendaraan saja yang diparkirkan. Asli, dengan segala kerendahan hati, mata ini berkaca-kaca tak menyangka ternyata kendaraan tua ini masih mampu mengantarkan tuannya dengan selamat. Berasa menjuarai sebuah race dalam motoGP. Hehe.

Semoga kejadian ini membawa sebuah hikmah yang mampu menjadi pelajaran dan cerita yang spesial dalam kehidupan ini.


Sebuah Sandiwara Sani Topeng Manusia


Beda antara kisah realita dengan sebuah sandiwara bukan hanya setipis garis. Ada jurang pemisah di antaranya keduanya yang meskipun tidak tipis sehingga tidak perlu ditanggapi dengan anarkis. Sandiwara hanyalah sebuah kondisi di mana sebuah kebohongan harus menjadi “seperti” realita. Semuanya bisa dikemas dengan rapi, indah, dan teratur sesuai kehendak. Terlalu banyak kepalsuan di dalam sandiwara jadi usahakan jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Sandiwara cukup menjadi semacam hiburan semata. Beda dengan realita. Realita merupakan sesuatu yang harus diusahakan dan dihadapi. Kadang indah, kadang sedih. Nikmati realita yang ada. Meskipun kadang realita dibumbui sandiwara, tetapi semua ada takarannya. Ibarat satu porsi kepiting lada hitam. Bayangkan jika lada itu melebihi takaran sehingga menutupi rasa kepiting. Begitulah bila sandiwara terlalu dilebih-lebihkan dalam kehidupan.

Baru-baru ini sebuah sandiwara ‘memaksa’ saya untuk berperan menjadi sesuatu yang tidak biasa bagi kehidupan saya. Sebelum saya menceritakan lebih jauh lagi beberapa kisah sandiwara saya di masa lampau. Saya tegaskan, ketika saya harus memainkan peran dalam dunia persandiwaraan, saya akan total. Karena saya tahu sebuah sandiwara ya it’s not real. Selow saja. Dan ketika saya harus berbenturan dengan kehidupan maka diperlukan sebuah sandiwara cerdas yang tidak berlebihan.

Oke. Dan saya masih bisa mengingat beberapa peran dalam sandiwara yang pernah saya jalani dengan tabah. Berikut bisa disimak.
1.     Pertama kali, sandiwara yang saya pentaskan adalah sandiwara dengan judul “Mencuri Mangga”. Judul yang cukup simpel memang karena sandiwara ini dilakukan saat saya duduk di bangku kelas 3 SD. Haha. Saya sebagai penulis cerita dan melakonkan bersama teman-teman saya. Nggak cetho sih memang. Lumayanlah.

2.      Dari era sekolah dasar, ternyata sandiwara kedua saya adalah saat duduk di bangku kelas 1 SMA. Jauh memang. Seinget saya memang saat bangku SMP nggak ada sandiwara. Jadi, pengalaman kedua ini adalah sebuah sandiwara dalam pelajaran Bahasa Inggris. Tantangan terberat adalah menghapal keseluruhan skrip dalam bahasa Inggris. Untung saja itu merupakan sandiwara pendek dan saya tidak jadi pemeran utama. Haha.

3.     Berikutnya, tak lama berselang. Pengalaman ketiga dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dan ini sudah memasuki usia yang setara dengan kelas 2 SMA. Kali ini tantangan cukup berat. Karena saya harus berperan sebagai tokoh utama. Cerita yang diambil adalah pelesetan dari “Malin Kundang”. Saya menjadi Malin Kundang yang mencari jodoh yang nantinya di ujung kisah ternyata mendapatkan jodoh yang sejenis. Haha. Di akhir pementasan, saya mendapat surprise dari teman-teman karena kebetulan hari pementasan adalah tepat di mana saya berulang tahun yang ke-17

4.     Masih di bangku kelas 2. Kali ini bukan sandiwara di depan kelas. Bahkan kami mendapat tugas membuat film. Dan ini kami dapatkan dalam pelajaran Bahasa Inggris. Eng ing eng. Film yang dibuat oleh tim kreatif kelompok kami adalah sebuah film bergenre horor. Dan ini menjadi tantangan karena harus melakukan ambil adegan saat malam hari di sekolah. Seingat saya, waktu itu saya berperan sebagai orang yang bernama “Mustaf” entah bagaimana ceritanya saya juga sudah lupa. Haha.

