Tidak ada seorang pun yang ingin berkawan dengan kegagalan.
Seringkali muncul banyak alasan ketika sudah berkawan dengan kegagalan tersebut, dari A sampai dengan Z.
Memasuki bulan ketujuh pada tahun 2026 dan saya masih gagal melawan diri saya sendiri.
Matchday #1
– Underestimate Tournament (?)
Pertandingan berjalan ketat sejak
awal sepak mula. Tekanan pertandingan perdana cukup terasa mengingat di
turnamen tahun lalu posisi kami berada di dasar klasemen. Tim lawan dihuni oleh
mayoritas tenaga muda. Namun, kami tidak menyerah begitu saja. Dengan
organisasi pertahanan yang rapi, akhirnya kesempatan tersebut muncul. Gol
berhasil dicetak. 1-0 untuk keunggulan kami.
Rasanya, pada hari ini saya sudah bertekad bulat tapi apa daya hal tersebut tidak cukup. Kesalahan saya, tidak bisa menyelesaikan peluang malah sok-sokan hendak bicycle kick padahal dikontrol biasa saja bisa lebih mudah.
Awal mula “meremehkan” turnamen. Meskipun tim menang, tidak ada kontribusi yang diberikan. Rasa puas muncul sambil membanggakan permainan tim, tanpa ada koreksi yang positif untuk pertandingan selanjutnya.
Dengan kemenangan ini, posisi tim berada di peringkat satu. Not Bad.
Matchday #2 – Awal Mula
Petaka
Berbekal kemenangan di
pertandingan pertama, kondisi tim cukup percaya diri menatap laga ini. Meskipun tim
lawan memiliki marque player yang tidak sembarangan, kami tidak gentar.
Konsolidasi sebelum laga dimulai, semakin mengkokohkan kaki serta tekad tim
untuk memenangkan laga. Pertahanan yang kuat menjadi senjata kami. Pertandingan
semakin memanas dengan banyaknya benturan-benturan diiringi tiupan peluit
wasit. Tercatat dua kartu kuning keluar dari kantong sang pengadil, salah
satunya untuk saya.
Ketika peluang tersebut ada,
akhirnya gol berhasil dicetak. Skor 1-0 untuk kami. Dengan semangat menggebu,
kami bertekad mencetak gol tambahan. Pelanggaran handsball di kotak pinalti
lawan mengakibatkan tim kami dihadiahi tendangan pinalti.
“Nu, ambil ya” begitu kata rekan
kepada saya.
Dengan segenap kesadaran hati dan
diri. Bola saya ambil. Tepat sebelum bola di titiknya, saya sempat mengucapkan
kata
“Mas, kalo gak masuk gapapa ya”
Peluit ditiup, saya menendang
dengan kencang ke pojok. Mujur bagi kiper lawan, antisipasinya
tepat! Hal ini menambah kegagalan saya dalam mengambil pinalti.
Hari itu semakin hancur, setelah
saya diberi kartu kuning kedua dan dilanjutkan kartu merah. Kartu kuning yang seharusnya tidak perlu.
Setelah gagal pinalti, fokus saya hilang. Seharusnya bisa lebih rileks dan bermain pintar. Bola hasil tendangan kipper yang membentur hidung, membuat saya hilang kendali. Dengan hukuman kartu merah tersebut, saya absen di pertandingan berikutnya.
Dua kemenangan membuat
kami masih dingin di puncak klasemen.
Matchday #3 – Proses Mawas
Diri
Menjalani periode suspensi pertandingan, saya memilih duduk bersama penonton dan tidak berada di area
teknikal. Ini merupakan pengalaman pertama saya menjalani hukuman pertandingan.
Sedikit mundur ke belakang, selama ini kartu merah yang saya peroleh ada di fase gugur dan seringkali berujung kekalahan. Hal ini menjadi pengalaman pertama saya menjalani suspensi.
Disini saya menyadari bahwa larangan bertanding tidak hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga kepada tim. Tim jadi kesulitan untuk mencari orang. Walhasil saya harus rela melihat tim susah payah di pertandingan ini.
Sempat unggul dari lawan, saya harus rela melihat
rekan setim melakukan own goal. Di lubuk hati paling dalam, saya merasa itu
juga andil saya, membuat repot orang lain.
Matchday #4 – Laga
Penentuan
Bisa merumput di laga akhir
membuat saya sedikit lega. Posisi tim meskipun masih di puncak klasemen, namun
rawan longsor. Target mengakhiri pertandingan dengan minimal hasil seri akan mengamankan posisi 2 sekaligus memastikan menjadi tim finalis. Motivasi
tinggi tentu saja membara di dalam dada sebagai bentuk penebusan yang lalu.
Lagi-lagi tim sempat unggul,
namun kemudian tim lawan membalas sampai mereka unggul. Kalah berarti
tersingkir, tidak bisa dibiarkan. Petaka itu tiba saat dimana terdapat sebuah
momen untuk mencetak gol, namun gol tersebut tidak tercipta karena saya dan
salah seorang rekan sama-sama terpaku di depan gawang yang sudah kosong. Entah
muncul darimana, bek lawan muncul dan melakukan sapuan tepat di garis gawang. Kami
saling berpandangan seakan tidak percaya melewatkan peluang di depan mata.
Pertandingan selesai dengan
keunggulan lawan dengan skor 1-2. Posisi puncak langsung hilang dalam sekejap,
kami tidak menjadi finalist. Penyesalan muncul di benak saya.
Sampai bertemu di turnamen berikutnya, semoga dengan versi saya yang bisa lebih baik.
Aamiin ya robbal alamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar