Ketika
candaan menjadi selingan dalam hidup, begitu mudah bagaimana mengumbar senyum.
Berikut
akan saya share salah satu cerita yang ada dalam buku yang telah saya baca, buku
yang berjudul “Kyai Kocak vs Liberal”. Sebuah cerita santai tetapi serius dalam
menghadapi orang yang menafsirkan Islam “sak
udele dewe”. Tokoh utama dalam buku tersebut adalah seorang kyai kampung yang
bernama Kyai Adung, dimana tokoh rekaan ini selalu bisa mendebat orang-orang
yang lucu (liberalis).
“Maaf,
Pak Seminar, ane mau tanya. Apa maksudnya bahwa kebenaran itu relatif" tanya
Kyai Adung saat mengikuti undangan sebuah seminar.
“Nama
saya bukan seminar, Pak. Nama saya Doktor Mesrowo bin Mesriwi.”
“Ooh,
bukan, ya. Ane kira orang yang kerjaannya seminar julukannya bapak seminar.
Maaf, Pak Doktor Mesrowo bin Mesriwi,” Kyai Adung minta maaf.
“Siapa
nama Bapak?”
“Adung,
Pak Mesrowo.”
“Gadung?”
Wkwkwkw,
Kyai Adung keki. Namanya diplesetin jadi gadung. Kyai Adung jadi inget nama
tanaman rambat dan berduri. Nah, umbi tanaman ini disebut gadung. Ubi dong,
ane? Gerutunya.
“Begini,
Pak Adung, kebenaran itu tidak tunggal. Satu kebenaran seribu tafsir. Tak ada
yang mutlak kecuali Tuhan. Karena itu, jangan cepat-cepat menyalahkan orang.
Sebab, kebenaran itu milik siapa saja.”
Puyeng
kan? Kyai Adung aja keliyengan. Peserta seminar ada juga yang keliyengan, ada
juga yang mufakat. Cuma Kyai Adung yang rewel nanya-nanya terus.
“Pak
Mesrowo, kalo ada orang ngomong ketemu Malaikat Jibril, dapet wahyu, terus
ngaku-ngaku dinikahi Malaikat Jibril, terus bikin agama baru, ini salah apa
bener?”
“Biarkan
saja. Bisa jadi dia benar.”
“Terus
kalo ane ngomong orang itu sudah edan, kelewat edan karena sejak kapan Malaikat
Jibril butuh istri, ane salah apa bener?”
“Bisa
jadi Bapak benar. Tapi, Bapak jangan buru-buru menyalahkan orang itu dan
menganggapnya sesat.”
Nah,
tambah puyeng, kan?
“Semangatnya,
setiap orang memang terus mencari kebenaran. Dia tidak boleh dihakimi salah
atau keliru. Dan, itulah maknanya bahwa kebenaran itu relatif.”
“Pak
Mesrowo, kalo Mirza Ghulam Ahmad mengaku nabi, bener apa salah?”
“Biarkan
saja. Bisa jadi dia benar.”
“Terus,
kalo Nabi Muhammad sendiri berkata bahwa tidak ada nabi lagi sesudah beliau,
Nabi Muhammad bener apa salah?”
“Benar,
tapi Mirza Ghulam Ahmad juga berhak punya tafsir bahwa dia nabi.”
“Pak
Mesrowo bin Mesriwi, kalo begitu, sebenarnya kebenaran itu tidak ada menurut
ente.”
“Tidak
juga begitu. Bergantung sudut pandang dan tafsir kita masing-masing.
Persoalannya, kita sering menuduh orang itu telah kafir, sesat, salah, dan
sebagainya. Kafir, sesat, dan salah menurut siapa? Hanya Tuhan yang berhak
memutuskan begitu.”
“Berarti
boleh, dong, ane berpendapat tentang Bapak sesuai tafsir ane?”
“Silakan
saja. Asalkan itu benar.”
“Benar
menurut ane, apa ente, Pak?”
“Benar
menurut kebenaran itu sendiri. Bukan menurut Bapak, juga bukan menurut saya.”
“Benar
menurut kebenaran itu berdasar sudut pandang ane atau sudut pandang ente?"
“Sudut
pandang kita masing-masing.”
“Kalau
menurut ane, ente itu orang bingung alias orang yang nggak jelas pemikirannya,
ane salah apa bener?”
“Benar
menurut Bapak, tapi keliru menurut saya.”
“Terus,
yang benar menurut ente itu bagaimana?”
“Saya
sehat dan saya paham sekali apa yang saya pikirkan atau katakan.”
“Kalo
seisi ruangan ini mengatakan ente orang gila, bener apa salah?”
“Salah,
sebab saya masih sehat.”
“Itu
tafsir ente, tapi bagaimana kalo tafsir orang seruangan ini sepakat ente gila?”
“Ya,
tapi tafsir gila itu harus ada patokannya.”
“Apa
dong patokannya?”
“Pendapat
psikolog atau ahli jiwa. Kalau yang bilang saya gila adalah ahli kejiwaan,
semua orang boleh percaya. Tapi, kalau hanya pendapat Bapak, itu klaim sepihak.
Saya juga bisa mengklaim bapak stress.”
Jgerrrr....
Kyai
Adung bagai ditempeleng di muka umum. Untung Kyai Adung sudah tahu persis cara
menghadapi tabiat orang macam pak Mesrowo bin Mesriwi ini. Kalau tidak,
bisa-bisa Kyai Adung langsung angkat kaki dari forum itu. Sing sabar ya,
Kyai....
“Terus,
patokan untuk mengukur Mirza Ghulam Ahmad itu benar sebagai nabi, patokan siapa
yang dipake?”
“Tafsir
bahwa namanya Ahmad. Al-Quran sendiri menyebut nama Ahmad sebagai nabi yang
datang sesudah Nabi Isa.”
“Ya,
itu hak dia.”
“Kalo
ada orang gila yang ngaku-ngaku nabi karena kebetulan namanya Ahmad,
bagaimana?”
Ya
salaaaam, Pak Mesrowo Bin Mesriwi dan Kyai Adung seperti sedang balapan di
arena yang tidak ketemu ujungnya. Pangkalnya hanya soal kebenaran yang bersifat
relatif.
Ya,
kalau semua patokannya relatif memang susah. Padahal, soal kebenaran dalam Islam
jelas sekali patokannya. Ada istilah qath’i, tsubut, dan kebenaran yang
bersifat mutawatir. Ada kebenaran dalam Islam itu yang bersifat konsensus atau
ijma yang tidak lagi relatif.
Tapi,
peserta seminar jadi tertarik mengikuti perdebatan antara pak Mesrowo bin
Mesriwi dengan Kyai Adung. Bahkan mereka ingin tahu, siapa di antara keduanya
yang bakal dibikin keok.
“Ya
biarkan saja. Namanya juga orang gila. Siapa yang bisa membatasi hak orang
gila?”
“Dari
mana ente tahu Ahmad yang itu gila?”
“Lho,
kan bapak yang bilang, Gimana, sih?”
“Tapi
kan, saya bukan psikolog atau ahli jiwa. Saya tidak berhak menyimpulkan dia
gila. Berarti benar.”
“Benar
apaan?”
“Ente
benar linglung!”