5.     Memasuki kelas 3 SMA. Ini yang saya agak lupa. Saya pernah berperan menjadi seorang wanita. Memakai kebaya dan disumpel pake kertas biar kelihatan “menonjol”. Haha. Dan saya rela-rela saja digituin. Tapi sayang, saya agak lupa ini dalam pelajaran mana. Mungkin dengan gambar jadi nggak berkesan hoax. Hehehe.
oh no

6.      Langsung melompat ke jenjang perkuliahan. Peran saya dalam sandiwara terangkum saat tingkat akhir di kampus. Pada mata kuliah KSPK dan kebetulan dilakukan di luar kelas. Saat itu ada pementasan drama mengenai nilai-nilai kementerian keuangan dengan “INPROSPEK”nya. Dan saya mengambil adegan dalam nilai “Pelayanan”.
kelakuan jaman kuliah
7.     Sandiwara berikutnya terhampar dalam mata kuliah “Budaya Nusantara”. Saat itu kelompok kami mendapat undian mementaskan budaya Kalimantan dan saya pun memakai kostum suku Dayak Kalimantan.

8.      Puncaknya, sandiwara yang baru saya lakukan adalah menjadi Nyi Ulo dalam pementasan Dewi Sri dalam sebuah acara penghargaan di kantor. Dan ini merupakan puncak. Wajah saya sudah berubah drastis. Kepribadian juga berubah drastis. Nggak ngomong sih. Cuma gerak-gerak dan yang paling penting utamanya adalah melakukan tari India. Hahaha.

don't try this at home
asline ganteng aku daripada qisthon

















"Sebuah refleksi kehidupan, dimana sebagai manusia (hidup) terkadang dibutuhkan sebuah topeng. Topeng yang dapat digunakan untuk berubah, melenceng dari diri sendiri, dan memerankan jutaan karakter. Satu hal yang harus selalu tetap diingat. Meskipun memakai topeng, kepribadian seseorang tidak bisa selamanya ditutupi. Selalu ada nurani yang akan menampakkan wajah asli manusia. Percayalah, nurani itu masih ada."

Berhenti memakai topeng di depan cermin. IQ??  

[me] Galeri Galau

Pagi ini mendung menggelayuti mentari. Kita lewati bersama jalan itu. Jalan yang tiap pagi selalu dipenuhi kendaraan dan asap. Selalu seperti itu tiap pagi. Bersama para pencari isi perut, penjemput rezeki. Aku dan kamu selalu bersama menghadapi itu semua. Beruntung aku memilikimu di sini. Seperti itulah jodoh, kamu yang nggak pernah aku duga sebelumnya bisa muncul dan selalu menemani penatnya hari-hariku.
***

more sad

Kali ini saya akan nglantur dikit soal jodoh. Jujur saja, minggu ini saya jadi korban FTV. Hahaha. Bahkan gara-gara FTV, saya hampir terlambat untuk mendatangi acara futsal sama teman-teman. Hmmmm... Jadi, apa sebenarnya jodoh itu? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) jodoh adalah:
1. Orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan
2. Sesuatu yang cocok, sehingga menjadi sepasang; pasangan
3. Cocok; tepat

Dalam arti yang nomor 1, terlalu berat buat saya untuk membahasnya. Harus punya ilmu kanuragan yang tinggi. Mungkin bisa kalo dikit-dikit yang nomor 2 dan 3. Jodoh adalah sesuatu yang cocok.

Manusia boleh berusaha, mencari, mengharap, menemukan, menentukan bahwa “sesuatu” itu adalah jodohnya. Dan manusia pun boleh bahagia akan keyakinannya itu. Namun, ketika Tuhan berkehendak lain bagaimana komentar selanjutnya.

“Oh ternyata bukan jodohku”

“Ah belum jodoh deh”

“Ya mau gimana lagi, bukan jodohnya”

Menurut pendapat hemat saya “kehendak lain” Tuhan itu juga merupakan jodoh. Tidak ada yang bukan merupakan jodoh.  Saya ambil sebuah cerita yang sedikit banyak bersinggungan dengan jodoh.

Waktu duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Waktu itu Bapak membelikan sebuah sepeda motor untuk saya, sepeda motor keluaran terbaru. Motor bebek dengan kekuatan 100cc. Mungkin karena saya sudah besar jadi harus berangkat sekolah sendiri. Perlu diketahui waktu kelas 1 SMA saya selalu nebeng teman saya untuk berangkat sekolah. Dengan adanya kendaraan baru itu membuat mobilitas saya menjadi lebih fleksibel. Kemana-mana bisa sendiri.

Sungguh sangat senang rasanya. Punya motor baru dan kegantengan saya meningkat 5%. Seenggaknya (kalo punya) pacar jadi nggak kerepotan. Ya tapi itu cuma khayalan yaah. Faktanya, saya SMA bahkan nggak punya pacar. Haha. Euforia motor baru berlanjut dengan me-makeup motor supaya terlihat lebih garang. Tabungan dibongkar untuk membiayai keperluan motor. Boros memang.

Akhirnya, semua tidak berakhir dengan indah beberapa bulan kemudian. Di suatu sore, bapak bercerita kalau temannya baru saja membelikan anaknya sepeda motor dan si anak ternyata nggak mau. Si anak itu nggak mau karena katanya barang bekas dan nggak sesuai dengan yang diharapkan. Bapak menawari saya, “mau nggak ganti motor”. Motor yang ditawarkan itu adalah motor sport, macho, dan berkekuatan 160cc tetapi merupakan barang kedua. Dilema memang. Dan ternyata saya memilih melepas motor baru demi mendapat motor yang pada akhirnya hingga sampai saat ini menjadi teman perjalanan saya ke kantor seperti prolog di awal postingan ini. Motor yang membawa jutaan cerita dan kisah melebihi perjodohan dengan motor sebelumnya.

Hikmah yang bisa dipetik dari ilustrasi itu adalah jodoh tidak ada yang bisa menebak, semuanya merupakan rahasia Tuhan yang harus dijalani dengan ikhlas. Perjuangkan sesuatu yang kamu yakini dengan maksimal dan serahkan hasilnya pada Tuhan meskipun pada akhirnya tidak sesuai harapan. Percayalah, tidak ada yang salah dengan rencana Tuhan.

***
Dua kali sudah aku mencoba dan dua kali pula aku gagal. Aku dulu sempat berpikir bahwa dari dulu memang kita belum berjodoh. Belum berjodoh dalam arti akan ada suatu masa dimana Tuhan menjodohkan kita.  Ketika kamu dengan yang lain, aku pun juga dengan yang lain. Sama-sma memperjuangkan jodoh dan ternyata memang jodohnya di tempat lain. Aku selalu yakin ketika kamu dengan yang lain itu merupakan jodohmu, dan ketika aku dengan yang lain itu juga merupakan jodohku. Bahkan keyakinanku bisa dimentahkan Tuhan dengan rencananya yang indah.

Mungkin aku harus menyerah untuk memikirkan “perjodohan” kita ini. Atau mungkin kita berjodoh dalam hal lain. Semua masih misteri. Hidupku bukan cuma kamu, kamu belum menjadi seseorang yang berperan dalam hidup aku. Meskipun aku selalu berpikir, kamu itu penting. Selalu saja penyangkalan itu muncul. Kamu mungkin hanya semacam candu yang sering melintas di benakku. Dan pada intinya ketika kamu mendapatkan kebahagiaan dengan yang lain aku pun turut berbahagia untuk kebahagiaanmu.

Ketahuilah, hingga detik ini, aku selalu mengharapkanmu. Namun, apa usahaku? nol besar. Dan dari sinilah bahkan untuk memimpikan dan mengharapkanmu, aku tidak berhak. Masih ada yang lain di luar sana yang lebih, lebih, dan lebih bisa membahagiakanmu daripada cuma aku yang hanya bisa membisu di depan netbook. Aku dengan 'keseriusan' semu, hanya bisa mengagumimu dari tempatku bersembunyi.


Tidak ada yang perlu diakhiri, bahkan dimulai saja belum...

Teruntukmu...





everybody must know...


Selamat pagiii,, Salam hangat terdahsyat untuk fans-fans saya dimanapun Anda berada. Saya nggak kemana-mana, saya masih setia duduk di kursi panas ini ditemani monitor mati dan mesin fotokopi. Dengan kesibukan saya sekarang ini, jadi jarang mengasah otak untuk menemukan inspirasi untuk menceritakan sesuatu yang kiranya menghibur kawan-kawan semua. Sekalian saya curhat sih. Haha.

Alkisah saat saya mulai melirik rak buku bacaan saya di kamar, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah buku. Buku kecil dengan warna yang agak girly, dominan pink dan agak kekuning-kuningan. Seonggok buku kecil itu terslempit di antara buku-buku lain yang ada pada rak buku tersebut. Dan ternyata... Itu adalah buku diary ku. Eitss bukan sekedar diary. Sekedar mengingatkan buku diary adalah buku harian, biasanya para cewek sering mencurhatkan semuanya lewat sebuah buku yang hanya dia sendiri yang tahu. Tapi itu zaman dahulu kala, sekarang zaman sudah maju. Komputer dimana-mana. Ya kayak saya ini, buat blog isinya kalo nggak nyampah, buat puisi, tips-tips gendeng, serta share pengalaman juga ada sih.

Kembali ke buku diary saya. Di sini saya tegaskan, saya bukan orang kemayu yang selalu curhat dengan menulis hal-hal galau. Haha. Itu diary yang saya punyai sebenarnya adalah sebuah tugas dari guru mata pelajaran Bahasa Indonesia saat saya duduk di bangku SMP. Saat itu, satu kelas diminta untuk membuat sebuah buku diary dengan berisi pengalaman menarik disertai tanggal yang persis seperti saat kejadian yang diceritakan.
pinky.. haha
Entah bagaimana cara dan upaya yang saya lakukan sehingga sanggup membeli buku yang tidak segarang penampilan saya.

Di situ tertulis beberapa cerita lengkap dengan waktunya. Padahal sebenarnya cantuman tanggal yang tertera adalah hasil penerawangan yang saya kaitkan dengan perubahan gejala alam dan gejolak yang ada dalam diri saya. Berikut adalah cerita yang saya ceritakan kembali. Jadi penulisan dalam blog ini adalah wujud memorize digitalization. Abot tenan cah. Haha. Me-retell apa yang sudah di-retell. Lhambuh angel. Daripada makin nggak jelas, monggo...




Selasa, 26 April 2000
Pada hari ini aku berangkat sekolah pukul 6.00. Kira-kira pukul 10.30, aku sedang mengerjakan soal. Kebetulan pada waktu itu guruku sedang tidak ada di kelas. Keadaan kelas menjadi gaduh. Istirahat pun tiba. Ketika aku ke kantin banyak teman-teman pada tersenyum. Setelah itu aku bertanya pada temanku. Temanku berkata bahwa di bajuku bagian belakang ada coretannya. Sesampainya di kelas aku bertanya kepada teman-temanku. Ternyata yang mencoret-coret bajuku adalah Gilang. Akhirnya kubalas perbuatan Gilang itu. Baju itu tidak saya pakai lagi karena tulisannya tidak bisa hilang padahal sudah dicuci.
Nb: Agak absurd dan nggak nyambung emang, itulah kualitas tulisan saya dulu. Kalo sekarang sih ya,, sama saja.-_-“

Selasa 24 Desember 2002
Pada hari ini aku mendapat giliran piket. Piket dilaksanakan pada waktu akan masuk kelas dan pulang sekolah. Kira-kira pukul 14.00 (2 siang) bel telah berbunyi. Aku segera melaksanakan piket kelas. Pada saat itu aku mendapat tugas untuk mengepel, karena temanku yang menyapu belum selesai, aku bermain bola di dalam kelas. Tanpa sadar aku menendang bola terlalu keras yang menyebabkan kaca jendela pecah. Semua temanku kaget, tetapi temanku membantuku untuk mengambili kaca yang pecah itu. Esoknya, karena libur Natal dua hari, aku dan ayahku ke toko kaca untuk membeli kaca seukuran dengan jendela. 2 hari setelah libur, aku minta maaf pada guruku dan aku tidak dimarahi tetapi diberi nasihat agar aku tidak mengulanginya lagi.
Nb: Asli absurd. Haha. In fact, bukan saya yang menendang bola tetapi karib saya. Mungkin umpan saya terlalu manja sehingga beliau menendang dengan membayangkan gawang yang kosong dan praaang. Tercerai-berailah kaca itu hancur berkeping-keping. Itu juga bukan ayah saya yang ke toko kaca, tapi ayah teman saya. Ya namanya juga mendramatisasi. Jangan diulangi lagi ya dramanya, sama mecahin kacanya juga sih. Haha

Kamis, 19 Juni 1999
Pada hari ini aku berangkat siang. Kira-kira aku berangkat pukul 12.00 (12 siang). Pada hari itu juga aku dan teman-temanku di kelas mendapat tugas membuat sari wortel. Aku kaget, karena aku tidak suka wortel, apalagi sarinya. Tugas itu tetap saya laksanakan. Ternyata, sari wortel itu untuk diminum. Aku pun meminumnya dengan berat hati. Tiba-tiba 5 menit sesudah minum sari itu, aku merasa pusing. Pusing itu saya tahan sampai istirahat. Setelah istirahat, aku merasa mual. Tak lama kemudian, sari wortel itu aku keluarkan semua. Esoknya aku tidak berangkat sekolah karena sakit.
Nb: Asli. Daridulu nggak suka wortel. Minum jus wortel nggak kuat baunya. Dan hasilnya adalah saya “hoeksor” mengeluarkan semua isi perut. Nggak lagi-lagi deh minum jus wortel

udah tercerai-berai

Rabu, 23 November 1998
Pada hari ini aku liburan sekolah. Aku diajak kakakku pergi ke rumah temannya dan naik sepeda. Sesampainya di sana, kakakku sedang berbincang-bincang dengan temannya. Karena merasa bosan aku iseng-iseng naik sepeda. Setelah cukup lama, aku melihat ada sebuah jalan menurun. Aku lewati jalan itu. Karena jalan menurun laju sepeda bertabah cepat. Ketika akan ku rem, ternyata remnya blong. Aku menabrak pagar dan kepalaku benjol. Aku menangis dengan keras karena sakit. Kakakku datang menolongku dan mengajakku pulang. Sesampainya di rumah, aku diberi obat oleh ibuku.
Nb: itu sakitnya beneran minta ampun, jidat sampe benjol.. Untung sepedanya nggak kenapa-kenapa #lhoh. Itu asli saya nyungsep di semak-semak. Haha. Kenangan yang nggak terlupakan

Sabtu, 4 Oktober 2000
Pada hari ini aku pulang sekolah lebih awal kira-kira pukul 10.00 pagi. Aku dan teman-temanku mengikuti ekstra komputer yang dimulai pada pukul 11.00. Sisa satu jam itu aku gunakan bermian sepak bola dengan teman-temanku. Kira-kira 15 menit kami bermain, aku menendang bola itu dengan keras, tetapi mengenai kaki temanku dan berbelok arah ke ruang kelas 2. Aku dan temanku meminta izin untuk mengambil bola itu. Setelah kuambil bola, aku dan temanku dijewer. Sakit sekali rasanya. Aku segera meminta maaf atas kesalahanku tadi. Aku disuruh berjanji agar tidak mengulanginya lagi.
Nb: Haha. Kalo yang ini dijewer sakitnya nggak seberapa, tapi ya malu juga sih dijewer.

masih kebaca tulisannya :p
Demikianlah sekelumit yang dapat di retell dari sebuah buku kecil. ternyata kebanyakan menceritakan pas saya masih SD. banyak sih yang bisa diceritakan kembali, edisi kali ini hanya sebatas yang ada bukti otentiknya saja. Dan kebetulan, buku diary ini merupakan satu-satunya barang lama saya yang masih bisa bertahan. Rencananya akan tetap dipertahankan untuk dapat diceritakan ke anak cucu nanti. Ya, minimal buat pengantar tidur. Hahaha
Oh iya.. selamat datang Desember. Penghujung tahun 2013 ini. Harapan saya cuma satu, semoga salju turun di Indonesia. Haha.

Wassalamualaikum...

[jokes] ke-relatif-an



Ketika candaan menjadi selingan dalam hidup, begitu mudah bagaimana mengumbar senyum.

Berikut akan saya share salah satu cerita yang ada dalam buku yang telah saya baca, buku yang berjudul “Kyai Kocak vs Liberal”. Sebuah cerita santai tetapi serius dalam menghadapi orang yang menafsirkan Islam “sak udele dewe”. Tokoh utama dalam buku tersebut adalah seorang kyai kampung yang bernama Kyai Adung, dimana tokoh rekaan ini selalu bisa mendebat orang-orang yang lucu (liberalis).

Monggo...


“Maaf, Pak Seminar, ane mau tanya. Apa maksudnya bahwa kebenaran itu relatif" tanya Kyai Adung saat mengikuti undangan sebuah seminar.

“Nama saya bukan seminar, Pak. Nama saya Doktor Mesrowo bin Mesriwi.”

“Ooh, bukan, ya. Ane kira orang yang kerjaannya seminar julukannya bapak seminar. Maaf, Pak Doktor Mesrowo bin Mesriwi,” Kyai Adung minta maaf.

“Siapa nama Bapak?”

“Adung, Pak Mesrowo.”

“Gadung?”

Wkwkwkw, Kyai Adung keki. Namanya diplesetin jadi gadung. Kyai Adung jadi inget nama tanaman rambat dan berduri. Nah, umbi tanaman ini disebut gadung. Ubi dong, ane? Gerutunya.

“Begini, Pak Adung, kebenaran itu tidak tunggal. Satu kebenaran seribu tafsir. Tak ada yang mutlak kecuali Tuhan. Karena itu, jangan cepat-cepat menyalahkan orang. Sebab, kebenaran itu milik siapa saja.”

Puyeng kan? Kyai Adung aja keliyengan. Peserta seminar ada juga yang keliyengan, ada juga yang mufakat. Cuma Kyai Adung yang rewel nanya-nanya terus.

“Pak Mesrowo, kalo ada orang ngomong ketemu Malaikat Jibril, dapet wahyu, terus ngaku-ngaku dinikahi Malaikat Jibril, terus bikin agama baru, ini salah apa bener?”

“Biarkan saja. Bisa jadi dia benar.”

“Terus kalo ane ngomong orang itu sudah edan, kelewat edan karena sejak kapan Malaikat Jibril butuh istri, ane salah apa bener?”

“Bisa jadi Bapak benar. Tapi, Bapak jangan buru-buru menyalahkan orang itu dan menganggapnya sesat.”

Nah, tambah puyeng, kan?

“Semangatnya, setiap orang memang terus mencari kebenaran. Dia tidak boleh dihakimi salah atau keliru. Dan, itulah maknanya bahwa kebenaran itu relatif.”

“Pak Mesrowo, kalo Mirza Ghulam Ahmad mengaku nabi, bener apa salah?”

“Biarkan saja. Bisa jadi dia benar.”

“Terus, kalo Nabi Muhammad sendiri berkata bahwa tidak ada nabi lagi sesudah beliau, Nabi Muhammad bener apa salah?”

“Benar, tapi Mirza Ghulam Ahmad juga berhak punya tafsir bahwa dia nabi.”

“Pak Mesrowo bin Mesriwi, kalo begitu, sebenarnya kebenaran itu tidak ada menurut ente.”

“Tidak juga begitu. Bergantung sudut pandang dan tafsir kita masing-masing. Persoalannya, kita sering menuduh orang itu telah kafir, sesat, salah, dan sebagainya. Kafir, sesat, dan salah menurut siapa? Hanya Tuhan yang berhak memutuskan begitu.”

“Berarti boleh, dong, ane berpendapat tentang Bapak sesuai tafsir ane?”

“Silakan saja. Asalkan itu benar.”

“Benar menurut ane, apa ente, Pak?”

“Benar menurut kebenaran itu sendiri. Bukan menurut Bapak, juga bukan menurut saya.”

“Benar menurut kebenaran itu berdasar sudut pandang ane atau sudut pandang ente?"

“Sudut pandang kita masing-masing.”

“Kalau menurut ane, ente itu orang bingung alias orang yang nggak jelas pemikirannya, ane salah apa bener?”

“Benar menurut Bapak, tapi keliru menurut saya.”

“Terus, yang benar menurut ente itu bagaimana?”

“Saya sehat dan saya paham sekali apa yang saya pikirkan atau katakan.”

“Kalo seisi ruangan ini mengatakan ente orang gila, bener apa salah?”

“Salah, sebab saya masih sehat.”

“Itu tafsir ente, tapi bagaimana kalo tafsir orang seruangan ini sepakat ente gila?”

“Ya, tapi tafsir gila itu harus ada patokannya.”

“Apa dong patokannya?”

“Pendapat psikolog atau ahli jiwa. Kalau yang bilang saya gila adalah ahli kejiwaan, semua orang boleh percaya. Tapi, kalau hanya pendapat Bapak, itu klaim sepihak. Saya juga bisa mengklaim bapak stress.”

Jgerrrr....

Kyai Adung bagai ditempeleng di muka umum. Untung Kyai Adung sudah tahu persis cara menghadapi tabiat orang macam pak Mesrowo bin Mesriwi ini. Kalau tidak, bisa-bisa Kyai Adung langsung angkat kaki dari forum itu. Sing sabar ya, Kyai....

“Terus, patokan untuk mengukur Mirza Ghulam Ahmad itu benar sebagai nabi, patokan siapa yang dipake?”

“Tafsir bahwa namanya Ahmad. Al-Quran sendiri menyebut nama Ahmad sebagai nabi yang datang sesudah Nabi Isa.”

“Ya, itu hak dia.”

“Kalo ada orang gila yang ngaku-ngaku nabi karena kebetulan namanya Ahmad, bagaimana?”

Ya salaaaam, Pak Mesrowo Bin Mesriwi dan Kyai Adung seperti sedang balapan di arena yang tidak ketemu ujungnya. Pangkalnya hanya soal kebenaran yang bersifat relatif.

Ya, kalau semua patokannya relatif memang susah. Padahal, soal kebenaran dalam Islam jelas sekali patokannya. Ada istilah qath’i, tsubut, dan kebenaran yang bersifat mutawatir. Ada kebenaran dalam Islam itu yang bersifat konsensus atau ijma yang tidak lagi relatif.

Tapi, peserta seminar jadi tertarik mengikuti perdebatan antara pak Mesrowo bin Mesriwi dengan Kyai Adung. Bahkan mereka ingin tahu, siapa di antara keduanya yang bakal dibikin keok.

“Ya biarkan saja. Namanya juga orang gila. Siapa yang bisa membatasi hak orang gila?”

“Dari mana ente tahu Ahmad yang itu gila?”

“Lho, kan bapak yang bilang, Gimana, sih?”

“Tapi kan, saya bukan psikolog atau ahli jiwa. Saya tidak berhak menyimpulkan dia gila. Berarti benar.”

“Benar apaan?”

“Ente benar linglung!”

Qiqiqiqiqiqiqi....

[me] igauan candaan

"Semua wanita di dunia itu cantik sedangkan lelaki terhebat adalah saya"

Sebuah prinsip (ngaco) yang baru-baru ini saya temukan sendiri. Tentunya melalui proses perenungan, pemahaman, peresapan yang sangat dalam hingga menembus ruang hati yang terdalam.

Ketika saya mengatakan "semua wanita di dunia itu cantik" ada makna besar yang tersirat dalam pernyataan tersebut. Coba bagi Anda yang (merasa) lelaki, perhatikan sesosok makhluk yang bernama wanita. Pandangi dari ujung atas sampai bawah. adakah kejelekan mereka di setiap pandangan Anda? Subhanallah. Tidak ada!. itulah kodrat Anda sebagai lelaki (normal) yang akan selalu tertarik dan nantinya dipasangkan dengan wanita.

Sebagai lelaki, Anda pasti akan berkata si A itu cantik, kemudian Anda melihat kepada B dan juga berkata si B juga cantik. Atau bahkan saat Anda melihat Z, Anda akan merasa biasa saja, dan mengatakan si Z tidak cantik. Bukan berarti Anda tidak normal sebagai lelaki. itu hanya masalah selera saja. Dalam arti lain, pedoman untuk mengatakan cantik atau tidaknya seseorang itu relatif. Tidak ada yang salah dengan ke-relatif-an itu. 

Hingga saya sendiri secara ngaco menyimpulkan bahwa semua wanita di dunia ini itu cantik. Karena memang nggak ada habisnya cantik itu (fisik). Sampai saya capek untuk mengatakan bahwa wanita itu cantik. Bukan berarti saya plaboy, tukang gombal atau apalah. Bagi saya, cantik saja belumlah cukup. Dan ketika momen itu tiba biasanya cantik yang benar-benar cantik di dalam angan saya adalah sesuatu ya menurut apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasakan akan terlihat, terdengar, dan terasa cantik. Saat itulah saya berani mengatakan bahwa wanita seperti itulah yang pantas untuk menjadi calon ibu anak-anak saya nanti. Mungkin ini salah satu kriteria saya. Hahaha.

Tapi cantik saja nggak cukup kaan.. weeeek..

Pernyataan bagian kedua "Lelaki terhebat adalah saya"
Dan itu benar adanya, itulah yang dinamakan percaya diri dan optimis.
Karena musuh terbesar adalah diri sendiri. Dan itu tidak dapat dipungkiri lagi. Ketika Anda melihat pesaing-pesaing Anda yang nampak jelas terlihat, Anda juga harus mampu untuk merasakan dan mengalahkan apa yang dinamakan diri sendiri.

Buang semua rasa iri dan dengki, kembali menatap diri dan selalu bersyukur. Itulah saat Anda berhasil mengalahkan diri Anda. Tentunya jangan cepat berpuas diri apabila telah menang. Yakinlah, setan itu akan selalu menggoda Anda untuk menumbuhkan kembali rasa iri, dengki, kufur nikmat. Selalu berusaha dan menikmati proses. Dan yakinlah pada diri sendiri.

Demikian sekelumit cerita ngawur saya di siang ini. Semoga mampu menghibur dan menambah wawasan kita semua. aamiin.

Journey#2 Shock in the Early Morning


Angin malam semakin mendinginkan suasana di dalam kereta. Tampak teman-teman terlelap dengan penuh kedamaian di kereta. Berharap kereta ini mampu membawa ke tempat tujuan dengan selamat dan tanpa terlambat.

Tak terasa, aku terbangun di tengah heningnya malam. Kupandangi semua wajah teman-temanku. Ada yang tidur miring ke kanan, miring ke kiri, mulut terbuka lebar, pokoknya macam-macam. Dan setelah itu aku terjaga hingga kereta membawa kami menuju stasiun terakhir.

Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 ketika udara dini hari Jakarta menyapu wajah kami yang tampak lusuh setelah turun dari kereta. Dengan bawaan yang lumayan sedikit, rombongan kami berjalan keluar mencari tempat singgah. Dan kami memutuskan untuk singgah di sebuah masjid sekitaran Senen. Dalam perjalanan, ada sebagian teman yang mencari makan di pagi hari buta. Kebetulan saat itu perut sedang terasa full entah seperti ada yang mengganjal baik di hati maupun di perut.

Jakarta emang nggak pernah mati, pagi hari buta pun Jakarta sudah ramai. Sekumpulan anak muda sedang bermain kasti di pagi hari. Buset. Mungkin karena ruang publik terlalu sempit saat matahari keluar. Sungguh ironi sekali.

Kembali ke cerita kami. Setelah makan, kami kembali menuju ke tujuan semula. Masjid sekitaran Senen. Begitu sampai, ternyata masjid ditutup. Dan kemudian muncul ide untuk menuju ke Masjid Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara pada jamannya. Segera kami menghentikan angkot dan bernegosiasi sebentar. Dengan biaya Rp 35.000,- kami semua masuk ke dalam angkot, membelah Jakarta pagi hari. Aku kebagian duduk di bawah bersama Izhar.

Sebentar kemudian, sang supir sudah menyuruh kami turun. Dan ternyata,, masjid juga masih dalam kondisi terkunci dan akan dibuka pukul 03.30. Waktu saat itu sudah masuk pukul 03.00. oke kami pun pasrah menunggu 30 menit, paling juga cepet. Sejurus kemudian, Faris memesan kopi untuk menghilangkan dinginnya angin. Cukup enak juga nyeruput sedikit.

Tiba-tiba aku tercekat, smartphone blackberry ku berbunyi. Tertulis di situ “Rumah” memanggil. Aku berpikir, ini tumben-tumbenan kenapa ditelpon sepagi ini dan nanya kabar. Kuangkat “halo” dan yang menjawab di seberang adalah masku. Lhoh??

“Rumah habis kemalingan, ini biar Bapak yang bilang”

Dhueerr,, aku kaget. Ternyata kemudian dari sana suara sudah beralih ke Bapak.

“STNK mu dimana? Ini rumah habis kemalingan, kunci-kunci kendaraan pada hilang”

Blarrr.. astaghfirullah. Baru kali ini kejadian ada pencuri masuk rumah. Dan sialnya dia datang pas aku nggak ada di rumah. Berani-beraninya dia. Oke, bapak pun bercerita dengan kronologis singkat, dan aku bisa menduga-duga semua kemungkinan yang ada. dan ternyata setelah tahu semuanya akan terungkap bahwa semua dugaanku adalah mentah salah. Ini jadi pelajaran, supaya jangan terlalu cepat menyimpulkan jika belum tahu sendiri.

Hilang sudah mood saya pagi itu. Hingga tak terasa 30 menit berlalu. Kami memasuki rumah Alloh yang megah itu, kami membersihkan diri, mandi dsb supaya dapat shoat shubuh dengan khusyuk. Saat mandi, terasa begitu dingin. Angin yang tadi masuk segera membuat badan menjadi tidak enak. Namun, kuhiraukan itu semua karena adzan Shubuh akan segera dikumandangkan.

Segera kami tunaikan sholat Shubuh berjamaah di Istiqlal. Begitu tenang dan damai. Mungkin jika semua urusan diadukan ke Tuhan, semua akan terasa lebih ringan. Setidaknya pikiran lebih tenang sebelum kami memulai perjalanan menuju Kantor Pusat.